
Sepuluh hari berlalu sejak kepergian Bimo. Dinda dan Adit sudah pulang ke rumah mereka setelah menginap dua hari di rumah ayah bunda. Mereka juga sudah melakukan aktivitas seperti biasanya.
Siang hari di dalam ruangan Adit, dua pria tampan dan mapan baru saja menyelesaikan santap siang bersama di sofa.
"Bagaimana kabar Dinda, mas Adit? Setelah kejadian itu, apakah dia baik-baik saja?"
Andi belum bertemu lagi dengan Dinda sejak acara makan siang waktu itu. Sejujurnya dia memang mengkhawatirkan kondisi Dinda yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.
"Baik, mas. Tapi sepertinya kondisi mentalnya sedikit terganggu karena kejadian kemarin. Sebenarnya saya tidak tega melihatnya seperti itu, tapi saya juga bingung harus bagaimana.."
Adit meneguk minuman kemasannya dengan cepat. Wajahnya mulai menyiratkan kegusaran.
"Dia trauma?" Andi langsung bisa menebak dengan tepat.
Adit mengangguk dan menyandarkan kepalanya ke belakang. Bayangan wajah Dinda setiap bangun tidur, membuatnya menarik nafas sangat berat.
"Setiap hari, dia terbangun dengan wajah ketakutan, tubuh yang gemetar dan penuh keringat dingin. Bahkan terkadang juga disertai tangisan."
"Selebihnya sebenarnya dia tetap bersikap normal dan beraktivitas seperti biasanya. Hanya gangguan saat tidur itu saja yang masih membuatnya lemah."
Andi turut menghela nafas panjang. Dia bisa memahami perasaan Adit. Dulu dia juga pernah merasakan apa yang Dinda rasakan saat ini, meskipun dalam situasi dan posisi yang berbeda.
Dulu dia kehilangan kedua orangtua dan adiknya dalam waktu yang tidak berselang lama. Kemudian saat hampir lulus kuliah, dia juga harus kehilangan seseorang yang sangat disayanginya.
Berbeda dengan situasi Dinda saat ini, dia ditinggalkan oleh seorang teman tapi dalam kondisi tiba-tiba harus menyaksikan langsung detik-detik kepergian temannya tersebut.
Belum lagi beberapa kejadian buruk yang menimpa Dinda saat berhadapan dengan Sinta dan harus menerima kenyataan akan keguguran yang dialaminya. Sangat berat dan tidak mudah, itu pasti..!!
"Mas Adit tidak ingin membawanya ke dokter atau psikiater?"
"Saya sudah membujuknya, mas. Namun Dinda menolaknya. Dia tidak mau dianggap punya masalah kejiwaan. Padahal sudah saya katakan bahwa kita hanya akan berkonsultasi tentang ketakutan yang terus membayanginya."
Andi memutar bola matanya ke arah atas seperti sedang berpikir atau mengingat-ingat sesuatu. Sejurus kemudian dia menegakkan posisi duduknya.
"Saya ingat, saya punya teman yang sekarang sudah menjadi psikiater, mas Adit. Apakah boleh saya coba tanyakan tentang masalah yang dialami Dinda kepadanya?"
Adit berpikir sejenak. Mungkin dia memang harus berusaha sendiri tanpa sepengetahuan istrinya. Yang dia pikirkan hanyalah kesehatan Dinda dan kesembuhannya dari rasa takut kehilangan dan trauma tentang kematian.
"Bisa kita coba, mas. Tapi tolong jangan sampai Dinda tahu lebih dulu." Pinta Adit setelah mengiyakan tawaran bantuan dari Andi.
"Oke, mas Adit. Saya akan menghubunginya dulu dan memastikan waktu untuk bisa bertemu dengannya."
Andi membantu Adit membereskan sisa sampah makan siang mereka. Setelah itu dia mengambil ponsel di sakunya.
Beberapa saat dia terus menggerakkan jari telunjuknya di layar, mencari kontak seorang teman yang ingin dihubunginya.
Setelah menemukannya, Andi segera melakukan panggilan. Tak berapa lama kemudian panggilan telah tersambung.
"Ya, halo?" Terdengar suara seorang perempuan di seberang sana.
"Assalamualaikum, Putri."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Andi. Tumben kamu menghubungi aku? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.." Jawab Putri, nama teman Andi yang berprofesi sebagai seorang psikiater itu.
"Iya Put, maaf aku sibuk dengan pekerjaanku, sama halnya dirimu juga bukan?"
Setelah sedikit basa-basi dan saling menyapa, Andi segera menyampaikan maksud dan tujuannya. Semua hal tentang Dinda yang tadi sudah diceritakan oleh Adit, dia sampaikan seluruhnya kepada Putri. Termasuk kronologi kejadian sebelum Dinda mengalami traumanya saat ini.
"Seperti itu, Put. Apa kamu ada waktu, agar aku dan suaminya bisa menemuimu secara langsung? Atau aku menyesuaikan jadwal praktekmu saja, bagaimana?"
"Baiklah, Andi. Sekarang ini aku ada jadwal praktek di Rumah Sakit Mitra Keluarga sampai jam tiga sore. Kalian bisa menemuiku di sini. Nanti langsung ke ruanganku saja dan sampaikan pada perawat yang bertugas jika kalian sudah ada janji denganku."
"Ya, Put. Kami akan datang ke sana setelah ini. Sebelumnya terima kasih banyak atas bantuanmu."
Andi menutup panggilannya dan menyimpan ponselnya kembali.
"Hari ini kita bisa menemuinya, mas Adit. Dia praktek sampai jam tiga sore nanti."
"Kalau begitu sekarang saja kita ke sana, mas. Saya akan meminta ijin ke ruangan Papa dulu. Setelah sholat Dhuhur, kita langsung berangkat."
Adit tampak sangat bersemangat untuk segera pergi menemui psikiater teman Andi tersebut. Yang dia harapkan hanyalah kesembuhan Dinda istri tercintanya.
.
.
.
Jam dua siang, Adit dan Andi sudah sampai di rumah sakit. Sesuai arahan Putri, mereka langsung menuju ke ruangan praktek Putri dan memberitahukan kedatangan mereka kepada perawat yang berjaga di sana.
Tanpa mereka ketahui, saat mereka berdua berjalan memasuki rumah sakit dan melewati lobby pendaftaran, dari kejauhan sepasang mata melihat kedatangan mereka dan mengamati arah tujuan mereka menuju lantai dua.
Sementara itu, Adit dan Andi yang sudah dipersilakan masuk ke dalam ruangan praktek Putri, langsung disambut oleh seorang perempuan bertubuh molek dan berwajah manis yang segera berdiri dan menghampiri mereka.
"Hai Andi, bagaimana kabarmu?"
Putri dengan ramah dan sangat akrab menyapa Andi disertai jabat tangan hangatnya. Pandangannya lalu beralih pada Adit yang berdiri di samping Andi.
"Kabarku baik, Put. Oya, perkenalkan ini atasanku di kantor yang ingin berkonsultasi denganmu."
"Mas Adit, ini Putri. Dia adalah tunangan dari teman kuliah saya."
Adit mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.
"Adit. Maaf sudah mengganggu waktunya."
Putri menyambut uluran tangan Adit dengan senyuman. Sejenak tatapannya terpaku pada wajah Adit yang membuat Adit segera melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangannya.
"Aku perhatikan, mengapa ketampanan kalian hampir sama semua ya? Sebelas dua belas dengan calon suamiku, hahaa.."
Andi yang sudah tahu sifat Putri yang sedikit genit hanya tersenyum menanggapinya.
"Baiklah, silakan duduk. Mari kita bahas tentang apa yang diceritakan Andi tadi."
__ADS_1
Mereka bertiga kembali duduk di tempat masing-masing. Kemudian Putri mulai membuka suara dan memberikan penjelasannya.
"Begini, kalau mendengar ceritanya tadi, aku cenderung berpikir ke arah PTSD, yaitu Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stress pasca trauma. Gangguan ini berkaitan dengan suatu kejadian menakutkan yang pernah dialami seseorang dan kejadian tersebut mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang tersebut."
Adit dan Andi menyimak dengan seksama semua penjelasan dari Putri. Satu per satu kalimat Putri berusaha untuk dicerna dengan baik oleh Adit.
"Untuk kasus istrimu, penyebab utama traumanya adalah karena secara mendadak dia melihat langsung kematian seseorang dalam hal ini sahabatnya, sehingga menimbulkan efek traumatik berupa perasaan cemas atau takut yang berlebihan."
"Ditambah lagi faktor pengikut lainnya, bahwa beberapa waktu sebelumnya dia juga mengalami penganiayaan yang membuatnya terluka dan mengalami keguguran. Peristiwa-peristiwa itu terkumpul menjadi satu di alam bawah sadarnya."
"Umumnya, kecemasan yang timbul akibat peristiwa traumatik tersebut, paling sering disertai dengan gangguan tidur berupa mimpi buruk yang terus berulang, atau munculnya bayang-bayang dari kejadian tersebut secara terus-menerus. Hal iniย biasanya akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu tapi ada juga yang bisa sampai beberapa bulan."
"Selama itukah..?!"
Adit terkejut mendengar penjelasan terakhir dari Putri. Wajahnya tampak gusar. Dia tidak tega jika Dinda harus mengalaminya begitu lama.
"Tidak semuanya ya. Jika traumanya masih dalam batas kewajaran, tidak akan selama itu. Dua hingga empat minggu akan pulih."
"Istrimu bekerja? Maksudku ada kesibukan selain mengurus rumah tangga?" Putri kembali bertanya.
Adit segera menganggukkan kepalanya.
"Ya, dia bekerja. Dia mempunyai usaha cafe."
"Itu lebih baik. Dengan melakukan kegiatan rutinnya sehari-hari, waktunya akan terasa berguna dan tidak terbuang percuma. Pikirannya juga akan lebih terbuka dan tidak terkungkung pada satu hal atau masalah."
"Dan jika ada masalah, biasakan untuk segera menyelesaikannya, bisa dengan cara bercerita dan berbagi dengan orang-orang terdekat. Ingat, menghindari suatu masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu. Sama halnya dengan menyimpannya, hanya akan memperbesar masalah itu sendiri, dan bisa menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak juga."
"Satu lagi, jika ada waktu ajaklah istrimu untuk berlibur. Pergi ke alam terbuka sangat baik untuk proses relaksasi diri."
Adit memahami semua yang dikatakan Putri. Sebagai suami dan orang terdekatnya, dia berperan penting untuk membantu Dinda melepaskan diri dari jerat trauma yang masih membelenggu jiwanya.
Dia berharap trauma yang dialami Dinda masih dalam tahap awal dan tidak menjadi berlebihan. Sehingga proses pemulihannya pun bisa berlangsung lebih mudah dan lebih cepat.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..๐๐๐
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..๐๐๐
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author