
Dari depan ruang perawatan Dinda, polisi membawa Sinta ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama pada luka tembak di kakinya.
Tak butuh waktu lama, dokter dan perawat yang berjaga di sana sudah menyelesaikan tugasnya. Kaki Sinta sudah terbungkus dengan sedikit rembesan darah yang masih keluar menodai perban putih yang membalutnya.
Tubuh Sinta mulai lemah setelah terus berteriak tanpa henti memanggil nama Adit. Selama berada di ruang IGD dia sudah mulai tenang dan lebih banyak diam.
Dengan tangan yang tetap terkunci borgol di balik punggungnya, polisi membawa Sinta keluar dari rumah sakit. Mereka berjalan menuju dua buah mobil kepolisian yang terparkir di bahu jalan, tepat di depan ruang IGD.
Sinta dibantu seorang polisi wanita masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Sinta duduk dengan benar di kursi penumpang bagian tengah, polisi tersebut keluar kembali untuk berkoordinasi dengan rekan dan juga atasan mereka yang masih berada di luar mobil.
Dari dalam mobil, Sinta terus memperhatikan empat orang polisi yang masih berdiri di samping mobil yang ditumpanginya. Tiga orang anggota mendengarkan instruksi singkat dari seorang atasan mereka.
Tatapan mata Sinta mulai menajam seperti sebelumnya. Bola matanya bergerak berputar mengawasi situasi sekitarnya. Dia merasa mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri. Dia tidak memikirkan lagi kakinya yang terluka dan tangannya yang terkunci.
Pelan-pelan dia menggeser tubuhnya ke samping kanan dan memposisikan tubuhnya membelakangi pintu mobil. Tangannya bergerak sebisa mungkin untuk menarik handle pintu mobil dan mendorongnya hingga berhasil terbuka sedikit. Dia segera menurunkan kakinya satu per satu hingga menyentuh tepian aspal.
Bersamaan dengan itu, satu orang polisi melihat ke arah dalam mobil dan mendapati Sinta yang sudah berada di pinggir pintu. Karena curiga, polisi tersebut dengan cepat membuka pintu sebelah kiri untuk memeriksa keadaan Sinta.
Sinta yang terkejut dan panik langsung menarik tubuhnya keluar dan mencoba melarikan diri. Tanpa melihat keramaian lalu lintas saat itu, dia langsung menyeberang jalan untuk menghindari polisi yang sudah bergerak mengejarnya.
Tiiinnn...!!!
Bruukkk...!!!
.
.
.
"Sinta, Dit. Dia....."
Wajah Adit kembali menegang. Bayangan Sinta kabur lagi langsung terlintas dalam pikirannya.
"Sinta berusaha kabur lagi..." Mama Indri melanjutkan ucapan suaminya yang masih terputus.
Tubuh Adit langsung lunglai sebelum papanya bersuara lagi.
"Dan dia tertabrak mobil di depan rumah sakit. Sekarang keadaannya sangat kritis dan terus memanggil namamu..."
Mata Adit berubah melebar mendengar apa yang papanya ceritakan. Sinta lari? Tertabrak? Kritis?? Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya dan membuat hatinya melunak.
"Apakah dia......"
__ADS_1
"Sebaiknya kamu lihat sendiri keadaannya sekarang, Dit. Selagi masih ada waktu..." Hanya itu yang bisa Papa Satrio sampaikan, membuat Adit kian gamang.
Untuk beberapa saat Adit masih terdiam di kursinya dengan tangan yang terus menggenggam tangan lemah istrinya. Bayang-bayang masa lalunya bersama Sinta kembali hadir menyeruak dalam ingatannya saat ini. Masa lalu yang indah, sebelum peristiwa kelam itu menimpa Sinta sang sahabat.
"Dit..." Papa memanggil membuatnya menoleh ke arah orangtuanya yang masih berdiri bersebelahan.
"Pergilah. Temui dia."
Adit menatap wajah pucat Dinda dengan perasaan tak menentu. Namun tiba-tiba dia teringat kata-kata yang diucapkan oleh istrinya, ketika mereka bertemu Sinta di kantor polisi setelah penyerangan pertama terhadap Dinda dulu.
"Doakan dia, sayang. Dan maafkan dia. Bagaimanapun juga, dia adalah sahabatmu, pernah menjadi sahabat baikmu di masa lalu."
Adit berdiri dan membungkukkan tubuhnya mendekati wajah Dinda. Lalu dia berbisik di telinga sang istri.
"Aku pergi sebentar, sayang. Aku akan menemui Sinta. Seperti permintaanmu dulu, aku akan memaafkannya. Tolong maafkan juga dirinya."
Kemudian dia mencium kening istrinya dengan lembut.
"Aku mencintaimu..."
.
.
.
Bercak darah terlihat berceceran di sekujur tubuhnya yang terluka akibat tabraķan dari jarak dekat dan cepat yang baru saja dialaminya. Dokter dan beberapa perawat masih berusaha menanganinya, tetapi sepertinya sudah percuma, karena tubuh Sinta sudah tidak bisa memberikan respon terhadap tindakan mereka.
"A-Adit... Dit... A-Adit..."
Hanya kata-kata itu yang terus keluar dari bibirnya yang merah berbekas darah yang tadi sempat dimuntahkannya akibat benturan dan luka dalam yang sangat parah.
Hati Adit teriris perih mendengar suara lemah Sinta memanggil namanya. Benar ucapan papanya, sepertinya sudah tidak ada waktu lagi bagi wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu.
"Sinta, aku ada di sini..."
Dengan suara bergetar menahan haru, Adit akhirnya bersuara yang langsung membuat Sinta berusaha membuka matanya dengan susah payah dan mencari keberadaan Adit.
Bibirnya sedikit tertarik ke atas saat matanya menemukan sosok yang dicarinya, yang dirindukannya selama ini.
"Dit... Ka-kamu..., da-dat...da-tang....."
Adit sekuat hati mencoba untuk membalas senyuman Sinta dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ma-maaf....kan..., a-ak...a-ku..., Dit...."
Sinta terbatuk dan kembali memuntahkan darah segar membuat Adit tanpa sadar telah meneteskan butiran bening dari sudut matanya. Hatinya merasa ikut terluka melihat kesakitan sahabat masa lalunya.
Adit melangkah maju mendekati Sinta. Pandangan mata Sinta ikut bergerak pelan mengikuti arah langkah Adit yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.
"Aku sudah memaafkan kamu. Demikian pula istriku, pasti dia memaafkanmu. Kami berdua juga minta maaf padamu..."
Ada kelegaan di hati Adit saat berhasil meloloskan kalimat itu dari mulutnya. Bayangan wajah Dinda seketika hadir memenuhi pikirannya.
Tangan Sinta terulur hendak meraih tangan Adit yang tegang memegang besi tepian brankar. Melihat hal itu, Adit segera membawa tangan kanannya untuk menerima uluran lemah tangan Sinta, membuat wanita itu kembali menampakkan senyumannya.
"Te-te...ri...maa...ka-kasiihh... Dit...."
Sinta menatap wajah Adit dengan nafas yang semakin tersengal-sengal, membuat dada Adit semakin berdebar-bedar merasakan suatu ketakutan.
"A-Aku... Ak-Akuu...say-yang...ka-kamuu, Dit......"
Adit panik dan menahan nafasnya ketika mendadak tubuh Sinta bergetar hebat dan matanya membuka lebar menatap ke atas. Tangan Sinta yg semula memegang tangannya pun sudah terlepas jatuh melemas. Dokter dan para perawat terus berusaha melakukan upaya apapun yang masih bisa mereka lakukan. Tapi sepertinya semua sudah sia-sia...
Tak lama kemudian, layar monitor di samping brankar Sinta menampilkan garis-garis lurus yang terus bergerak pelan dan mengeluarkan suara dengungan panjang tanpa henti.
"Mohon maaf, Pak. Pasien sudah tiada..."
Wajah Adit menegang menatap wajah pucat Sinta yang telah menutup mata untuk selamanya di hadapannya.
Sahabat masa lalunya itu telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Sahabat yang dulu selalu bersamanya, berdua melewati hari-hari ceria penuh suka cita, sekarang sudah tenang dalam tidur panjangnya menghadap Sang Pencipta.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..."
"Selamat jalan, Sinta..."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami.
__ADS_1
💜Author💜
.