Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
90 TAK SANGGUP LAGI


__ADS_3

Dinda merasakan tubuhnya dingin dan kaku. Sulit rasanya untuk bergerak walau hanya sekedar membuka mata.


Dia mendengar suara Adit, suara yang sangat dirindukannya. Suara itu terdengar berat, parau seperti sedang menangis.


"Aku merindukanmu, sayang. Cepatlah bangun..."


Ingin rasanya Dinda menjawab bahwa dia juga merindukan suaminya. Dia juga ingin secepatnya bangun dan memeluk tubuh sang suami.


Tapi mengapa dia tidak bisa? Tidak bisa bergerak sama sekali, tidak bisa membalas ucapan suaminya, tidak bisa menatap wajah yang sangat dirindukannya.


Dia ingin memberitahukan kepada semua orang jika dia mendengar mereka, mendengar ucapan mereka, mendengar semua yang dikatakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Namun dia tidak bisa, tubuhnya sangat lemah, tiada tenaga sama sekali.


Menangis. Hanya itu yang bisa dilakukan Dinda saat ini. Menangis tanpa suara, tanpa seorangpun yang tahu. Bahkan setitik airmata pun tidak bisa dikeluarkannya untuk memberitahukan bahwa dia mendengar semuanya.


Dia merasakan tangannya digenggam oleh Adit, tetapi dia tiada daya untuk membalasnya. Dia meresapi sebuah ciuman yang diberikan Adit di atas keningnya, namun lagi-lagi dia tak mampu bereaksi apapun untuk menunjukkan kebahagiaannya atas ciuman tersebut.


Dinda mulai putus asa. Tak tahu lagi harus bagaimana untuk memberitahu suaminya bila dia mendengar semua ucapannya. Ingin dibalasnya suara itu, tetapi seluruh kekuatannya sirna entah ke mana.


"Mas, aku mendengarmu. Aku mendengar semua ucapanmu. Aku bisa merasakan tangisanmu dari suaramu yang berat dan parau itu..."


"Aku bisa merasakan genggaman tanganmu, mas. Aku juga bisa merasakan sentuhan bibirmu di atas keningku. Aku merasakan semuanya, tetapi aku tidak bisa membalasnya..."


"Katakan padaku, mas. Ada apa denganku? Mengapa mataku terasa begitu lengket dan tidak bisa kubuka sedikitpun? Mengapa aku tak bisa merasakan pergerakan tubuhku sendiri? Mengapa aku tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku? Aku kenapa, mas?"


Dinda merasa kacau, pikirannya kalut. Apapun yang dipikirkannya tak bisa menjawab semua kebingungannya saat ini.


Jika dia tertidur, mengapa tidak ada yang membangunkannya dan membuatnya bisa membuka mata? Jika dia bermimpi, mengapa dia tidak bisa terbangun dan menyadari kenyataan di sekelilingnya?


Mengapa hanya hitam pekat yang terasa di sekelilingnya? Dia takut, takut akan kegelapan yang dirasakannya seorang diri.


"Putri kecil kita, dia juga menunggumu, sayang. Kamu bahkan belum memberinya ASI bukan? Ayo, cepatlah kembali, agar kita bisa berkumpul bertiga di rumah..."


Dinda kembali mendengar dengan jelas suara Adit didekatnya. Suara tenang yang selalu dirindukannya itu, sekarang berubah semakin berat dan serak.


Namun bukan itu saja yang sekarang membuatnya bersedih. Tetapi apa yang dikatakan oleh Adit lah yang membuatnya terkejut dan semakin bertanya-tanya.


Putri kecil? ASI? Bertiga? Apa maksudnya...? Apakah itu berarti..., dia sudah melahirkan? Melahirkan seorang putri kecil? Anak perempuan? Sekarang mereka sudah lengkap bertiga? Tetapi di mana bayinya? Mengapa dia tidak mendengar suaranya? Tangisannya?

__ADS_1


"Mas, katakan padaku. Jika aku sudah melahirkannya, di mana bayi kita? Di mana dia, yang kau sebut putri kecil kita? Di mana, mas?"


Ingin rasanya Dinda berteriak sekeras mungkin agar Adit bisa mendengarnya, mendengar ucapannya dan menjawab semua pertanyaannya. Tetapi sia-sia saja, mulutnya masih tercekat tanpa suara. Tiada satu pun orang yang bisa mendengar jeritan hatinya. Hanya hitam dan sekeliling yang gelap yang menemaninya saat ini.


"Teruslah berjuang, sayang. Demi dirimu dan kesehatanmu. Demi aku yang selalu mencintaimu. Demi cinta kita dan demi Cinta buah hati kita..."


Suara Adit kembali terdengar olehnya, namun Dinda masih saja tak kuasa membalasnya. Dia semakin meronta dalam ketidakberdayaannya. Hanya itu yang bisa dilakukannya.


"Aku sudah berusaha, mas. Aku sudah berjuang di sini. Tetapi kamu tidak mendengarku. Tidak ada seorang pun yang mendengarku. Bahkan angin sekalipun pun seolah enggan untuk menyampaikan kepadamu, bahwa aku mendengarmu, aku mendengar semua ceritamu, semua yang kau ucapkan padaku."


"Haruskah aku menyerah sekarang, mas? Aku takut, aku takut sendirian di sini, dalam gelap yang mengelilingiku tanpa setitik pun sinar yang memberiku harapan. Aku takut sendirian di sini, tanpa ada suara apapun di sini, hening, sunyi, tiada satupun tanda kehidupan..."


.


.


.


Dinda mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menghalau silau yang menerangi ruangan penuh cahaya di sekelilingnya. Setelah sekian lama berada dalam kegelapan, kini dia terbangun di antara sinar teramat terang yang mengitarinya.


Mencoba bangkit dan berdiri, Dinda merasakan tempatnya berpijak bukan seperti lantai kebanyakan, melainkan serasa permadani putih di atas awan yang menggoyahkan kekuatan tubuhnya yang bertahan untuk tetap berdiri seimbang di atas kedua kakinya yang masih terasa lemas tanpa tulang penyangga.


Dinda memanggil nama suaminya dengan kencang, namun justru sakit yang dirasakannya. Dia meraba perutnya yang telah rata, menandakan jika kandungannya telah dikeluarkan dari dalam rahimnya dan kini menyisakan rasa sakit yang masih terasa perih dan nyeri yang teramat sangat.


"Mas, di mana bayiku? Di mana anak kita, mas?"


Dinda mulai meneteskan airmata. Tiada bedanya dia berada dalam kegelapan ataupun suasana terang seperti ini, jika tetap tak ada satupun orang yang ditemuinya. Ketakutan mulai menguasai hatinya lagi.


Perlahan dia berjalan tertatih tanpa arah, karena sekelilingnya tak berpenghalang dan tak terbatas luasnya. Hanya putih dan cahaya terang yang dia lihat di sekitarnya.


"Oekk..., ooeekk...!!!"


Sayup terdengar tangisan seorang bayi memecah kesunyian. Dinda semakin cepat berjalan meski langkahnya masih terasa berat. Dicarinya arah suara tangisan tadi. Dia terus berjalan mengikuti suara tangisan yang sesekali masih terdengar di telinganya.


Tangisan bayi itu kian jelas terdengar, saat Dinda sampai pada sebuah persimpangan cahaya yang sama terangnya dan jauh lebih terang dari cahaya yang dia lalui sebelumnya.


Langkahnya terhenti dalam kebimbangan, di antara dua arah cahaya di hadapannya. Jalan manakah yang harus dia pilih dan dia tapaki untuk menemukan keberadaan bayi yang masih terdengar tangisannya itu?

__ADS_1


Dalam kegamangan, tiba-tiba terlihat sosok yang dicari dan dirindukannya. Adit berdiri di arah cahaya sebelah kanannya, tersenyum tenang dengan seorang bayi mungil di dalam dekapan kedua tangannya.


"Mas Adit, akhirnya aku menemukanmu, mas. Dan.., diakah bayiku, anak kita..??" Lelaki itu menganggukkan kepalanya.


Pandangan Dinda tertuju lurus pada bayi mungil di dalam dekapan suaminya. Dia ingin segera mendekati suami dan anaknya, tetapi langkahnya terhenti karena tangan kirinya tertahan oleh sesuatu.


Dia menoleh ke arah samping. Tak ada siapapun yang terlihat di arah cahaya sebelah kiri. Namun mengapa dia merasa ada yang menahan tangan kirinya dengan kuat hingga kakinya tak kuasa melangkah?


Dinda berusaha menarik tangan kirinya sekuat tenaga, tetapi tubuhnya justru tertarik balik ke arah tersebut. Langkah kakinya berbalik arah, terseret masuk ke jalan cahaya di sebelah kirinya.


Dia ingin menghentikan langkahnya, tetapi kekuatan tak kasat mata itu semakin menarik langkahnya menjauhi sosok suami dan bayi mungilnya yang masih berdiri menunggunya di jalan terang sebelah kanan.


"Mas, jangan tinggalkan aku, mas! Aku ingin bersamamu. Aku ingin kembali bersamamu dan anak kita. Jangan pergi, mas...!!"


Dinda meronta dan menangis histeris melihat bayangan suami dan anaknya yang semakin jauh dan mulai menghilang dari pandangan matanya, masuk ke dalam pusaran cahaya putih yang lebih cemerlang dan benderang.


"Mas..., aku tidak mau sendiri di sini! Aku mau kamu dan anak kita, mas. Aku ingin kita bertiga bersama, mass...!!"


"Aku mohon mas...!! Tunggu aku, jangan pergi, maaas....!!!"


Dia terus meraung dan meronta, tak peduli lagi rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Dia kerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melawan, namun tarikan itu semakin kuat membawanya masuk ke dalam pusaran cahaya yang semakin menjauhkannya dari bayangan dua orang yang dia sayangi dan dia cintai.


Hingga akhirnya, dia merasa tak sanggup lagi melawan. Dia telah kehilangan seluruh daya dan kekuatannya. Di ujung waktunya, Dinda jatuh tak sadarkan diri di dalam pusaran cahaya putih terang yang mulai menghilang membawa serta raga dan juga jiwanya...


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2