Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
83 PERASAAN TIDAK ENAK


__ADS_3

Melihat pisau lipat di dalam paket itu, Adit langsung teringat kejadian saat Sinta menyerang Dinda yang berakhir pada luka di lengan kanannya.


Spontan dia mengalihkan pandangannya pada letak bekas luka di lengannya yang tertutup kain bajunya. Ada rasa takut yang begitu besar di hatinya saat mengingatnya kembali. Bukan takut karena akan terluka secara fisik lagi. Tetapi takut akan keselamatan keluarganya terutama istri dan calon anak yang mereka nantikan.


Rasa takut karena sekali lagi harus menghadapi ancaman bahaya yang mengintai kehidupan rumah tangganya. Rasa takut akan kehilangan wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang saat ini tengah mengandung buah cinta mereka yang akan segera lahir tak lama lagi.


"Sudah aku foto semuanya, mas Adit. Nanti kita jadikan satu dengan surat yang tadi mas Adit terima di kantor."


Suara Andi membuat Adit kembali berpikir jernih. Dia tidak boleh larut dalam ketakutannya. Dia harus bisa melawan. Melawan ketakutannya dan melawan niat tidak baik Sinta terhadap istri dan calon anak mereka.


"Kita simpan dulu di sini, mas. Sekarang kita masuk ke gerai saja. Mungkin dari dalam sana, Dinda sudah melihat keberadaan mobil ini."


Andi mengangguk dan mengikuti si pemilik mobil keluar dan berjalan bersama melewati pintu cafe. Sesampainya di dalam, suara nyaring Dinda terdengar memanggil nama mereka.


"Mas Adit, mas Andi...!"


Dinda duduk menunggu di meja depan ruangannya. Ada Rinaya juga di sana yang sudah mengembangkan senyumnya begitu melihat sang suami tercinta.


"Kok kalian sudah di sini?" Adit menghampiri istrinya lalu mencium kening Dinda dan berlutut mencium perut istrinya.


Rinaya berpindah duduk di samping suaminya, berhadapan dengan Adit dan Dinda.


"Barusan kami memesan makan siang online. Makanya kami sekalian menunggu di sini dan melihat mobilmu sudah ada di depan, Dit." Jawab Rinaya sembari meraih tangan Andi dan menggenggamnya di bawah meja. Diam-diam dia menahan rindu pada suaminya.


Andi menoleh menatap teduh pada mata istrinya. Dia membalas genggaman tangan istrinya dan melemparkan sebuah senyuman. Dia juga ingin membawa Rinaya ke ruangannya di lantai tiga, tetapi tidak untuk saat ini, karena dia masih harus menemani Adit menghadapi segala kemungkinan dalam waktu-waktu penuh kewaspadaan seperti sekarang.


"Nah, itu pesanannya sudah datang." Dinda menoleh ke arah luar diikuti yang lain. Seorang pengemudi ojek online terlihat masuk ke dalam cafe membawa dua kantong plastik besar berisi makanan dan minuman pesanan Dinda.


Adit berdiri untuk menerima semua pesanan istrinya disertai ucapan terima kasih dan sedikit uang tips. Pengemudi tersebut segera pamit dan berbalik arah keluar dari ruangan.


Mereka berempat membuka makanan dan minuman yang sudah dikeluarkan dari kantong plastik, lalu mulai menikmati makan siang bersama-sama.


Hari kedua masih berjalan seperti biasanya. Tidak ada hal buruk yang terjadi, kecuali surat dan paket yang ditujukan untuk Adit dan Dinda tadi.


Semua yang mengawasi dan berjaga di beberapa tempat pun tidak menemukan tanda-tanda kedatangan Sinta di sekitar mereka.


.


.

__ADS_1


.


Pagi berikutnya, Adit duduk di tepi tempat tidur, masih menunggu istrinya yang tengah bersiap. Mengenakan atasan casual berwarna peach dengan model khusus ibu hamil dipadu dengan celana hamil senada, Dinda terlihat semakin segar dan ceria.


Dia duduk di depan meja rias, memoleskan riasan tipis di paras rupawannya dengan pipi yang semakin berisi karena kehamilan besarnya. Namun itu tak mengurangi kecantikannya bahkan auranya semakin memancar keluar penuh pesona.


Setelah merapikan rambutnya dan memakai sepatu, dia berbalik badan menatap sang suami.


"Aku sudah siap, mas."


Adit mengangkat kepala, pandangannya berpindah dari layar ponsel ke arah istri tercintanya. Seulas senyum langsung terkembang di bibirnya begitu melihat penampilan sempurna sang istri hari ini.


"Cekrek!" Dia mengambil satu foto istrinya yang masih duduk. Dinda terkejut dan segera berdiri hendak menghampiri suaminya.


"Cekrek!" Adit kembali mengambil foto kedua dengan posisi Dinda yang sudah berdiri.


"Apa-apaan sih, mas. Istri membulat sempurna seperti ini kok malah difoto..." Dinda berlagak cemberut. Dia sudah berdiri di depan suaminya yang masih duduk.


"Lihat ini. Kamu semakin cantik saat hamil, sayang. Dan hari ini kamu saangattt cantikk..!" Puji sang suami.


Adit memperlihatkan foto-foto Dinda yang memenuhi galeri ponselnya. Ternyata tanpa sepengetahuan Dinda, dia sering mengambil foto istrinya di setiap kesempatan.


Dinda tak percaya melihat banyak foto dirinya yang diambil oleh Adit secara diam-diam. Tetapi dalam hati dia merasa senang sekali karena artinya Adit selalu memperhatikan dirinya.


"Puaskan saja mengambil fotoku terus, mas. Karena sebentar lagi pasti kamu akan lebih tertarik untuk mengambil foto anak kita daripada aku lagi."


Mereka tersenyum bersama dan saling menatap penuh cinta. Adit berdiri dan mencium lembut kening istrinya dengan begitu dalam dan lama. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan aneh dan tidak enak yang singgah di hatinya. Namun buru-buru dia menepisnya jauh-jauh.


"Ayo, kita berangkat sekarang."


Adit membawakan tas jinjing milik Dinda dan juga tas laptop miliknya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggandeng tangan istrinya. Berdua mereka berjalan keluar kamar dengan wajah yang dihiasi dengan senyuman bahagia.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh saat Dinda berada di dapur cafe. Bersamaan dengan itu, ada kiriman minuman untuknya. Seorang pengemudi ojek online menyerahkan pesanan yang dikirimkan atas nama suaminya.

__ADS_1


Dinda menerimanya dan mengeluarkan isinya. Dia tersenyum melihat orange juice kesukaannya. Setiap hari Adit memang rajin mengiriminya minuman segar berupa jus buah yang berganti-ganti macamnya.


Semenjak kehamilannya semakin besar, Dinda memang selalu merasa haus dan harus sering minum agar tubuhnya tidak lemas dan kekurangan cairan. Karenanya Adit tidak pernah lupa untuk memesankannya jus buah segar setiap hari, bahkan kadang sampai beberapa kali dalam sehari.


Karena masih membantu karyawannya memasak, Dinda membuka dan meminumnya saat itu juga, lalu meletakkan gelas plastik yang masih separuh isinya itu ke dalam kulkas yang ada di dapur cafe. Setelah itu, dia kembali sibuk menyiapkan beberapa menu untuk sajian makan siang di cafenya.


Tak berselang lama kemudian, seorang pengemudi ojek online lain datang dan membawa pesanan untuk Dinda. Pesanan tersebut juga berisi jus buah segar, hanya yang terakhir adalah jus buah semangka. Dinda menanyakan siapa pengirim pesanannya, dan memang benar minuman itu juga dari Adit suaminya.


Belum hilang kebingungannya karena tak biasanya sang suami mengirim minuman dua kali dalam waktu yang hampir bersamaan, tiba-tiba tubuh Dinda bergetar. Dia memegangi dadanya dan langsung jatuh tersungkur tak sadarkan diri di lantai dapur, membuat panik seluruh karyawan yang berada di sana.


"Mbak, mbak Dinda..!" Dua orang karyawan perempuan memangku tubuh Dinda dan mencoba membangunkannya, sementara seorang karyawan laki-laki segera menghubungi Adit.


"Mas Adit, mbak Dinda mas........"


.


.


.


🙏Ucapan Terima Kasih🙏


Terima kasih banyak atas dukungan dan doa dari para reader semua, akhirnya kedua novel kami, Terima Kasih Cinta Sejati dan Menanti Cinta Untukku telah berhasil menjadi novel kontrak karya di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.


Semoga ke depannya, kami bisa menyajikan cerita yang lebih baik lagi dalam segala hal, demi kepuasan para reader tercinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2