
Sepertinya pertanyaan tadi adalah pertanyaan terakhir Ayah untuk Adit.
Ayah dan Bunda tersenyum bersamaan. Lalu Ayah mengambil ponsel yang tadi diletakkan di atas meja, dan langsung berbicara dengan seseorang di seberang sana, dengan posisi loudspeaker menyala sehingga kami semua bisa mendengarnya.
➡️ "Gimana, calon besan? Sudah dengar sendiri kan, anak kamu ngomong apa saja tadi.."
⬅️ "Hahaa.., iya Arya. Bukan kah dia sepertiku? Tangguh dan berani.."
➡️ "Ok ok, aku akui Satrio, anakmu luar biasa, pantang menyerah seperti kamu.."
⬅️ "Sepertinya rencana perjodohan kita sudah berhasil sebelum dilakukan. Ternyata mereka berjodoh sendiri tanpa harus kita atur.."
Lalu mereka tertawa bersama, melalui sambungan telepon yang masih terus dibuka.
Aku dan Adit saling tatap dengan pandangan bingung. Ada apa ini sebenarnya..?! Calon besan? Anak? Perjodohan?
Sedangkan Bunda, ikut tertawa bersama Ayah..
➡️ "Jadi, kapan kamu dan istrimu akan datang kemari? Jangan kelamaan Satrio, jangan sampai keduluan yang lain datang ngambil calon menantu kamu lho, hahaa.."
⬅️ "Segera kami akan ke sana. Nanti aku kabari oke, calon besan."
➡️ "Ok, siappp.. Aku tutup dulu teleponnya ya. Sepertinya mereka butuh penjelasan dariku saat ini juga."
⬅️ "Baiklah Arya. Sampai jumpa.."
Ayah mematikan sambungan teleponnya.
Aku dan Adit masih menunggu Ayah memberikan penjelasannya. Karena saat ini aku dan Adit sama-sama tidak memahami apa pun tentang percakapan Ayah dengan seorang temannya tadi.., yang bernama Satrio..?!
"Masih belum paham juga..?" Hanya itu yang diucapkan Ayah.
"Ayah, tadi itu siapa? Kok Ayah membicarakan kami dengannya?" Aku yang tak sabar langsung meminta penjelasan dari Ayah.
"Adit, masak kamu tidak tahu suara siapa tadi..?"
Ayah tertawa pelan membuat kami semakin bingung saja. Adit yang ditanya malah semakin bengong.
"Itu tadi Papa kamu, Satrio.., teman SMA Om."
"Hahh..??" Aku dan Adit terperangah kaget bersamaan.
"Jadii.., Om sama Papa sudah saling kenal?" Tanya Adit.
__ADS_1
"Iya, kami sudah bersahabat sejak SMA dulu."
Kemudian Ayah bercerita panjang lebar tentang persahabatan mereka, Ayah dan Om Satrio, papanya Adit.
"Kalian tahu kan, kakek nenek kalian sama-sama berasal dari kota yang sama? Dan kebetulan Ayah dan papanya Adit juga satu sekolah, kami bersahabat dari SMA bahkan sudah seperti saudara. Tapi setelah lulus, Satrio melanjutkan kuliah ke Jakarta, sementara Ayah kuliah di sini. Yaa begitulah.., seiring waktu berlalu dan karena kesibukan masing-masing, lambat laun kami kehilangan komunikasi satu sama lain.."
Aku dan Adit menyimak dengan seksama, karena ini benar-benar tidak kami ketahui sebelumnya.
"Satu tahun yang lalu, diadakan reuni SMA. Di sanalah kami bertemu kembali setelah sekian lama berpisah tanpa ada kabar. Saling berbagi cerita hingga kami baru tahu kalau anak kami kuliah di kampus yang sama. Berawal dari situlah, kami berencana untuk menjodohkan kalian berdua.."
"Tapi setelah kami saling berkirim foto kalian, barulah kami sadar, ternyata kalian sudah menjalin hubungan sebelum kami mengatur rencana pertemuan untuk kalian. Dan akhirnya, terjadilah seperti hari ini..."
Ayah menutup ceritanya dengan wajah bahagia. Sementara aku dan Adit, masih tak percaya dengan semua ini. Hari ini semua terjadi penuh dengan kejutan.
"Adit, kalau kamu tidak keberatan, malam ini menginaplah di sini. Hari ini pasti sangat melelahkan bagimu. Tidak baik memaksakan pulang dalam kondisi kecapekan. Apalagi kamu menyetir mobil sendirian.."
Bunda yang sedari tadi lebih banyak diam, meminta Adit untuk tidak terburu-buru pulang hari ini.
"Iya, Adit. Beristirahatlah dulu di sini barang sehari. Biar nanti Om yang bicara dengan papa kamu. Dia tidak akan keberatan. Anggap saja sebagai bonus atas keberanian kamu tadi, calon menantu.." Ayah menyetujui permintaan Bunda dengan senyum cerah di wajahnya.
"Baik Om, Tante. Terima kasih banyak.." Adit langsung mengiyakan saja perkataan Ayah dan Bunda.
Dia menoleh ke arahku sambil cengar-cengir sendiri. Jangan ditanya lagi perasaanku, sudah pasti senang karena ini pertama kalinya Adit bisa menginap di rumah, apa lagi dengan status baru sebagai calon menantu.
"Sayang, terima kasih ya. Hari ini aku lega dan sangat bahagia.."
Sebelah tangan Adit menggenggam tanganku dan mendekapnya di dada, sementara tangan kanannya tetap memegang setir mobil.
Sesekali dia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. Aku masih diam memperhatikannya tanpa henti. Aku masih tak percaya, hari ini Adit sudah menunjukkan kesungguhannya pada Ayah Bunda, memintaku untuk menikah dengannya.
"Calon suami..."
Tanpa sadar aku bergumam tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Adit mencium tanganku yang masih terus digenggamnya, membuyarkan setengah lamunanku.
"Sudah puas belum, ngeliatin calon suami kamu yang ganteng dan ngangenin ini..?!"
Aku berusaha menyembunyikan rasa maluku karena ketahuan. Ku alihkan pandanganku ke luar jendela. Tapi malah membuat Adit semakin menggodaku.
"Kenapa malu, sayang? Terus aja ngeliatin aku, aku seneng kok.." Genggamannya semakin erat dalam dekapan dadanya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu..
"Sayang, kamu hutang satu penjelasan sama aku..!!"
__ADS_1
Adit menoleh sekilas ke arahku, setelah itu kembali fokus menyetir.
"Hutang apa? Hutang untuk menikahi kamu..?"
Aku tidak menggubris candaannya. Aku segera meminta Adit untuk berhenti di sebuah cafe berkonsep outdoor di depan kami. Setelah memesan minuman, aku ajak Adit menuju sebuah meja kosong di bagian depan cafe.
"Oke, sekarang jelaskan padaku, apa yang kamu katakan tadi siang. Kamu bilang pada Ayah, kalau kamu sudah bekerja..?"
Adit yang duduk di depanku tertawa kecil menatapku.
"Emang iya.., terus kenapa..?"
"Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku?"
"Karena kamu gak pernah tanya sama aku.." Jawabnya singkat.
"Sayang, aku serius ih, jangan becanda dulu deh..!"
Lama-lama aku senewen juga dengan sikap Adit yang tenang tanpa dosa. Setelah minuman kami datang, Adit akhirnya memulai ceritanya.
"Awalnya aku hanya iseng membantu bisnis furniture Papa, selepas SMA dulu. Sebelumnya, target marketing Papa hanya berskala nasional. Biasalah, jajaran managerial di kantor Papa kan masih diisi kalangan lama. Lalu aku mencoba mencari celah marketing online untuk memasarkan produk dari perusahaan Papa ke pasar internasional.."
Aku mulai menyimak dengan seksama, karena aku penasaran dengan penghasilan Adit. Bukannya matre ya, cuma pengen tahu aja, karena tadi siang dia dengan pede nya menyanggupi persyaratan Ayah untuk mencukupi semua kebutuhanku.
"Setelah beberapa lama, akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai bisa menguasai pasar luar negeri, memasarkan produk-produk andalan kami dan mulai memiliki banyak pelanggan.."
"Saking asiknya menikmati kesibukanku, aku sampai menunda kuliahku dua tahun lamanya.."
Mendengar ceritanya, aku menjadi benar-benar kagum dengan Adit.
"Lalu, setelah kamu kuliah, pekerjaan kamu gimana?"
"Aku kan kerja secara online, sayang. Bisa aku selesaikan di mana saja. Selain itu, ada beberapa orang yang membantu mengurusi semua pekerjaan di lapangan. Juga ada satu asisten yang membantu pekerjaanku di kantor Papa."
"Pantesan kamu pedenya luar biasa waktu dicecar Ayah tadi. Malahan aku yang deg-degan mau pingsan.." Aku tertawa sendiri mengingat suasana mencekam tadi siang.
"Dan ternyata kita dikerjain sama orang tua kita, hahaa.." Tambah Adit. Lalu kami berdua tertawa lepas menertawakan diri sendiri..
.
.
.
__ADS_1