
Hari pertama di akhir pekan, Andi dan Rinaya sudah dalam perjalanan ke kampung halaman Andi. Seperti yang sudah mereka bicarakan beberapa hari sebelumnya, Andi mengajak Rinaya untuk menemui Om dan Tantenya di desa tempat kelahiran Andi. Di sana pula kedua orangtua Andi dimakamkan.
Orangtua Andi meninggal dunia saat Andi duduk di bangku SMA. Ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika Andi kelas dua. Sedangkan sang ibu meninggal kala Andi kelas tiga, tujuh bulan setelah sang ayah tiada. Beliau meninggal saat melahirkan adik Andi yang akhirnya juga turut meninggal beberapa menit setelah kelahirannya.
Setelah menempuh hampir dua jam perjalanan, sampailah mereka di desa Andi yang sangat asri dan sejuk karena berada di lereng sebuah gunung.
Andi segera mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah tak jauh dari ujung jalan pedesaan. Andi memarkirnya di halaman rumah yang luas dan rindang milik Om Ihsan dan Tante Susi.
Selesai membukakan pintu dan menggandeng tangan Rinaya, Andi mengajaknya berjalan menuju pintu depan yang tertutup rapat. Andi mengetuk pintu pelan.
"Assalamualaikum.."
Tak berapa lama terdengar balasan dari dalam rumah.
'Waalaikumsalam.."
Pintu dibuka dari dalam dan keluarlah wanita paruh baya dengan busana muslim dan hijab sederhananya.
"Andiii..!!" Wanita itu terlihat sumringah melihat kedatangan keponakannya. Dia segera memeluk Andi setelah Andi mencium tangannya terlebih dahulu.
Begitu Tante Susi melepaskan pelukan, Andi membawa Rinaya ke sampingnya kembali dan memperkenalkannya.
"Tante, perkenalkan, ini Rinaya, calon istriku."
Wajah Rinaya merona seketika mendengar Andi menyebutnya sebagai calon istri.
Dengan sedikit gugup Rinaya mencium tangan Tante dari calon suaminya.
"Siang, Tante. Saya Rinaya."
"Cantiknya calon istrimu, Nak. Pintar sekali kamu memilihnya."
Tante Susi memeluk erat Rinaya sembari memujinya.
"Bukan pintar memilih, Tante. Alhamdulillah dikasih Allah jodohnya dia." Andi menatap Rinaya dengan rasa bangga sementara Rinaya yang menjadi bahan perbincangan hanya bisa tersenyum bahagia.
Kemudian Tante Susi mengajak mereka masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
Baru saja hendak duduk, Om Ihsan keluar dan menyambut Andi dengan penuh wibawa. Akhirnya Andi dan Rinaya terlebih dahulu menghampiri dan mencium tangan Om Ihsan, baru kemudian mereka duduk.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" Tanya Om Ihsan.
"Alhamdulillah baik, Om."
"Ya pasti baik lah, Pak. Orang sudah punya calon istri cantik begini, pasti hatinya senang terus." Canda Tante Susi yang keluar membawa nampan berisi minuman dan kue ringan.
Om Ihsan tertawa dan menganggukkan kepalanya.
"Jadi kapan mau diresmikan?" Om Ihsan sudah langsung bertanya tepat sasaran.
Andi pun segera mengambil posisi tegak untuk berbicara kepada Om Ihsan.
__ADS_1
"Iya, Om. Maksud kedatangan kami berdua kemari adalah untuk meminta restu Om dan Tante agar hubungan kami segera diresmikan dalam ikatan pernikahan."
"Selain itu, Andi juga memohon kesediaan Om dan Tante untuk menjadi wali Andi dan melamarkan Rinaya untuk Andi."
Kedua orangtua itu saling berpandangan lalu tersenyum melihat ke arah Andi dan Rinaya.
"Kalau Om dan Tante, yang penting kalian sudah cocok dan serius, kami hanya bisa merestui dan mendukung langkah kalian selanjutnya." Kata Om Ihsan dengan bijaksana.
Andi menghela nafas lega. Begitu juga dengan Rinaya.
"Terima kasih, Om, Tante." Ucap Andi dengan tulus.
Dari kejauhan terdengar kumandang adzan Dhuhur. Om Insan dan Tante Susi segera mengajak mereka untuk sholat dan dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Setelah selesai makan siang, Andi dan Rinaya pamit untuk berkunjung ke makam orangtua Adit.
"Apakah makamnya jauh dari sini, mas?" Tanya Rinaya saat mereka berdua di dalam mobil.
"Sebenarnya tidak, Ya. Hanya saja karena ini sudah sangat siang, lebih baik kita naik mobil saja. Aku tidak tega kalau harus mengajakmu berjalan kaki di saat terik seperti ini."
Rinaya merasa tersanjung dengan perkataan Andi. Dia juga sangat senang dengan perlakuan Andi yang begitu menjaganya.
"Di sini memang panas, mas. Tapi udaranya sangat sejuk, tidak akan membuat kita gerah. Lain kali, ajak aku berjalan kaki saja ya, mas." Pinta Rinaya.
"Baiklah, Ya. Apa pun yang kamu mau."
Andi menatap Rinaya lalu mengusap lembut kepala kekasih tercintanya.
Tak lama mereka pun telah sampai di depan area pemakaman. Seperti biasanya, Andi membantu Rinaya turun dari mobil lalu menggenggam tangannya untuk membawanya masuk ke area pemakaman.
"Di sana makam orangtua dan adikku, Ya."
Andi menuntun langkah Rinaya ke makam orangtuanya di mana di tengah makam keduanya juga terdapat makam kecil adik Andi.
Sampai di depan makam keluarganya, Andi merengkuh bahu Rinaya lalu menatap deretan pusara itu.
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu dan adik. Andi datang lagi. Tapi kali ini Andi tidak sendiri. Perkenalkan, ini Rinaya, calon istri Andi. Dia wanita yang sangat Andi cintai. Andi mohon restu Ayah dan Ibu untuk menikahi Rinaya."
Andi menoleh ke arah Rinaya. Wanita cantik itu tersenyum padanya lalu tersenyum menatap pusara keluarga Andi.
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu dan adik. Saya Rinaya. Saya berterima kasih pada Ayah dan Ibu karena telah menjadi orangtua yang hebat dari seorang anak hebat di sebelah saya. Dia adalah lelaki baik dengan hati yang sangat baik. Dan saya bersyukur bisa mengenalnya dan akan menjadi istrinya."
Andi kembali tersenyum menatap kekasihnya. Mereka berdua duduk di samping makam keluarga Andi beralaskan tikar kecil yang diberikan Tante Susi sebelum mereka berangkat tadi.
Mereka berdua khusyuk berdoa tanpa mempedulikan matahari yang masih bersinar terang jauh di atas mereka.
Setengah jam kemudian mereka sudah meninggalkan makam. Mobil Andi melaju pelan menyusuri jalan desa.
Di depan sebuah rumah tak jauh dari rumah Om Ihsan, Andi menghentikan mobilnya. Dia mengajak Rinaya masuk melewati pekarangan dan sampai di depan pintu.
"Mas, ini rumah siapa?"
__ADS_1
Andi mengambil kunci di saku celananya lalu membuka pintunya.
"Ini rumah peninggalan orangtuaku. Rumah masa kecilku hingga aku lulus SMA. Di sinilah aku dulu tinggal, Ya."
Andi menarik tangan Rinaya pelan, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Rinaya terlihat mengagumi rumah itu.
"Rumahnya bersih dan rapi, mas. Seperti bukan rumah kosong. Halamannya tadi juga sangat asri, banyak tanaman hijau yang menyejukkan mata."
Rinaya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di dalamnya yang memang terlihat sangat terawat. Di dinding ruangan tergantung dua buah foto yang dia ketahui adalah kedua orangtua Andi karena Andi pernah menunjukkannya pada Rinaya.
Andi membuka lebar pintu kamar yang terletak di bagian tengah dan mempersilakan Rinaya masuk. Dari isi di kamarnya Rinaya sudah bisa menebak jika itu adalah kamar Andi.
"Ini kamar mas Andi?"
"Iya.."
Rinaya melihat ke sekeliling kamar. Semuanya juga bersih dan rapi. Tidak seperti kamar tanpa penghuni. Dia mendekati meja belajar yang masih apik. Hanya terdapat beberapa buku bacaan di sana. Selebihnya, di meja itu tersusun rapi bingkai foto kecil sampai besar yang berisi foto masa kecil Andi hingga dia dewasa, semua ada di sana.
"Mas Andi sering pulang kemari? Rumah ini sangat terawat."
"Tidak, Ya. Sebulan atau dua bulan sekali, itupun jika sedang tidak sibuk."
"Perawatan rumah ini aku serahkan pada Tante Susi. Tiga hari sekali juga ada yang datang untuk membersihkan rumah ini."
"Rumah ini juga sering dipakai untuk keperluan warga di sini. Entah itu rapat, pertemuan, arisan atau pengajian. Aku lebih senang jika rumah ini bermanfaat bagi warga sekitar daripada hanya didiamkan saja selayaknya rumah tak berpenghuni."
Sungguh Rinaya tak menyangka jika Andi berhati sangat baik, jauh lebih baik dari yang dia lihat selama ini. Sekali lagi dirinya semakin mengagumi kebaikan hati calon suaminya.
"Calon suamiku ternyata berhati luar biasa.." Puji Rinaya dengan rasa bangga.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
.
Novel baru kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Semoga berkenan..🙏💜🙏
__ADS_1