
"Mas..." Dinda menggelayut manja di lengan Adit dengan kepala yang disandarkannya di bahu suaminya.
"Ada apa, sayang? Ada yang sakit? Atau ada yang kamu inginkan?"
Adit segera menghentikan pekerjaannya, mematikan laptop dan meletakkannya di atas meja yang ada di samping tempat tidur mereka.
Pandangannya beralih ke arah Dinda yang masih bermanja di sampingnya. Dia mengangkat tangannya dan memeluk erat istrinya dengan bersandar di kepala tempat tidur.
Dinda semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Dirinya merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan hangat Adit.
"Aku tidak apa-apa, mas. Aku hanya ingin dipeluk sama kamu.." Ucap Dinda dengan sedikit malu, membuat Adit tersenyum dan mencium ujung kepala istrinya dengan perasaan cinta.
"Hanya dipeluk saja?"
"Iya..."
Adit mempererat pelukannya sambil memejamkan matanya yang sebenarnya memang sudah mengantuk sejak tadi. Satu tangannya diletakkan di atas perut Dinda dan mengusapinya dengan lembut.
Di dalam hatinya dia memanjatkan doa untuk kesehatan dan keselamatan istri dan calon buah hati mereka. Adit berdoa dengan segenap perasaannya hingga tanpa sadar airmata mulai menetes di kedua pipinya.
Dinda yang merasakan isakan Adit segera menarik tubuhnya dari pelukan suaminya.
"Mas..., kok menangis..?"
Adit buru-buru menyeka airmatanya dan menggelengkan kepala. Senyum terukir di bibirmya sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja.
"Tidak, sayang. Aku tidak menangis, hanya terharu. Aku merasa sangat terharu setiap kali menyadari bahwa sekarang dirimu tengah mengandung calon anak kita.."
Adit menggeser tubuhnya dan membungkuk. Dia memegangi perut Dinda lalu memberikan ciuman di atas perut yang masih terlihat rata, setelah itu dia menyandarkan kepalanya di sana.
Dinda mengusapi kepala suaminya dengan mata berlinang. Suami yang selalu penuh perhatian padanya, sekarang semakin menunjukkan perhatiannya berkali lipat semenjak dia mengetahui kehamilan istrinya.
"Maafkan aku yang tidak peka dengan semua pertanda sebelumnya. Harusnya aku bisa menyadarinya sejak awal, sehingga kita bisa mengetahui tentang kehamilanmu ini lebih cepat."
"Tidak, mas. Jangankan kamu, aku saja yang mengandung tidak pernah menyadari perubahan dari diriku sendiri, apa lagi kamu. Mungkin aku terlalu menikmati semua perubahan baikku ini, sehingga aku tidak memikirkan kemungkinan lain dari semua perubahanku.."
Mereka telah kembali duduk bersandar dan berpelukan di atas tempat tidur. Dinda terus bermanja di atas dada suaminya. Entah mengapa, dia sangat senang melakukannya. Mungkin itu adalah salah satu bawaan kehamilannya.
"Kamu juga tidak pernah mual atau muntah, layaknya ibu hamil muda lainnya, sayang. Kalau diingat-ingat tiga bulan ke belakang, sepertinya kamu malah lebih aktif dan enerjik, sampai-sampai minta pergi ke mana pun kamu maunya berboncengan motor."
Adit mulai mengingat beberapa kejadian sebelumnya yang mungkin saja berkaitan dengan kehamilan istrinya, namun saat itu mereka justru tidak pernah menyadarinya.
Dinda yang masih betah di dalam pelukan Adit mulai gemas dan menciumi dada suaminya dengan satu ujung jari telunjuknya bermain-main membuat lukisan abstrak di sana.
"Aku hanya ingin selalu bersamamu, mas. Selalu di dekatmu dan memelukmu seperti ini.."
__ADS_1
Adit meraih ponselnya yang tergeletak di ujung meja dan melihat waktu yang tertera di layarnya. Sudah lewat jam sepuluh malam.
"Sayang, sudah semakin malam. Sebaiknya kamu tidur dulu. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan sedikit lagi." Ucap Adit sembari menuntun tubuh istrinya untuk berbaring di sampingnya.
Dinda pun patuh mengikuti perintah suaminya. Adit mengambil selimut di ujung tempat tidur dan segera menyelimuti tubuh istrinya hingga ke atas dada.
"Tidurlah. Selamat malam, sayang.."
Adit mencium kening Dinda, lalu turun sekilas ke bibirnya, dan terakhir dia mencium lama perut istrinya yang masih rata tetapi sudah terasa lebih keras jika diraba.
"Selamat malam, kesayangan papa dan mama." Adit berbisik lembut di atas perut Dinda.
"Selamat malam, mas. Cepatlah tidur juga." Pesan Dinda pada suaminya yang masih mengusapi kepalanya hingga dia mulai memejamkan mata.
Setelah menganggukkan kepala, Adit mengambil laptop dan memangkunya. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Satu minggu ini dia harus menyelesaikan lebih banyak pekerjaan karena Andi masih mengambil cuti. Jika di rumah, dia harus membagi waktu antara pekerjaannya dan sang istri yang juga butuh perhatian darinya.
Baru saja memulai pekerjaannya, Adit dibuat tersenyum lagi dengan kemanjaan istrinya yang tiba-tiba merubah posisi tidurnya dan melingkarkan tangan ke bagian perutnya.
Dia membiarkan istrinya tidur dengan memeluknya seperti itu, sementara dirinya terus melanjutkan pekerjaan dengan penuh senyuman.
.
.
.
"Selamat pagi, Ya.." Ucap Andi sambil mencium kening istri tercintanya yang langsung dibalas Rinaya dengan ciuman hangat di kedua pipi Andi.
"Selamat pagi, mas.."
Andi masih memeluk tubuh polos istrinya di balik selimut mereka. Tangannya mulai bergerak mengusapi punggung Rinaya.
Rinaya kembali membenamkan wajahnya di dada sang suami. Sambil memejamkan mata, tangannya tidak berhenti bermain di area sensitif di bagian dada suaminya, membuat Andi bereaksi dan mulai menegang.
"Hentikan, Ya. Atau kita akan melakukannya lagi.."
Rinaya segera berhenti dan memindahkan tangannya ke pinggang Andi dengan wajah memerah mengingat keperkasaan suaminya.
Semalam mereka melakukan penyatuan berulang kali tanpa henti, dan selepas subuh tadi mereka kembali mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
"Ya, aku lapar..."
"Mau aku buatkan sarapan, mas?" Tanya Rinaya sambil bergerak untuk duduk sambil memegangi selimut agar tetap menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Dia menggeser tubuhnya ke tepi dan meraih dress piyamanya yang semalam terbuang di lantai samping tempat tidur. Setelah terambil dia segera memakainya dan menurunkan kakinya ke lantai, bersiap hendak ke kamar mandi.
"Pagi ini tidak usah memasak dulu, Ya. Kamu pasti masih sangat lelah. Mandilah saja. Biar aku pesankan makanan online."
"Iya, mas. Terima kasih." Rinaya mencium pipi Andi sebelum beranjak ke kamar mandi.
Andi tersenyum sambil memperhatikan istrinya hingga masuk dan menutup pintu kamar mandi. Kemudian dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi untuk memesan makanan online.
Selesai dengan pesanannya, Andi mengenakan celana dan kaosnya, lalu berjalan keluar kamar untuk membuat minuman di dapur.
Dengan cekatan, dia menyiapkan dua cangkir teh hangat untuk dirinya dan istrinya. Setelah siap dia membawanya ke meja makan, bersamaan saat Rinaya keluar kamar dan mendekatinya.
"Mas, mandi dulu.."
Andi meletakkan dua cangkir teh yang dibawanya di atas meja makan.
"Kamu minumlah dulu tehnya, Ya. Sebentar lagi pesanan makanannya akan datang. Aku tinggal mandi dulu.."
Andi mengusap kepala istrinya yang masih setengah basah rambutnya, lalu berjalan kembali ke kamar.
Sambil menunggu pesanan datang, Rinaya duduk di kursi ruang makan dan meminum teh buatan suaminya. Andi sangat terampil menangani segala pekerjaan rumah. Selain itu dia juga cukup pandai memasak, membuat Rinaya semakin merasakan paket lengkap seorang suami telah dia dapatkan semuanya dari sosok Andi yang sangat dicintainya.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1