
"Jadi sudah yakin nih, calon istri..??" Goda Dinda dengan penekanan pada kata calon istri, membuat wajah Rinaya semakin memerah dipenuhi rasa malu.
Sedangkan Adit dan Andi hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Sudah dong, jangan bully aku terus. Hari ini bukan hariku, tapi harinya Elisa." Rinaya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ayo, Din. Buruan kita masuk menemui Elisa, dia pasti sudah menunggu kita!" Ajak Rinaya.
"Ya sudah, kalian masuk sana menemani Elisa. Aku sama mas Andi akan menunggu di dalam gedung." Kata Adit diikuti anggukan kepala Andi di sampingnya.
"Mas, aku masuk dulu ya." Pamit Rinaya pada Andi.
"Iya." Andi tersenyum membalas kekasihnya yang sudah bersiap meninggalkan teras gedung.
.
.
.
Di dalam ruang rias, Elisa tampak lega melihat kedatangan kedua sahabatnya.
"Akhirnya kalian datang. Akad nikah sudah mau dimulai."
Dinda dan Rinaya memeluk Elisa bergantian.
"Adit kamu tinggal di mana, Din?" Tanya Elisa.
"Dia menunggu di dalam gedung bersama---" Dinda menghentikan ucapannya, melihat Rinaya yang sudah melirik ke arahnya.
'Bersama siapa?" Tanya Elisa lagi.
"Ssttt.., ada kabar terbaru, Sa. Very very hot news..!" Bisik Dinda di telinga Elisa. Rinaya yang sudah tahu kalau sedang dibicarakan, memilih diam membiarkan Dinda bercerita semaunya. Dia hanya tersenyum seolah tak peduli.
"Apaan sih..? Bukannya aku yang lagi jadi hot news?" Canda Elisa sambil menahan tawanya.
"Ini lebih panas beritanya.., langsung dari sumbernya, tanpa perantara." Jawab Dinda.
"Buruan cerita ah..!" Elisa sudah tidak sabar, apalagi akad nikahnya akan segera dimulai.
"Tuh lihat..!" Dinda menunjuk ke arah Rinaya.
"Miss High Quality Jomblo kita, ternyata dia sudah sold out lho..!" Kata Dinda.
Elisa menoleh ke arah Rinaya dengsn ekspresi tak percaya.
"Beneran itu, Rin?" Tanya Elisa. Rinaya hanya tersenyum penuh arti.
"Siapa pangeran yang beruntung itu?"
"Pangeran berkuda.." Jawab Rinaya asal.
Dinda tertawa mendengar ucapan iseng Rinaya.
"Setelah akad nikah nanti, kamu lihat sendiri saja, siapa pangeran yang akan berjalan di sisinya." Kata Dinda.
"Calon pengantin, konsentrasi dulu sama pernikahanmu..!" Pinta Rinaya.
Tak lama kemudian, akad nikah dimulai. Farrel bersiap di tempat akad berhadapan dengan papa Elisa, didampingi penghulu dan para saksi.
Dalam satu tarikan nafas, Farrel akhirnya selesai mengucapkan ijab qobul disaksikan keluarga dan beberapa teman dekat mereka saja. Dari dalam ruang rias, Dinda dan Rinaya mendampingi Elisa keluar menuju pelaminan untuk bertemu suaminya.
__ADS_1
Prosesi demi prosesi akad nikah akhirnya selesai. Para keluarga dan sahabat bergantian berfoto bersama kedua pengantin. Tak terkecuali Dinda dan Rinaya bersama pasangannya masing-masing.
Tiba giliran Dinda dan Rinaya untuk naik ke pelaminan hendak berfoto dengan sang pengantin baru.
Dinda berjalan berdampingan dengan Adit, sementara Rinaya dan Andi yang terus bergandengan tangan mengikuti di belakang mereka.
Sampai di atas pelaminan, mereka bergantian berfoto dan memberi selamat kepada Elisa dan Farrel.
Saat melihat Rinaya bersama Andi, Elisa langsung menggodanya.
"Oh ini ya, pangeran berkuda yang sudah melelehkan hatimu, Rin." Elisa dan Dinda tertawa kecil melihat Rinaya yang mulai tersipu. Adit dan Andi juga Farrel yang melihat ketiga sahabat itu hanya tersenyum.
"Nggak sia-sia kamu menanti sekian lama, Rin. Akhirnya kamu dapat bibit unggul kualitas super." Celetuk Elisa usai memperhatikan Andi yang berdiri di samping Rinaya.
"Beneran deh kalian berdua ini limited edition couple banget..!!" Puji Elisa tulus meski ucapannya ceplas-ceplos.
Rinaya semakin merona menatap Andi yang hanya tersenyum tenang di sampingnya. Menyadari sang kekasih tengah menatapnya, Andi pun menoleh ke arah Rinaya dan melebarkan senyum membalas tatapan matanya.
"Jangan muji laki orang terus di depan suami kamu, Sa. Kasihan tuh Farrel.." Dinda mengingatkan Elisa yang sibuk mengomentari Andi dan Rinaya seakan lupa dia dan Farrel sedang menjadi pusat perhatian sebagai pengantin baru.
"Eh iya, lupa kalau sekarang udah punya suami. Maaf ya honey, tapi suerr kamu juga bibit unggul kok, sebelas dua belas lah sama mas Andi.." Elisa merajuk memegang lengan Farrel membuat mereka semua tergelak bersama.
Setelah akad nikah, acara dilanjutkan dengan resepsi di tempat yang sama. Tamu undangan sudah mulai berdatangan. Mereka memberi ucapan selamat kepada kedua pengantin lalu menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Dinda dan Rinaya pun tengah menikmati makanan mereka, duduk berpasangan bersama Adit dan Andi.
Meskipun duduk berdekatan tapi masing-masing pasangan itu tengah berbincang sendiri-sendiri.
"Sayang, aku masih tidak menyangka lho, Rinaya dan mas Andi bisa jadi sepasang kekasih. Mereka sangat serasi sekali ya.."
Kata Dinda sambil memperhatikan Rinaya dan Andi yang terlihat mesra menikmati hidangan bersama.
Dinda menganggukkan kepala sambil menoleh sekilas ke arah Rinaya dan Andi yang terlihat sedang saling memberi perhatian.
"Apakah dulu kita juga terlihat seperti mereka, sayang?" Tanya Dinda.
"Maksudmu?" Adit belum mengerti maksud pertanyaan istrinya.
"Mereka terlihat sangat dewasa saat saling memandang dan memperhatikan. Sikap mereka juga tidak berlebihan sebagai pasangan. Namun aku bisa melihat cinta yang sangat besar di antara mereka."
Kata Dinda yang sesekali masih mencuri pandang ke arah Rinaya dan Andi.
"Dulu kita mulai bersama saat masih awal kuliah. Tentu sikap kita waktu itu juga berbeda dari mereka, sayang." Jawab Adit.
"Dulu kita menjalani hubungan mulai dari kita masih bersikap layaknya anak muda, hingga akhirnya kita beranjak menjadi dewasa bersama-sama."
"Sementara mereka bertemu di saat mereka sudah sama-sama dewasa, bahkan mas Andi yang sudah lebih matang pun bisa mengimbangi Rinaya yang usianya lebih muda darinya. Hubungan mereka adalah hubungan dua orang dewasa, sayang. Pastinya sikap mereka juga lebih dewasa dalam menjalani hubungan mereka."
"Menurutmu, apakah mereka akan segera menikah, sayang?" Tanya Dinda.
"Menikah bukan sekedar karena cinta. Banyak yang harus dipikirkan selain perasaan satu sama lain. Ada kedua keluarga, ada orang lain yang dilibatkan juga."
"Tapi aku berharapnya mereka segera menikah, sayang. Jadi lengkap semuanya, tiga sahabat sudah menikah semua, terus punya anak, terus anak-anak kami nanti berjodoh dan sama-sama menjadi besan .." Ujar Dinda mulai ke mana-mana arah bicaranya.
Adit hanya tertawa mendengarkan kata-kata istrinya itu.
Tak jauh di sebelah mereka, Rinaya dan Andi pun tengah larut dalam pembicaraan hangat mereka berdua.
"Ya..." Panggil Andi sambil tetap menatap kekasihnya penuh cinta.
"Iya, mas?" Rinaya yang masih menyelesaikan makannya menatap Andi tak kalah mesranya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Ya.." Andi seakan tak pernah bosan mengucapkan kalimat itu untuk Rinaya.
Rinaya sedikit tersedak mendengar ucapan Andi bersamaan di saat dia sedang menikmati sup hangatnya.
Dengan sigap Andi segera memberikan gelas air putih di sampingnya kepada kekasihnya.
"Maaf..." Dia tampak menyesal telah membuat Rinaya tersedak makanan karena ucapannya.
"Tidak apa-apa, mas."
Rinaya tetap menampakkan senyumnya. Dia segera meminum air putih pemberian Andi lalu melanjutkan menghabiskan supnya terlebih dahulu.
Andi terus memperhatikannya dengan tersenyum sambil sesekali menepikan helai-helai rambut Rinaya yang jatuh di pipi ranum wanita cantik itu.
Tanpa mereka sadari, banyak tamu undangan yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Bukan hanya karena kemesraan yang mereka tunjukkan, namun karena kecantikan Rinaya dan ketampanan Andi lah yang menarik perhatian mereka. Sepasang kekasih itu tampak sangat serasi, baik dari penampilan maupun sikap mesra mereka berdua.
"Mas, sepertinya banyak yang sedang memperhatikan kita.." Kata Rinaya yang mulai merasa ada banyak mata yang lalu-lalang memperhatikan mereka silih berganti.
"Tidak apa-apa, Ya. Biarkan saja. Toh kita di sini tidak melakukan hal yang macam-macam." Kata Andi dengan sikap tenang dan penuh senyum.
"Mungkin mereka senang atau malah iri melihat kita berdua, Ya." Lanjut Andi. Rinaya kembali tersipu.
Entah mengapa meski dua bulan sudah berlalu, setiap kali bersama Andi dirinya masih saja merasakan getaran dan debaran indah itu. Hatinya selalu berdesir hangat setiap kali Andi menatapnya dengan mata teduhnya itu.
Perasaannya pada Andi pun, semakin hari semakin besar. Rasa cinta, perhatian, semua hal yang dilakukan Andi membuatnya semakin jatuh cinta dan mencintai lelaki terkasihnya itu.
"Mas.." Tiba-tiba Rinaya memanggil Andi yang sedang mengedarkan pandangan ke sekitar mereka.
"Iya, ada apa?" Suara lembut Andi semakin menghanyutkan perasaan Rinaya. Tatapannya sudah kembali kepada sang kekasih di sisinya.
"Aku mencintaimu, mas.." Rinaya mengucapkannya lirih namun masih cukup terdengar di telinga Andi. Dia langsung menundukkan kepala, menyembunyikan rasa malunya sendiri.
Andi tersenyum lebar. Rinaya memang tidak pernah mengucapkan kalimat itu, kecuali bila dia yang memintanya.
Namun baru saja, dia mendengar sang kekasih mengatakannya sendiri tanpa dia minta. Perasaannya meluap dipenuhi kebahagiaan.
"Ya, apakah aku tidak salah dengar?" Andi memastikan lagi. Dan Rinaya menggelengkan kepalanya, masih dengan menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
"Lihat aku, Ya." Pinta Andi dengan halus.
Perlahan Rinaya mengangkat kepalanya, menatap Andi masih dengan rasa malunya.
"Aku juga mencintaimu, Ya." Andi membalas dengan suara tenang sambil menggenggam tangan Rinaya di pangkuannya.
Keduanya saling melempar senyuman dengan tatapan cinta satu sama lain.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1