Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
40 DIA HANYA MILIKKU


__ADS_3

Pagi harinya, Adit dan Dinda kembali bertemu dengan Andi yang juga mengantarkan Rinaya ke gerai.


"Pagi, mas Andi, Rin." Sapa Adit lebih dulu diikuti Dinda. Rinaya tersenyum membalas sapaan dua sahabatnya.


"Pagi juga, mas Adit dan Dinda. Hari ini mas Adit jadi menemani Dinda di sini?" Andi menjawab sekaligus memastikan tentang urusan pekerjaan mereka. Semalam Adit sudah memberitahu Andi tentang rencananya hari ini.


"Iya, mas. Saya minta tolong kalau ada berkas yang perlu segera saya tandatangani, nanti jam istirahat dibawa ke sini saja, sekalian kita makan siang bareng di sini." Kata Adit.


"Baik, mas Adit. Nanti akan saya cek dulu semuanya."


"Kalau begitu saya langsung berangkat, mas Adit, Dinda." Andi pamit kepada sepasang suami istri di depannya. Kemudian pandangannya beralih menatap kekasihnya.


"Ya, aku berangkat dulu. Nanti siang aku ke sini lagi." Dia tersenyum pada Rinaya.


"Iya, mas. Selamat bekerja." Balas Rinaya melepas kepergian Andi hingga mobilnya melaju meninggalkan gerai.


Setelah itu mereka bertiga segera membuka pintu gerai dan memulai aktivitas dengan penuh semangat.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Gerai sudah buka satu jam yang lalu. Dan sekarang sudah ada beberapa pengunjung yang datang.


Adit sudah sibuk menyelesaikan pekerjaannya di depan laptop. Dia memilih satu meja di depan ruangan Dinda untuk melakukan pekerjaannya.


Sementara sang istri berada di dalam ruangannya dengan pintu terbuka, sehingga sesekali mereka bisa saling memperhatikan di sela-sela kesibukan masing-masing.


Ponsel Dinda berdering, ada pesan baru dari Elisa.


"Hai, Nyonya Aditya sayang..! Aku kangen deh.."


"Hai juga, Nyonya Farrel yang super heboh. Di sini sepi tanpa dirimu.." Tulis Dinda.


"Bantingin aja tuh para panci di dapur cafe, rame deh ramee.." Jawab Elisa.


Dinda berbalas pesan dengan Elisa sambil sesekali tersenyum lebar membuat Adit penasaran.


"Ngobrol sama siapa, sayang?" Tanya Adit dari tempat duduknya.


"Elisa.." Jawab Dinda singkat sementara tangannya masih terus menuliskan pesan untuk Elisa.


"Sa, video call an aja yuk!" Ajak Dinda di pesannya.


"Jangan sekarang bebs, aku masih muka bantal. Ada Farrel juga di sampingku, aku terkunci, hehee.." Balas Elisa.

__ADS_1


Dinda yang paham maksudnya seketika tertawa sendiri membaca pesan Elisa itu hingga Adit menoleh ke ruangannya.


Menyadari sedang ditatap Adit, Dinda segera menutup mulutnya menahan tawanya.


"Jam segini masih guling-gulingan aja kamu. Belum capek apa belum puas? Hahaa.." Dinda masih mencecar si pengantin baru. Dia merasa ada hiburan walau Elisa tak berada di dekatnya.


"Sudah dua hari cuma di kamar hotel aja, Din. Capek sih capek. Tapi nikmatnya kan nagih, wkwkk.." Biarpun hanya menulis pesan, Elisa tetap saja tidak bisa mengontrol ucapannya yang terbiasa blak-blakan dan ceplas-ceplos.


Dinda kembali tergelak hingga menggelengkan kepalanya sendiri membaca pesan Elisa yang semakin panas hawanya.


Adit tersenyum bahagia memperhatikan istrinya tertawa dengan wajah cerianya. Hatinya menjadi tenang dan kembali fokus menatap layar laptop di depannya.


.


.


.


Tepat jam makan siang kantor, Andi sudah tiba di cafe dengan membawa beberapa berkas untuk Adit. Semua berkas dan juga laptop Adit, ditaruh ruangan Dinda, karena mereka berempat akan makan siang terlebih dahulu. Kali ini Rinaya yang menjamu mereka dengan beberapa pilihan menu pesanan online yang baru saja datang.


Setelah makan siang selesai, Adit dan Andi bergegas pergi ke musholla taman kota, sementara Dinda dan Rinaya masih membersihkan meja yang baru saja mereka gunakan.


Bersamaan dengan itu, seorang wanita masuk ke dalam cafe, matanya mencari-cari seperti ingin menemui seseorang.


Pandangannya akhirnya terhenti pada sosok Dinda yang masih merapikan meja. Dengan langkah cepat dia menghampiri Dinda dan mencengkeram lengannya.


Dinda yang merasa kesakitan hendak berteriak namun suaranya tertahan tatkala melihat siapa yang melakukannya.


"Tinggalkan, Adit! Dia milikku!!" Seru Sinta hingga terdengar oleh Rinaya yang sedang membersihkan tangannya di wastafel. Beberapa pengunjung pun ikut terkejut dan menoleh ke asal suara.


Rinaya yang sudah melihatnya segera menghampiri Dinda dengan cemas.


"Din, ada apa ini?" Rinaya menatap Sinta dengan penuh kecurigaan, apalagi dia tidak mengenal wanita itu.


Dinda masih menatap Sinta dengan wajah pias. Tapi saat mendengar kata-kata Sinta tadi, entah keberanian dari mana, dengan sekuat tenaga dia menghempaskan tangannya dan melepaskan cengkeraman Sinta dengan tangan kirinya.


"Jangan membuat kegaduhan di sini, mbak! Kalau ada yang ingin dibicarakan, ayo kita selesaikan di luar..!!" Wajah Dinda sudah berubah menahan amarah. Dengan langkah cepat dia menuju pintu keluar diikuti Sinta yang terus menatapnya penuh kebencian.


Rinaya tidak tinggal diam. Dia segera menghubungi Adit dan Andi bergantian. Karena keduanya tidak merespon, akhirnya dia mengirimkan pesan singkat lalu segera mencari Dinda dan Sinta di luar cafe.


Di tepi halaman gerai yang agak sepi, Dinda menghentikan langkahnya dan berdiri berhadapan dengan Sinta.


"Apa yang mbak Sinta inginkan?" Tanya Dinda.


"Sudah kubilang, tinggalkan Adit! Dia hanya milikku!" Sinta berteriak dengan tatapan penuh kebencian pada Dinda.


"Adit suamiku mbak, dan itu berarti dia adalah milikku. Bukan milik mbak Sinta." Jawaban Dinda semakin memancing emosi Sinta. Seketika dia menampar pipi Dinda hingga mengenai ujung bibirnya yang langsung mengeluarkan beberapa tetes darah segar.

__ADS_1


Dinda hampir saja kembali ciut. Tetapi mengingat Sinta ingin merebut suaminya, tubuhnya kembali bertenaga. Tangannya melayang dan mendarat dengan keras di mulut Sinta.


"Jaga ucapanmu, mbak! Aku adalah istri Adit. Dan aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil apa yang sudah menjadi hakku dan milikku..!!" Tegas Dinda dengan berani.


"Kamu yang merebutnya dariku! Aku yang lebih dulu bersamanya. Aku yang pertama memilikinya. Kamu yang harus meninggalkan Adit..!" Sinta berteriak tanpa menghiraukan mulutnya yang terluka akibat tamparan Dinda.


"Semua itu adalah masa lalu, mbak. Dan ingat, dulu kalian hanya bersahabat, tidak lebih..!!!" Dinda menatap tajam ke arah Sinta yang masih memegangi mulutnya.


Sementara Dinda tidak mempedulikan lagi rasa sakit akibat tamparan Sinta. Hatinya jauh lebih sakit. Dia harus mempertahankan miliknya dan juga harga dirinya.


Di tempat lain di seberang gerai, Adit dan Andi baru saja keluar dari musholla dan kembali menyalakan ponsel mereka.


Adit sangat terkejut membaca pesan dari Rinaya yang juga terkirim kepada Andi.


Pikiran Adit langsung tertuju pada satu dugaan, Sinta! Tanpa menunggu lagi dia berlari secepatnya untuk kembali ke gerai.


Andi pun segera mengikuti Adit. Mereka berdua berlari melintasi taman kota dan sampai di tepi jalan raya. Arus lalu-lintas yang padat membuat mereka harus ekstra hati-hati untuk menyeberanginya.


Dari median jalan Adit sudah bisa melihat keberadaan Dinda dan Sinta. Namun lalu-lalang mobil yang sangat banyak membuat dia dan Andi tidak bisa segera menyeberang lagi.


Dari tempatnya berdiri Dinda sekilas telah melihat Adit dan Andi. Dia juga mendengar Adit berteriak kencang memanggil namanya.


Rupanya Sinta juga melihat dan mendengarnya. Emosinya kembali memuncak mendengar Adit memanggil Dinda dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Aku akan membawa Aditku. Aku akan membawanya bersamaku!" Sinta hendak meninggalkan Dinda dan ingin menyambut Adit yang masih mencari celah sepi untuk menyeberang.


Melihat kenekatan Sinta, Dinda mencegah langkahnya dan menarik lengan Sinta.


"Jangan pernah berani menyentuh Adit lagi, mbak..!" Dinda memperingatkan Sinta yang sudah tak sabar ingin menemui Adit.


Sinta yang dicegah justru semakin tertantang. Dia menepis tangan Dinda dengan kasar. Tetapi tubuh Dinda masih berdiri menghalanginya. Dengan penuh amarah, Sinta memegang kedua lengan Dinda lalu mendorongnya sekuat tenaga hingga tubuh Dinda kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di area parkir.


Tepat bersamaan dengan itu, sebuah mobil membelokkan arahnya ke halaman gerai dan tanpa bisa dicegah lagi...


Bruukkkk..!!!!!


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.

__ADS_1


Salam cinta dari kami..


Author


__ADS_2