Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
22 ADIT VS BIMO


__ADS_3

Weekend tiba. Dan itu artinya dua hari lagi Adit sudah mulai bekerja kembali. Sementara Dinda masih dalam proses persiapan untuk membuka Gerai Bertiga bersama Elisa dan Rinaya.


Liburan yang akan usai, membuat Adit dan Dinda semakin bermalas-malasan di rumah. Hanya ingin melewati waktu berdua, tanpa ada yang mengganggu.


Setelah sarapan, mereka berdua bersantai di sofa ruang tengah, tempat favorit kedua setelah kamar mereka tentunya.


"Sayang.., kadang aku masih belum percaya, kita sudah menikah dan tinggal bersama seperti ini.." Adit berbicara sambil terus memeluk manja Dinda di sampingnya. Sesekali diciuminya pipi sang istri dengan gemas. Sekarang dia sudah mulai terbiasa menunjukkan sikap mesra pada istrinya, meski masih sering juga disertai permintaan ijin terlebih dahulu.


"Aku juga masih tidak percaya, kamu yang dulu terlihat anteng dan sok cool.., ternyata kalau sudah berduaan keluar juga nakalnya.." goda Dinda dengan tawa lepasnya.


Adit yang mendengarnya langsung menghentikan tawa istrinya dengan ciuman bibirnya, membuat Dinda kaget tapi menikmatinya.


"Seperti inikah maksudmu aku nakal..?" Ucap Adit di sela-sela ciumannya. Sementara kedua tangannya mencoba menjelajahi tubuh istrinya.


Dinda tak bisa menjawab, mulutnya masih terkunci dengan ciuman Adit yang belum ingin berhenti.


"Aku hanya nakal dengan istriku saja. Dan kamu menyukainya.." Tambah Adit masih dengan ciumannya yang semakin dalam.


Tiba-tiba Dinda menggigit bibir bawah Adit cukup keras hingga Adit melepaskan ciumannya.


"Jangan mulai lagi sayang, ini masih pagi.." Dinda mengusap lembut bagian bibir Adit yang digigitnya tadi. Memastikan tidak ada luka di sana akibat ulahnya. Lalu menciumnya sekilas.


Adit hanya tersenyum. Dalam hatinya dia sangat bahagia. Dia memiliki Dinda yang sangat dicintainya dan juga mencintainya dengan apa-adanya mereka.


Tak ada sifat maupun sikap yang mereka sembunyikan satu sama lain. Dari awal semuanya mengalir tanpa sekat, saling menerima apa pun itu.


"Aku akan sangat merindukanmu saat aku bekerja nanti.." Adit memasang wajah cemberutnya. Dia benar-benar membayangkan saat di kantor nanti tidak bisa melihat wajah istrinya.


"Fokuslah jika sedang bekerja. Jangan sampai terbengkalai. Bukankah itu juga untuk membahagiakan aku.." Dinda memberikan semangat dengan senyum dan kecupan di pipi suaminya.


"Terima kasih sayang, aku pasti akan selalu membahagiakanmu.." Janji Adit pada belahan jiwa tercintanya.


Dering ponsel Adit memecah kemesraan mereka berdua. Satu pesan baru masuk.

__ADS_1


"Aku masih menyimpan rasa yang sama untukmu seperti dulu. Walau pun kita tidak pernah lagi bertemu sejak saat itu. Tapi ternyata takdir masih memberiku kesempatan untuk melihatmu lagi.." Pesan itu dari Bimo.


Seperti biasanya, Adit hanya diam dan menghela nafas panjang. Dilihatnya Dinda yang sudah asyik dengan remote tivi di tangannya. Dia tidak ingin merusak suasana hati istrinya.


Pesan baru kembali masuk. Masih dari orang yang sama.


"Bisakah kita bertemu? Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.."


Sejujurnya hati Adit mulai merasakan gemuruh yang membuat dadanya memanas. Cemburu..?? Sepertinya iya, dia cemburu.


Meskipun Dinda sudah menjadi istrinya, tetap saja hatinya tidak rela jika ada pria lain yang mendambakan istrinya. Apalagi sampai mengajaknya untuk bertemu.


Dalam diamnya Adit berpikir, apa yang akan dia lakukan. Dia hanya ingin menghentikan semua ini. Dia harus mengakhiri situasi ini. Dia tidak mau masa lalu yang terungkit membuat Dinda menjadi tidak tenang.


"Aku tidak punya banyak waktu. Selama akhir pekan ini aku ada di kota tempatmu tinggal sekarang." Bimo mengirim satu pesan lagi.


Gayung bersambut. Adit sudah tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


Dia lalu menulis beberapa kata di layar ponselnya dan mengirimkan pesan itu segera.


"Apakah ada yang penting yang harus kamu kerjakan?"


"Hanya sebentar saja. Aku janji tidak akan lama. Aku akan membawakan sesuatu untukmu nanti." Menunggu jawaban dari sang istri sambil memeluk pinggangnya dengan erat.


Dinda yang sudah terbiasa untuk tidak mencampuri urusan Adit, hanya menuruti suaminya.


"Iya sayang, tapi cepatlah pulang kalau urusanmu sudah selesai. Jangan membuatku merindumu terlalu lama.."


"Terima kasih kesayanganku. Aku mencintaimu.." Adit mencium kening Dinda lalu memeluknya semakin erat.


.


.

__ADS_1


.


Di sebuah cafe yang berdekatan dengan gedung perkantoran pusat kota, seorang lelaki sudah menunggu di sebuah meja di pojok ruangan. Dia memandangi foto Dinda di layar ponselnya. Di foto itu Dinda tengah tersenyum lepas dengan kedua tangannya terentang bermain air pantai.


Dia tersenyum menatap foto itu, sedari tadi.


Tiba-tiba senyumnya terhenti dan segera tangannya mengunci layar ponselnya, ketika melihat Adit sudah ada di depannya.


"Owh.., anda datang. Di mana Dinda?" Lelaki itu mengedarkan pandangannya hingga ke pintu masuk cafe, tapi tidak menemukan sosok yang dicarinya.


"Maaf, saya tidak bisa mengajaknya menemui anda." Jawab Adit dengan penekanan sambil menatap tajam lelaki di depannya yang tak lain adalah Bimo.


"Ahh iya, silakan duduk." Adit yang sudah dipersilakan, segera duduk tepat di hadapan Bimo.


"Saya tidak punya banyak waktu. Jadi, apa yang anda inginkan??" Adit memulai pembicaraan.


"Oh ya, apa yang saya inginkan? Saya hanya ingin bertemu dengan Dinda. Itu saja. Tapi sepertinya keinginan saya tidak terkabulkan.." Jawab Bimo dengan senyum kecutnya.


"Dia istri saya. Saya tidak ijinkan dia bertemu dengan lelaki yang---.." Adit menghentikan kalimatnya, tidak sampai hati untuk melanjutkannya.


"Lelaki yang mencintainya.., itu yang ingin anda katakan bukan?" Bimo meneruskan kalimat Adit dengan santai.


"Lelaki yang merindukannya. Lelaki yang masih memendam rasa untuk istri anda. Bukan begitu?"


"Jaga bicara anda..!!! Jangan mencari masalah dengan saya..!!!" Adit mulai gerah hati, tapi dia tetap berusaha tenang dan mengontrol intonasi suaranya.


"Apa saya salah kalau saya mencintai Dinda?? Bahkan saya sudah mencintainya sebelum anda mengenal Dinda.." Bimo mengatakannya tanpa rasa bersalah.


"Apakah saya juga salah kalau saya merindukan orang yang saya cintai..??" Cecar Bimo tetap merasa tidak bersalah dengan perasaannya.


"Tapi dia sudah menikah. Sekarang dia adalah istri saya. Jadi, jaga batasan anda..!!" Adit memberikan penegasan dalam ucapannya meski dia tidak meninggikan suaranya.


Bimo tersenyum memandang Adit, saling bertatapan tajam.

__ADS_1


"Saya dan anda, kita sama-sama mencintai Dinda. Bedanya, andalah yang dia cintai. Sedangkan saya, hanya bisa mencintai tanpa dicintai. Sungguh malangnya saya..." Bimo tertawa, menertawakan dirinya sendiri.


__ADS_2