
Dinda sudah bersiap untuk berdiri, ketika kedua tangan Adit sudah menahannya, memeluk dari belakang dengan posisi duduk, kedua kakinya terbuka di sisi kiri dan kanan tubuh sang istri.
"Kamu mau ke mana, sayang..?" Lirih suaranya membuai hati Dinda yang terus berdebar-debar.
"Ehmm.., ituu.., aku mau minum dulu.." Dinda masih berusaha melepaskan pelukan suaminya. Tapi sia-sia saja.
"Jangan menghindariku.." Pinta Adit.
"Aku tidak menghindarimu.." Jawab Dinda cepat.
"Kalau begitu jangan pergi..." Adit kembali merajuk.
"Aku tidak akan ke mana-mana, aku hanya---" Adit mempererat pelukannya, wajahnya bersandar di punggung istrinya sambil sesekali diciuminya.
"Apakah kamu akan menolakku.." Tanya Adit dengan nada sedih.
"Aku tidak akan berani menolakmu.." Dinda memegang kedua tangan suaminya yang terus memeluknya.
"Kenapa tadi menantangku..?" Cecar Adit lagi.
"Aku hanya ingin tau, seberapa besar kau menginginkanku.." Jawaban Dinda membuat Adit semakin merengkuhnya, tak ingin lagi ada jarak antara tubuhnya dan tubuh istrinya, bahkan angin sekali pun.
"Aku sungguh menginginkanmu saat ini, sayang.."
"Bolehkah..??" Suara parau Adit semakin menunjukkan hasrat pada istrinya..
"Kenapa tidak mengatakannya langsung padaku? Kenapa hanya mengirimiku pesan..?" Tanya Dinda.
"Aku takut kamu menolaknya.. Mungkin kamu masih lelah atau tak ingin.." Jawab Adit jujur.
"Kalau begitu, aku pun akan menjawabnya melalui pesan.." Dinda meraih ponselnya dan segera menuliskan satu pesan untuk sang pengirim pesan yang sedari tadi mengejarnya.
__ADS_1
"Kamu menginginkannya..? Akan kuberikan dengan penuh cinta, suamiku.."
Layar ponsel Adit seketika menyala, sebuah pesan baru masuk dari sang istri, dengan isi yang sama seperti yang ditulis Dinda baru saja.
Dan mereka berdua pun tersenyum, melihat deretan pesan yang sama di kedua ponsel masing-masing.
"Terima kasih, sayangku.. Maafkan aku selalu merepotkanmu.." Adit mencium pipi istrinya dari belakang.
"Aku ada di sampingmu untuk membahagiakanmu. Aku mencintaimu.." Balas Dinda dengan menarik satu tangan Adit yang masih memeluknya, lalu menciumnya.
Dan mereka pun menutup sore hari dengan kembali menyatukan raga yang penuh gejolak. Menyambut datangnya senja dengan deru nafas yang seirama menuju puncak kenikmatan yang mereka gapai bersama-sama.
.
.
.
Dari balkon kamar mereka di lantai dua, mereka langsung dimanja dengan panorama pantai yang indah. Deburan ombak-ombak kecil yang berkejaran disertai sepoi-sepoi angin pantai yang menyejukkan, membuat Adit dan Dinda betah berlama-lama menghabiskan waktu di balkon.
Sore harinya , mereka berdua diantar, oleh sopir menuju Tanah Lot untuk menyaksikan matahari terbenam dengan latar belakang dua pura yang terletak di atas bongkahan batu besar di tengah laut dan di atas tebing. Cukup lama mereka menghabis waktu dengan berbasah ria bermain air di sisi pantai yang berdekatan dengan pura tengah laut itu.
Hingga menjelang saatnya mentari turun ke peraduan, Adit dan Dinda naik menuju tebing di sisi kanan, menyaksikan deburan ombak yang datang silih berganti mencoba untuk memecahkan karang-karang di bawah tebing yang mereka pijak.
Dari tempat mereka berdiri dan berpelukan, terlihat dengan jelas lukisan illahi yang sangat sempurna. Langit senja yang tampak jingga kemerahan dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih yang telah tergradasi warna langit senja yang menggelap, mengiringi sang mentari tenggelam perlahan di ujung barat sana, berganti tugas dengan sinar rembulan yang akan menghiasi langit malam yang berwarna kelam ditemani jutaan bintang yang berkedip silih berganti memancarkan sinar kecilnya.
Puas menikmati suasana malam di tepian pantai, mereka pun kembali ke hotel setelah sebelumnya berhenti di sebuah rumah makan untuk makan malam terlebih dahulu.
.
.
__ADS_1
.
Jam setengah lima pagi, Dinda membangunkan Adit karena tak ingin melewatkan momen sang mentari terbit pagi ini, karena memang balkon kamar mereka menghadap ke arah timur.
"Sayang, ayo bangun sekarang, keburu mataharinya nongol loh.." Ciuman di pipi Adit sepertinya sudah cukup membukakan matanya lebar-lebar.
Tanpa banyak kata, Adit segera bangun dan menuju kamar mandi, bergantian dengan istrinya. Kemudian mereka segera berjamaah menunaikan kewajiban mereka.
Setelah selesai, Dinda menarik tangan Adit dan berjalan menuju balkon kamar mereka.
Hawa dingin langsung menyambut mereka ketika pintu penghubung ke balkon terbuka.
Adit yang masih mengantuk memilih menunggu sambil meringkuk di kursi dekat balkon. Sementara Dinda tetap antusias berdiri menanti munculnya sang fajar dari ufuk timur, yang pastinya akan terlihat sangat jelas dari balkon.
Tak berapa lama kemudian, langit mulai menampakkan semburat warnanya. Masih dominan warna gelap ungu kebiruan, yang lambat laun mulai memunculkan cahaya jingga kemerahan yang sedikit demi sedikit memancarkan warna keemasan yang mulai menerangi seluruh semesta.
Dinda yang tengah khidmat memandang panorama langit di hadapannya, dikejutkan dengan ciuman di pipi kanannya diikuti pelukan hangat suaminya yang sudah berdiri di belakangnya.
"Aku cemburu..." Adit berucap datar, dengan dagunya yang ditopangkan di bahu kanan istrinya.
Dinda menoleh sedikit ke arah wajah Adit di sebelahnya sehingga kedua pipi mereka bertemu, saling menempel. "Cemburu...?!" Sang istri masih tak paham maksud ucapan sang suami.
"Dari pagi buta, kamu cuma nungguin dia datang.., aku yang kedinginan di sini malah kamu cuekin.." Satu tangan Adit menunjuk ke arah matahari yang sudah terbit sempurna di hadapan mereka, lalu kembali melingkarkannya di pinggang sang istri.
Langsung saja Dinda tertawa mendengar jawaban suaminya. Tubuhnya berputar ke arah Adit, berdiri berhadapan begitu dekat.
Kedua tangannya segera melingkar ke leher Adit yang dibalas Adit dengan mempererat pelukannya di pinggang istrinya.
Tanpa malu lagi, Dinda langsung mencium bibir Adit dengan mesra, membuat Adit terkejut bukan main. Tapi begitu dia menyadari ciuman istrinya masih berlanjut, Adit segera menyambutnya, membalasnya dengan ciuman yang lebih dalam dan semakin lama.
Di bawah sinar mentari pagi, mereka terus berciuman dengan penuh kehangatan, tanpa ada yang ingin mengakhirinya lebih dulu.
__ADS_1