
"Rumahmu di daerah mana, Ya?" Andi memberanikan diri membuka suara karena memang belum tahu harus mengantarkan pulang ke mana.
"Taman Anggrek, mas." Rinaya menyebutkan nama salah satu perumahan yang cukup dikenal di kota itu. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke sana, jika lalu-lintas lancar.
Andi menganggukkan kepalanya dan mengarahkan mobilnya ke tujuan yang dimaksud.
Rinaya diam-diam melirik memperhatikan Andi yang tengah fokus mengemudi. Dia tidak tahu bila sebenarnya Andi juga gugup dan berdebar-debar, seperti dirinya.
"Ya, apakah tidak ada yang marah jika aku mengantarmu pulang?" Andi bertanya dengan hati-hati, merasa takut sendiri dengan jawaban Rinaya nanti.
"Tidak ada, mas." Rinaya menjawab singkat. Andi menahan senyumnya, lega dengan jawaban Rinaya.
"Semua orang memanggilku Rin, mengapa dia berbeda, dari tadi memanggilku Ya..." Pikir Rinaya dalam hati. Tapi kemudian dia tersenyum sendiri. Dalam pendengarannya, Ya adalah panggilan yang unik karena dia belum pernah mendengar itu dari orang lain sebelumnya.
"Benar tidak ada? Aku takut kalau kekasihmu marah padaku, Ya." Andi memancing reaksi Rinaya.
"Aku belum punya, mas." Rinaya tahu maksud Andi, tapi dia membiarkannya dan tetap menjawab apa-adanya.
"Kalau mas Andi?!" Rinaya membalikkan pertanyaan yang membuat Andi gelagapan karena tidak menyangka akan ditanyai hal yang sama.
"Sama. Aku masih sendiri." Andi mencoba menjawab dengan tenang, tidak ingin terlihat salah tingkah.
Entah mengapa Rinaya merasa hatinya menjadi senang saat tahu Andi belum mempunyai pasangan.
Tak berapa lama kemudian mereka sudah memasuki gerbang perumahan yang dituju. Rinaya segera memberi aba-aba pada Andi untuk mengarahkan ke alamat rumahnya. Dan sampailah mereka di depan rumah Rinaya.
Andi mengantarkan Rinaya sampai ke depan pagar.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Ya. Terima kasih sudah bersedia aku antar pulang" Andi pamit.
"Iya, mas. Aku yang seharusnya berterima kasih, karena mas mau mengantarkan aku. Maaf jadi merepotkan." Balas Rinaya.
"Tidak sama sekali." Andi tersenyum dan berjalan kembali ke mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya, dia membuka kaca jendela dan terdiam menatap Rinaya yang masih berdiri di depan pagar.
Pandangan mereka bertemu kembali. Getaran itu terasa lagi di hati keduanya. Debaran itu juga muncul kembali di dada mereka. Mereka beradu pandang dengan tingkah yang tidak tenang.
Andi menutup kaca tanpa mengalihkan pandangannya. Dilihatnya dari dalam mobil, Rinaya masih menatap ke arahnya.
Dia segera melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia.
.
.
.
Malam hari di rumah, Adit dan Dinda melepaskan penat di sofa ruang tengah.
Saling bertukar cerita tentang segala hal yang mereka alami hari ini. Terkadang raut mereka serius membicarakan sesuatu, tapi tiba-tiba tertawa bersama mengingat kejadian yang lucu dan berkesan bagi mereka.
"Sayang, kapan Elisa akan menikah dengan Farrel?" Tanya Adit. Dia tiduran dengan kepala berada di pangkuan Dinda.
"Entahlah, sayang. Setiap kali aku tanya, Elisa selalu menjawab belum tahu, tunggu saja, bla bla bla, selalu seperti itu..." Dinda menjawab sambil terus mengacak rambut suaminya kesana kemari dengan satu tangannya, sedang tangan yang lain digenggam Adit di atas dada bidangnya.
"Bukankah mereka sudah berhubungan lama, sejak semester awal kuliah kita dulu." Adit mengenal Farrel sepintas lalu saja. Karena Farrel dulu kuliah di kampus lain. Hanya sering bertemu ketika menjemput Elisa sepulang kuliah.
"Lamanya sebuah hubungan bukan menjadi penentu, sayang. Mana kita tahu, jika mereka masih memikirkan sesuatu atau masih mempertimbang banyak hal sebelum memutuskan untuk menikah."
__ADS_1
"Ya, kamu benar." Jawab Adit.
"Tapi mengapa kita bisa cepat memutuskan untuk menikah ya, sayang. Yaaa walau pun pada awalnya karena didesak mama papa, tapi kita berdua tidak menolak dan siap-siap saja kan.."
"Karena memang sudah jodohnya dan sudah waktunya, makanya hati kita langsung dimantapkan oleh Allah.." Dinda menatap lembut suaminya.
Adit menggoda istrinya. Dia memiringkan tubuhnya, kepalanya berhadapan dengan perut Dinda, seketika dia menciumi perut istrinya, lama-lama menarik bajunya sedikit ke atas dan menciumi langsung perut mulus Dinda berulang-ulang membuat Dinda kegelian.
"Apa kamu juga sudah siap, jika di dalam perut ini ada benih cinta kita?" Satu tangan Adit meraba lembut perut Dinda hingga ke pinggang belakang.
"Kenapa tidak? Bukankah aku punya suami yang sangat menyayangi aku. Kamu pasti juga akan sangat mencintai anakmu kan." Jawab Dinda mantap.
"Anak kita, sayang. Buah cinta kita berdua." Adit mengoreksi ucapan Dinda.
"Iyaaa, anak kita, buah hati kita, darah daging kita, milik kita berdua.." Dinda tersenyum dengan hati berbunga-bunga.
"Kalau begitu, bolehkan aku melakukannya?" Tanya Adit serius. Dia sudah duduk di samping istrinya, menatap sayu wajah istrinya.
"Melakukan apa?" Tanya Dinda.
"Melakukan tugasku agar di dalam perutmu segera tumbuh benih cinta kita.." Pandangan Adit semakin redup menandakan keinginannya.
Wajahnya sudah mulai mendekat ke wajah istrinya.
"Di sini??" Dinda bertanya karena mereka masih berada di sofa namun Adit sudah nampak sangat berhasrat.
"Kenapa tidak? Di mana pun, di setiap sudut rumah ini, aku ingin kita selalu melakukannya dengan penuh cinta, sayang.." Adit sudah mencium lembut kening Dinda lalu turun ke kedua pipi istrinya yang sudah merona.
Dinda sudah mulai terbuai oleh ciuman-ciuman hangat suaminya.
Di bawah temaram penerangan ruang tengah, mereka berdua mulai melakukan ritual cinta yang penuh gelora.
Tubuh yang saling menginginkan, hasrat yang ingin saling melepaskan rindunya, memuaskan dahaga atas sentuhan cinta yang telah menjadi candu di hati mereka.
Berdua beradu saling memberi kehangatan yang kian lama kian memanas, terpercik api asmara yang memuncak, membakar gairah yang bersatu semakin mencapai klimaksnya hingga akhirnya melunglaikan dua jiwa yang telah saling melengkapi, menunaikan tugasnya atas nama cinta.
.
.
.
Di sisi kota yang lain, di dua tempat yang terpisah jarak dan ruang, dua anak manusia masih terjaga dalam lamunan mereka.
Mereka mengingat pertemuan pertama mereka, pandangan pertama, jabat tangan perkenalan, sapaan pertama, makan siang bersama, saling berbalas pesan hingga akhirnya pulang bersama.
Masih teringat jelas senyum di antara mereka, bertemu pandang dalam diam, getaran di hati mereka, debaran di dada mereka, salah tingkah, resah, gelisah, semua rasa menyatu hingga saat memikirkannya mata mereka pun enggan terpejam, meski malam telah kian larut.
"Apakah aku telah jatuh cinta kepadanya..??"
Hati mereka sama-sama bertanya. Mencoba mengartikan semua yang mereka rasakan tentang seseorang di sana.
"Apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku..??"
Hati mereka sama-sama meragu. Tak ingin semua ini hanya harap semata, tak rela jika rasa ini tak terbalas dan sia-sia belaka.
Mereka ingin menyapa, meski hanya lewat sebuah pesan. Tapi mereka takut, takut untuk memulainya. Mereka tak tahu, apakah yang di sana akan membalasnya atau mengabaikannya.
__ADS_1
Namun ingin ini tak lagi terbendung. Berharap segera menemukan jawabannya. Jika tak mencoba, bukankah selamanya tak akan tahu apa balasannya..?!?
Di ruangnya masing-masing, mereka menggenggam ponsel dengan hati bergetar. Menuliskan sebuah pesan yang sama dengan tangan gemetar.
"Terima kasih.."
Mereka mengirimkan pesan yang sama, di waktu yang sama. Dan di waktu yang bersamaan pula mereka menerima sebuah pesan dengan isi yang sama.
Andi terkejut mendapati pesan yang sama berbalik padanya.
Di seberang sana, Rinaya pun tak percaya, membaca pesan yang sama yang terkirim untuknya.
Mereka berdua tertegun di tempat masing-masing.
Mereka memikirkan kesimpulan yang sama, bahwa mereka merasakan dan melakukan hal yang sama.
Rinaya diam, tak berani membalas pesan itu.
Sementara Andi, menunggu lama tak ada pesan baru untuknya, dia tak lagi bisa bersabar, hatinya menginginkan kepastian.
"Bisakah aku meneleponmu sekarang?"
Andi menunggu balasan.
"Iya." Rinaya membalasnya dengan cepat, secepat ritme jantungnya saat ini.
Tanpa menunggu lagi, Andi segera menekan tombol panggilan setelah mendapatkan ijin dari Rinaya.
Dering nada panggilan di ponselnya memecah kesunyian malam di kamarnya. Rinaya spontan menerima panggilan itu.
Dan kedua telepon itu kini telah tersambung.
"Ya...." Panggilan dari pria di ujung sambungan sana, terasa sangat merdu di telinga Rinaya. Dia senang dengan panggilan nama itu.
"Iya, mas..." Suara Rinaya bergetar menjawabnya.
"Aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Apakah kamu juga memikirkan aku??" Andi bertanya dengan nafas menderu serta dada yang berdegup begitu kencang.
Rinaya merasakan hatinya bagai kembang api yang telah tersulut dan kini memercikkan pijar-pijar indah.
Dia merasa bahagia, hingga lupa menjawab pertanyaan Andi.
"Ya, tolong jawab pertanyaanku." Andi berkata dengan pelan, masih menunggu jawaban dari Rinaya.
"Iy...iya mas, aku juga memikirkan mas Andi."
Di ujung sana, Andi tersenyum bahagia. Dia telah mendengar jawaban yang diinginkannya.
"Ya, sekarang sudah sangat larut. Tidurlah. Besok pagi aku akan menghubungimu lagi." Pinta Andi. Dia tidak ingin pujaan hatinya sakit karena kurang istirahat.
"Baik, mas. Mas Andi juga harus tidur. Selamat malam." Rinaya menjawab lirih.
"Selamat malam, Ya." Andi mengakhiri percakapan mereka.
Dua hati itu kini tengah berbahagia bersama.
Mereka mulai memejamkan mata dengan perasaan tenang. Seulas senyum tersungging di bibir mereka, menemani lelap mereka malam ini.
__ADS_1