
Minggu pagi yang cerah dengan sinar matahari yang telah menyapa masuk ke dalam kamar utama. Adit membuka mata dan mendapati sang istri masih terlelap di sampingnya. Dia mengambil ponselnya dari atas meja dan melihat tanda waktu di sana. Sudah jam sembilan pagi. Ternyata mereka sudah melanjutkan tidur cukup lama, hampir empat jam.
Adit mencium kening Dinda yang masih tetap lelap di balik selimut.
"Aku mencintaimu, sayang.." Bisiknya lirih di telinga sang istri.
"Aku juga mencintaimu, suamiku sayang.."
Adit yang sudah menjauhkan kepalanya setelah mencium Dinda, terkejut mendengar balasan untuknya.
Dia menoleh ke arah Dinda yang masih meringkuk di balik selimut dengan posisi membelakangi sang suami. Kepalanya mendekat kembali ke wajah istrinya. Disibaknya rambut yang menutupi sebagian wajah Dinda.
"Kamu sudah bangun?"
"Aku mendengarmu, tapi mataku masih sangat berat untuk kubuka.." Benar saja, Dinda menjawab sementara matanya masih tertutup rapat.
Adit tersenyum memperhatikan tingkah istrinya. Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Dinda, lalu menarik tubuh hangat itu menghadap kepadanya. Dinda masih memejamkan matanya, meski jemari Adit sudah menari-nari bermain di wajahnya.
"Apa kau mau menggodaku?" Tanya Dinda.
"Hahaa, tidak. Hanya iseng saja."
Dinda membuka matanya dan melihat wajah suami di hadapannya.
"Dan aku juga tidak tergoda sama sekali."
"Tapi aku sangat gemas denganmu.."
Dia mencubit kedua pipi Adit dan menarikinya membuat sang suami meringis memegang tangan istrinya.
"Auww.., sakit sayang.."
Dinda melepaskan cubitannya dan segera bangun kemudian berjalan menuju kamar mandi. Sementara Adit masih memegangi pipinya yang terasa sedikit sakit.
Lima belas menit berlalu, Dinda akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia sudah terlihat segar dan wangi.
Dilihatnya Adit masih duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangannya.
"Sayang, aku lapar.." Dinda menghampiri suaminya dan langsung duduk di pangkuan Adit yang masih asyik dengan ponselnya. Tangannya mengalung di leher sang suami.
"Kamu ingin menggodaku, sayang?" Adit menciumi rambut istrinya yang masih setengah basah. Dinda yang posisinya duduk menyamping di atas kedua paha Adit menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menggodamu. Aku hanya lapar, sayang. Tolong pesankan makanan untuk kita sarapan.."
Dinda mencium pipi Adit.
"Ada syaratnya.." Adit tersenyum nakal menatap istrinya.
"Apa? Aku beneran lapar, sayang. Mana ponselmu, aku saja yang pesan..." Dinda hendak merebut ponsel di tangan suaminya tapi Adit sudah lebih dulu melemparnya ke tengah ranjang dan kedua tangannya segera mengunci tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku ingin kamu.." Adit menghujani wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubi membuat Dinda kewalahan dan tak bisa menghindar.
Seluruh bagian wajah Dinda tak ada yang luput dari ulah bibir Adit yang begitu cepat berpindah-pindah
menciumi centi per centi wajahnya dengan penuh gairah.
Dinda pun terengah-engah saat Adit mengakhiri serangannya dengan mencium habis bibir sang istri berulang-ulang sampai ke bagian dalam mulutnya hingga mereka berdua hampir kehilangan nafas.
__ADS_1
Wajah mereka merah padam masih dengan nafas memburu. Adit tersenyum puas dan sekali lagi mencium kening istrinya lalu memindahkan Dinda duduk di samping tubuhnya.
"Aku mandi dulu, sayang. Makanannya akan segera sampai. Aku sudah memesan sebelum kamu memintanya.."
Adit mengusap lembut kepala istrinya lalu beranjak ke kamar mandi.
"Terima kasih, tuanku tercinta. Aku akan keluar kamar untuk menunggunya."
Dinda tersenyum dan segera meninggalkan kamar setelah menyiapkan pakaian suaminya di atas tempat tidur.
.
.
.
Pesanan makanan telah datang dan Dinda sudah menatanya di meja makan. Tak lama kemudian Adit keluar dari kamar dengan tubuh yang segar dan wajah ceria.
"Sayang, kita makan di sofa saja ya. Aku mau kamu yang menyuapiku.." Dinda mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah suaminya membuat Adit tertawa melihat tingkah sang istri yang manja.
"Sini aku bantu bawa ke sofa." Adit membawa piring makanan yang disiapkan istrinya ke ruang tengah. Dinda menyusulnya dengan membawa dua gelas minuman untuk mereka.
Dinda sudah duduk bersila menunggu dilayani suaminya. Dia memilih tayangan televisi dengan remote di tangannya.
"Aku hanya mau disuapi oleh kamu. Aku tidak mau menyuapimu, sayang. Jadi nanti makanlah sendiri." Dinda menggoda sang suami.
Adit menggelengkan kepala pelan dan tersenyum mendengar ucapan Dinda yang tak biasanya.
"Siappp, Nyonya Aditya. Aku ini suami siaga. Apapun permintaanmu akan aku laksanakan dengan senang hati."
Setelah Dinda menutup mulutnya dan hendak mengunyah, Adit mendahuluinya dengan mencium sekilas bibir istrinya itu.
"Satu suapan, satu kecupan." Ucapnya dengan kerlingan mata, tak mau kalah dengan istrinya.
Lalu dia menyuap satu sendok lagi untuk dirinya sendiri. Mereka mengunyah bersama dan saling menatap mesra.
"Sayang, apa kamu merasa ketagihan dengan suapanku? Karena semenjak pulang dari rumah sakit, kamu jadi sering minta aku suapi." Tanya Adit saat memberikan suapan berikutnya pada Dinda lalu mengecup bibirnya.
"Apa kamu keberatan, tuanku?"
"Owh, tentu tidak, sayang. Aku justru senang melakukannya." Jawab Adit dengan tenang.
"Anggap saja dengan memanjakan kamu seperti ini, sebagai bentuk rasa terima kasihku karena setiap hari kamu sudah melayani aku dengan baik dan penuh cinta. Kamu yang terbaik. Dan kamu adalah istriku."
"Terima kasih, sayang." Tiba-tiba Dinda memeluk suaminya membuat Adit hampir menjatuhkan piring yang dipegangnya. Dinda terus memeluknya.
"Eehhh sayang.." Adit segera meletakkan piring di atas meja.
Tangannya segera membalas pelukan Dinda dari samping. Diciumnya ujung kepala istrinya dengan sepenuh hati.
"Ada apa, sayang..?"
Dinda masih diam di dalam pelukan Adit. Mereka berdua merubah posisi menjadi lebih rapat dan lebih nyaman untuk berpelukan.
Adit merasa ada yang tidak biasanya dari Dinda. Dia semakin manja namun tak seriang biasanya. Seperti ada yang disembunyikan sang istri darinya.
"Katakan, ada apa? Tidak boleh ada yang disembunyikan di antara kita."
__ADS_1
Dinda mendongak menatap Adit yang juga menatapnya.
"Hari ini genap enam bulan kita menikah."
"Iya, aku tidak lupa itu. Apakah ada hal lain yang kamu sembunyikan, sayang?" Adit mencium kening istrinya.
"Terima kasih sudah menjadi suami yang terbaik yang selalu bersamaku dalam kondisi dan situasi apapun."
Ada yang menggantung dari kalimat Dinda. Seperti masih ingin menyampaikan sesuatu.
"Maaf karena aku belum bisa memberimu hadiah kehamilan.." Dinda menunduk menyembunyikan kristal bening yang mulai tampak di pelupuk matanya.
Adit tak menyangka Dinda berpikiran sampai sejauh itu. Bahkan dirinya sendiri saja tidak pernah memikirkannya. Apalagi belum genap satu bulan yang lalu, Dinda baru mengalami keguguran. Dia justru lebih fokus memikirkan pemulihan kesehatan istrinya.
"Jangan bersedih, sayang. Ingatlah, kehamilan itu bukan hadiah dari kamu, tapi hadiah dari Yang Maha Kuasa. Jadi jangan pernah terbebani oleh hal itu."
Adit mengangkat wajah istrinya dan mendapati air mata di sana. Dengan penuh kasih dia mengusap bersih air mata itu. Diciumnya kedua mata indah istrinya bergantian.
"Allah yang paling tahu kapan saat paling tepat untuk kita menerima hadiah itu. Yang harus kita lakukan hanyalah terus berdoa dan berusaha."
Dinda menganggukkan kepala dan mencium pipi Adit.
"Terima kasih karena selalu mengerti aku dan paling tahu bagaimana cara menenangkan aku. Aku sangat bersyukur memilikimu sebagai suamiku."
Adit mengeratkan pelukannya dan membiarkan Dinda membenamkan wajah di dadanya. Dia mengusap punggung istrinya dan menciumi pucuk kepalanya berulang kali.
"Sayang, kamu mau kita lanjutkan sarapannya atau kita lanjutkan yang di kamar tadi?"
Dinda melepaskan pelukannya dan melihat Adit yang masih menunggu jawabannya dengan tatapan mata yang menggoda.
Dinda mengambil piring sarapan mereka tadi lalu menyiapkan suapan untuk suaminya.
"Kita selesaikan dulu sarapannya. Baru kita lanjutkan yang di kamar tadi."
Jawaban Dinda membuat Adit bersemangat untuk segera menghabiskan sarapan mereka.
"Hari ini kita tidak akan ke mana-mana, istriku tercinta. Kita akan merayakan enam bulan pernikahan kita. Hanya ada aku, kamu dan kamar kita!"
.
.
.
Novel baru kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1