
"Calon suamiku ternyata berhati luar biasa." Puji Rinaya dengan rasa bangga.
"Katakan sekali lagi, Ya." Andi berjalan mendekati kekasihnya yang masih melihat satu per satu foto di atas meja belajarnya.
Rinaya baru menyadari ucapannya sendiri yang keluar begitu saja seperti sebuah ungkapan hati.
"Katakan, Ya." Andi sudah berdiri di belakang Rinaya.
Dadanya sontak berdebar kencang saat merasakan suara itu begitu dekat dengan telinganya. Dia tidak berani bergerak. Ingin berucap pun mendadak lidahnya kelu.
"Ya.." Andi memutar tubuh Rinaya ke arahnya.
Sekarang mereka sudah berdiri berhadapan. Namun Rinaya masih menundukkan kepalanya.
"Ya, lihat aku dan katakan sekali lagi."
Akhirnya dengan wajah memerah Rinaya menatap Andi yang terus menanti ucapannya.
"Calon suamiku."
Andi tersenyum senang mendengarnya.
"Calon istriku, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, mas." Rinaya membalasnya tanpa diminta membuat Andi semakin bahagia.
Dia memeluk tubuh Rinaya dan didekapnya dengan erat. Sejenak Rinaya masih terkejut atas pelukan Andi. Tubuhnya terasa kaku dan mematung.
Namun hangatnya pelukan Andi yang mulai terasa menulari tubuhnya, membuatnya mulai merasa tenang. Pelan-pelan tangannya bergerak membalas pelukan sang kekasih.
Andi yang merasakan tangan Rinaya melingkari pinggangnya, semakin mempererat pelukannya. Tubuh keduanya semakin menyatu tanpa sekat. Mata mereka terpejam menikmati kehangatan yang mulai memanas.
Detak jantung yang semakin cepat pun bisa mereka rasakan satu sama lain. Nafas yang saling memburu seakan berkejaran untuk saling berbagi.
Pelukan itu tak kunjung usai. Tak ada yang ingin mulai melepaskannya. Tak ada yang ingin mulai mengakhirinya. Hanya terus berpelukan dan menikmati getar-getar cinta yang berdesir lembut menguasai hati mereka.
"Ya.." Andi memanggil lirih tanpa melepaskan pelukannya. Matanya masih terus terpejam.
"Hmm.." Rinaya hanya sedikit menggerakkan kepalanya yang masih bersandar di antara dada dan bahu Andi. Dia benar-benar terbuai oleh kehangatan di antara mereka.
"Aku sangat mencintaimu." Andi mencium lembut kepala Rinaya.
Rinaya merespon dengan semakin membenamkan kepalanya di dada Andi. Dia masih ingin menikmati pelukan mereka. Dia merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Andi.
"Kamu manja sekali, Ya." Andi tersenyum melihat kepala kekasihnya yang tersembunyi di dadanya. Rinaya masih diam dan memejamkan mata.
"Kamu masih ingin seperti ini, Ya?" Tanya Andi.
"Iya, mas." Kali ini Rinaya menjawab meski terdengar lirih.
"Kamu tidak takut aku akan melewati batas?"
"Aku percaya mas Andi."
Andi tersenyum mendengar jawaban Rinaya. Dia juga tidak mungkin melakukan hal lain yang melampaui batasannya. Dia tidak akan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh orangtua Rinaya untuk menjaga calon istrinya itu.
"Terima kasih atas kepercayaanmu, Ya." Dia kembali mencium ujung kepala Rinaya.
__ADS_1
"Aku senang melihatmu manja seperti ini."
Akhirnya Andi membiarkan Rinaya terus memeluknya dengan nyaman. Mereka masih terus berpelukan semakin erat dan semakin lama.
.
.
.
Kembali ke rumah Om Ihsan, mereka bertemu sepupu Andi yang tak lain adalah anak semata wayang Om Ihsan. Dia datang bersama suaminya dari rumah mereka sendiri.
Andi langsung memperkenalkan Rinaya dengan mereka berdua.
"Ya, kenalkan ini adik sepupuku Nissa dan suaminya Adam."
"Nissa dan Adam, kenalkan ini calon istriku Rinaya."
Mereka bertiga pun saling berjabat tangan dan berkenalan.
"Duuh, mbak Rinaya cantik banget sih, mas. Boleh tidak aku minta mbak Rinaya mengusapi perutku ini, biar anakku nanti secantik dia?"
Nissa yang sedari kecil memang dekat dengan Andi terlihat memohon pada kakak sepupunya.
Andi, Rinaya dan Adam hanya tersenyum melihat tingkah Nissa.
"Ya, Nissa dan Adam ini menikah di hari yang sama dengan pernikahan mas Adit dan Dinda waktu itu. Karena inilah, dulu aku tidak bisa datang di acara pernikahan mereka di sana." Adit memberi penjelasan kepada Rinaya.
Rinaya mengingat kembali ketika pernikahan Adit dan Dinda dulu, dia memang tidak melihat keberadaan Andi di sana. Ternyata memang Andi tidak bisa datang.
"Kemarin kata dokter, dari hasil USG, calon anakku ini berjenis kelamin perempuan. Makanya tadi begitu lihat kecantikan calon istrinya mas Andi, aku langsung ngidam kilat, ingin dielus-elus perutku ini sama mbak Rinaya."
Nissa tersenyum senang saat Rinaya mendekatinya dan langsung membungkukkan badan ke arah perut Nissa yang sudah tampak membuncit.
Tangan Rinaya segera mengusapi perut Nissa berulang-ulang sambil berbicara pelan di dekat perut buncit itu.
"Assalamualaikum, adik cantik yang ada di dalam sana. Sehat selalu ya sayang, teruslah tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Ayah dan bundamu akan selalu menjagamu dengan baik. Kami semua menyayangimu."
Semua orang terlihat senang dan tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan Rinaya, termasuk Om Ihsan dan Tante Susi yang baru saja keluar dari kamar.
.
.
.
Sebelum berpamitan pulang, Om Ihsan mengajak Andi dan Rinaya berbicara di ruang tamu. Sementara Tante Susi bersama Nissa dan Adam tengah sibuk memasukkan beberapa karung beras dan hasil kebun ke dalam bagasi mobil Andi.
"Andi, hasil panen sawahmu kemarin mengalami peningkatan cukup besar dari panen sebelumnya. Dan sekarang para petani sudah mempersiapkan musim tanam berikutnya."
Andi tampak senang mendengar kabar baik dari Om Ihsan. Selain rumah peninggalan orangtuanya, Andi juga mendapat warisan sebidang sawah yang berukuran cukup luas. Dan selama ini Andi menyerahkan semua pengurusan sawahnya kepada Om Ihsan selaku adik dari ayahnya.
"Alhamdulillah, Om. Andi senang mendengarnya. Berarti hasil yang akan kita sumbangkan ke yayasan juga semakin besar ya, Om."
"Apa kamu tidak membutuhkannya untuk persiapan pernikahan kamu, Nak? Pasti kamu juga butuh biaya yang tidak sedikit."
"Tidak, Om. Alhamdulillah tabungan Andi sendiri sudah cukup untuk mengurusi pernikahan kami nanti. Untuk hasil panen, seperti biasa harus tetap diserahkan kepada yayasan anak yatim-piatu dan keluarga tidak mampu di sekitar sini. Sesuai niat Andi dari awal dulu, semua hasil panen sawah akan selalu Andi sumbangkan untuk mereka yang membutuhkan, Om."
__ADS_1
"Baiklah, Om akan terus melaksanakan amanahmu, Nak."
"Andi juga minta maaf karena selama ini Andi selalu merepotkan Om dan Tante."
Andi dan Om Ihsan berpelukan erat layaknya ayah dan anak kesayangannya.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Andi dan Rinaya segera masuk ke dalam mobil dan Andi mulai melajukan mobil meninggalkan tanah kelahirannya.
Dalam perjalanan, Rinaya masih terus mengingat percakapan antara Andi dan Om Ihsan tentang hasil panen sawah tadi.
Dirinya masih tak percaya, ternyata Andi mempunyai sisi kemanusiaan yang sangat besar. Lagi-lagi dia dibuat kagum dengan hati emas yang dimiliki kekasihnya itu.
"Kenapa diam saja, Ya?" Andi melihat Rinaya sekilas.
"Tidak apa-apa, mas. Aku hanya sedang bersyukur."
"Bersyukur?" Andi tidak mengerti maksud Rinaya.
"Ya, mas. Aku bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, karena memberiku calon suami yang berhati emas dan tidak tamak harta." Rinaya menatap wajah Andi dengan rasa bangga.
Andi masih tetap tidak mengerti arah pembicaraan Rinaya.
"Jelaskan padaku, Ya?"
"Pembicaraan mas Andi dan Om Ihsan sebelum kita pulang tadi, mas. Tentang hasil panen sawah mas Andi yang selalu mas sumbangkan. Aku sangat bangga dengan mas Andi."
Andi hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Memang sudah seharusnya seperti itu kan, Ya. Yang mempunyai lebih, memberikan kepada yang masih kekurangan. Yang senang, menghibur yang sedang bersedih. Karena tidak semua rejeki yang kita peroleh itu sepenuhnya menjadi milik kita. Ada sebagian di dalamnya yang merupakan hak orang lain yang lebih membutuhkan."
"Dulu aku juga sempat menggunakan hasil sawah itu untuk kebutuhanku, Ya. Setelah ibu dan adikku meninggal, aku harus membiayai semua kebutuhanku sendiri. Aku menggunakan sebagian hasil sawah untuk membiayai kuliahku dan biaya hidupku selama kuliah."
"Setelah lulus kuliah, aku langsung diterima bekerja di Nature Furniture milik Pak Satrio. Sejak aku menerima gaji pertamaku, aku menyerahkan seluruh hasil sawah untuk mereka yang membutuhkan. Alhamdulillah, aku sudah merasa cukup dengan hasil kerja kerasku sendiri selama lima tahun ini, Ya."
Rinaya meneteskan air mata mendengar cerita Andi. Dia tidak ingin berkata-kata lagi. Dia hanya ingin terus mengucapkan syukur, karena dia telah memiliki sesuatu yang lebih berharga dari semua hal yang lainnya.
Dia telah memiliki hati Andi. Hati yang baik, tulus dan luar biasa. Dia telah memiliki hati emas calon suaminya. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya selalu bahagia bersama Andi.
.
.
.
Novel baru kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1