Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
53 MENGENANG KEBAIKANNYA


__ADS_3

Mata Siska mulai berkaca-kaca mengingat perjuangan sang adik melawan penyakitnya yang pada akhirnya harus menyerah pasrah pada ketetapan takdir Yang Maha Kuasa.


Kanker hati. Dinda masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ternyata selama ini Bimo sakit separah itu, dan dia menyembunyikannya dari siapapun.


Sekelebat ingatan Dinda muncul, saat dia dan Bimo bertemu di sebuah cafe waktu itu. Ada ucapan Bimo yang terdengar aneh di telinganya kala itu.


-----


"Bagaimana kabarmu sekarang?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." Bimo sumringah membalas sapaan Dinda.


"Hanya hatiku yang tidak baik-baik saja.." Tiba-tiba raut mukanya berubah sendu.


-----


Kalimat terakhir itulah yang membuat Dinda kini baru menyadari apa maksudnya. Ya, Bimo mengatakan tentang hatinya yang tidak baik-baik saja karena dirinya tengah mengidap penyakit kanker hati yang sudah parah.


Karena itu pula, saat ada kesempatan berjumpa dengan dirinya, Bimo bersikeras untuk bertemu kembali dan meminta maaf kepada Dinda atas semua sikap dan kesalahannya di masa lalu. Ternyata dia hanya ingin pergi tanpa menanggung beban kesalahan, sehingga dia berusaha untuk mendapatkan maaf dari orang-orang di masa lalunya.


Dia menahan perasaannya agar tidak larut dalam kesedihan lagi. Dia tidak menyangka, ternyata hati Bimo setulus itu. Tulus untuk memperbaiki diri dan tulus untuk membersihkan dirinya dari dosa masa lalunya, sebelum dia kembali menghadap Sang Pencipta.


Adit yang mengetahui kesedihan yang dirasakan istrinya, segera mengusap lembut punggungnya.


"Jangan bersedih. Kita harusnya bahagia, Bimo memanfaatkan waktu terakhirnya dengan baik dan meninggalkan kita dengan kenangan yang baik."


Dinda menganggukkan kepalanya. Dia pun bersyukur, dengan dukungan Adit kala itu, akhirnya hatinya terbuka untuk bersedia menemui Bimo, bisa memaafkannya dan melupakan semua kejadian buruk yang pernah ada antara dirinya dan Bimo.


Pandangan Dinda beralih pada kotak kecil yang masih belum diambilnya. Dia mengambil kotak kecil itu lalu membukanya. Di dalamnya masih ada kotak yang lebih kecil berwarna merah marun. Dari ukuran dan bentuknya Dinda sudah sangat familier dengan jenis kotak tersebut. Dia mengambilnya dan membuka untuk mengetahui isinya.


Alangkah terkejutnya Dinda karena di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin bermata berlian.


"Mbak, apa ini..? Aku tidak bisa menerimanya. Ini pasti sangat mahal dan lagipula aku tidak mungkin bisa memakainya mbak."


Dinda menatap Adit dan menunjukkan cincin yang


masih ada di dalam tempatnya itu. Adit hanya melihatnya dan tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


"Setahuku, dulu dia membeli dan menyimpannya sebagai wujud permohonan maafnya kepadamu. Namun saat bertemu kembali denganmu, ternyata kamu sudah menikah sehingga dia sungkan untuk memberikannya padamu waktu itu."


"Pesan terakhir Bimo, kamu harus menerima semua pemberiannya, Din. Jadi tolong diterima saja."


"Tapi, mbak..."

__ADS_1


"Dengan kamu menerimanya maka cincin itu sepenuhnya menjadi hakmu. Jadi setelah itu, kamu berhak mengambil keputusan apapun atas pemberiannya itu."


Dinda mengamati cincin itu tanpa mengambil dari tempatnya. Dia berpikir jika cincin itu pasti bernilai sangat mahal. Kalaupun menerimanya, dia tidak mungkin menyimpannya juga.


Dinda kembali menoleh kepada suaminya, meminta pertimbangannya untuk masalah ini. Adit pun mencoba mencari jalan tengahnya.


"Untuk menghormati permintaan Bimo, kita harus menerimanya, sayang. Setelah itu nanti kita pikirkan bersama, apa yang harus kita lakukan dengan barang bernilai semahal itu."


"Kita harus bisa menjadikannya bermanfaat untuk orang banyak, agar pemberian Bimo tidak menjadi sia-sia belaka."


"Betul kata suamimu, Din. Aku percaya kalian bisa mengambil keputusan yang terbaik dan menyenangkan hati Bimo di sana." Kata Siska.


"Baiklah, mbak. Aku akan membawa semua ini. Terima kasih atas bantuan mbak Siska." Dinda tersenyum dan menyetujui saran Adit dan Siska.


Bagaimanapun, amanah tetaplah amanah. Dinda tidak mau mengecewakan Siska yang sudah menjaga amanah dari Bimo untuk diserahkan kepadanya.


.


.


.


Sampai di kediaman orangtuanya, Dinda dan Adit masuk ke dalam kamarnya membawa dua buah kotak pemberian Bimo.


Dinda menunjukkan kotak yang besar kepada suaminya.


"Kenapa tidak? Aku juga senang dengan foto-foto itu. Kamu lucu dan menggemaskan waktu sekolah dulu."


Jawab Adit membuat Dinda tersipu malu, seperti anak muda yang sedang dipuji oleh kekasih hatinya.


"Pantas saja Bimo sangat menyukaimu. Dan aku yakin, selain dirinya pasti banyak cowok lain yang juga berlomba untuk mendapatkanmu."


"Tentu saja! Apa harus aku sebutkan juga daftar cowok yang sudah kutolak saat itu?" Goda Dinda.


"Kamu menolak banyak cowok. Apakah satupun tidak ada yang kamu sukai?"


Adit sudah memangku Dinda dari arah samping, di atas kedua pahanya yang merapat menahan beban tubuh istrinya. Sementara satu tangan Dinda mengalung di lehernya, dan satu tangan yang lain usil bermain di atas dadanya.


"Semua yang menyatakan perasaannya padaku, tidak ada yang aku sukai. Tapi orang yang aku sukai justru tidak melakukannya padaku."


Deg..!! Entah mengapa tiba-tiba hati Dinda sedikit bergetar saat mengingat lelaki itu. Selintas dia memikirkan di mana keberadaannya sekarang.


"Apakah dia cinta pertamamu?" Adit bertanya dengan wajah serius.

__ADS_1


"Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Cinta pertama yang terabaikan. Dulu aku menyukainya secara diam-diam. Sepertinya dia juga tidak mengetahui perasaanku padanya." Jawab Dinda jujur.


"Lupakan tentang perasaanku di masa lalu. Yang penting dan yang perlu kamu tahu sekarang, saat ini dan sampai kapanpun, hanya kamu yang aku cintai dan aku miliki seutuhnya."


Dengan sangat lembut Dinda mencium bibir suaminya. Adit pun mulai membalasnya tak kalah lembut dan semakin dalam.


Saat ciuman mereka tengah berlangsung, Adit membuka matanya dan menatap Dinda yang masih terpejam dengan bibir yang basah dan terus bergerak pelan membalas ciumannya dengan lincah dan tanpa henti.


Adit memperhatikan wajah sang istri yang berada tepat di hadapannya. Dia tersenyum bangga karena dialah yang kini memiliki Dinda seutuhnya dan untuk selamanya.


Adit mempererat pelukannya dan kembali memejamkan mata dengan bahagia. Dia melarutkan dirinya dalam gairah yang telah memanasi seluruh tubuhnya.


Adit mulai merasakan tangan Dinda membuka kancing kemejanya lalu menyusup ke dalam dan meraba-raba seluruh permukaan dadanya, membuat tubuhnya merespon dengan cepat dan tak tertahankan lagi.


"Aku mencintaimu, sayang. Selamanya.." Tangan Adit menghentikan jelajah tangan Dinda di dadanya, karena rasa geli bercampur nikmat yang semakin tak terkendali. Dia tak bisa lagi menahannya.


Dia mulai membalas kenakalan istrinya. Tangannya ikut bergerilya, mencari titik-titik ternyamannya untuk bermain-main dan memantik api asmara di tubuh Dinda. Sentuhan demi sentuhan beralih menjadi gerakan tangan yang lebih agresif dan penuh tekanan.


Menjelang sore mereka melakukannya. Menyatukan hasrat yang sama-sama menggebu dan penuh gairah. Menyalurkannya berulang kali dengan segenap rasa yang membuncah. Hingga akhirnya mereka berdua mengakhiri penyatuan mereka dengan pelukan penuh peluh cinta.


"Terima kasih, ratuku." Adit masih tak ingin melepaskan sang istri dari dekapannya.


"Aku mencintaimu, tuanku." Dinda pun semakin menenggelamkan tubuhnya di dalam pelukan Adit yang terus menciumi puncak kepalanya.


.


.


.


Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1



__ADS_2