
Malam harinya, Adit mengajak Dinda berjalan-jalan di sekitar villa. Berada di kawasan puncak bukit di malam hari seperti ini, hawa dingin semakin terasa hingga menembus ke dalam tulang. Mereka mengenakan jaket tebal untuk menghangatkan tubuh selama berada di luar villa.
"Kita akan pergi ke mana, sayang?"
Dinda memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Sementara satu tangan Adit merengkuh bahu istrinya dan memeluknya dengan erat sepanjang jalan.
"Katanya di malam hari, banyak warung di sekitar sini. Aku ingin menikmati langit malam dan pemandangan malam di sini sambil minum kopi panas ditemani jagung bakar."
"Hmm.., sepertinya menggugah selera. Di mana kita bisa mendapatkannya?"
"Di ujung jalan kecil sana, sayang. Di sana akan ada banyak warung berjejer di pinggir jalan."
Jari tangan Adit menunjuk ke arah jalan yang lebih kecil di depan mereka. Kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju ke ujung jalan kecil yang dimaksud.
Sesampainya di sana, mereka melihat banyak warung kecil berjejer di satu sisi yang sama, sementara di sisi yang lain tepatnya di seberangnya digelar tikar-tikar untuk menunggu pesanan sambil menikmati suasana malam dengan hiasan ribuan cahaya bintang yang bertaburan dan berkilauan dari atas, menemani sinar rembulan yang terang dan membuat langit malam semakin terlihat begitu indah.
Adit memesan secangkir kopi untuknya dan coklat panas untuk istrinya serta dua buah jagung bakar asin manis. Dia mengajak Dinda duduk di salah satu tikar yang masih kosong. Karena akhir pekan, pengunjung di bukit wisata ini cukup ramai dan banyak pula yang menginap di villa seperti halnya mereka.
Suasana di tempat mereka duduk beralaskan tikar memang sangat strategis. Lokasi yang berada di perbukitan membuat mereka dengan jelas bisa menyaksikan keindahan kota di malam hari, yang tampak jauh di bawah mereka.
Kerlap-kerlip lampu di kota sana terlihat sangat memukau bagaikan ratusan bintik-bintik cahaya warna-warni yang sangat mengagumkan dan memanjakan mata siapapun yang memperhatikannya.
Tak lama kemudian pesanan mereka telah diantarkan. Mereka segera menghangatkan tubuh dengan minuman panas yang ditunggu sejak tadi. Setelah itu mereka menghabiskan jagung bakar yang masih hangat.
"Kamu masih kedinginan, sayang?" Tanya Adit.
"Sudah tidak terlalu dingin, karena lama-lama tubuhpun menjadi terbiasa dengan hawa di sini."
"Sudah semakin larut juga. Sebaiknya kita segera kembali ke villa. Kita bisa melanjutkan di pekarangan belakang untuk menikmati suasana malam ini."
Setelah membayar pesanan mereka, Adit segera meraih tangan Dinda dan menggenggamnya dengan erat lalu mereka berjalan bersama kembali ke villa.
.
.
.
Dini hari menjelang subuh, seperti biasa Adit membangunkan Dinda dengan cara romantisnya. Hawa perbukitan yang sangat dingin membuat Adit ingin mengulang kemesraan mereka saat baru sampai di villa kemarin pagi.
"Sayang, bangunlah."
Adit mencium kening dan pipi istrinya perlahan. Semalam mereka tidur sangat lelap. Dia berharap Dinda pun terbangun dengan tenang dan baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama, Dinda telah terbangun karena sentuhan hangat suaminya. Sedikit terkejut karena perubahan suasana yang berbeda dari biasanya, Dinda menatap Adit dengan bingung.
"Sayang..." Dinda bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Tidak apa-apa. Kita masih di villa, sayang. Dan ini masih sangat pagi."
__ADS_1
"Lalu mengapa kamu membangunkanku sepagi ini?" Dinda melihat jam di ponselnya kemudian meletakkannya kembali.
Adit tersenyum lalu menarik tubuh Dinda dan memeluknya. Dinda menyandarkan kepalanya di atas dada suaminya.
"Karena aku menginginkanmu.."
Adit meraih dagu istrinya lalu mencium bibirnya sekilas. Dinda kembali menundukkan kepalanya. Adit tetap menunggu jawaban dari Dinda sebelum melanjutkan keinginannya.
Wajah Dinda memerah karena ciuman Adit. Dia tersenyum menengadah menatap sang suami, lalu menganggukkan kepalanya.
Tanpa menunggu lagi Adit segera memulai aksinya, mengawali hari dengan aktivitas yang menggairahkan dan menghangatkan suasana dini hari yang sangat dingin.
Kembali menyatukan raga dan menuntaskan hasrat yang memuncak, menyemai benih cinta dalam asa penantian dengan harapan akan segera terwujud dalam nyata.
.
.
.
Usai mandi dan menunaikan kewajiban subuh bersama, Dinda pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat dan sarapan pagi, sambil menunggu matahari terbit yang akan mereka saksikan dari pekarangan belakang villa.
"Minumlah dulu tehnya, sayang. Setelah itu tolong bukakan pintu belakang dan jendela samping, agar udara pagi yang segar dan alami bisa masuk ke dalam ruangan."
Adit mengambil cangkirnya dan menyesap teh manis buatan istri tercintanya. Setelah menghabiskannya, dia membuka pintu belakang dan jendela samping sesuai permintaan Dinda.
Seketika hawa dingin masuk ke seluruh ruangan, namun segera berganti dengan segarnya udara pagi yang mereka hirup dalam-dalam.
Dinda melanjutkan masakannya dengan terus menghirupi udara segar yang terasa memenuhi ruangan.
"Kita akan sarapan apa? Ada yang bisa kubantu?"
Adit memeluk dari belakang lalu mencium pipi istrinya. Tangan Dinda masih sibuk mengolah makanan yang sudah hampir matang sempurna.
"Bubur ayam campur sup sayur."
Adit kembali mencium pipi Dinda namun kali ini dari sisi yang berlawanan.
"Terima kasih, istri terbaikku.."
Dinda tersenyum menanggapi pujian suaminya sambil terus menyiapkan bubur yang telah matang dan memasukkannya ke dalam dua mangkok yang tadi sudah disiapkan oleh Adit sebelum pergi ke pekarangan belakang.
"Selesai.." Ucapnya sambil membawa kedua mangkok bubur tersebut keluar dapur menuju ke tempat di mana Adit sudah duduk menunggunya sambil menatap langit fajar yang mulai menyingsing.
"Ini buburnya sayang, dimakan selagi panas."
Dinda menyerahkan satu mangkok bubur untuk Adit, lalu ikut duduk di samping suaminya.
Mereka duduk berdua menikmati bubur buatan Dinda, sembari terus menghirup sejuk dan segarnya udara pagi perbukitan yang dihiasi hamparan perkebunan teh yang hijau di bawah villa yang mereka tempati.
__ADS_1
Selesai menyantap bubur dan menghabiskan teh hangat, mereka duduk berpelukan memandang jauh langit berona jingga di atas perbukitan yang berderet di hadapan mereka. Matahari mulai terbit dengan warna khas keemasan, sedikit demi sedikit muncul perlahan dari balik perbukitan.
Dan saat sang surya telah terbit sempurna, langit mulai beranjak terang dengan kabut tebal yang masih menyelimuti puncak bukit, ditemani awan-awan putih yang mulai terlihat di antara birunya langit, menciptakan keindahan panorama alam bak sebuah negeri dongeng.
"Sangat indah.." Gumam Dinda dalam pelukan suaminya.
" Jika kamu mau, nanti kita akan pergi ke sini lagi." Adit menciumi ujung kepala Dinda dengan penuh cinta.
Berada di perbukitan seperti ini memang sangat menenangkan dan mampu membuat pikiran menjadi segar kembali. Sejauh mata memandang, hamparan perkebunan teh membentang luas mengikuti lika-liku tanahnya yang bergelombang dan berbukit-bukit.
Udara pagi yang masih kental kesegarannya ditambah hawa dingin yang menyusup ke pori-pori kulit, membuai para pemuja fajar untuk kembali terlelap melanjutkan mimpi yang sempat tertunda.
Sama halnya dengan Dinda, tanpa sadar rasa kantuk kembali menyergapnya dan menuntun kedua matanya untuk kembali terpejam, semakin lama semakin terlelap di dalam hangatnya pelukan Adit.
Adit yang merasakan pelukan Dinda semakin lepas dan tubuhnya menjadi lemas, melihat ke bawah di mana wajah istrinya bersandar di atas dadanya. Ternyata Dinda telah tertidur sangat pulas dengan wajah yang tampak sangat nyaman dan dihiasi dengan senyuman.
"Maaf telah membangunkanmu terlalu awal dan membuatmu sangat lelah karena menuruti keinginanku, sayang."
Adit mencium ujung kepala istrinya berulang kali. Dia sangat menyayangi Dinda. Dia hanya ingin membuat istrinya selalu bahagia di sisinya.
"Terima kasih karena bersedia menjadi istriku, menjadi pelengkap hidupku. Terima kasih atas ketulusanmu dalam mendampingiku dan melayaniku sebaik ini. Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."
Dia mengangkat kepala Dinda menghadap ke arahnya. Dia mencium kening istrinya dengan sangat lembut.
Setelah puas mencurahkan isi hatinya dan menciumi istrinya, Adit menggendong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dia membiarkan Dinda beristirahat sepuasnya untuk memulihkan kembali kondisi badannya, karena siang nanti saat mereka turun pulang, Adit masih ingin mengajak istrinya mengunjungi perkebunan teh dan taman bunga yang akan mereka lewati sepanjang perjalanan pulang nanti.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
.
__ADS_1