Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
2.1. PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Musim kedua akan diawali dari pertemuan Rinaya dan Andi yang membuat keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Masih ada beberapa bab yang diambil dari musim sebelumnya, agar nantinya bisa langsung masuk pada alur cerita berikutnya di musim kedua ini.


Selamat membaca dan menikmati kisah cinta terbaru dari kami, "Rinai Cinta Rinaya".๐Ÿ’œ


.


.


.


Rinaya bergegas membereskan meja kerjanya. Beberapa laporan yang belum sempat dimasukkannya ke dalam file kerja di laptopnya, dia simpan di ujung meja.


Dia meraih kembali ponselnya seraya melihat waktu yang tertera di layar.


"Sudah lewat sepuluh menit. Aku pasti sudah ditunggu di bawah," gumamnya lirih sambil berdiri dan meninggalkan ruangan kecilnya di sudut lantai tiga Gerai Bertiga.


Dengan sedikit buru-buru wanita anggun itu pamit pada dua orang karyawannya untuk turun ke bawah karena sudah ada janji makan siang bersama Dinda dan Adit.


Satu demi satu anak tangga dituruninya, melewati lantai dua begitu saja, karena si empunya gerai, Elisa sudah pergi lebih dulu bersama Farrel, kekasihnya. Dia melanjutkan langkahnya menuruni tangga menuju ke lantai bawah.


"Nah, itu dia yang ditunggu sudah datang ...."


Terdengar olehnya suara Dinda, si pemilik cafe membuatnya menoleh ke sudut belakang, tepat di depan ruangan Dinda.


Di sana, dilihat Dinda diikuti Adit dan seorang lelaki yang belum dikenalnya, tengah mengarahkan pandangan mereka ke arahnya.


Dia adalah Andi, asisten di kantor Adit, orang yang selalu membantu Adit mengurusi seluruh pekerjaannya di Nature Furniture, perusahaan mebel milik orangtua Adit.


Sekilas dilihatnya wajah lelaki tampan itu tampak terpana menatapnya tak berkedip, membuatnya hatinya bergetar sesaat, namun dengan segera dia mengalihkan pandangan ke arah Dinda dan Adit.


Tanpa dia ketahui, saat mereka bersitatap tadi, ternyata Andi pun merasakan sesuatu yang lain di dalam hatinya.


Deggg...!!! Dia tertegun melihat wanita cantik yang kini sudah berjalan menuju meja yang ditempatinya.


Ada debaran aneh di dadanya saat pertama kali melihat paras rupawan itu.


"Dia seperti bidadari ...," gumam Andi dalam hati.


"Rin, ayo cepat buruan duduk di sini, tinggal menunggu kamu dari tadi ...," ajak Dinda sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Andi.


"Maaf ya agak terlambat, tadi ada telepon dari supplier."


Suara lembut Rinaya yang sudah duduk di samping Andi, membuat hati lelaki itu berdesir seketika.


"Rin, kenalin ini mas Andi, yang selalu membantu pekerjaanku di kantor," kata Adit.


"Mas Andi, kenalin juga ini Rinaya, salah satu sahabat Dinda yang sering aku ceritakan," lanjutnya untuk memperkenal keduanya bersamaan.


Rinaya dan Andi yang duduk bersebelahan saling menoleh dan mengulurkan tangan. Mereka saling berjabat tangan mengawali perkenalan.

__ADS_1


Andi tampak salah tingkah dan segera melepaskan tangannya sebelum getaran-getaran di hatinya semakin tak terkendali.


Sementara itu, Rinaya masih terpaku menatap wajah Andi. Dia serasa tersihir oleh tatapan mata yang sangat teduh dari lelaki itu.


"Ada apa denganku ..?!" batinnya.


Namun dengan segera Rinaya menepis perasaannya sendiri. Dia berusaha bersikap tenang sembari menghilangkan kegugupannya.


Tanpa menunggu lagi, mereka berempat menyantap makan siang yang sudah disiapkan oleh Dinda.


Karena waktu sudah memasuki jam makan siang, cafe pun ramai didatangi pembeli silih-berganti. Dinda yang melihat beberapa meja masih belum diantarkan pesanannya, segera berdiri untuk membantu para karyawannya.


"Maaf, aku tinggal dulu ya. Aku mau membantu menyiapkan pesanan pembeli." Dinda pamit untuk meninggalkan yang lain.


"Kalau begitu aku ke musholla depan dulu bersama mas Andi ya, sayang. Meja ini biar bisa dipakai kalau ada pengunjung yang datang lagi." Adit juga berdiri diikuti Andi.


"Biar aku yang membantu membereskan mejanya." Rinaya juga beranjak dari duduknya, bersiap untuk membantu Dinda.


Mereka pun berpencar masing-masing. Namun tanpa saling mengetahui, Rinaya dan Andi sempat mencuri-curi pandang sekilas satu sama lain.


.


.


.


Kembali dari musholla, Andi dan Adit bersiap untuk kembali ke kantor. Sementara Adit mencari Dinda di dalam ruangannya, Andi menunggu di salah satu meja yang telah kosong kembali.


"Rinaya ...," panggil lelaki itu.


Rinaya yang mendengar namanya dipanggil menahan langkah kakinya di dasar tangga. Dia menoleh ke samping dan melihat Andi yang sudah mendekati tempatnya berdiri.


Pandangan mereka bertemu membuat wanita anggun itu mulai salah tingkah.


"Ya, mas Andi ...?" jawabnya dengan sedikut gugup.


"Mmm ... apa aku bisa minta nomor ponselmu?" Andi bertanya langsung pada intinya.


"Oh ya, mas ...," jawab Rinaya singkat.


Sebenarnya dia masih ragu untuk memberikan nomor ponselnya karena mereka baru saja bertemu. Tapi mengingat jika Andi bekerja di kantor yang sama dengan Adit, dia pun membuang keraguannya.


Andi menyodorkan ponselnya kepada Rinaya yang langsung diterima Rinaya. Dia menuliskan nomor ponselnya dan mengembalikan ponsel itu ke tangan Andi.


"Ini sudah, mas."


"Terima kasih, Rinaya." Andi tersenyum membuat hati Rinaya beegetar lagi. Lelaki itu segera menyimpan nomor itu di kontak ponselnya.


"Kalau begitu saya tinggal ke atas dulu, mas Andi."


Rinaya membalas senyuman Andi dan berlalu menaiki tangga dengan hati yang masih penuh gejolak, meninggalkan Andi yang juga masih terpukau dengan paras dan tutur kata wanita cantik nan aggun itu.

__ADS_1


"Ya Allah, mengapa hatiku terus berdebar seperti ini ...??" batin Andi, sama seperti yang dirasakan oleh Rinaya.


Andi masih memaku pandangannya ke arah Rinaya, memperhatikan langkah kaki wanita itu menaiki satu demi satu anak tangga, sampai tubuh itu tak lagi terlihat oleh jangkauan matanya.


Andi menghela nafas panjang, menetralisir perasaannya. Dia berjalan ke ruangan Dinda bersamaan dengan Adit dan Dinda yang keluar dari dalam.


"Sayang, aku kembali ke kantor dulu ya. Tunggu aku nanti sore." Andi mencium ujung kepala dan juga kening Dinda.


"Saya juga pamit, Dinda. Terima kasih untuk makan siangnya yang sangat enak," ucap Andi dengan pujian tulusnya karena masakan Dinda benar-benar nikmat dan memanjakan lidahnya tadi.


"Sama-sama, mas Andi. Kapan-kapan kita makan siang bersama lagi di sini ...," balas Dinda.


Mereka bertiga berjalan keluar beriringan. Dinda melepas kepergian Adit dan Andi yang sudah masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan gerai.


Tanpa ada yang mengetahui, dari lantai tiga gerai, Rinaya berdiri di dekat dinding kaca yang menghadap ke arah halaman depan.


Diam-diam dia melihat Andi yang keluar dari cafe bersama Adit, lalu berjalan masuk ke dalam mobil Adit melalui sisi sebelah kiri. Dia tersenyum sendiri saat memperhatikan sosok lelaki bermata teduh yang telah mencuri perhatiannya itu.


.


.


.


Sampai di kantor, Andi dan Adit masuk ke ruangan masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Berbeda dengan Adit yang langsung fokus dengan pekerjaannya, Andi hanya duduk diam di depan layar kerjanya. Tatapannya kosong, pikirannya menerawang jauh ke tempat lain.


Sesekali dia mencoba berkonsentrasi pada tugasnya, tapi masih belum bisa. Dia masih memikirkannya. Memikirkan wanita cantik nan anggun bagai bidadari yang baru saja ditemuinya di cafe Dinda. Dia merasa hatinya telah terpikat pada pandangan pertama.


Sudah lama sekali Andi tidak pernah merasakan hatinya seperti ini. Sejak kepergian kekasihnya yang meninggal karena sakit lima tahun yang lalu.


Dan hari ini, hatinya seakan menemukan pijarnya kembali, setelah sekian lama gelap dan hampa tanpa dimiliki.


Meski dia belum tau apa pun tentang wanita itu, hatinya tak mau peduli. Hatinya memberi isyarat bahwa rasa itu telah hadir kembali dengan indah.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


๐Ÿ’œAuthor๐Ÿ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2