Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
52 BAYANGAN BIMO (TRAUMA) - PART 2


__ADS_3

Pagi hari menjelang subuh, Dinda terbangun lebih dulu sementara Adit masih sangat pulas di balik selimutnya yang baru saja dirapikan oleh istrinya agar menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.


Dia bangun dengan nafas memburu disertai rasa sangat lengket dan gerah di seluruh tubuhnya. Dia teringat mimpinya. Lebih tepatnya mimpi buruk. Mimpi buruk tentang sebuah kematian.


Dalam mimpinya, Dinda tengah berada di sebuah pusara seseorang. Dia menangis seorang diri meratapi rasa kehilangannya. Hanya rintik hujan yang menemaninya bersimpuh menatap nanar nisan kayu yang menancap di puncak pusara.


Air matanya terus mengalir deras manakala dia membaca tulisan yang terukir di atas nisan kayu itu. Aku Yang Selalu Mencintaimu. Demikian tulisan yang dibacanya berulang kali dan membuat airmatanya mengucur semakin deras, hingga dirinya terbangun tadi.


Pikirannya ambigu. Terbayang lagi tulisan yang terukir di nisan kayu dalam mimpinya. Siapa dia yang dimaksud dalam mimpi itu? Apakah Bimo yang baru saja meninggal dunia kemarin? Ataukah..., dia memikirkan satu lagi orang yang sudah pasti selalu mencintainya dan selalu bersamanya...


"Tidaakkk..!!" Dinda menjerit dalam hati. Dia menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap dengan wajah tenang. Hatinya berdesir hebat membuat nafasnya tercekat disertai detak jantung yang tak beraturan sama sekali.


Ketakutan yang teramat sangat menyeruak memenuhi hati dan pikirannya. Kejadian di dalam mimpinya terbawa ke alam nyata dan menguasai dirinya.


Tanpa tercegah, tumpahan air mata lolos begitu saja membasahi seluruh wajah Dinda yang telah memucat. Dia menangis tersedu-sedu dengan isakan yang semakin keras, sehingga membangunkan Adit dari tidur pulasnya.


Adit segera membuka mata saat pendengarannya menangkap suara tangisan yang cukup keras dan tiada henti. Dia terduduk dan mendapati tubuh sang istri di sampingnya juga duduk dengan wajah menunduk dan bahu yang terus terguncang seiring isakan yang masih terus terdengar.


"Sayang..! Kamu kenapa, sayang?"


Adit langsung menarik tubuh Dinda dan memeluknya dengan begitu eratnya.


Dinda yang tiba-tiba merasakan tubuhnya sudah berada dalam pelukan suaminya, membalas pelukan Adit dan kembali menumpahkan tangisannya di dada sang suami.


"Jangan pergi.. Hiks.. Jangan tinggalkan aku.. Hiks, hiks...!" Dinda semakin terisak di antara ketakutan dan kesedihan yang melanda jiwanya.


"Aku di sini, sayang. Aku bersamamu. Aku selalu di sini bersamamu.." Adit mempererat pelukannya dan terus-menerus menciumi puncak kepala istrinya berulang-ulang.


Setelah tangisan Dinda mereda, Adit merenggangkan pelukannya. Dia menatap wajah istrinya yang masih penuh air mata lalu menghapusnya secara pelan dan lembut dengan kedua tangannya. Setelah itu dia mencium kedua mata Dinda yang sembab karena tangisan hebatnya tadi.


"Apa yang terjadi? Kamu tidak bisa tidur?" Tanya Adit.


"Aku bermimpi. Mimpi yang buruk sekali. Aku sangat takut kehilangan kamu."


"Apakah seperti semalam, saat kamu takut memejamkan mata?"


"TIdak sama. Tapi semuanya sama-sama tentang kematian." Dinda kemudian bercerita tentang mimpi yang baru saja dialamimya.


"Aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku. A-aku..." Adit menutup mulut Dinda dengan satu jari telunjuknya.


"Sudah, sayang! Jangan bicara apapun lagi. Jangan pikirkan hal-hal yang kamu takutkan. Ingatlah selalu semua kejadian indah dalam hidupmu, agar bayang-bayang buruk tak lagi bisa menghampirimu."

__ADS_1


Dinda hanya bisa menganggukkan kepala, mencoba untuk menuruti perkataan suaminya. Dia selalu percaya dengan suaminya. Karena Adit selalu menepati setiap perkataannya dan melakukan perbuatan yang selalu membuatnya tenang dalam situasi dan kondisi apapun.


"Sudah waktunya subuh. Kita sholat dulu, sekalian berdoa dan memohon kebaikan serta kebahagiaan untuk kita." Ajak Adit sambil mencium kening istrinya.


"Aku mau mandi dulu, sayang. Badanku bau dan penuh keringat."


"Baiklah. Kamu mandi dulu. Setelah itu baru kita berjamaah."


Adit melepaskan pelukannya dan membiarkan Dinda keluar kamar, sementara dia merebahkan dirinya kembali sambil menunggu Dinda selesai membersihkan dirinya.


.


.


.


Menjelang siang, Dinda bersama Adit pergi ke rumah Bimo. Mereka menepati janji untuk datang menemui Siska, karena ada titipan terakhir dari Bimo yang harus disampaikan kepada Dinda.


Mereka sampai di rumah Bimo dan disambut dengan ramah oleh Siska. Setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu, Siska muncul kembali dengan membawa dua buah kotak.


"Ini yang dititipkan Bimo padaku untuk diberikan padamu. Dia hanya berpesan kalau kamu harus menerimanya."


Siska meletakkan kedua kotak itu di atas meja lalu mendorongnya pelan ke arah Dinda.


Dengan penuh pertanyaan dan sedikit ragu, Dinda mengambil kotak yang yang lebih besar. Dia membukanya perlahan dan melihat isi di dalamnya.


Ternyata setumpuk foto yang kesemuanya adalah foto Dinda. Dia mengambil sebagian foto-foto itu dan Adit juga tertarik untuk mengambil sebagian yang lainnya.


Mereka sama-sama melihat satu per satu foto tersebut. Semuanya adalah foto saat Dinda duduk di bangku SMA dulu. Saat di mana Bimo masih terus berusaha untuk menjadikannya sebagai kekasihnya. Saat di mana setiap hari Bimo selalu mengikutinya ke mana pun untuk terus mengatakan bahwa Dinda harus menerima Bimo.


Dinda tersenyum melihat foto-foto itu. Begitu juga Adit yang merasa senang bisa melihat foto belia Dinda, saat dia masih remaja dan berseragam putih abu-abu.


Foto dengan berbagai tingkah polah dan kegiatan Dinda di sekolah maupun di luar sekolah, semuanya terangkum lengkap dalam puluhan foto itu. Jika dihitung mungkin ada lebih dari lima puluh foto yang berbeda.


Dinda takjub karena tidak menyangka Bimo bisa mencuri banyak sekali foto dirinya. Kebanyakan foto itu adalah foto candid spontan yang justru menunjukkan keceriaan dan kebahagiaan Dinda yang apa-adanya waktu itu.


"Aku tidak menyangka Bimo bisa mempunyai fotoku sebanyak ini, yang bahkan aku sendiri pun tidak memilikinya selengkap ini." Dinda berkata pada Siska.


"Dia selalu memandangi foto-foto itu setiap hari. Dan di saat dia mengetahui tentang vonis penyakitnya, dia semakin sering melihat foto-foto itu. Aku selalu mendengar dia mengucapkan kata maaf, meminta maaf padamu melalui foto-foto itu."


Dinda terkejut mendengar cerita Siska. Dan dia teringat tentang sakitnya Bimo.

__ADS_1


"Oya mbak, kalau boleh tahu, sebenarnya Bimo sakit apa?" Dia memberanikan diri untuk bertanya pada Siska.


Pertanyaannya seketika membuat wajah Siska berubah menjadi sendu. Tersirat kesedihan dalam sorot matanya yang sayu.


"Kanker hati. Satu tahun yang lalu, dia divonis menderita penyakit kanker hati stadium tiga."


Dinda dan Adit semakin terkesiap mendengar


jawaban Siska. Tidak menyangka Bimo bisa menderita penyakit separah itu.


"Tapi saat kami bertemu dengannya di Bali beberapa bulan yang lalu, dia masih terlihat sehat, mbak?"


"Oh iya, waktu itu dia bercerita padaku tentang pertemuan kalian. Dia terlihat sangat senang sekali, sampai-sampai dia melupakan rasa sakitnya."


Siska melanjutkan ceritanya.


"Saat itu dia baru datang dari Singapura untuk memeriksakan kesehatannya. Di Singapura itulah diketahui bahwa penyakitnya sudah semakin parah dan sudah mencapai stadium empat."


"Dokter memperkirakan waktunya hanya tersisa tiga bulanan. Tapi mungkin karena rasa bahagianya setelah bertemu denganmu, dia bisa bertahan lebih lama hingga saat terakhirnya kemarin."


Mata Siska mulai berkaca-kaca mengingat perjuangan sang adik melawan penyakitnya yang pada akhirnya harus menyerah pasrah pada ketetapan takdir Yang Maha Kuasa.


.


.


.


Novel baru kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1



__ADS_2