Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
25 RUMAH VS KANTOR


__ADS_3

Pagi baru datang seiring mentari yang tersenyum menyapa semesta. Dinginnya angin malam telah berganti kehangatan sinar sang surya yang merengkuh seluruh alam.


Di dalam kamar, Adit tengah bersiap untuk berangkat kerja. Hari ini dia akan mulai bekerja di kantor papanya, seperti karyawan yang lain.


Sebelumnya, Adit bekerja dari rumah saja dan menyelesaikan semua urusan kerjanya saat malam hari atau setelah jadwal perkuliahannya selesai.


Tapi karena sekarang dia sudah merampungkan kuliahnya dan juga sudah menikah, maka papanya menyarankan untuk bekerja di kantor saja, agar di rumah dia tidak terganggu dengan aktivitas pekerjaannya.


"Sayang, kamu yakin hari ini akan di rumah saja? Tidak mau aku antar ke rumah Rinaya atau Elisa?" Bujuk Adit sebelum berangkat. Dia masih enggan meninggalkan istrinya sendirian di rumah menunggunya.


"Hanya hari ini saja , sayangku. Aku akan menikmati waktuku menunggu suamiku pulang kerja dan melayaninya sebagai istri yang baik." Dinda meyakinkan suaminya dengan kecupan di kedua pipi Adit yang membuat Adit tersenyum dan membalasnya dengan ciuman singkat di bibir istrinya.


"Aku akan merindukanmu. Jangan jauh-jauh dari ponselmu.." Dan yang terakhir, Adit mencium kening Dinda yang dibalas Dinda dengan mencium tangan suaminya.


"Aku menunggumu, suamiku.." Dinda melepaskan kepergian Adit dengan senyum dan lambaian tangannya, lalu segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.


Di dalam kamar, Dinda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, beristirahat sejenak setelah sibuk dari subuh tadi menyiapkan sarapan dan semua keperluan kerja suaminya.


Dia meraih ponselnya yang berada di atas meja di samping tempat tidur. Bersantai sambil membuka beberapa akun gosip dan berita online tanah air. Begitulah kegiatan kaum hawa jika ada waktu luang, selalu mencari bahan obrolan terbaru agar tidak kudet saat bertemu teman-temannya.


Tengah asyik-asyiknya menyimak aneka info dan berita menarik, ada pesan baru masuk dari Adit.


"Sepertinya dia sudah sampai di kantor.." pikir Dinda, melihat jam di ponselnya, sudah berlalu setengah jam dari saat suaminya berangkat tadi.


"Sayang, aku sudah sampai di kantor. Sekarang aku berada di ruanganku.." Bunyi pesan dari Adit yang disertai sebuah foto selfie dirinya di sebuah ruangan kerja yang nampak cukup luas dan nyaman.

__ADS_1


"Bekerja dengan baik, sayangku. Jangan lupa untuk istirahat. Dan pulanglah tepat waktu." Balas Dinda.


"Siap, ratuku. Aku mencintaimu. Aku merindukanmu." Balas Adit dengan mesranya, membuat Dinda yang membacanya tersenyum dan membalasnya segera.


"Aku juga mencintaimu. Dan aku pun merindukanmu. Selamat bekerja."


Selesai berbalas pesan dengan sang suami, Dinda meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dia mulai memejamkan matanya. Dia ingin tidur sebentar untuk memulihkan tenaganya, karena nanti harus mempersiapkan kejutan kecil untuk suaminya.


Sementara itu, di ruang kerja Adit, seperti biasanya Adit memulai pekerjaannya dengan membuka email yang berkenaan dengan pemesanan produk perusahaan, kemudian dilanjutkan dengan memeriksa dokumen-dokumen yang sudah disiapkan oleh Andi asistennya.


Tidak ada yang berubah dari pekerjaan yang dilakukan Adit, semuanya tetap sama. Bedanya, jika sebelumnya dia hampir selalu mengerjakannya di rumah, sekarang dia bisa lebih fokus karena bekerja di kantor dengan jam kerja yang teratur.


Tok Tok Tokkk...


Dia adalah Andi, asisten yang membantu pekerjaan Adit selama ini. Usianya dua puluh tujuh tahun, tiga tahun lebih tua dari Adit. Andi sudah hampir lima tahun bekerja di Nature Furniture, perusahaan milik Satrio, papa Adit. Tepatnya satu tahun setelah Adit mulai membantu pemasaran produk perusahaan ke manca negara.


"Mas Adit, ini ada beberapa berkas dari bagian produksi dan bagian pengiriman yang perlu ditandatangani." Andi meletakkan setumpuk berkas di atas meja Adit.


Walau usianya lebih tua dari Adit tapi Andi tetap memanggil Adit dengan sebutan mas, karena menurutnya lebih sopan dan mengingat posisi Adit sebagai atasannya juga.


"Iya. Makasih mas Andi. Nanti aku periksa setelah menyelesaikan yang sebelumnya dulu." Adit tersenyum sejenak lalu melanjutkan pekerjaannya. Sementara Andi kembali ke ruangannya yang berada tepat di depan ruangan Adit.


.


.

__ADS_1


.


Alarm di ponsel Dinda berdering tepat jam sepuluh. Dinda sengaja menyetel alarm agar tidak terlambat menyiapkan makan siang untuk suaminya.


Ya, hari ini dia berencana memberikan kejutan untuk Adit dengan membawakan makan siang buatannya ke kantor.


Dinda beranjak dari tempat tidur dan menuju dapur. Dia pun segera menyiapkan semua bahan dan mulai memasak. Hari ini dia memasak sayur dan lauk favorit Adit. Sayur lodeh, sambal terasi, tempe goreng dan perkedel kentang, tak lupa rempeyek ikan asin.


Dari awal mengenal Adit, Dinda sudah tahu kalau Adit sangat menyukai masakan Jawa dan hidangan tradisional. Semasa kuliah, Adit juga lebih sering mengajak Dinda makan di warung-warung sederhana dan rumah makan atau resto yang menyediakan menu masakan Jawa.


Satu jam, Dinda sudah menyelesaikan semua masakannya. Semua sudah dikemas di wadahnya masing-masing dan disimpan dalam satu cooler bag.


Dinda segera berganti pakaian dan merias wajahnya dengan make up tipis natural.


Tak lama kemudian dia sudah dalam perjalanan menuju kantor Adit menggunakan jasa taxi online.


Pukul dua belas kurang lima belas menit, akhirnya Dinda sampai di kantor Nature Furniture. Sebelum masuk ke ruangan Adit, terlebih dahulu dia menyapa Papa Satrio di ruangannya. Papa Satrio sendiri setiap hari selalu dikirimi makan siang oleh Mama Indri yang dibawakan sopirnya dari rumah.


Sampai di depan ruangan Adit, Dinda bermaksud memberitahukan kedatangannya kepada Andi, tetapi karena dilihatnya ruangan sang asisten sudah kosong, maka Dinda pun segera berbalik arah ke ruangan suaminya.


Seperti yang lain, dia juga mengetuk pintu lebih dulu. Terdengar jawaban dari dalam yaitu suara Adit mempersilahkan masuk. Pelan-pelan Dinda membuka pintu dan melihat Adit masih serius menatap layar laptop di hadapannya.


Dinda masuk lalu menutup pintu tanpa bersuara. Dia hanya berdiri diam di samping pintu sembari tersenyum menatap suaminya yang belum mengetahui kedatangannya.


"Ada apa mas And--.." Adit menghentikan ucapannya saat mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke arah pintu.

__ADS_1


__ADS_2