
Hari kedua di Pulau Dewata, tidak banyak acara yang akan mereka lakukan. Sopir hanya mengantarkan Adit dan Dinda menuju Tanjung Benoa, karena mereka akan pergi ke Pulau Penyu menggunakan glass bottom boat yang sudah disewa khusus untuk mereka berdua.
Perjalanan yang cukup intim karena mereka hanya berdua saja, ditemani bapak pengemudi yang fokus pada perahunya, bukan pada pengantin baru yang sedang bermesraan tiada henti sambil menikmati pemandangan laut Tanjung Benoa. Sesekali memberikan makan pada ikan-ikan di laut lepas serta melihat keindahan dasar laut dari lantai perahu yang terbuat dari kaca.
Waktu selebihnya di hari kedua ini, hanya mereka habiskan di dalam kamar hotel. Benar-benar menikmati artinya bulan madu, berdua memadu cinta, melakukan segala aktivitas di dalam kamar, tanpa jarak, tanpa batas, hanya mereka berdua.., hingga malam kian larut dan hari telah berganti.
.
.
.
Pagi terakhir di Bali, Adit dan Dinda sudah siap untuk meninggalkan hotel. Semalam, sopir sudah memberitahukan kepada mereka bahwa sebelum menuju ke bandara, nanti mereka akan mampir ke sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali.
Sampai di depan hotel, Adit dan Dinda berdiri di samping anak tangga utama menunggu sopir yang sedang mengambil mobil di lokasi parkir.
Seorang pria berkacamata hitam baru saja turun dari mobil dan hendak menaiki tangga menuju ke dalam hotel.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, urung menaiki anak tangga pertama. Dia menoleh ke arah Dinda yang sedang bergelayut mesra di lengan Adit sambil bercanda melepaskan tawa.
"Dinda..!" Pria itu memanggil Dinda sambil berjalan menghampirinya.
Dinda yang merasa namanya dipanggil menoleh ke asal suara, diikuti Adit.
"Bimo..." Dinda terkejut melihat keberadaan pria yang tengah mendekat ke arahnya itu.
Pria itu tersenyum lebar mengetahui dia tidak salah mengenali orang. Sampai di hadapan Dinda dia mengulurkan tangannya..
"Akhirnya kita bertemu lagi..." Raut bahagia sangat jelas terlihat di wajah pria yang oleh Dinda dipanggil Bimo.
Sedangkan Dinda, dari awal keterkejutannya tadi, kini wajahnya terlihat sedikit tegang. Namun mau tak mau dia menyambut uluran tangan Bimo, tanpa sepatah kata pun.
Mengetahui gelagat istrinya yang tampak kurang nyaman dengan situasi ini, Adit segera melingkarkan tangannya di pinggang Dinda.
Dinda menatap Adit, melihat Adit yang tersenyum padanya.
"Bimo, kenalkan ini suamiku.." Sebelah tangan Dinda langsung memeluk pinggang Adit, sehingga mereka saling memeluk dari samping.
__ADS_1
"Aditya.." Adit mengulurkan tangannya lebih dulu.
Bimo mengalihkan pandangannya pada Adit, diam sejenak sebelumnya akhirnya menjabat tangan Adit.
"Bimo.."
Tiinn.. Tiiinnn...
Bunyi klakson dari mobil Adit dan Dinda tampaknya membantu Dinda untuk segera pergi dari Bimo.
"Mmm.., maaf Bimo, mobilku sudah datang. Aku pergi dulu.." Dinda mengeratkan pelukannya untuk memberi tanda pada sang suami, dan Adit pun langsung paham.
"Kami pergi dulu.." Adit ikut berpamitan dan membawa Dinda ke arah mobil. Beberapa langkah berjalan tiba-tiba..
"Tunggu sebentar Dinda..!" Bimo bergegas mengejar mereka yang sudah akan membuka pintu mobil.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?" Bimo sudah mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencoba mengulurkannya pada Dinda.
Dinda langsung menatap Adit. Adit pun menganggukkan kepalanya. Barulah Dinda mau menerima ponsel dari Bimo dan segera mengetikkan sederet angka di sana, kemudian cepat-cepat mengembalikan kepada si pemilik.
Bimo menerimanya dengan wajah cerah. Dia menekan tombol panggilan, lalu terdengar nada dering di dekat Dinda, karena dia memang sedang tidak memegang ponselnya.
Di dalam mobil, Adit mengeluarkan ponselnya. Ada satu panggilan dari nomor tak dikenal.
Adit memperlihatkannya pada Dinda.
"Sepertinya ini panggilan dari nomor temanmu tadi.." Dinda hanya menganggukkan kepalanya.
"Perlu aku simpan dulu nomornya? Mungkin nanti dia akan menghubungi.." Tanya Adit pelan yang dibalas dengan anggukan lagi.
Adit mengerti, istrinya masih malas dan belum ingin untuk membahas pertemuan tak terduga tadi.
Dia menyimpan nomor baru tadi di kontak ponselnya, lalu menaruhnya kembali ke dalam saku.
Segera direngkuhnya sang istri ke dalam pelukannya. Diciumnya kening Dinda sambil mengusap lembut kepalanya.
"Aku mencintaimu.."
__ADS_1
Dinda yang mendapat perlakuan demikian dari Adit justru merasa bersalah dengan sikapnya.
"Maafkan aku sayang.." Hanya itu yang Dinda katakan.
Dia merasa tidak pada waktunya jika menceritakan semuanya pada Adit saat ini. Apalagi mereka masih berada di Bali.
Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri, akan menceritakan semua pada Adit setelah mereka berada di rumah nanti.
Adit semakin mempererat pelukannya, memberikan energi positif untuk istrinya agar tidak larut dalam gundah hatinya.
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali.
Adit menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam, berharap agenda belanja ini bisa segera mengembalikan mood dan keceriaan Dinda.
Dan benar saja, begitu melihat suasana di dalam yang penuh barang-barang dan makanan khas Bali, Dinda langsung menampakkan wajah riangnya dan tidak sabar untuk memilih banyak belanjaan yang sudah direncanakannya untuk dibeli.
Adit tersenyum lega melihat istrinya sudah kembali seperti biasanya.
Dia segera mengambil satu buah troli belanja dan didorongnya pelan-pelan mengikuti langkah ceria istrinya kesana kemari memilih banyak sekali belanjaan.
Satu jam berlalu, Adit dan Dinda menyudahi acara belanja mereka dan bergegas menuju mobil yang sudah menunggu untuk mengantarkan mereka makan siang kemudian menuju bandara untuk bertolak pulang.
.
.
***Note :
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Kisah masih panjang dan akan terus berlanjut.
Setelah ini, akan ada banyak cerita baru yang terselip di antara kisah cinta Adit dan Dinda.
Sekali lagi kami ucapkan terima kasih dan selamat menikmati lanjutan kisah "Terima Kasih Cinta Sejati" ini.
Salam cinta dari kami..
__ADS_1
Author***