
Adit dan Dinda menoleh ke belakang dan begitu kagetnya mereka melihat Sinta yang berlari menghampiri dan sudah membuka tangannya ingin memeluk Adit.
Beruntung Adit cukup tanggap situasi. Dia spontan mundur beberapa langkah untuk menghindar dan kedua tangannya segera memeluk erat istrinya lalu membawanya ke arah samping.
Sinta menghentikan langkahnya begitu mendapati sasaran pelukannya sudah berpindah tempat. Hatinya semakin panas saat melihat Adit dengan sangat perhatian melindungi istrinya di dalam pelukannya.
Dia masih mencoba mendekati Adit dan berusaha meraih tubuh Adit. Tetapi Adit kembali menggeser tubuhnya dan tubuh Dinda untuk menjauh.
"Sinta, apa yang kamu lakukan?!" Suara Adit meninggi. Tidak biasanya dia terbawa emosi seperti ini. Hatinya sudah tidak bisa menahan lagi.
Kemarin dia sudah cukup bersabar menghadapi Sinta. Tapi hari ini Sinta masih saja menunjukkan sikapnya yang sudah melewati batas.
"Adit, kamu membentakku.." Sinta terbelalak, tak percaya Adit bisa melakukan itu kepadanya.
"Maaf, Sinta. Tapi kamu sudah keterlaluan..!" Adit masih berkata dengan penuh emosi. Sorotan matanya yang penuh amarah, menatap tajam ke arah Sinta.
Bahkan Dinda pun sampai terkejut mendengar kemarahan Adit. Dia menahan tangis ketakutannya sebisa mungkin.
"Sayang, jaga emosimu. Jangan marah, jangan membuatku takut.." Ucap Dinda lirih dan semakin menyembunyikan wajahnya di dekapan dada Adit.
Adit menghela nafas dengan sangat berat lalu melepaskannya dengan perlahan.
"Maafkan aku, sayang. Jangan takut, ada aku bersamamu." Adit segera mencium kepala dan kening Dinda dengan penuh kelembutan.
Sinta semakin meradang menyaksikan Adit begitu perhatian dan sangat melindungi istrinya. Matanya memerah, amarahnya memuncak tak terkendali lagi.
"Adit..!! Kamu milikku, Dit. Dari dulu kamu adalah milikku. Dari dulu kita selalu bersama. Apa kamu lupa semua itu, Dit..??"
"Jaga ucapanmu, Sinta! Berapa kali harus aku ulangi, aku sudah menikah..!!"
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil masuk ke halaman dan berhenti di samping mobil Adit. Papa Satrio keluar dari pintu belakang, diikuti Pak Jo sopirnya.
Dari dalam rumah, Mama Indri bergegas keluar menghampiri suaminya. Ternyata sejak tadi dia melihat kejadian di teras rumahnya dari balik jendela. Karena was-was, Mama Indri pun menelepon Papa Satrio agar segera pulang.
"Sinta, tolong jangan membuat kegaduhan di sini. Kalau kamu sudah selesai, silahkan pulang." Kata Papa Satrio dengan tenang namun terdengar tegas.
Sinta masih belum menyerah. Dia menghampiri Papa Satrio.
"Om, Sinta cuma ingin bertemu Adit dan bersama dengan Adit, Om."
"Om tahu dulu kalian berteman baik. Tapi sekarang Adit sudah menikah. Jadi Om minta kamu bisa menjaga sikapmu."
"Tapi, Om. Sinta mau---.."
"Kamu mau pulang sekarang, atau Om harus meminta orangtua kamu datang untuk menjemputmu?"
Pak Jo tiba-tiba muncul di samping Papa Satrio.
"Pak, taxi nya sudah sampai."
__ADS_1
Rupanya sebelum turun dari mobil tadi, Papa Satrio sudah menyuruh Pak Jo mencarikan taxi untuk Sinta.
"Sinta, silahkan kamu pergi dari sini. Dan tolong, jangan ganggu Adit dan istrinya lagi."
Setelah itu, Papa Satrio berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Mama Indri dan juga Adit yang masih terus memeluk erat Dinda tanpa memperdulikan Sinta sama sekali.
Sinta menatap geram ke arah Adit yang sudah meninggalkannya.
"Adit, aku tidak akan menyerah. Aku akan datang lagi untuk membuatmu kembali bersamaku." Sumpahnya dalam hati. Lalu dia berbalik menuju taxi yang sudah menunggunya.
.
.
.
Di dalam rumah, Adit langsung membawa Dinda ke kamarnya dan mengunci pintu.
Dia tidak melepaskan pelukannya, justru semakin erat memeluk istri tercintanya.
Kini mereka berpelukan dengan tubuh berhadapan dan saling merapat satu sama lain. Dinda menumpahkan tangisnya di dada Adit. Tangannya melingkar memeluk pinggang suaminya sangat erat.
Berkali-kali Adit mencium ujung kepala Dinda yang bersandar lemah di sebagian dada dan bahunya. Matanya pun telah tergenangi air mata yang mulai tumpah mengaliri wajahnya.
"Maafkan aku, sayang. Maaf.." Adit mengucapkannya sangat lirih di telinga Dinda. Dinda semakin terisak, meluapkan semua perasaannya saat ini.
Dinda mengingat semua ucapan Sinta tentang keinginannya untuk memiliki suaminya. Dadanya semakin sesak hingga nafasnya tersengal-sengal.
"Jangan pergi dariku, sayang. Kamu hanya milikku. Hanya milikku saja.." Dinda menangis semakin menjadi-jadi. Ini pertama kalinya dia merasa sangat takut kehilangan Adit.
"Ssttt.., apa yang kamu katakan, sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku hanya milikmu. Dan kamu hanya milikku..!"
Adit merenggangkan pelukannya dan secepat kilat dia mencium kening Dinda dengan segenap cintanya. Setelah cukup lama dan hatinya menjadi sedikit lebih tenang, Adit melepaskan ciumannya.
Dia mengalihkan pandangannya ke wajah Dinda yang masih menunduk dan terisak. Dengan lembut diangkatnya wajah cantik itu hingga terlihat jelas di hadapannya. Dia membersihkan wajah istrinya dari sisa air mata yang masih membasahi wajahnya.
Satu per satu dia mencium seluruh bagian wajah Dinda. Kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya dan juga dagunya. Lalu dia menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"Lihat aku, sayang. Tatap mataku. Dan dengarkan aku." Pinta Adit pelan. Dinda pun menuruti permintaannya.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu dengan segenap hati dan jiwaku."
Dinda menampakkan kembali senyumannya. Senyum yang selalu dirindukan oleh Adit. Senyum yang selalu menggairahkan Adit.
Adit membawa wajahnya mendekati wajah Dinda. Tanpa menunggu lagi, dia mencium bibir istrinya dengan penuh cinta. Ciuman hangat itu mulai disambut oleh bibir manis Dinda yang membalasnya tak kalah mesra.
"Malam ini kita akan tidur di sini, sayang."
Adit mengatakannya pada Dinda dan Dinda menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan kembali ciumannya. Melupakan semua hal buruk yang terjadi hari ini dan menggantinya dengan hal yang lebih baik dan lebih manis untuk dinikmati berdua.
.
.
.
Malam harinya di ruang makan, mereka berempat sedang menikmati makan malam bersama.
Seakan masih terbawa suasana sore tadi, di meja makan itu tercipta keheningan yang khusuk. Hanya sesekali terdengar suara alat makan beradu, tanpa ada suara yang lain lagi.
"Sebaiknya besok pagi kamu tidak pergi ke gerai dulu, sayang. Beristirahatlah di sini." Pinta Adit.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Lagi pula, kalau aku tidak masuk, hanya Rinaya yang akan mengawasi gerai karena satu minggu ini Elisa masih libur."
Dinda memaksa untuk tetap datang ke gerai.
"Tapi aku khawatir, sayang. Aku takut Sinta tiba-tiba datang dan mengganggumu di saat aku tidak ada bersamamu." Adit benar-benar mencemaskan istrinya. Dia masih mengingat semua kelakuan Sinta dua hari ini.
"Betul kata Adit, Dinda. Sinta bisa saja bertindak nekat melebihi kemarin, mengingat riwayat kesehatannya itu." Papa Satrio pun sependapat dengan putranya.
"Sinta itu terobsesi untuk memiliki Adit. Kita mendengar sendiri ucapannya yang mengatakan Adit harus bersamanya dan nenjadi miliknya. Dia bisa melakukan hal di luar kewajaran, sayang." Mama Indri juga mencoba membujukku.
"Aku curiga kemarin sore Sinta sengaja mengikutiku dari kantor sampai dia bisa tiba di rumah ini bersamaan dengan kedatangan kita. Kalau itu benar, berarti dia juga tahu aku menjemputmu ke gerai. Itu sangat berbahaya bagimu, sayang.." Terang Adit.
"Sayang, bisakah kamu menemaniku di gerai? Aku sungguh tidak enak hati jika meninggalkan Rinaya sendirian untuk mengawasi gerai.." Dinda masih mengajukan penawaran.
Adit memikirkan permintaan Dinda yang sepertinya bisa menjadi sebuah solusi terbaik untuk mereka semua.
"Baiklah, sayang. Besok aku akan menemanimu selama kamu di gerai. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku di sana. Dan aku akan minta tolong Mas Andi untuk menghandle urusan di kantor." Akhirnya Adit mengikuti kemauan istrinya.
Yang terpenting baginya adalah keselamatan istrinya. Karena yang tengah mereka hadapi adalah seseorang yang pernah mengalami guncangan jiwa. Apapun bisa saja dia lakukan demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1