
Tibalah hari yang dinanti.
Di gedung tak jauh dari rumah Elisa, calon pengantin wanita sudah bersiap-siap sedari pagi buta.
Erina sang kakak tampak sangat antusias ikut membantu segala persiapan untuk adik kesayangannya. Wajahnya terlihat tulus dan bahagia menyambut momen sakral sang adik.
"Cantiknya adik kak Na.." Puji Erina melihat sang adik sudah selesai dirias. Kemudian Elisa mulai mengganti pakaiannya dengan baju pengantin yang telah disiapkan. Sang kakak ikut membantu merapikan dan mengecek semuanya, memastikan tidak akan ada yang kurang dari penampilan Elisa.
"Kak Na, aku gugup kak." Kata Elisa sembari meraih tangan Erina dan menggenggamnya.
"Kata orang itu biasa, Sa. Banyak-banyak berdoa, agar semua berjalan lancar." Erina mencoba menenangkan adiknya.
"Kak Na, terima kasih. Kakak selalu menjadi yang terbaik untuk aku. Aku akan sangat merindukan kak Na.." Elisa mendadak mellow. Hampir saja air matanya menetes keluar, namun Erina dengan sigap segera menahannya dengan tissue yang tersedia di meja rias, agar tidak merusak riasan wajah adiknya.
"Jangan cengeng lagi, adik manja..! Sebentar lagi kamu sudah menjadi milik orang lain. Jangan menjadi beban untuk suamimu. Jadilah istri yang baik." Erina memeluk Elisa dengan rasa haru yang ditahannya, agar tidak membuat adiknya kembali bersedih.
.
.
.
Sementara di rumah lain, Dinda tak kalah sibuknya bersolek untuk datang di acara pernikahan sahabatnya.
"Sayang, jangan kelamaan berhiasnya, nanti telat lho. Katanya mau menemani Elisa saat akad nikah.." Adit mulai mengingatkan, karena sudah hampir satu jam istrinya merias diri tapi masih saja merasa ada yang kurang.
"Iya sayang, ini sudah selesai. Tinggal pake sepatu aja." Jawab Dinda yang sudah beranjak menjauh dari meja riasnya.
Dia menghampiri Adit yang sudah menyiapkan sepatu untuknya.
"Terima kasih, tuanku. Sudah membantu mengambilkan sepatu nyonya.." Dinda mencium kedua pipi dan bibir Adit sekilas lalu segera memakai sepatunya dengan berpegangan pada lengan suaminya.
"Jangan mulai lagi.., sudah rapi begini masih juga digodain.." Adit memanyunkan mulutnya yang habis dicium Dinda.
"Lalu kapan dong mulainya?" Tanya Dinda sambil membawa tas kecil di tangan kanannya, lalu bercermin mematutkan diri.
"Nanti sepulang dari acara Elisa." Jawab Adit menggodanya. Dia sudah memeluk tubuh istrinya dari belakang, mencuri-curi ciuman di bahu, telinga dan leher istrinya satu per satu. Dinda bergidik karena merasa kegelian.
"Sayang, sudah..! Ayo berangkat..!!" Dinda melepaskan pelukan suaminya lalu menarik tangan Adit mengajak keluar kamar.
Adit hanya tersenyum mengikuti langkah istrinya.
Mereka tampak serasi mengenakan kain batik bermotif senada. Adit dengan kemejanya dan Dinda dengan dress midi yang dipadu brukat di bagian dada dan lengannya.
.
.
.
Di rumah yang berbeda lagi, Andi tengah duduk menanti di ruang tamu. Sementara penghuni rumah yang dinantinya masih sibuk bersiap di dalam kamarnya, ditemani sang mama.
"Bagaimana penampilanku, ma? Apakah masih ada yang kurang?" Tanya Rinaya kepada mamanya.
Mamanya hanya tersenyum tanpa menjawab. Dia tahu, anaknya hanya sedang salah tingkah, karena akan pergi bersama Andi kekasihnya.
__ADS_1
Padahal selama ini, Rinaya tidak pernah seribet ini jika akan pergi ke suatu acara apa pun itu. Karena bagaimana pun dia bersiap, dengan penampilan sederhana atau pun maksimal, tetap saja dia akan terlihat sangat cantik dan menawan.
"Ma..?? Kok diam saja.." Rinaya masih ràgu tanpa pendapat mamanya.
"Sudah selesai, jangan bertanya lagi! Sekarang cepatlah keluar, temui Andi yang sudah menunggumu sangat lama. Dia yang akan menilai penampilanmu.." Mamanya segera menarik tangan putrinya keluar menuju ruang tamu.
Sesampainya di ujung ruang tamu, Rinaya berdiri tanpa bersuara. Sedangkan mamanya tiba-tiba sudah menghilang dari sisinya.
"Mas.." Rinaya memanggil lirih hampir tak terdengar.
Andi yang tengah menatap ke arah luar, segera memalingkan wajahnya.
Spontan dia berdiri begitu melihat Rinaya sudah berada di hadapannya dengan sangat mempesona.
Matanya tak berkedip sama sekali. Pandangannya hanya tertuju pada sang kekasih yang sedikit menunduk karena salah tingkah menahan malu.
"Ya.., kamu cantik sekali.." Puji Andi dengan mata teduhnya yang masih terus menatap lekat wajah Rinaya.
Rinaya pun menghela nafas lega mendengar pujian dari Andi. Dia mulai menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Terima kasih, mas."
"Kita berangkat sekarang?" Ajak Andi setelah dia puas menikmati kecantikan paras kekasihnya.
Rinaya menganggukkan kepalanya lalu berjalan bersama Andi menuju mobil.
.
.
.
"Sayang, sepertinya Rinaya belum datang. Mobilnya juga belum terlihat." Kata Adit sambil merangkul bahu istrinya yang masih menanti kedatangan Rinaya.
"Iya, mungkin sebentar lagi. Tadi kita janjian untuk bertemu di sini dulu sebelum masuk menemui Elisa." Terang Dinda pada suaminya.
Tak berapa lama, sebuah mobil masuk dan berhenti di pelataran parkir.
"Lho sayang, itu kan mobilnya mas Andi. Kenapa dia juga datang kemari?"
Adit memberitahu Dinda dan mereka berdua melihat ke arah mobil yang dimaksud tadi.
Dan benar saja, setelah mobil terparkir, seorang pria berpostur tinggi tegap dengan wajah tampan tampak keluar dari pintu kemudi.
"Benar, dia mas Andi." Kata Adit.
Andi berjalan cepat memutari mobil dari arah depan dan segera membukakan pintu untuk seseorang yang duduk di samping kemudi.
Tangannya mengulur membantu seseorang itu turun dari dalam mobil. Kini terlihat seorang wanita cantik menerima uluran tangan Andi yang membantunya keluar dari mobil.
Andi kemudian mengunci mobilnya, sementara pasangannya merapikan pakaian.
"Sayang, apakah kita tidak salah lihat..?! Bukankah itu Rinaya..??" Dinda terpaku melihat pemandangan yang dinilainya romantis itu.
Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah penuh tanda tanya.
__ADS_1
Lalu pandangan mereka kembali pada Andi dan Rinaya.
Mereka berdua sangat serasi dengan pakaian batik yang sama. Rinaya tampak sangat anggun dengan kebayanya yang dipadu dengan rok lilit batik. Dan Andi dengan kemeja batik dan celana formal hitamnya.
Setelah merapikan penampilan, mereka saling melempar senyum lalu berjalan bergenggaman tangan menuju teras gedung dengan tatapan mesra satu sama lain.
Dinda yang sangat terkejut membelalakkan matanya dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Apakah kamu mengetahui tentang ini sebelumnya, sayang?" Tanya Adit menoleh menatap istrinya yang hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Setelah melihat keberadaan Adit dan Dinda yang menunggu di ujung teras, Andi dan Rinaya segera menghampiri mereka berdua. Sampai di depan Adit dan Dinda, mereka pun melepaskan genggaman tangannya.
"Selamat pagi mas Adit, Dinda." Sapa Andi dengan ramah lalu menyalami Adit dan Dinda.
Sementara Rinaya yang tampak sedikit tersipu melemparkan senyum kepada keduanya, ikut menyalami Adit dan segera memeluk Dinda.
Dinda membalas pelukan Rinaya cepat lalu segera melepaskannya. Tangannya masih memegang tangan Rinaya. Dia terus menatap Rinaya dengan sorotan tajam penuh selidik.
"Apakah kami melewatkan suatu peristiwa penting..??" Tanya Dinda.
Rinaya hanya tersenyum dan menatap ke arah Andi yang juga menatapnya.
Andi pun segera memberikan penjelasan singkat.
"Kami hanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan tentang ini.." Kata Andi.
"Sejak kapan kalian seperti ini..?" Dinda bingung sendiri untuk menyebutkan hubungan antara Andi dan Rinaya.
"Sejak makan siang di cafe waktu itu, Din.." Jawab Rinaya masih dengan senyum malunya.
Dinda memeluknya erat-erat.
"Selamat ya, Rin. Walau pun kaget, tapi aku sangat bahagia untuk kamu..!!" Kata Dinda.
"Jadi predikatmu sekarang sudah benar-benar kamu lepas, Rin?" Tanya Adit.
Rinaya tertawa kecil.
"Iya, Dit. Sekarang aku sudah tidak jomblo lagi, masak masih terus disebut High Quality Jomblo.." Jawab Rinaya.
"Sekarang sudah ganti, mas Adit." Andi ikut menimpali ucapan Rinaya.
"High Quality Future Wife.." Kata Andi sambil menatap mesra kekasih di sampingnya. Rinaya tak kuasa menyembunyikan pipinya yang merona seketika. Dia malu tapi hatinya sangat bahagia.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
__ADS_1
Salam cinta dari kami..
Author