
Sampailah mereka semua di ruang perawatan Dinda. Setelah memindahkan pasien di tempat tidur yang ada di kamar, kedua perawat itu pun segera keluar, setelah sebelumnya memberikan beberapa buah obat yang harus diminum saat Dinda sudah sadar nanti.
Adit segera mendekati Dinda dan menggenggam tangannya dengan lembut. Dia mencium kening istrinya sangat lama, hingga dirinya terisak lirih.
"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan aku yang telah membuatmu merasakan sakit seperti ini. Tolong maafkan aku, sayang.."
Adit duduk di samping tempat tidur di mana istrinya masih terbaring tak sadarkan diri. Tatapannya tak pernah lepas dari sang istri, setia menantinya membuka mata.
Papa, Mama, Andi dan Rinaya masih menemani di dalam ruangan yang cukup besar itu. Andi sibuk dengan ponselnya, memeriksa berkas pekerjaan yang masih bisa dilakukannya melalui ponsel.
Sementara itu, Papa juga sibuk dengan ponselnya, berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mencari keberadaan Sinta yang menghilang setelah kejadian itu.
Papa juga sudah menghubungi orangtua Sinta melalui beberapa rekannya, agar bisa bekerjasama untuk membawa Sinta ke pihak kepolisian, guna pemeriksaan kejadian penganiayaan tersebut dan juga pemeriksaan dokter untuk memastikan kondisi kejiwaannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Andi dan Rinaya pamit untuk mengambil barang mereka yang masih tertinggal di kantor dan gerai. Adit juga minta tolong untuk sekalian dibawakan barang miliknya dan Dinda nanti saat mereka kembali ke rumah sakit.
Setelah Andi dan Rinaya keluar, tak lama kemudian Ayah Arya dan Bunda Nina, orangtua Dinda tiba.
Mereka terlihat cukup panik, ditambah harus mengendarai mobil hampir dua jam lamanya membuat mereka juga tampak lelah.
Beruntung sebelum pulang tadi Rinaya dan Andi sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk persediaan di dalam kamar. Sehingga Ayah Bunda bisa langsung makan setelah membersihkan diri bergantian.
"Adit... Sayang..." Suara lirih Dinda terdengar oleh Adit yang duduk di sampingnya.
"Sayaang, kamu sudah bangun sayang..?!" Adit langsung berdiri mencium kening istrinya, merapatkan badannya untuk memeluk Dinda dengan hati-hati.
"Aku.. Aku di mana ini?"
"Kamu di rumah sakit, sayang. Lihatlah, semua sudah menunggumu dari tadi."
Dinda mulai mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ada Ayah, Bunda, Papa dan Mama berdiri di samping tempat tidurnya.
"Jangan banyak bergerak dulu, Nak." Bunda mendekat dan mencium Dinda diikuti Mama.
"Makanlah dulu sedikit agar bisa segera minum obatnya." Ayah juga mendekat dan mengusap kepala anaknya bersama dengan Papa.
Adit segera menyiapkan bubur yang disediakan dari rumah sakit untuk Dinda. Pelan-pelan dia mengatur posisi tempat tidur agar lebih tegak di bagian atas, untuk memudahkan Dinda makan dan minum.
Setelah posisinya dirasa nyaman untuk Dinda, Adit mulai menyuapinya dengan telaten, setelah sebelumnya meminumkan air putih untuk menetralisir rasa pahit di mulut istrinya.
Dinda tampak masih sangat lemah dan terkadang menahan rasa sakit. Adit sebenarnya tidak tega melihatnya, dia masih sangat sedih dan amat terpukul. Tapi dia berusaha kuat dan tetap tersenyum di hadapan istrinya, agar Dinda mempunyai semangat untuk sembuh secepatnya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, akhirnya Dinda bisa menghabiskan buburnya meski dengan susah payah, karena masih merasa mual dan pusing. Lalu Adit membantunya minum obat agar sakit yang dirasakan istrinya berkurang dan bisa beristirahat kembali.
Selepas maghrib, Papa, Mama, Ayah dan Bunda pulang untuk beristirahat, karena Adit juga bersikeras tidak ingin ditemani malam ini. Dia ingin menjaga Dinda, berdua saja dengan istrinya.
Setelah semuanya pulang, Adit kembali duduk di samping tempat tidur, menemani istrinya yang masih tertidur setelah minum obat tadi.
Dia tidak melepaskan genggaman tangannya, bahkan satu tangannya pun terus memeluk tubuh Dinda.
"Sayang..., haus..." Adit langsung berdiri siaga. Dia menegakkan kembali posisi tempat tidur Dinda, lalu mengambilkan air minum dan membantu Dinda meminumnya menggunakan sedotan.
"Apakah masih ada yang sakit, sayang? Apa perlu aku panggilkan dokter?" Adit masih selalu mengkhawatirkan kondisi istrinya.
Dinda menggelengkan kepalanya.
"Sayang, aku merasa seperti sedang haid, tapi seingatku waktunya sudah lewat.., atau aku yang lupa..." Dinda seperti memikirkan sesuatu.
Adit mulai bingung, tidak tahu harus berkata apa. Tapi cepat atau lambat Dinda pun harus mengetahuinya.
Pada akhirnya Adit menarik nafas dalam-dalam, lalu melepaskannya perlahan-lahan. Dia mengumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk menyampaikan hal ini kepada Dinda.
"Sayang, ada yang harus kamu ketahui.." Adit menghentikan ucapannya dan menatap wajah istrinya yang masih menunggu.
"Ap..aapaaa yang kamu katakan, sayang?" Seketika pandangan mata Dinda mengarah ke perutnya. Dia menatap perutnya lalu beralih ke arah Adit.
Adit yang sudah menggenggam tangan Dinda sejak tadi, semakin mempererat genggamannya dengan kedua tangannya.
"Kamu mengalami keguguran dengan usia kehamilan yang masih sangat baru, enam minggu, sayang.."
Air mata Dinda mulai mengalir, dengan isak yang lirih hingga akhirnya tangisnya pecah tertumpah di pelukan Adit yang juga terisak memeluk erat istri tercintanya.
Mereka berdua sama-sama larut dalam kesedihan yang mendalam. Berdua berpelukan erat saling menguatkan satu sama lain.
Berdua melepaskan segala kesedihan yang dirasakan di dalam hati mereka, mencoba untuk menerima kenyataan yang ada sebagai garis takdir dari Yang Maha Kuasa.
"Sayang, apa aku tidak apa-apa? Apa aku bisa hamil lagi?" Dinda bertanya masih di dalam pelukan Adit.
"Tentu saja, sayang. Secepatnya kita akan bisa punya anak. Kita akan terus berusaha bersama-sama." Jawab Adit sambil melepaskan pelukannya dan menatap istrinya penuh cinta.
"Yang terpenting sekarang, kamu harus segera pulih, harus secepatnya sehat, agar kita bisa pulang ke rumah kita." Adit mencium kening Dinda dengan penuh kehangatan.
"Aku sangat mencintaimu..!" Bisik Adit di telinga sang istri lalu kembali memeluknya.
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu, sayang." Balas Dinda di pelukan suaminya.
Terdengar ketukan pintu dari luar. Adit melepaskan pelukannya dan segera membukakan pintu. Andi dan Rinaya datang dengan membawa banyak barang.
Mereka masuk dan meletakkan semua bawaannya di atas meja lalu menghampiri Dinda yang sudah bisa menampakkan senyum begitu melihat kedatangan sahabatnya.
Rinaya memeluk erat Dinda dan menahan tangisnya.
"Jangan larut dalam kesedihan. Semua akan baik-baik saja. Pulihkan dirimu, Din!" Kata Rinaya.
"Terima kasih, Rin. Doakan aku secepatnya sehat dan bisa kembali ke gerai." Dinda tetap mengulas senyum tipis meski matanya berkaca-kaca.
"Cepat sembuh ya, Dinda. Jangan terlalu banyak pikiran. Fokus saja pada kesehatanmu." Andi yang berdiri di samping Rinaya tersenyum ke arah Dinda.
"Sayang, mas Andi yang tadi menyumbangkan darahnya untuk kamu." Adit belum sempat memberitahu jika Dinda juga membutuhkan tambahan darah untuk operasinya.
"Benarkah?" Dinda terkejut.
"Iya sayang, bagaimana lagi, golongan darahku tidak sama denganmu, jadi aku tidak bisa mendonorkan darahku. Kebetulan golongan darah mas Andi dan Rinaya yang sama denganmu, akhirnya mas Andilah yang menolongmu." Adit menjelaskan dengan singkat.
"Terima kasih banyak, mas Andi. Sekarang kita benar-benar menjadi saudara bukan? Aku punya seorang kakak." Raut wajah Dinda tampak semakin cerah.
Andi hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman hangat.
"Dan kamu, Rin. Sebentar lagi akan menjadi kakak iparku." Lanjut Dinda menoleh ke arah Rinaya.
Wajah Rinaya langsung merona menahan malu mendengar ucapan sahabatnya. Sementara Andi tetap tersenyum tenang menatap kekasihnya yang masih tersipu.
Setelah itu, Rinaya dan Andi membuka satu per satu barang yang mereka bawa. Ada tas dan ponsel Dinda, juga laptop Adit yang tertinggal di gerai. Ada pula travel bag kecil yang berisi baju ganti Adit dan Dinda, yang mereka ambil dari rumah orangtua Adit sebelum ke rumah sakit.
Selain itu, Rinaya juga membawa makan malam untuk mereka semua, kecuali Dinda tentunya. Setelah semua barang selesai ditempatkan masing-masing, Adit, Andi dan Rinaya segera makan malam ditemani Dinda yang beristirahat di tempat tidurnya.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1