
Keesokan harinya, Andi dan Rinaya sudah bersiap untuk meninggalkan hotel. Sebelum keluar kamar, Andi menahan dan mengunci tubuh istrinya di balik pintu.
"Mas...."
Rinaya menatap suaminya yang masih diam dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pintu di sisi kiri dan kanan bahu Rinaya. Mata teduhnya terus menatap wajah Rinaya dengan hasrat di hatinya.
"Biarkan aku menikmatinya sebentar, Ya..."
Rinaya menganggukkan kepala dan tersenyum dengan hati yang kembali berdebar kencang. Sama halnya dengan detak jantung Andi yang kini selalu berdetak sangat cepat setiap kali berdekatan dengan istrinya.
Tangan Andi mulai bergerak turun. Satu tangannya menyentuh pinggang istrinya dan satu tangan lainnya mulai meraba punggung Rinaya.
Rinaya membalasnya dengan membawa tangannya ke atas dan memegang kedua bahu suaminya dengan degup jantung yang begitu terpacu. Hembusan nafas kian terasa di wajah keduanya yang telah semakin dekat dan nyaris bersentuhan.
Tak bisa lagi menahannya, Andi menciumi Rinaya, mengabsen setiap inchi wajah istrinya tanpa kecuali, bahkan turun hingga ke leher dan bagian atas dada.
Rinaya masih terus membiarkan Andi melakukannya. Dia memejamkan matanya dan ikut larut menikmati sentuhan suaminya yang membuatnya terbuai hingga dia mengeluarkan desahan kecil yang semakin memancing hasrat Andi untuk melakukan hal yang lebih lagi.
Namun saat tangan Andi mulai bergerak untuk membuka kancing bajunya, Rinaya memegang tangan itu dan menghentikannya.
"Jangan sekarang, mas. Keluarga Om Ihsan sudah menunggu kita di rumah."
Masih dengan nafas yang tak beraturan karena buaian mesra suaminya tadi, Rinaya mulai merapikan pakaiannya juga pakaian suaminya yang sempat dia remas-remas.
Sementara Andi sudah menarik tubuhnya dan mengusapi wajahnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Dia pun mencoba menormalkan kondisinya dan memupus gejolak yang sempat menguasainya.
"Maafkan aku, Ya. Dan terima kasih sudah mengingatkanku."
Satu ciuman terakhir dilepaskan di kening Rinaya, sebelum pintu dibuka oleh Andi dan keduanya melangkahkan kaki keluar dari kamar, dengan saling berpegangan tangan dan masing-masing tangan yang lain menarik koper di samping tubuh mereka.
.
.
.
Setengah jam perjalanan, sampailah sepasang pengantin baru itu di rumah mereka. Rumah yang akan mereka tinggali bersama. Rumah yang akan menjadi saksi perjalanan rumah tangga mereka yang baru saja mereka awali.
Om Ihsan dan Tante Susi sudah menunggu mereka dengan duduk di teras depan. Sementara Nissa yang tengah hamil tua menunggu di dalam kamar ditemani Adam suaminya.
Rinaya bergegas melangkah ke teras dan menghampiri mereka berdua. Andi yang masih tertinggal di mobil, tengah mengeluarkan koper miliknya dan Rinaya.
"Selamat pagi, Om dan Tante. Maaf kami sedikit terlambat."
Rinaya segera mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Om Ihsan dan Tante Susi bergantian. Andi menyusul menyalami om dan tantenya, setelah meletakkan koper mereka di samping pintu.
"Tidak apa-apa. Kami juga baru saja siap."
Tante Susi kembali ke dalam untuk memanggil anak dan menantunya. Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berkumpul bersama yang lainnya di teras depan.
__ADS_1
Tangan Rinaya terulur lagi untuk memeluk Nissa yang selalu terlihat riang meskipun perutnya telah membulat sempurna di usia kandungannya yang sudah memasuki sembilan bulan.
"Sehat-sehat terus ya, Nis. Jangan kecapekan."
Rinaya mengelusi ujung perut Nissa dengan senyum tulus di wajah cantiknya.
"Iya, mbak. Aku juga mendoakan semoga mbak Rinaya segera dianugerahi kehamilan."
"Aamiin..!! Terima kasih doanya ya, Nis."
"Semangat berusahanya ya, mbak. Mumpung masih panas-panasnya pengantin baru."
Wajah Rinaya seketika berubah memerah menahan malu atas bisikan Nissa di telinganya. Calon ibu muda itu tertawa melihat kakak iparnya tersipu malu karena ucapannya.
Nissa berpindah ke depan Andi, dia mencium tangan kakak sepupunya diikuti oleh Adam.
"Kami pulang dulu, mas. Semangat lemburnya.."
Andi tersenyum menanggapi ocehan adik sepupunya. Dia mengusapi kepalanya dengan rasa sayang.
"Segera kabari aku kalau keponakanku sudah lahir."
"Iya, mas."
Setelah semua berpamitan, keluarga Om Ihsan masuk ke dalam mobil. Selesai mengucapkan salam, mobil pun melaju keluar halaman rumah Andi.
Andi merengkuh bahu istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Namun sebelum langkah kakinya melewati batas pintu, Rinaya menahannya untuk tetap berdiri di luar pintu.
"Assalamualaikum.." Ucap Andi.
"Bismillahirrahmanirrahim.." Rinaya tersenyum di samping suaminya.
Berdua mereka mulai melangkahkan kaki melewati pintu, memasuki rumah dengan rasa hati yang tenang dan bahagia.
Sementara tangan kirinya masih terus menggenggam tangan istri tercintanya dan membawanya ke arah pintu kamar mereka, tangan kanan Andi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci.
Sampai di depan pintu kamar, Andi segera memasang kunci kamarnya dan membuka pintu lebar-lebar.
"Ayo masuk, Ya. Selamat datang di kamar kita."
Rinaya masih dengan tangan yang digenggam oleh suaminya, membulatkan mata saat melihat ke sekeliling kamar yang telah berubah lebih indah dari sebelumnya.
Beberapa waktu yang lalu, Andi pernah membawa Rinaya ke rumahnya bersama salah seorang designer interior yang juga karyawan di Nature Furniture, dan meminta untuk mengatur keseluruhan isi rumah sesuai kemauan istrinya itu, karena Rinaya juga akan tinggal di sana dan menjadi nyonya rumah mereka.
"Kamu suka, Ya? Apakah sudah sesuai dengan keinginanmu?" Tanya Andi.
"Aku menyukainya, mas. Kamar ini sangat indah. Terima kasih sudah mewujudkannya untukku."
Rinaya mencium pipi kiri Andi dengan tiba-tiba membuat Andi terkejut untuk sesaat. Dengan segera dia menoleh ke samping dan melihat istrinya yang tersenyum menatapnya dengan pipi memerah.
__ADS_1
"Boleh aku memintanya lagi di sini?"
Andi menunjuk pipi satunya dengan jari telunjuk. Tanpa memberikan jawaban, Rinaya kembali mendekati wajah suaminya lalu mencium pipi kanannya masih dengan raut malu-malu.
Sebelum wajah cantik itu menjauh, Andi membalasnya dengan ciuman manis di bibir Rinaya. Hanya ciuman hangat sesaat, tanpa tuntutan lebih.
"Terima kasih, sayang.."
Andi melepaskan genggaman tangan mereka lalu mengusap puncak kepala istrinya dengan rasa cintanya.
"Aku akan mengambil koper kita dulu.."
Lelaki itu berbalik badan dan kembali ke depan untuk mengambil dua buah koper yang saat datang tadi dia letakkan di samping pintu.
Andi menutup dan mengunci pintu rumah, lalu menarik kedua koper itu bersamaan hingga roda-rodanya bergerak serempak mengikuti langkah kakinya menuju kamar milik sepasang pengantin baru itu.
Layaknya orang yang baru saja pindah rumah, akhirnya seharian itu mereka berdua menghabiskan waktu dengan membersihkan dan merapikan kamar mereka. Setelah puas dengan kamar pengantin, mereka keluar untuk melihat-lihat dan merapikan ruangan lainnya.
Andi membuka kulkas yang terletak di ujung dapur dan mengambil dua botol minuman segar. Dia kembali menghampiri Rinaya yang sudah lebih dulu duduk di kursi ruang makan.
Duduk di samping Rinaya, mereka berdua melegakan dahaga dengan meneguk minuman dingin yang dibawa Andi. Hari yang telah berganti sore, membuat perut mereka sudah meminta untuk diisi kembali.
"Kamu mandilah dulu, Ya. Aku akan memesan makanan untuk kita."
Rinaya mengikuti perintah suaminya. Dia berdiri dan berjalan menuju kamar mereka untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gerah karena seharian berbenah rumah bersama Andi.
Di ruang makan, Andi mengeluarkan ponselnya dan segera memesan makanan untuk mereka berdua. Selesai dengan pesanannya, dia berdiri dan menyusul istrinya ke dalam kamar.
.
.
.
Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
~Author~
.
__ADS_1