Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
68 EMPAT BELAS MINGGU


__ADS_3

Adit dan Dinda masih merasa tak percaya dengan berita bahagia pagi ini. Berita yang tentu saja sangat mereka nantikan selama ini, setelah peristiwa kehilangan yang mereka alami beberapa bulan yang lalu.


Menjelang subuh tadi, Adit membangunkan istrinya seperti biasa. Meskipun trauma yang dialami Dinda sudah sembuh dan tidak lagi dirasakannya, tetapi Adit tetap melakukan rutinitas romantisnya setiap bangun di pagi hari.


Seperti pagi-pagi sebelumnya, Adit bangun dan memulai ritual romantisnya untuk membangunkan Dinda. Semalaman, Dinda tidur dalam pelukannya. Begitu hangat dan nyaman bagi keduanya. Saat dirinya terbangun dan membuka mata, posisi mereka pun masih tetap sama, saling memeluk dengan wajah Dinda bersandar di atas dadanya yang terbuka tanpa mengenakan pakaian.


Adit mencium ujung kepala istrinya sambil membisikkan kalimat cinta seperti kebiasaannya selama ini. Kemudian pelan-pelan dia mengangkat kepala Dinda dan memindahkannya ke atas bantal. Mengamati wajah cantik nan lelap istrinya membuatnya bergairah pagi itu.


Adit mulai mencium kening Dinda berulang kali, lalu turun dan mencium kedua mata yang terpejam rapat itu. Selanjutnya dia mencium kedua pipi menggemaskan istrinya itu bergantian. Setelah puas dengan pipinya, Adit beralih ke telinga Dinda. Dia mencium dan sesekali menyapunya dengan ujung lidahnya, membuat pemiliknya tanpa sadar bergidik dan mengeluarkan suara desahan halus dari mulutnya.


Adit yang mendengar desahan itu semakin menegang. Dia turun ke leher istrinya, menciuminya dengan lembut dan sesekali juga menyapu permukaan kulit halusnya dengan ujung lidahnya yang sudah menari indah di sana.


Adit berhenti sejenak. Dia memperhatikan tubuh istrinya yang masih berbaring miring dengan tangan memeluk pinggangnya. Dengan sangat hati-hati dia membalikkan tubuh itu dan memposisikannya telentang tanpa selimut. Dirinya semakin dipenuhi hasrat untuk menyatukan tubuh mereka.


Wajahnya kembali mendekati wajah Dinda yang tenang namun mampu membangkitkan naluri kelelakiannya. Segera diciuminya bibir tipis nan manis itu, berawal dari yang lembut hingga akhirnya menuntut lebih dan lebih lagi, semakin lama semakin dalam dan semakin ingin menguasai seluruhnya.


Dinda mulai bereaksi. Tubuhnya menggeliat membuat Adit semakin menjadi. Dan saat istrinya membuka kedua matanya, Adit menghentikan kegiatannya dan menatap mata bening itu lekat-lekat.


"Selamat pagi, sayang. Maaf aku membangunkanmu dan mengganggumu."


Adit kembali mencium kening Dinda. Tanpa diduga, Dinda mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya yang kini telah berada di atas tubuhnya dan mengurung pergerakannya.


"Lanjutkan saja, mas.. Tapi sekali saja.."


Sebenarnya Dinda merasa tubuhnya lemas dan kepalanya sedikit pusing, namun dia tak ingin mengecewakan suaminya yang sudah setengah jalan.


"Terima kasih, sayang. Aku akan segera menyelesaikannya."


Lalu Adit kembali beraksi. Dia mengulangi semuanya dari awal, dengan kesadaran penuh dari Dinda yang kini mulai membalas dan menerimanya dengan hangat.


Setelah merasa cukup dengan awalannya, Adit mulai menuntaskan hasratnya pagi itu dengan lembut dan perlahan membuat Dinda pun sama-sama menikmatinya dengan mata terpejam. Hingga akhirnya mereka berdua mencapai tujuannya secara bersamaan dan penuh kepuasan.


Beberapa saat mereka mengistirahatkan tubuh mereka yang telah berpeluh. Dan saat sayup-sayup terdengar suara adzan subuh, mereka berdua turun dari tempat tidur dan segera membersihkan diri serta bersuci di kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, Dinda menuju lemari pakaian dan menyiapkan pakaian untuk mereka berdua. Setelah merapikan diri masing-masing, mereka melangkah ke sudut kamar dan menunaikan kewajiban subuhnya.


Selesai melaksanakan dua rakaatnya, Adit melepas dan melipat sarungnya, lalu dia keluar dari kamar untuk mengambil air putih. Dinda melepaskan mukenanya dan hendak melipatnya kembali.


Tak lama kemudian, Adit masuk ke kamar membawa segelas air putih untuk istrinya. Namun dia tidak melihat Dinda di meja rias maupun di atas tempat tidur. Dia meletakkan gelas di atas meja lalu memutar pandangannya ke seluruh ruangan.


Tiba-tiba pandangannya terhenti seketika saat menemukan keberadaan Dinda yang terkulai tak sadarkan diri di sudut kamar dengan mukena yang masih berantakan di tangannya.


"Dinda..! Sayang..!!"


Adit secepat kilat menghampiri istrinya dan menarik tubuh itu ke dalam pangkuannya. Dia menggoyang-goyangkan tubuh Dinda sambil menepuki pipinya agar segera tersadar. Namun usahanya masih belum berhasil. Dinda masih tak sadarkan diri juga.


Tak ingin terjadi hal buruk lagi pada istrinya, Adit segera membopong tubuh Dinda ke atas tempat tidur. Dia segera mengganti daster yang dipakai Dinda dengan dress yang lebih sopan, lalu dengan cepat dia pun meraih celana panjangnya dan memakainya.


Tak lupa dia mengambil dompet, ponsel dan kunci mobil. Setelah itu dia membopong tubuh Dinda keluar kamar menuju garasi. Dengan sedikit susah payah karena sempitnya garasi, akhirnya dia bisa mendudukkan tubuh Dinda di dalam mobil.

__ADS_1


Pintu garasi dia buka, dia keluarkan mobil, lalu menutup kembali garasi dan juga pintu rumah. Setelah rumah aman, Adit segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Lima belas menit melaju di jalanan yang masih lengang dan gelap, akhirnya mobil Adit berhenti di depan ruang IGD. Dinda masih juga pingsan. Adit langsung meminta bantuan petugas yang ada untuk membawa Dinda masuk menggunakan brankar yang telah tersedia.


Dengan sigap para petugas langsung mendorong masuk brankar ke ruangan pemeriksaan dokter jaga. Adit terus mengikutinya sampai ke dalam ruang pemeriksaan. Dia menceritakan kondisi istrinya dari awal di rumah sampai di rumah sakit.


Dokter dibantu dua orang perawat mulai memeriksa kondisi tubuh Dinda. Suhu tubuh, tekanan darah, detak jantung, denyut nadi, dan pemeriksaan lainnya.


Dirasa telah mengetahui diagnosa awal kondisi Dinda, dokter meminta perawat untuk memberikan suntikan vitamin sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut.


Dinda mulai sadar dan memanggil Adit dengan lirih, saat perawat akan melakukan suntikan.


"Mas.., mas Adit..."


"Aku di sini, sayang. Kita ada di rumah sakit. Tadi kamu pingsan di kamar."


Adit mencium kening istrinya lalu menenangkannya saat perawat meminta ijin untuk menyuntikkan vitamin di lengan Dinda.


Dokter jaga telah selesai menelepon seorang dokter yang berada di ruangan lain.


"Pak, saya belum bisa memastikan kondisi ibu sepenuhnya. Namun saya sudah memberitahukan kepada dokter di ruangan lain untuk melakukan pemeriksaan lanjutan kepada ibu."


"Apakah ada sesuatu yang serius dengan istri saya, Dok?"


Adit masih terlihat khawatir. Dia terus memegang tangan istrinya dan mengusapi kepalanya, sambil berbicara dengan dokter.


"Sepertinya tidak ada. Ibu hanya kelelahan dan mungkin kurang istirahat sehingga kondisinya melemah. Tapi dari kondisi perut ibu yang saya lihat tadi, kemungkinan besar ibu sedang hamil."


Adit menatap Dinda yang juga menatap padanya. Mereka sama-sama kaget dengan diagnosa sementara yang baru saja disampaikan oleh dokter.


Seorang perawat datang dan mengatakan sesuatu kepada dokter dengan pelan. Dia datang sambil membawa sebuah kursi roda.


"Pak, perawat akan membawa ibu ke ruangan dokter kandungan. Ibu akan diperiksa lebih lanjut oleh dokter di sana. Silakan."


Adit mengikuti perintah dokter. Setelah mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut, dia membopong tubuh Dinda dari brankar lalu didudukkan di kursi roda. Kemudian perawat membawa mereka keluar ruang IGD melalui pintu penghubung yag ada di dalam ruangan untuk menuju ruangan dokter kandungan di lantai tiga.


Waktu pagi seperti saat ini, sebenarnya tidak ada jadwal pemeriksaan dokter spesialis. Namun kebetulan ada seorang dokter kandungan yang baru saja menyelesaikan tindakan operasi sesar pada salah satu pasiennya, sehingga Dinda bisa langsung diperiksa oleh dokter kandungan pagi ini.


Mereka berdua bersama perawat yang menemani telah berada di dalam ruangan dokter kandungan yang kebetulan seorang perempuan. Karena sudah memperoleh penjelasan dari dokter jaga, dokter kandungan tersebut langsung meminta Dinda untuk berbaring di atas tempat tidur yang tersedia.


Perawat membantu menutup bagian bawah tubuh Dinda dengan selimut lalu membuka bagian perutnya dan mengolesi jelly di atasnya untuk pemeriksaan ultrasonografi.


Dokter menggerakkan alat pemeriksaan di atas perut Dinda yang terhubung dengan layar monitor di samping tempat tidur. Setelah beberapa saat, tangannya berhenti dan menunjuk sebuah lingkaran kecil di layar monitor.


"Selamat Bapak dan Ibu. Saat ini ibu benar sedang hamil. Dan usia kandungannya sekarang sudah empat belas minggu, sudah mendekati akhir trimester satu. Pemeriksaan bulan depan sudah masuk trimester dua."


"Ini adalah janin Bapak dan Ibu. Ukurannya sudah cukup besar dan kondisinya keseluruhannya sehat dan lengkap."


Adit dan Dinda terkejut bukan main. Mereka tak mengira usia kandungan Dinda sudah hampir empat bulan dan mereka tidak pernah mengetahui sebelumnya.

__ADS_1


Adit langsung memeluk dan kembali mencium kening Dinda yang masih terbaring di atas tempat tidur. Keduanya meneteskan air mata haru dan bahagia, tidak menyangka akan mendapatkan amanah kehamilan lagi secepat ini.


Dokter kembali mengulak-alik alat yang dipegangnya yang masih menempel di atas perut Dinda sambil menekan beberapa tombol di atas keypad.


"Dan silakan bersiap untuk melihat dan mendengarkan detak jantung janin anda."


Tak lama kemudian terlihat grafik detak jantung janin di layar monitor disertai bunyi detak jantung yang teratur dan terdengar begitu indah di telinga Adit dan Dinda, bahkan membuat mereka berdua merinding karena begitu takjubnya akan kehidupan baru yang ada di dalam perut Dinda. Kehidupan seorang calon bayi mungil yang beberapa bulan lagi akan hadir di tengah keluarga kecil mereka.


Tanpa sadar, air mata Adit dan Dinda mengalir semakin deras membasahi wajah mereka. Air mata syukur dan bahagia atas anugerah luar biasa yang hadir tanpa disangka-sangka.


Pemeriksaan selesai. Perawat membantu membersihkan jelly di perut Dinda dengan tisu yang disediakan, kemudian menbantunya turun dari tempat tidur. Dinda merapikan baju dan rambutnya yang sedikit berantakan.


Dokter sudah menuliskan resep obat dan vitamin yang harus Dinda minum rutin setiap hari sampai pemeriksaan berikutnya bulan depan. Setelah mendengarkan beberapa saran untuk kesehatan kehamilan Dinda, meeka berdua pun pamit dan keluar dari ruang pemeriksaan.


Berjalan menuju apotik rumah sakit, Adit terus memeluk pinggang istrinya begitu mesra. Satu tangannya tak berhenti mengelusi perut Dinda yang masih tampak rata itu. Mereka berjalan pelan, tak ingin terburu-buru. Kini ada yang harus selalu mereka pikirkan dan mereka utamakan setiap waktu, yaitu kesehatan dan keselamatan calon buah hati mereka dan juga sang ibu yang tengah mengandungnya.


Mereka berdua duduk di bangku panjang yang berjejer di depan apotik, setelah Adit menyerahkan resep dari dokter kepada petugas di sana. Mereka menunggu dengan sabar obat yang baru disiapkan di bagian dalam apotik. Dinda menunduk, melihat perutnya sendiri. Kedua tangannya mengusapi perut itu dengan perasaan haru yang membuncah.


"Terima kasih, sayang. Aku sangat bahagia. Sebentar lagi kita akan menjadi orangtua."


Adit terus mendekap tubuh istrinya dan sesekali menciumi ujung kepalanya. Dinda tersenyum bahagia dengan perhatian suaminya. Setiap hari Adit memang selalu memberikan perhatian yang begitu banyak dan berlebih kepadanya, tetapi kali ini Dinda merasakan perhatian itu semakin besar dan berlimpah.


"Aku juga sangat berterima kasih padamu, mas. Terima kasih atas kesabaran dan perhatianmu yang luar biasa untukku dan calon buah hati kita."


"Maafkan aku juga, jika ke depannya nanti akan sering merepotkanmu dan membuatmu lelah dengan perubahan sikap dan permintaan aneh-aneh yang mungkin akan terjadi padaku selama kehamilan ini."


Adit tersenyum dan menggenggam tangan Dinda dengan erat. Tatapan matanya penuh kasih dan kelembutan hati.


"Kita akan melaluinya bersama-sama, sayang. Kita akan menikmati setiap prosesnya dengan dasar cinta dan kasih sayang. Demi buah hati kita, buah cinta kita berdua."


.


.


.


Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


~Author~

__ADS_1


.



__ADS_2