Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
26 KEJUTAN DINDA


__ADS_3

"Surpriseee..." Dinda tersenyum lebar.


"Sayang, kamu di sini..." Adit benar-benar terkejut begitu melihat istrinya sudah berdiri di hadapannya. Spontan dia berdiri dan menghampiri Dinda yang masih diam dengan senyumnya.


Dipeluknya sang istri seperti tak bertemu sekian lama. Dinda bahagia kejutannya berhasil. Dia membalas pelukan Adit dengan satu tangan, karena tangan yang satunya masih memegang cooler bag.


Tak lama kemudian Adit melepaskan pelukannya. Dinda berjalan menuju meja kecil di sudut belakang, kemudian membuka bawaannya dan menatanya di atas meja.


Adit mengikuti sang istri, melingkarkan tangannya memeluk dari belakang sambil melihat dari atas bahu Dinda apa yang dibawakan untuknya.


Aroma lezat dari masakan Dinda mulai tercium.


"Kamu menyiapkan ini untukku, sayang?" Tanya Adit.


"Khusus untuk suamiku tercinta." Jawab Dinda.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


"Ya." Adit menjawab cepat secepat dia melepaskan pelukannya.


Andi masuk ingin berbicara dengan Adit, tapi begitu melihat ada Dinda di situ dia segera merubah ucapannya.


"Ooh, maaf, saya tidak tahu kalau ada mbak Dinda di sini. Tadinya saya mau menanyakan apa mas Adit mau saya sediakan makan siang sekarang. Tapi ternyata sudah dibawakan oleh mbak Dinda.." Andi menjelaskan maksudnya dengan senyum dan tetap sopan.


"Iya, tadi saya ke ruangan mas Andi tapi kosong, jadi saya langsung ke sini." Dinda juga memberikan jawaban.


"Maaf tadi saya sedang mengantarkan berkas ke bagian lain." jawab Andi.


Mereka berdua sudah beberapa kali bertemu di rumah papa Satrio, jadi sudah saling kenal.


"Ya sudah mas Andi silahkan istirahat dulu. Saya makan siang bersama istri di sini." Adit mempersilahkan Andi untuk rehat siang karena waktu juga sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


Setelah berpamitan Andi keluar ruangan, meninggalkan Adit dan Dinda berdua bersiap makan siang.


"Hmmm.., semuanya favorit aku, sayang. Terima kasih, sudah merepotkan dirimu memasak dan mengantarkannya kemari untukku." Adit mencium kening istrinya dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Sama-sama, tuanku. Terima kasih juga sudah bekerja keras untuk keluarga kita." Dinda membalas tak kalah mesranya. Dia mencium kedua pipi Adit.

__ADS_1


Mereka berdua segera menikmati makan siang di sofa kecil yang ada di ruang kerja Adit. Adit tampak sangat senang, makan siang pertamanya di kantor ditemani istri tercinta.


Selesai makan, Dinda membereskan semua peralatan yang dibawanya dan dimasukkan kembali ke dalam cooler bag.


Tak lama kemudian Adit mengajaknya berjamaah sholat dhuhur di dalam ruangan. Karena Dinda belum pernah datang ke kantor dan Adit juga lupa belum menyiapkan mukena di ruangannya, Adit meminjam mukena yang tersedia di musholla kantor.


Selesai berjamaah, mereka duduk di sofa, masih menikmati kebersamaan berdua.


Adit memeluk istrinya dari samping, membawa kepala Dinda bersandar di bahunya.


Dinda menurut, tangannya memeluk tubuh sang suami dengan rasa nyaman.


"Baru beberapa jam tak melihatmu, rasanya seperti sudah meninggalkanmu seharian.." Adit menciumi ujung kepala Dinda.


"Biasakanlah seperti ini. Ini pekerjaanmu. Lagi pula sebentar lagi aku juga mulai ada kesibukan di Gerai Bertiga kan, sayang. Kita akan sama-sama sibuk." Jawab Dinda pelan.


"Jadi, kalau kamu sibuk, kamu akan melupakan aku? Tidak merindukan aku, begitu..??" Adit menatap Dinda dan memurungkan wajahnya.


"Bukankah tadi kamu juga seperti itu? Sibuk dengan layar di depanmu hingga tak menyadari kehadiranku di sini..??" Balas Dinda tak mau kalah, wajahnya sudah diubah ke mode cemberut maksimal.


Adit mencubit pipi istrinya dengan gemas.


Dinda kembali tersenyum mendengar kata-kata suaminya. Tiba-tiba dia mencium bibir Adit, entah apa yang tengah melintas di pikirannya saat ini. Dia hanya tahu, itu adalah salah satu titik sensitif suaminya.


Adit yang kaget mendapat serangan mendadak, langsung memundurkan kepalanya, menatap Dinda tak mengerti.


Dinda tersenyum dengan tatapan menggoda.


"Aku ingin mencoba rasanya bermesraan dengan suamiku, di tempat yang bukan wilayah pribadi kita. Merasakan sensasinya yang berbeda dan lebih mendebarkan.." Ucapnya sangat pelan.


Adit menepuk keningnya pelan, terheran-heran dengan jalan pikiran istrinya di siang terik seperti ini. Meskipun di dalam ruangannya terasa dingin oleh AC, tapi dia sungguh tak menyangka Dinda berani melakukannya.


Sementara dia juga tidak mengunci pintu. Mungkin itu yang dimaksud dengan sensasi. Sensasi jika tiba-tiba ada yang masuk dan memergoki mereka.


"Kamu ternyata pintar menggodaku, sayang.." Adit tersenyum meski sekarang dia menjadi grogi, gugup menatap istrinya.


"Aku ingin suamiku juga melakukan hal yang sama untukku, tanpa ada ketakutan apa pun itu di pikirannya.."

__ADS_1


Mendengar jawaban Dinda, Adit jadi merasa bersalah.


"Maafkan aku, sayang. Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk memperlakukanmu." Adit memegang tangan Dinda dan menciumnya.


Sekilas dia melirik jam dinding di atas pintu ruangannya. Masih ada waktu lima belas menit sebelum waktu istirahat siang berakhir.


Adit menghela nafas panjang perlahan-lahan sebelum mengatakan sesuatu yang tak diduga istrinya.


"Duduklah di sini, di pangkuanku.."


"Apaaa??" Dinda membelalakkan matanya.


Tanpa menunggu jawaban, kedua tangan Adit sudah mengangkat tubuh Dinda ke pangkuannya, menghadap ke arahnya. Tangannya memeluk pinggang istrinya dengan erat.


Sesaat Adit terdiam. Berusaha menata hatinya, meredam ketakutan yang terkadang masih muncul di pikirannya. Ditatapnya wajah Dinda lekat-lekat. Semakin lama tatapan itu semakin dalam. Hingga tak ada lagi yang dipikirkan Adit. Hanya ada wajah Dinda di hadapannya.


Sementara Dinda, setelah memupus keterkejutannya atas perlakuan Adit, dia mulai menenangkan dirinya. Dirinya sudah tenang, tapi hatinya yang kini berdebar dan bergejolak. Apalagi ketika dia melihat tatapan mata Adit kepadanya, hati Dinda semakin kalang-kabut dibuatnya. Dia mencoba mengatur ritme nafasnya. Sama seperti Adit, tak ada lagi yang dipikirkannya. Hanya ada wajah Adit di hadapannya.


Pada akhirnya, mereka berdua diam membisu. Hanya tubuh mereka yang berbicara. Saling memeluk erat, menyatukan bibir dan saling menikmati. Saling memejamkan mata, menyatukan hasrat di hati mereka.


Mereka semakin larut dalam suasana gerah yang memeluhkan tubuh mereka. Mereka semakin hanyut terbawa arus gairah yang semakin deras membuai tubuh mereka.


Namun mereka masih menyisakan sedikit kesadaran bahwa mereka sedang berada bukan di peraduan intim mereka, sehingga mereka menahan gejolak untuk tidak melanjutkannya menuju titik puncak tertinggi dari hasrat mereka.


Adit membuka matanya diikuti Dinda yang masih berada di pangkuannya. Mereka menyudahi kemesraan yang tercipta siang ini. Mereka saling merapikan kembali baju bagian atas mereka yang terbuka dan berantakan.


Dinda turun dari pangkuan Adit, menyegarkan wajahnya di kamar mandi, bergantian dengan suaminya. Kemudian dia merapikan riasan dan penampilannya. Lalu memesan satu taxi online untuk pulang.


Adit mendekatinya dan mencium lembut keningnya.


"Terima kasih untuk semua kejutanmu siang ini. Aku sangat bahagia.." Bisik Adit di telinga sang istri.


Wajah Dinda bersemu merah menahan malu mengingat apa yang baru saja terjadi.


"Maafkan aku sudah mengganggu waktu istirahatmu, sayang.."


Adit menutup mulut istrinya dengan satu jari telunjuknya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu.."


"Aku antarkan kamu ke luar." Adit menggandeng tangan Dinda, menemaninya menuju depan kantor, mengantarkan istrinya hingga masuk ke dalam mobil, dan melepas kepergiannya dengan senyum bahagia.


__ADS_2