
"Dokter, bolehkah saya meminta ijin untuk membawa bayi saya menemui ibunya? Sejak lahir, dia belum pernah bertemu dan dekat dengan ibunya ...."
Dengan mata sembab dan wajah yang basah penuh airmata, Adit berusaha mengangkat kembali tubuhnya dengan sisa kekuatan yang masih dia miliki.
"Setidaknya biarkan mereka berdua bersama untuk yang pertama kali dan yang terakhir kalinya."
Semua yang mendengar permintaan Adit merasa terharu di tengah kedukaan yang menyelimuti mereka.
Papa Satrio dan Ayah Arya masih terus menenangkan istri mereka yang terus menerus menangis. Apalagi Bunda Nina, seorang ibu yang harus kehilangan putri satu-satunya, perasaannya tak lagi bisa dibayangkan dan digambarkan dengan apapun juga.
"Saya ijinkan Anda membawa bayi Anda untuk bertemu dengan ibunya. Akan saya sampaikan pada petugas di ruang NICU untuk menyiapkan bayi Anda. Nanti ada perawat yang akan membawanya kemari. Saya permisi dulu."
Setelah hampir setengah jam berada di luar bersama Adit dan keluarganya, dokter tersebut pamit untuk masuk kembali ke ruang ICU sekaligus meminta seorang perawat untuk menjemput bayi Adit.
Tidak ada yang berani mengganggu Adit yang masih diam membisu setelah dokter kembali bertugas. Semua memahami keadaannya, meskipun keluarga yang lainnya juga diliputi kesedihan yang sama.
Bahkan Papa Satrio yang biasanya paling mampu menguasai keadaan dan menenangkan sang putra pun, kali ini memilih diam dan mendampingi Mama Indri yang masih terus terisak, seperti halnya Bunda Nina yang lemah tak berdaya di pelukan Ayah Arya.
Adit masih duduk menyendiri tepat di depan pintu ruang ICU. Dia tengah menunggu perawat yang akan mengantarkan Cinta kepadanya.
Tidak ada isak tangis yang terdengar darinya. Hanya airmata yang terus mengalir tanpa henti, melewati wajahnya yang bertatapan kosong dan tanpa ekspresi, lalu jatuh menetes membasahi pakaian yang melekat di tubuhnya.
Pikirannya berkelana jauh, ke masa di mana pertama kali dia bertemu dengan Dinda sang kekasih hati. Adinda Paramitha, suara yang terdengar merdu di telinganya saat gadis cantik itu menyebutkan nama lengkapnya di hadapan semua orang yang berada di dalam aula kampus, lima tahun yang lalu.
Kala itu, detik itu juga ada getaran indah yang terasa memenuhi hatinya saat mencuri pandang ke arah wajah gadis cantik itu. Perasaan aneh yang baru pertama kali dirasakannya. Asing namun terasa begitu indah di hatinya.
Ingatannya kembali melayang ke masa berikutnya, beberapa tahun setelahnya. Masih jelas tergambar nyata dalam benaknya, saat dirinya meminta Dinda untuk menjadi kekasihnya, kekasih yang sesungguhnya dalam ikatan yang ditawarkannya untuk melangkah menapaki hubungan yang lebih baik ke depannya.
Rasa hatinya melambung tinggi saat Dinda menerimanya dan mulai hari itu mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih. Hubungan mereka menjadi semakin dekat dan terarah. Harapan untuk menyatukan cinta mereka ke dalam mahligai indah bernama pernikahan semakin mendekati saatnya.
Memori demi memori muncul bergantian seolah nyata. Hingga tiba pada hari di mana dirinya mengucapkan ijab qobul dengan menggenggam erat tangan Ayah Arya, mengikrarkan janji suci untuk membina kehidupan berumah tangga bersama Dinda, satu-satunya wanita yang dia kasihi dan dia cintai selamanya.
Lamunannya terhenti tiba-tiba saat tangan sang papa menepuk pundaknya dan memberitahu kedatangan perawat yang membawa putri kecilnya. Seketika Adit berdiri dan menunggu perawat itu sampai di hadapannya.
"Dokter meminta saya untuk menyerahkan putri anda, Pak. Ini, silahkan ...."
Dengan pelan dan hati-hati Adit menerima Cinta putri kecilnya dari tangan perawat itu. Sepenuh kasih dia memangku sang putri ke dalam rengkuhan kedua tangannya.
__ADS_1
Bayi mungil itu menggeliat, kepalanya yang kecil bergerak pelan dan sesaat kemudian kembali tenang setelah merasakan kehangatan pelukan sang papa.
"Ini papa, Nak. Kita akan ke dalam sana untuk melihat mama. Kau akan bertemu dengan mamamu, Sayang ...."
Adit mencium lembut kening putri kecilnya yang sebagian tertutup oleh topi hangat yang dikenakan padanya untuk menghalau udara dingin. Sedangkan tubuh mungil itu terbungkus hangat oleh belitan kain bedong berwarna merah muda, senada dengan penutup kepala yang dipakainya.
"Mari, Pak. Saya antarkan ke dalam." Perawat yang tadi membawa Cinta, mempersilahkan Adit yang menggendong putri kecilnya masuk melewati pintu yang telah dibukakan oleh sang perawat.
Setelah pintu tertutup rapat, Adit diminta untuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian khusus terlebih dahulu, sebelum kembali berjalan mengikuti langkah-langkah kecil sang perawat menuju ke tempat perawatan Dinda.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan ruang perawatan Dinda. Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam peralatan medis, yang terpasang pada tubuh yang tergeletak tanpa daya di atas pembaringan.
"Dinda sayang ...." Adit bergumam lirih memanggil istrinya, berharap suaranya akan membangunkan Dinda dan membuatnya membuka mata.
Namun harapannya sia-sia. Tubuh itu terbaring diam tak bergerak sedikit pun. Kedua matanya terpejam rapat, benar-benar tak ingin terbuka lagi untuk selamanya.
Perawat sudah pergi meninggalkan mereka, memberi waktu untuk keluarga kecil itu berkumpul bersama untuk sementara waktu, entah untuk berapa lama.
Mungkin sampai pada waktunya di mana Adit memberikan ijinnya untuk melepaskan seluruh peralatan medis yang masih terpasang di tubuh istrinya, yang mana itu berarti dirinya sudah siap dan ikhlas untuk melepaskan kepergian Dinda untuk selama-lamanya.
Dengan Cinta yang berada dalam rengkuhan tangan kirinya, Adit membungkukkan badannya ke depan, mendekat ke wajah pucat pasi istrinya yang masih tetap menampakkan kecantikan alaminya.
Matanya terpejam meresapi perasaan yang bercampur-aduk di dalam hatinya. Rasa yang berkecamuk di dalam sanubarinya, rasa yang tak terutarakan karena sedemikian dalamnya melekat di relung kalbu.
Setelah puas mencium kening istrinya, Adit menarik tubuhnya dan beralih mendekatkan bayi mungil mereka hingga pipi Cinta menempel di pipi Dinda.
Tanpa diduga, kepala kecil itu bergerak pelan sehingga wajahnya mulai menoleh ke arah samping. Seolah merasakan keberadaan sang ibu yang dirindukannya, bibir mungil itu menyentuh pipi Dinda dengan lembutnya. Adit tertegun menyaksikan pemandangan luar biasa di hadapan matanya.
Kumpulan kristal bening menggenang di sudut matanya. Haru yang begitu sendu, memenuhi ruang kalbunya. Tak menyangka dirinya akan disuguhi adegan luar biasa seperti ini. Cinta mencium Dinda, dalam suasana yang sulit dilukiskan adanya.
Setelah sanggup menguasai perasaannya lagi, Adit meletakkan bayi mungil mereka di samping Dinda, di antara tangan dan tubuhnya, seakan istrinya sedang merengkuh melindungi sang buah hati.
"Dinda sayang, aku di sini bersama Cinta putri kecil kita. Bisakah kamu merasakan keberadaan kami di sampingmu? Kami di sini karena kami sangat menyayangimu dan mencintaimu ...."
Menghela nafas panjang seraya memperhatikan dua orang yang teramat sangat dikasihinya, Adit berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah di hadapan keduanya.
"Sayang, dulu kamu sering berkata padaku, tak sabar ingin bertemu dengan buah hati kita. Kamu ingin segera memeluknya, menciumnya dan menimangnya. Sekarang lihatlah, dia sudah ada di sini, di sampingmu. Bahkan tadi dia mencium pipimu, ingin membangunkanmu ...."
__ADS_1
"Tidakkah kamu ingin melihatnya? Dia sangat cantik, sungguh jelita mewarisi kecantikanmu. Kulitnya putih bersih, lembut seperti kulit tubuhmu. Rambutnya hitam lebat, indah seperti rambut panjangmu ...."
Bayi mungil itu sesekali menggeliat menyentuh tubuh Dinda. Gerakan kecilnya bagaikan isyarat bahwa dia ingin disentuh, dibelai dan dimanja oleh sang ibu.
"Cinta membutuhkanmu. Kehidupannya masih bergantung padamu. ASI milikmu adalah yang terbaik untuknya. Tidakkah kamu ingin memberikannya pada putri kecil kita?"
Adit masih berharap, ucapannya akan membuat Dinda kembali bersamanya. Entahlah, jauh di dasar hati, dirinya masih ragu untuk benar-benar melepaskan Dinda meninggalkannya juga Cinta.
Namun mengingat pernyataan dokter bahwa saat ini Dinda masih bertahan hanya karena alat resusitasi yang belum dilepaskan dari tubuhnya, Adit akhirnya berpasrah diri. Dia melapangnya hatinya untuk menerima kenyataan yang sudah terjadi. Dinda telah pergi, istrinya telah tiada.
Akhirnya, dia menumpahkan seluruh perasaannya di sana, di samping tubuh istrinya dan putri kecil mereka. Tangisannya meluap tak terbendung lagi.
Adit terisak, menangis mengeluarkan airmata duka laranya atas kepergian istri tercintanya, ibu dari putri kecil mereka yang kini akan menjadi tanggung jawabnya seorang diri.
"Dinda, jika memang ini yang terbaik untukmu, aku ikhlas, Sayang. Jika memang ini adalah suratan takdir untukmu, aku relakan kamu kembali pada-Nya."
Adit membersihkan wajahnya dari sisa air mata. Menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan tenang, dia lalu mengambil Cinta dari atas pembaringan Dinda. Diciumnya kening sang buah hati seraya berbisik di telinganya.
"Kita ikhlaskan mama ya, Nak ...."
Dan untuk terakhir kalinya, dia membawa Cinta untuk mencium pipi mamanya, diikuti dirinya yang mencium kening istrinya dengan lembut dan penuh cinta.
"Dinda, aku ikhlaskan kepergianmu, Sayang ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
💜Author💜
__ADS_1
.