
Adit berusaha mencari cara lain untuk menghapus trauma dalam diri Dinda yang masih dirasakannya. Dia ingin istrinya segera pulih secepatnya.
Dia merindukan Dinda yang dulu sangat ceria dan bersemangat di pagi hari. Dinda yang selalu membangunkan tidurnya dengan ciuman selamat pagi dan senyum terindahnya.
Dia juga merindukan wajah istrinya yang selalu cantik dan segar dengan rona merah pipinya yang membuatnya selalu gemas. Kini dia hanya bisa melihat wajah Dinda yang pucat dan lelah akibat gangguan tidur yang dialaminya setiap hari.
Semalam, Adit menemani Dinda hingga tertidur cukup pulas. Dan pagi ini jam empat subuh, Adit bangun lebih dulu di saat sang istri masih terlihat lelap.
Mulai pagi ini Adit akan membangunkan Dinda sebelum istrinya itu terbangun dengan wajah pias dan ketakutan seperti sebelum-sebelumnya.
"Sayang, bangun.." Bisik Adit selirih mungkin di telinga Dinda yang tidur dalam posisi menyamping.
"Ayo bangunlah.."
Adit kembali berbisik disertai ciuman lembut di pipi istrinya. Dia masih menunggu karena Dinda belum terbangun juga. Akhirnya dia kembali memanggil yang ketiga kalinya.
"Sayang, aku mencintaimu, bangunlah.." Adit mencium kening Dinda.
Sesaat kemudian terdengar suara serak membalasnya.
"Aku juga mencintaimu.."
Sepertinya dia belum sadar saat mengatakannya, membuat Adit tersenyum melihatnya. Setidaknya di alam bawah sadarnya, Dinda mendengar suaranya dan menjawabnya.
Dia tidak menyerah. Dia ingin Dinda bangun dengan tenang. Dia menarik selimut dari tubuh istri, lalu membalikkan badannya sehingga kini menjadi telentang.
"Bangunlah.."
Adit mendekati wajah Dinda dan mengecup bibirnya. Satu kecupan ringan belum berhasil membangunkannya. Adit kembali mengulang kecupannya lebih lama, namun Dinda masih diam tak merasakannya.
Akhirnya langkah terakhir dia lakukan. Mencium bibir Dinda dan memainkannya berulang-ulang. Dan kali ini berhasil. Dinda perlahan membalas ciumannya dan mulai membuka kedua matanya.
"Selamat pagi..." Adit melepaskan ciumannya dan tersenyum menyambut istrinya yang telah terbangun.
"Pagi.."
Dinda tampak terkejut sendiri dengan keadaannya yang terbangun dengan tenang dan baik-baik saja. Dia lalu duduk dan melihat ke sekelilingnya.
"Sayang, aku....." Dia menatap Adit tak percaya.
Adit tersenyum dan segera memeluk tubuh istrinya.
"Iya. Kamu bangun dan kamu baik-baik saja."
Adit bersyukur usahanya berhasil. Dia terus saja memeluk Dinda dan menciumi ujung kepalanya. Dinda pun membalas pelukan itu dengan hati lega.
"Terima kasih.." Ucap Dinda dalam pelukan sang suami.
"Kita akan terus berusaha dan mencobanya, sayang. Sampai kamu benar-benar pulih kembali." Jawab Adit diiringi satu ciuman lembut di kening istri tercintanya.
Tak berapa lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara adzan dari kejauhan. Adit mengajak Dinda untuk bersiap dan melaksanakan kewajiban mereka di awal pagi.
__ADS_1
Dan hari itu, semuanya berawal dengan sangat baik bersama pagi yang penuh senyuman.
.
.
.
Satu minggu berlalu, Adit terus melakukan ritual paginya demi kesembuhan sang istri. Setiap menjelang subuh, dia selalu bangun lebih dulu untuk membangunkan Dinda dengan cara romantisnya.
Memang tidak selalu berhasil sepenuhnya. Terkadang Dinda masih terbangun dengan wajah terkejut dan ketakutan sesaat. Tapi ketika dia melihat Adit di hadapannya, dia bisa segera tersenyum dan memeluk suaminya untuk mencari kehangatan dan kenyamanannya di sana.
Saran lainnya dari Putri pun tetap dilakukan oleh Adit. Beberapa kali dia melakukan panggilan video di saat mereka berada di tempat kerja masing-masing.
Sama seperti yang dikatakan Putri, jika Dinda terus menghindari melakukan panggilan video karena takut, maka hal itu akan terus terbawa dan semakin terpatri dalam dirinya menjadi ketakutan berkelanjutan.
Awalnya Dinda menolak dan tidak mau menerimanya, bahkan dia menangis saat Adit menelepon dan mengatakan akan melakukan panggilan video. Dia takut akan terjadi hal yang buruk saat sedang melakukan panggilan video.
Akhirnya dengan memberikan pengertian, dan dibantu oleh Rinaya dan Elisa di gerai, Dinda berani menerima panggilan video dari Adit setiap hari selama seminggu ini.
Dua hari pertama dia masih takut dan harus ditemani oleh Rinaya atau Elisa. Hingga akhirnya di hari-hari berikutnya Dinda sudah berani untuk menerima panggilan video dari suaminya seorang diri. Mereka sudah bisa berbincang dengan suasana hati Dinda yang lebih tenang.
Seperti siang ini, Adit juga melakukan panggilan video dengan Dinda untuk makan siang bersama di tempat kerja masing-masing. Sebelumnya tadi dia sudah mengirim pesan pada istrinya jika akan makan siang bersama melalui panggilan video.
"Assalamualaikum, sayang.."
Tampak di layar ponsel milik Dinda, Adit menyapa istrinya dari sofa ruang kerjanya. Dia duduk lantai dengan ponsel yang disandarkan di atas meja. Tangannya sudah memegang kotak makanan yang akan disantapnya.
Dinda juga sudah siap di meja kerja di dalam ruangannya dengan ponsel yang ditegakkan di tumpukan buku. Hanya ada sebuah kotak makanan yang berisi dua porsi mini burger dan juga french fries yang dia letakkan di atas meja bersama satu kemasan orange juice kesukaannya.
"Kamu tidak makan nasi, sayang?" Tanya Adit sambil menyendokkan nasi goreng seafood ke dalam mulutnya.
Dinda menggelengkan kepala. Mulutnya masih penuh dengan potongan burger yang baru saja digigitnya.
"Waktu lihat promonya di sosial mediaku tadi, tiba-tiba aku ingin makan mini burger ini. Aku nitip sama Elisa yang keluar bersama Farrel."
Adit terus memperhatikan istrinya yang masih menikmati mini burger keduanya. Dia sudah hafal kebiasaan Dinda, jika sedang ingin makan sesuatu pasti tidak mau jika hanya sedikit, dia akan selalu makan dengan porsi berlebih.
"Jangan sampai perutmu sakit, sayang. Kamu belum makan nasi lho." Adit mengingatkan.
Dinda mengangguk lalu mengambil minumannya dan meneguknya sedikit demi sedikit. Mini burger sudah dia habiskan semua. Tinggal french fries yang masih menunggu gilirannya untuk dinikmati oleh Dinda.
"Berhenti dulu, kentangnya nanti saja, sayang. Nanti perutmu begah kalau langsung kamu makan semuanya."
"Iya.." Jawab Dinda sambil menutup kotak makanannya dan diletakkan di ujung meja.
Sekarang dia menatap wajah suaminya dari layar ponsel. Adit juga sudah menyelesaikan makan siangnya. Mereka saling memaku pandangan meski tak secara langsung.
Tanpa sadar Dinda meneteskan air mata. Matanya kian terasa panas hingga air matanya terus mengalir. Hatinya pun mulai terasa sesak dan menghangat. Entah mengapa suasana hatinya tiba-tiba berubah begitu saja.
"Sayang, mengapa menangis? Ada apa?"
__ADS_1
Adit mulai panik. Namun dia tetap memasang wajah tenangnya, tak ingin Dinda di sana melihat kekhawatirannya.
"Aku rindu.."
Hah? Adit terbengong di sana. Dia tak mengerti maksud istrinya. Dinda menangis hanya karena rindu padanya? Baru berapa jam saja mereka tidak bertemu. Bahkan saat ini pun mereka masih saling memandang dengan jelas, meskipun sebatas di dalam layar ponsel.
"Aku ingin bertemu denganmu.." Dinda merajuk.
"Hei sayang, beberapa jam lagi kita akan bertemu. Jangan menangis seperti itu, aku tidak tahan melihatnya.." Hati Adit melemah jika sudah melihat air mata istri tercintanya.
"Sekarang. Aku ingin bertemu denganmu sekarang."
Mendadak panggilan video itu ditutup oleh Dinda, membuat Adit kalang-kabut karenanya. Jika dia tidak menuruti kemauan istrinya, dia tahu konsekuensinya. Dinda pasti akan marah dan mendiamkannya dalam waktu yang tak bisa diprediksi.
Tanpa pikir panjang, Adit langsung meraih ponselnya yang masih tersandar di meja dan segera meninggalkan ruangan untuk pergi menemui istrinya.
Dia melupakan sampah makan siangnya yang masih berantakan di meja sofa. Dia juga meninggalkan setumpuk dokumen yang belum sempat diperiksa. Bahkan untuk pamit pada Andi pun dia melupakannya.
.
.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS SEGALA SALAH DAN KHILAF
TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM
BARAKALLAHU FIIKUM
Author & Keluarga
🙏🙏🙏
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1