Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
75 CINTA PERTAMA


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tanpa terasa usia kehamilan Dinda sudah menginjak enam bulan. Rasa bahagia semakin meliputi hati Adit dan Dinda.


Kini mereka sudah bisa merasakan gerakan calon bayi di dalam kandungan Dinda. Ada rasa bahagia berselimut haru setiap kali gerakan dan tendangan dari calon bayi mungil itu datang dan membuat perut Dinda bergerak-gerak tak menentu.


Memang belum terlalu sering, tetapi saat gerakan itu muncul, Dinda maupun Adit begitu bersemangat untuk merasakannya dengan kedua tangan yang mereka tempelkan di atas perut Dinda. Berharap calon bayi di dalam sana akan mengulangi gerakannya kembali. Terkadang tampak tengah menekan di salah satu sisi perutnya, tak jarang pula terasa sedang berguling-guling di dalam sana.


Sore sepulang bekerja, calon mama dan calon papa itu langsung menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Dinda. Mereka sudah mendaftar secara online sehingga tidak perlu mengantri pendaftaran lagi.


Mereka berjalan dari halaman parkir menuju gedung megah berlantai tiga. Bergandengan tangan dan berjalan tanpa terburu-buru memasuki lobby rumah sakit yang sore ini cukup ramai dengan antrian pasien rawat jalan yang masih menunggu untuk dilayani oleh bagian pendaftaran.


Adit merengkuh bahu Dinda dan membawanya berjalan menembus keramaian lobby dan menuju lantai tiga menggunakan lift yang berada di ujung lobby.


Sampai di lantai tiga, mereka keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan dokter kandungan. Setelah memperlihatkan bukti antrian online kepada perawat di luar ruangan, mereka dipersilakan menunggu giliran pemeriksaan.


Duduk di kursi tunggu bagian depan, Dinda terus memegang lengan kiri suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Adit. Adit tersenyum melihat kemanjaan istrinya yang semakin hari semakin menjadi.


Tangan kanan Adit memegang tangan Dinda yang melingkar erat di lengannya. Kepalanya bergerak menghadap ke samping lalu mencium kepala istrinya dengan penuh kasih.


"Kamu yakin tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak kita, sayang?" Tanya Adit yang langsung dibalas Dinda dengan anggukan kepala.


"Aku ingin dia menjadi kejutan untuk kita, mas. Laki-laki atau perempuan dia akan tetap menjadi kejutan terindah untuk kita. Yang terutama dan yang paling penting saat ini adalah calon bayi mungil kita tumbuh sehat dan sempurna di dalam sini, sampai waktunya dia lahir dan berada di tengah-tengah kita nanti."


Tangan kiri Dinda beralih mengusapi perutnya dengan lembut, diikuti Adit yang membawa tangan kanannya menyatu dengan tangan istrinya yang berada di atas perut Dinda yang sudah terlihat membulat kecil.


"Ibu Adinda Paramitha..." Panggil seorang perawat di depan pintu ruangan yang mereka tunggu.


"Iya, saya..." Jawab Dinda dengan senyumannya.


Adit berdiri lebih dulu untuk membantu Dinda berdiri perlahan lalu berjalan bersama memasuki ruang pemeriksaan.


Bertemu dengan dokter kandungan, seperti biasa mereka melakukan konsultasi seputar kehamilan, keluhan yang dirasakan Dinda hingga pantangan maupun anjuran yang harus dihindari dan dilakukan selama masa kehamilan.


Setelah konsultasi selesai, dokter pun mulai melakukan pemeriksaan ultrasonografi. Dinda sudah berbaring di atas tempat tidur dengan posisi telah siap diperiksa.


Dokter segera melakukan pemeriksaan menggunakan alat yang dipegangnya lalu tampaklah di monitor, calon bayi mereka dengan posisi meringkuk khas bayi dalam kandungan. Dokter memeriksa satu per satu bagian tubuhnya.


Kepala yang sudah mulai terlihat sempurna demikian juga bentuk wajahnya yang mulai terlihat lekuk mata, hidung, mulut dan telinganya. Demikian juga tangan dan kakinya sudah mulai terlihat jari-jarinya walaupun belum sempurna. Beralih ke kondisi tulang dan jenis kelamin calon bayi.


"Apakah Ibu dan Bapak masih belum ingin mengetahui jenis kelaminnya?"

__ADS_1


Dari beberapa kali pemeriksaan sebelumnya, Dinda memang sudah mengatakan kepada dokter jika dirinya tidak ingin mengetahui jenis kelamin buah hatinya sebelum dia lahir nanti.


"Iya, Dokter. Biar tetap menjadi kejutan untuk kami." Balas Dinda sambil melihat ke arah Adit yang berdiri di sampingnya. Lelaki itu tersenyum dan menganggukkan kepala mengiyakan.


"Baiklah. Tidak masalah, yang penting kondisi calon bayi Ibu dan Bapak sehat, pertumbuhannya sesuai dengan usianya dan tidak ada kekurangan apa pun."


Yang terakhir, dokter memeriksa denyut jantung calon bayi Dinda dan Adit. Seperti biasanya, mereka berdua selalu melihat dan mendengarkannya dengan seksama dan penuh rasa haru.


Pemeriksaan selesai, dokter menuliskan resep baru untuk Dinda, kemudian mereka berdua keluar dari ruang pemeriksaan menuju ke bagian apotik rumah sakit untuk menebus obat-obatan Dinda selama dua minggu ke depan.


Adit berjalan lebih dulu ke arah loket penerimaan resep sementara Dinda langsung mencari tempat duduk untuk menunggu.


Saat dia berjalan melintasi ruang tunggu sembari melihat ke arah perutnya, tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


Dia hampir saja terjatuh ke belakang kalau saja orang yang ditabraknya tadi tidak segera menahan tubuh belakangnya dengan kedua tangannya.


"Aauuhh...!" Pekik kecil Dinda yang langsung memejamkan matanya.


Secara refleks dia pun memegang kedua bahu orang itu untuk bertahan agar dirinya tidak terjatuh. Dalam posisi yang saling berpegangan, tubuh mereka menjadi merapat satu sama lain dengan posisi yang belum kembali tegak sempurna.


"Anda tidak apa-apa..?!" Tanya orang itu yang ternyata sesorang laki-laki sebaya Dinda yang berwajah sangat manis bak selebritis.


Dinda membuka matanya saat merasa tubuhnya ternyata tidak terjatuh ke lantai. Di hadapan matanya dia melihat paras laki-laki muda itu dengan mata yang tiba-tiba membesar sempurna.


"Dinda..." Laki-laki itu juga menyebut nama Dinda dengan suara bergetar. Sama seperti getaran yang muncul di hatinya saat ini.


Dinda dengan segera membetulkan posisinya dan melepaskan tangannya dari kedua bahu laki-laki yang dipanggilnya Bagus tersebut.


"Ma-Maaf. Aku tidak sengaja menabrakmu..."


"Tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja?"


Bagus bertanya dengan pandangannya yang meneliti tubuh Dinda, takut ada bagian yang sakit atau terluka. Syukurlah dia tidak menemukan hal yang dia khawatirkan, tetapi..., tatapan matanya terhenti seketika pada bagian depan tubuh Dinda, tepatnya pada bagian perut Dinda yang mulai terlihat membulat ke depan.


"Dia hamil..." Gumamnya dalam hati. Tiba-tiba terasa ada yang sakit di dalam hatinya namun segera ditepisnya perasaan itu.


"I-Iya. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menahanku tadi, sehingga aku tidak sampai terjatuh."


Dinda tak kuasa membalas tatapan mata Bagus yang masih tertuju padanya. Ada yang berdegup cukup keras di dalam dadanya. Degupan indah yang dulu kala pernah dia rasakan setiap kali melihat laki-laki itu.

__ADS_1


Mereka berdua terdiam di posisi masing-masing. Berhadapan dengan jarak tak lebih dari setengah meter.


"Sayang.., kamu tidak apa-apa? Aku lihat dari sana tadi kamu hampir saja terjatuh..."


Adit berlari menghampiri mereka dan segera mendekap tubuh Dinda dengan erat sambil mendaratkan ciuman lembut di atas kepala istrinya.


Bagus semakin getir menyaksikan pemandangan mesra di hadapan matanya. Dia menghela nafas berat dan panjang, mencoba menetralisir perasaan di hatinya.


"Dia bukan takdirku..."


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, sehingga novel Terima Kasih Cinta Sejati telah lulus kontrak dan menjadi novel kontrak di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Mohon doa dan dukungannya juga untuk novel Menanti Cinta Untukku yang masih dalam proses review kontrak, agar secepatnya bisa lulus kontrak.


Aamiin..!!!


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~

__ADS_1


.



__ADS_2