Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
31 SEMUA PUNYA KISAH CINTA


__ADS_3

"Pagiii..." Sapa Rinaya yang melihat Dinda berada di dapur cafe.


"Baru datang, Rin? Tumben telat.." Tanya Dinda sambil melanjutnya pekerjaannya menyiapkan beberapa menu siap saji.


Rinaya melihat jam di ponselnya, jam sembilan lebih lima belas menit.


Dia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Dinda.


"Wajahmu cerah ceria sekali, seperti orang jatuh cinta.." Dinda berucap asal namun justru membuat Rinaya terkejut dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Elisa sudah datang? Aku ada pesanan baju pelanggan yang minta dipilihkan sekalian asesorisnya yang sesuai.."


"Belum, biasanya bareng kamu atau ngabari kamu kan?" Jawab Dinda.


"Dari kemarin dia diantar jemput sama Farrel. Mungkin hari ini juga. Ya udah, aku tunggu di atas saja.." Balasnya dan langsung menaiki tangga meninggalkan Dinda dengan kesibukan di dapurnya.


Saat menaiki tangga, Rinaya meraba-raba wajahnya.


"Apa iya, wajahku terlihat kalau sedang jatuh cinta..?!?"


Tiba-tiba dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tersenyum malu sendiri.


Tak berselang lama dari Rinaya masuk, Dinda melihat di luar cafe ada Elisa yang baru saja datang diantarkan Farrel. Setelah Farrel pergi, Elisa masuk dengan suara renyahnya.


"Pagi semuanyaaa..!!" Semua karyawan sudah terbiasa dengan suara khas itu, mereka cukup tersenyum untuk membalasnya.


"Pagi. Dicari Rinaya tuh, ada pesanan asesoris katanya.." Jawab Dinda.


"Oke siaappp..! Boss segera dataaang.." Elisa segera berlalu meninggalkan area cafe menuju ke atas.


.


.


.


Di dalam ruangannya, Rinaya mulai menyiapkan pesanan seorang pelanggan yang akan diambil hari ini. Dia mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan kepada pembeli tersebut jika pesanan bisa diambil nanti siang.


Selesai mengirim pesannya, Rinaya mencari kontak Andi di ponselnya. Dia membuka foto profil lelaki itu. Sebuah foto siluet hitam putih, namun dari lekuk-lekuknya Rinaya sudah tahu itu adalah wajah Andi yang tampak dari samping. Dia tersenyum menatap foto itu.


Tanpa menunggu lama, dia pun mengirim pesan singkat untuk Andi.


"Selamat bekerja."


Dia hendak menutup halaman pesan Andi bersamaan dengan masuknya pesan dari Andi.


"Selamat bekerja."


Rinaya kaget karena untuk kedua kalinya mereka mengirim pesan yang sama di waktu yang bersamaan lagi.


Dering ponsel di genggamannya mengagetkan Rinaya. Ada panggilan masuk dari Andi. Senyumnya merekah dan segera menekan tombol hijau di layarnya.


"Halo, mas.."


"Ya.., aku mengirim pesan untukmu, kamu juga mengirim pesan untukku.." Terdengar suara Andi di seberang sana.


"Iya, mas.." Rinaya masih merasa dagdigdug setiap menerima telepon dari Andi.


"Kita memang sehati.." Andi berkata lagi di ujung telepon sana membuat pipi Rinaya merona menahan malu sekaligus senang. Dia diam saja, tidak membalas.


"Ya, mobil kamu masih di bengkel?" Tanya Andi.

__ADS_1


"Masih, mas. Aku lupa belum menghubungi bengkel." Jawab Rinaya.


"Bisakah kamu meminta mobilmu diantar ke rumahmu saja? Aku ingin mengantarmu pulang nanti sore.."


Rinaya tersenyum mendengar permintaan Andi.


"Iya, mas. Setelah ini aku akan menghubungi bengkel."


"Baiklah, selamat bekerja. Tunggu aku nanti sore." Kata Andi.


"Iya, mas. Selamat bekerja juga." Jawab Rinaya.


"Ya.." Andi masih memanggilnya.


"Iya??" Tanya Rinaya.


"Aku mencintaimu.."


Ucapan Andi membuat Rinaya tersipu meski tak bisa dilihat oleh Andi. Dia terdiam menikmati getaran indah di hatinya.


"Kamu tidak ingin mengatakannya untukku, Ya??"


Rinaya lupa jika telepon masih tersambung dan Andi masih menunggunya. Dengan degup jantung yang semakin kencang, Rinaya membuka mulutnya.


"Aku juga mencintaimu.." Malu-malu akhirnya Rinaya mengatakannya juga.


.


.


.


Di ruangannya, Elisa duduk melamun. Dia memikirkan hubungannya dengan Farrel yang masih simpang-siur seperti gosip artis infotainment yang berkembang tanpa ujung-pangkal.


Elisa yang pembawaannya selalu riang, ceria dan penuh tawa, selalu berhasil menutupi kesedihan dan permasalahan hidupnya dari orang lain. Pun dengan masalah cintanya bersama Farrel yang rumit, yang selalu disembunyikannya dari siapa pun.


Dia mengambil ponselnya, lalu menulis pesan untuk Farrel.


"Kamu sudah melengkapi semuanya?" Tulis Elisa dan mengirimkannya.


Sesaat kemudian jawaban dari Farrrel pun masuk.


"Sudah. Kata mereka, tinggal menunggu kepastian dari kita."


"Hari ini kita akan mencobanya lagi. Kamu siap?"


Elisa menarik nafas dalam-dalam dan melepaskanya perlahan-lahan.


"Aku selalu siap demi kita. Kita akan selalu berjuang bersama."


Setelah mengirim pesan yang terakhir, Elisa tersenyum. Wajahnya kembali menampakkan sisi cerianya. Dia menyimpan kembali sisi suram wajahnya, tak ingin ada orang lain yang mengetahuinya.


Elisa kembali menatap sekitarnya, dan melebarkan senyumnya, lalu berkata pada dirinya sendiri.


"Ayo, Elisa. Kamu pasti bisa. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta..!!!"


.


.


.

__ADS_1


Jam makan siang tiba, Adit masih fokus menyelesaikan sedikit pekerjaannya ketika ponselnya berdering menandakan sebuah pesan baru masuk.


Dia sudah bisa menebak siapa pengirimnya. Di awal jam istirahat seperti ini, setiap hari Dinda selalu mengiriminya pesan singkat yang sama.


"Segeralah istirahat. Jaga kesehatanmu. Aku mencintaimu."


Adit segera menyudahi pekerjaannya. Mengambil ponselnya dan membalas pesan dari istrinya.


"Siap, ratuku sayang. Aku mencintaimu selamanya."


Pintu ruangannya diketuk dari luar. Setelah dia menjawabnya, pintu terbuka dan Andi masuk membawa dua kantong plastik berisi makanan dan minuman untuk makan siang mereka berdua.


Dua pria menawan itu segera membuka menu masing-masing dan mulai menyantapnya bersama-sama. Adit dan Andi memang sering melakukan makan siang bersama. Entah itu pergi ke luar kantor atau hanya di dalam kantor seperti ini.


Karena hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka memilih memesan makan siang secara online dan menikmatinya bersama di ruangan Adit.


Dering panggilan di ponsel Adit membuat Adit menghentikan makannya sejenak dan menerima telepon yang masuk.


"Ya, sayang.."


"Sudah, ini aku sedang makan siang di kantor bersama mas Andi."


"Oke, sayang. Segeralah makan jika cafemu sudah tidak terlalu ramai. Jangan kecapekan."


"Ya sudah, aku tutup dulu ya. Tunggu aku nanti sore, aku mencintaimu.."


Adit menutup telepon dan melanjutkan makan siangnya.


Dari tadi, Andi melanjutkan makan siangnya sambil sesekali memperhatikan Adit yang berbincang dengan Dinda di telepon. Dia membayangkan jika dirinya juga akan melakukan hal yang sama dengan Rinaya. Dia tersenyum sendiri membayangkan semua itu.


"Senangnya setiap hari selalu ada yang mengingatkan makan siang dan memperhatikan kita.." Andi berkata pelan sambil tersenyum ke arah Adit yang sudah kembali lahap menghabiskan makanannya.


"Semoga mas Andi segera dipertemukan dengan jodoh mas Andi, supaya bisa menyaingi kemesraan kami ya mas.." Jawab Adit dengan harapan tulusnya untuk Andi.


Andi tersenyum lebar mendengar kata-kata Adit.


"Aku sudah menemukannya. Aku sudah menemukan pemilik hatiku. Aku sudah menemukan cintaku." Jawab Andi di dalam hati, sambil membayangkan wajah cantik kekasihnya.


"Terima kasih, mas Adit." Jawabnya singkat masih terus membayangkan Rinaya.


Setelah membereskan makan siang, mereka bersama-sama pergi ke musholla kantor, sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan yang harus diselesaikan.


.


.


.


Pulang kantor, Andi langsung menjemput Rinaya ke gerai. Dia menunggu di depan ruko samping gerai seperti sebelumnya.


Rinaya yang sudah melihat mobil Andi segera berjalan pelan ke arahnya.


Dari dalam mobil Andi terus memperhatikan kekasihnya itu. Dalam hati dia sangat bersyukur Allah memberinya anugerah cinta terbaik. Seperti mendapatkan bonus berlipat ganda, saat cinta yang sekian lama hilang itu hadir kembali di hidupnya dalam sosok wanita cantik ciptaan Illahi yang mendekati sempurna untuknya.


Andi turun dari mobil untuk menyambut kedatangan kekasihnya. Dia membukakan pintu dan meminta Rinaya masuk diikuti dirinya yang juga segera masuk ke dalam mobil.


"Maaf, aku menjemputmu terlalu sore. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu." Andi meminta maaf sambil terus melajukan mobilnya.


"Tidak apa-apa, mas." Rinaya tersenyum menatap wajah Andi, membuat dada lelaki itu kembali berdebar tak menentu.


"Setelah makan siang kemarin, aku sama sekali tidak menyentuh pekerjaanku. Aku terus-menerus memikirkan kamu saja, Ya.." Andi berterus terang meski harus menahan rasa malunya.

__ADS_1


"Aku juga sama sepertimu, mas. Aku tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku." Entah mengapa Rinaya berkata jujur pada Andi. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, membuat hati Andi membuncah diliputi kebahagiaan.


__ADS_2