Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
80 MANISNYA CINTA


__ADS_3

"Ya..." Andi mencari istrinya yang tak didapati di sampingnya saat dia bangun.


"Aku di sini, mas."


Rinaya keluar dari kamar mandi dan menghampiri suaminya. Dia duduk di atas tempat tidur, di samping Andi yang masih berbaring.


"Kamu sudah mandi?"


Rinaya menggeleng, tadi dia hanya cuci muka setelah terbangun dari tidur siangnya bersama sang suami.


Andi berpindah tiduran di pangkuan istrinya. Kepalanya berbantalkan paha dan tangannya memeluk erat pinggang Rinaya.


"Masih mengantuk, mas?"


Andi menggelengkan kepalanya yang masih terbenam menghadap perut istrinya. Matanya terpejam tetapi tidak tidur.


Rinaya mengelus-elus kepala suaminya sambil sesekali dia mengacak rambut Andi yang mulai memanjang dan menutupi bagian telinganya.


"Kapan mau potong rambut, mas? Ini sudah panjang dan tidak rapi."


Andi menengadahkan kepalanya menatap Rinaya yang menunduk dan terus memainkan rambutnya.


"Besok ya, Ya. Sekalian mengantar kamu perawatan di salon langgananmu. Tak jauh dari sana ada barbershop juga."


"Ya, mas. Aku lebih suka rambut kamu yang seperti biasanya. Jangan dipotong terlalu pendek." Pinta Rinaya.


"Hmm.., istriku selalu tahu yang terbaik untuk suaminya..." Tangan Andi mengulur ke atas, mengusap lembut pipi Rinaya.


"Karena kamu juga selalu memberikan yang terbaik untukku, mas. Kamu memberikan cinta terbaikmu untukku. Aku sangat mencintaimu, mas..."


Rinaya menyentuh tangan Andi yang masih mengusapi pipinya. Dia menggenggamnya dan membawanya ke arah bibirnya.


Cup! Dia mencium punggung tangan suaminya lalu menurunkan kepalanya dan mencium kening Andi.


Andi tersenyum lebar lalu bangun dari pangkuan istrinya sehingga wajahnya berhadapan dengan wajah secantik bidadari milik istrinya.


"Teruslah seperti ini, Ya. Selalu tunjukkan perasaanmu padaku dan tetaplah bersikap manja kepadaku. Aku sangat menyukainya."


Andi membalas mencium kening Rinaya dan mengecup bibirnya. Rinaya tidak tinggal diam, dia membalas ciuman suaminya dengan ciuman bibir yang lebih lama dan menggoda.


"Hmm.., kau membuatku menginginkannya lagi, Ya." Tatapan Andi mulai nakal.


"Kalau kamu mau, kita bisa melakukannya lagi seperti tadi pagi, mas. Mumpung kita berdua belum mandi sore..." Rinaya membuat penawaran yang tidak mungkin ditolak oleh suaminya.


"Tentu saja, sayang. Tentu saja aku mau. Aku selalu menginginkanmu, lagi dan lagi..."


Sore yang baru saja tiba, mengiringi gerak tubuh sepasang suami-istri yang baru saja memulai untuk memanaskan kembali suasana kamar mereka dengan suara-suara asmara yang menggema di sela permainan mereka yang tengah mereguk manisnya madu cinta.


*Info : part Andi-Rinaya di novel ini sementara dikasih yang manis-manisnya dulu ya. Insyaallah sebentar lagi ada sequel khusus tentang mereka berdua secara keseluruha**n*.


.

__ADS_1


.


.


Di akhir pekan yang sama, calon mama dengan perut membulatnya tengah menikmati sejuknya angin siang menjelang sore di teras belakang kamarnya.


Kedua tangannya terus mengelusi perutnya yang baru saja bergerak-gerak karena tendangan kencang dari calon bayinya di dalam perut.


"Kesayangan mama sedang apa di sana, nak? Hhmm.., mau mengajak mama main bola ya? Atau mau belajar karate sama papa?"


Dinda terus berbicara dengan calon buah hatinya. Wajahnya tampak berseri bahagia setiap kali merasakan tendangan cinta dari calon anaknya.


Adit muncul dari dalam kamar membawa teh hangat untuk istri tercintanya. Setelah meletakkan cangkir yang dibawanya di atas meja kecil di samping bangku panjang yang diduduki istrinya, dia segera berlutut di depan Dinda dengan tangan memeluk perut bulat istrinya.


"Apa kabar kesayangan papa? Jangan terlalu kencang olahraganya ya, supaya mama tidak kesakitan, nak. Papa menyayangi kalian berdua, kamu dan mama..."


Adit melingkarkan tangannya ke pinggang Dinda, lalu merebahkan kepalanya di atas perut istrinya dengan memejamkan matanya. Sebelumnya dia menciumi perut itu di seluruh bagiannya, membuat Dinda senang sekaligus kegelian.


Baru beberapa saat menyandarkan kepalanya, tiba-tiba Adit dikejutkan dengan gerakan keras yang sangat terasa di pipinya yang menempel di perut istrinya. Sontak dia menarik kepalanya dan mengamati perut Dinda.


Dia tersenyum bahagia ketika melihat perut Dinda bergerak-gerak dan menunjukkan sebuah tonjolan di satu bagian, lalu berpindah di bagian lainnya. Calon bayi mereka menunjukkan kelincahannya pada sang papa.


"Aah, pipi papa dicium sama kamu, nak. Terima kasih, sayangnya papa. Kau harus sehat terus dan tumbuh semakin besar dan kuat ya, nak. Kami berdua sudah tak sabar lagi menantikan kehadiranmu di tengah-tengah kami..."


Adit kembali memajukan wajahnya lalu mencium bagian perut Dinda yang baru saja ditendangi oleh calon bayi mereka.


"Mmuuaahh..!! Papa sangat menyayangimu, nak."


Kemudian dia bangkit dan duduk di samping istrinya, lalu mencium mesra kening Dinda dengan sangat lama.


Kedua pasang bola mata mereka beradu pandang dengan tatapan sarat cinta dan binar kebahagiaan.


Dengan tangan kiri memeluk pinggang belakang Dinda, dan tangan kanan berada di atas perutnya, Adit mendekati wajah istrinya lalu mencium bibirnya dengan penuh perasaan.


Dinda langsung menyambut ciuman itu, membalasnya dengan hangat dan membiarkan suaminya terus mencium bibirnya semakin mesra dan semakin meminta.


"Uhmm..., mas..." Dinda berusaha menarik bibirnya dari penguasaan suaminya, setelah cukup lama mereka berciuman tanpa henti.


"Mas, aku mau minum.." Ucapnya setelah berhasil menghentikan ciuman Adit yang membuat dia hampir kehabisan nafas.


"Maaf, sayang. Aku lupa kalau aku tadi membawa minuman kemari."


Adit dengan nafas yang masih memburu segera mengambil teh hangat buatannya lalu diberikan pada Dinda yang langsung menerima dan meminumnya. Dia memang benar-benar haus hingga satu cangkir teh hangat itu sudah habis dalam satu kali minum.


"Terima kasih, mas." Dinda menyerahkan cangkir yang sudah kosong kepada suaminya untuk diletakkan kembali di atas meja di sebelahnya.


"Kamu mau kembali ke dalam?" Tanya Adit sembari merapikan rambut istrinya dan menyelipkannya ke belakang telinga lalu mencium di bagian dalam telinganya hingga Dinda bergidik kegelian.


"Maasss..."


Dinda merentangkan kedua tangannya dan menatap suaminya dengan manja. Adit bangkit dari duduknya dan mengambil posisi untuk menggendong istrinya.

__ADS_1


Meskipun mulai kewalahan tetapi Adit tidak pernah mengeluh dan selalu menuruti permintaan istrinya tiap kali dia bermanja dan minta digendong.


Dia segera membopong tubuh ibu hamil kesayangannya itu dan dengan cepat membawanya masuk dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Akhirnyaaa..." Adit tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya lurus ke atas untuk meregangkan otot pinggangnya.


Dinda yang melihatnya merasa bersalah sekaligus kasihan karena sudah sering meminta gendong pada suaminya.


"Aku sudah berat sekali ya, mas?" Tanyanya yang membuat Adit menurunkan tangannya dan duduk menghampiri istrinya.


"Harus! Kamu memang harus semakin berat, karena calon anak kita juga akan terus tumbuh semakin besar. Pasti berat bagimu membawanya ke mana-mana dengan tubuhmu sendirian."


"Jadi selama aku mampu, aku akan selalu membantumu dan selalu siap untuk menggendongmu ke mana pun yang kamu minta. Bukankah anak kita juga akan senang jika papanya memanjakannya dan mamanya...?"


Adit kembali mencium kening istrinya lalu berpindah mencium perutnya dengan lembut sepenuh cinta. Rutinitas yang selalu dilakukannya kapan pun dan di mana pun dia mau. Tak peduli di ruang pribadi maupun sedang berada di tempat umum.


"Terima kasih, mas. Anak kita pasti sangat bahagia mempunyai papa yang begitu menyayanginya dan memanjakannya seperti ini. Aku juga sangat beruntung memiliki suami siaga sepertimu."


Dinda menitikkan air mata bahagia, menatap suaminya yang masih terus menciumi perutnya.


"Aku juga beruntung beristrikan dirimu, sayang. Kamu dewasa, mandiri dan tidak pernah menyusahkan suamimu ini. Terima kasih sudah mencintaiku dan menjadi pelengkap hidupku."


Adit berbaring di samping Dinda dan menarik pelan tubuh istrinya agar merapat padanya sehingga dia bisa memeluk dan menciumi wajahnya.


"Tidurlah, agar anak kita juga ikut beristirahat bersama kita di dalam sana."


Dinda mengangguk dan mencari posisi ternyamannya di dalam pelukan Adit. Dia mulai memejamkan matanya dan tak lama kemudian sudah terlelap bersama suaminya yang juga telah tertidur memeluk perutnya. Memeluk dirinya dan memeluk calon anak mereka.


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah lulus kontrak dan berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2