
Pihak kepolisian sudah menemukan titik terang keberadaan Sinta yang diketahui selalu berpindah tempat setiap hari. Meskipun belum berhasil menangkapnya tetapi seluruh penyelidikan yang dilakukan dan bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa memamg dialah yang sengaja mengirimkan minuman beracun untuk Dinda.
Pihak yang berwajib sedang menyusun strategi untuk bisa menarik Sinta keluar dari persembunyiannya. Menghadapi seseorang dengan riwayat gangguan kejiwaan dan pernah melakukan tindakan kriminal sebelumnya, membuat polisi harus ekstra waspada dan mempersiapkan segala kemungkinan.
Hari ini adalah hari ketiga Dinda berada di ruang ICU dalam kondisi yang masih belum sadarkan diri. Jangan ditanya bagaimana perasaan Adit juga kedua orang tua mereka. Bahkan Ayah Arya harus terus menenangkan Bunda Nina yang tidak bisa berhenti menangis sejak mereka tiba sore hari di hari pertama putri tunggal mereka masuk rumah sakit.
Adit sendiri setiap saat bolak-balik ke ruang ICU dan ruang NICU bergantian demi terus memantau perkembangan kondisi istri dan putri kecilnya. Meski dirinya sudah terlihat begitu tak terurus, tetapi dia seolah tak pernah mengenal lelah untuk selalu siaga di dekat kedua orang yang sangat dicintainya.
"Dit, ini makanlah dulu. Agar kamu tidak jatuh sakit." Mama Indri datang diantar oleh Pak Jo, membawa masakannya sendiri untuk sang putra.
Tanpa bantahan, Adit menerima kotak sarapan yang disodorkan mamanya dan segera memakannya meskipun dia tidak berselera. Namun demi istri dan putri kecilnya, dia selalu msemaksakan diri mengisi perut untuk memulihkan tenaga dan menguatkan tubuhnya.
Semalam kedua orangtua Dinda menginap di rumah besannya setelah dua hari selalu bermalam di rumah sakit. Sedangkan Papa Satrio juga sudah kembali ke kantornya untuk mengurusi beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Tepat bersamaan dengan Adit yang telah menyelesaikan sarapannya, terlihat lelaki tampan yang mengenakan jas snelli dengan langkah tegap menghampiri Adit. Dia adalah Bagus, teman sekolah Dinda yang juga bertugas di rumah sakit tersebut.
Setiap hari saat masuk jam kerjanya, Bagus selalu menyempatkan diri menengok Dinda dan juga menemani Adit sebentar, sekedar memberinya semangat untuk tetap sabar menunggu sang istri sadar kembali.
"Bagaimana kondisi terakhir Dinda, mas?"
Seperti biasa, Bagus menngulurkan tangan ke arah Adit yang langsung disambutnya dengan hangat dan senyuman yang dipaksakan. Tidak ada lagi rasa takut dan cemburu di hati Adit karena yang dia tahu Bagus hanya bersimpati dan ingin memantau perkembangan kondisi Dinda.
"Masih sama, Gus. Aku sangat mengkhawatirkannya, karena ini sudah hari ketiga dan dia tetap belum memberikan respon apapun..."
Adit mempersilahkan Bagus duduk di sampingnya setelah lelak itu menyapa dan memberikan salam hormat kepada Mama Indri. Mereka melanjutkan perbincangan dengan duduk bersebelahan.
"Kemarin sore aku sempat menemui salah satu dokter yang menangani Dinda. Beliau mengatakan jika seluruh organ tubuh Dinda sudah berfungsi dengan normal, dan kadar racun di dalam tubuhnya sudah berangsur-angsur menghilang meski belum seratus persen bersih total."
Adit mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Agus, karena memang Bagus selalu membantunya mencari tahu kondisi terbaru Dinda berdasarkan laporan medis harian yang hanya bisa diperiksa oleh dokter yang berwenang.
"Dia mengalami syok akibat trauma kejadian yang dialaminya, ditambah dengan adanya perdarahan hebat pasca persalinannya kemarin. Kondisinya saat ini seperti sedang berusaha memenangkan dirinya sendiri dan melawan ketakutan yang dirasakannya..."
Adit menganggukkan kepala. Dia ingat jika sebelumnya Dinda pernah mengalami trauma karena meninggalnya Bimo dulu. Ditambah lagi, dia juga sudah pernah mendapatkan ancaman serupa dari Sinta pada peristiwa pertama yang membuatnya keguguran.
"Ya, Gus. Kemarin dokter juga sempat menanyakan hal ini kepadaku dan aku sudah menceritakan semuanya."
"Dinda pasti akan segera pulih, mas. Di alam bawah sadarnya dia pasti sedang berjuang agar bisa segera bangun dan kembali kepada kita semua."
__ADS_1
Setelah beberapa saat berbincang serius, seorang dokter yang merawat Dinda datang dari ujung koridor dan menghampiri Adit.
"Hari ini pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Semoga dengan lebih dekat dan dikelilingi oleh keluarganya, pasien akan semakin terangsang dan termotivasi untuk bangun dari tidur panjangnya."
Adit menyambut baik keputusan dokter. Bagaimanapun juga, dia ingin berada di samping istrinya, menemani dan menjaganya dengan tangannya sendiri. Dia berharap Dinda akan segera sadar dan pulih secepatnya.
"Baik, Dok. Silahkan lakukan semua yang terbaik untuk istri saya. Terima kasih."
Adit menjabat tangan sang dokter sebelum beliau masuk ke ruang ICU diikuti Bagus yang pamit untuk kembali pada pekerjaannya.
"Dinda pasti akan segera sadar dan kembali bersama kita, Nak."
Mama Indri tersenyum sambil menepuk bahu putranya membuat Adit mengangguk dan menghela nafas panjang, berharap semua yang dikatakan mamanya akan segera terjadi pada istrinya.
Sambil menunggu persiapan pemindahan istrinya, Adit pamit pada Mama Indri untuk melihat Cinta, putri kecilnya lebih dulu.
.
.
.
Adit mencium lembut kening Dinda, untuk pertama kalinya setelah istrinya terbaring tak berdaya di rumah sakit tiga hari ini. Kedua tangannya terus mendekap erat telapak tangan yang dingin dan tak bertenaga itu. Sebelah tangan Dinda masih dipasangi infus dan terlihat alat medis lainnya yang menempel di beberapa bagian tubuhnya yang terhubung dengan monitor di samping tempat tidurnya.
Airmatanya menetes mewakili rasa rindunya yang memuncak, setelah sekian waktu hanya bisa menjaga dan memperhatikan Dinda dari luar ruang ICU. Airmata bahagia setelah bisa memeluk dan menciumi istrinya kembali, juga airmata kesedihan karena melihat sang istri masih tak sadarkan diri akibat syok yang dialaminya setelah mengalami keracunan parah kemarin.
"Putri kecil kita, dia juga menunggumu, sayang. Kamu bahkan belum memberinya ASI bukan? Ayo, cepatlah kembali, agar kita bisa berkumpul bertiga di rumah..."
Belum ada pergerakan apapun yang ditunjukkan Dinda. Sepasang matanya masih terpejam rapat, demikian pula bagian tubuhnya yang lain masih belum merespon semua ucapan suaminya. Dia masih terus diam dan larut dalam dunianya sendiri.
"Teruslah berjuang, sayang. Demi dirimu dan kesehatanmu. Demi aku yang selalu mencintaimu. Demi cinta kita dan demi Cinta buah hati kita..."
"Bukankah kamu yang sudah memilihkan nama untuk putri kita? Seperti keinginanmu sendiri, jika bayi kita perempuan maka kamu yang menyiapkan namanya, dan jika bayi kita laki-laki maka akulah yang memberinya nama. Sekarang keinginanmu telah terkabul, sayang. Karenanya, cepatlah sembuh, segera bukalah matamu, dan lihat serta peluklah Cinta putri kecil kita..."
Adit tak berhenti berucap. Dia terus berbicara pelan di samping telinga istrinya. Seluruh harapan dan permohonan disampaikannya di sana, berharap Dinda mendengarnya dan semakin kuat berusaha untuk bangun dari tidur panjangnya.
Mama Indri yang menemaninya, hanya menatap haru dari ujung sofa, dengan mata yang telah basah. Beliau membiarkan putranya sendirian bersama istrinya untuk memuaskan kerinduannya.
__ADS_1
Di luar ruangan, dua orang polisi berpakaian preman terus berjaga dengan tenang tanpa menimbulkan perhatian sekitarnya. Mereka bertugas bergantian dengan tim yang lain untuk mewaspadai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di sana, mengingat target ancaman Sinta yaitu Dinda dan Adit berada di dalam ruang perawatan.
Tiba-tiba Adit dan Mama Indri dikejutkan dengan suara riuh di luar ruangan. Tidak terlalu dekat tetapi masih terdengar cukup keras dari dalam ruangan. Suara itu terdengar seperti sebuah letusan kecil diikuti derap langkah beberapa orang yang terburu-buru.
Adit dan Mama Indri saling berpandangan. Mereka saling melempar tatapan keterkejutan.
"Ada apa di luar sana siang-siang begini, Dit?"
"Tidak biasanya ada keributan di area rumah sakit..." Jawab Adit.
"Sebentar Mama tanyakan dulu kepada polisi yang ada di luar. Semoga bukan hal yang buruk.."
Mama Indri berdiri dan berjalan ke arah pintu, lalu membukanya dan keluar meninggalkan ruangan.
Di depan pintu, Mama Indri mencari kedua polisi yang tadi berjaga di sana, tetapi sekarang sudah tidak terlihat lagi. Hanya ada beberapa orang yang ada di koridor depan ruangan Dinda, dengan wajah yang sama-sama sedang mencari tahu apa yang baru saja terjadi.
Mama Indri mengedarkan pandangannya lagi untuk mencari keberadaan dua orang polisi yang ditugaskan menjaga ruang perawatan Dinda.
Dan seketika pandangan beliau terhenti dengan wajah yang berubah tegang saat melihat ke arah kanan tepatnya di persimpangan kecil antar koridor. Tampak kedua polisi berpakaian preman yang dicarinya sedang berjalan menuju ke arahnya.
Mama Indri membelalakkan matanya, tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Kilatan amarah terpancar dalam tatapan tajam beliau yang tertuju lurus pada sosok yang sekarang berdiri di hadapannya, bersama dua orang polisi di sampingnya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
.
__ADS_1