Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
37 SINTA DAN ADIT


__ADS_3

Pulang dari acara pernikahan Elisa, Adit membawa Dinda ke rumah orangtuanya. Sebelum keluar dari gedung tadi, mama Indri menelepon Adit dan meminta mereka untuk datang ke rumah.


Akhirnya mereka tiba di rumah orangtua Adit.


Papa Satrio dan mama Indri sudah menunggu mereka di ruang tengah. Setelah mengucap salam dan mencium tangan mereka, Adit dan Dinda duduk di hadapan papa mamanya.


"Apa ada masalah, Pa?" Tanya Adit. Tak biasanya mereka memanggil untuk segera datang seperti ini.


"Tidak ada masalah apa pun. Hanya tadi, ada yang mencarimu kemari." Kata papa.


"Mencariku? Siapa?" Adit merasa heran. Karena jika teman-teman dekat, sudah pasti mereka akan langsung menghubunginya. Atau mungkin ada teman lama yang belum mengetahui tentang dirinya sekarang..?


"Sinta." Mama yang menjawab.


"Sinta..??" Mendadak raut wajah Adit berubah suram begitu mendengar nama itu.


Dinda yang melihatnya segera memegang tangan suaminya. Meskipun dia belum tahu siapa itu Sinta, tapi yang dia tahu saat ini Adit menjadi tidak baik-baik saja.


"Kamu sudah menceritakan pada istrimu tentang dia?" Papa bertanya lagi.


Adit menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke arah Dinda.


"Sayang, dia teman SMA yang kuceritakan dulu. Namanya Sinta."


Saat bercerita dulu, Adit memang tidak menyebutkan nama temannya itu.


Dinda mengangguk pelan. Dalam pikirannya dia mulai bertanya-tanya mengapa wanita itu mencari suaminya? Dan bukankah dia masih dalam perawatan di sebuah rumah sakit pasca tragedi itu?


"Kapan dia sembuh, Pa? Apakah Papa ada informasi lain tentang dia? Juga mengapa dia mencariku?" Cecar Adit kepada papanya.


"Yang papa ketahui, dia sudah sembuh beberapa bulan yang lalu. Dia sekarang tinggal bersama orangtuanya. Tapi anaknya diasuh oleh kakaknya. Karena dia belum mau menerima kehadiran anak itu."


Adit menghela nafas kasar. Dia bukannya tidak suka dengan kesembuhan Sinta. Tapi mendengar kabar bahwa Sinta mencarinya, itu sangat mengejutkan.


Kejadian pada hari naas itu saja masih membekas di hatinya sampai saat ini. Sampai-sampai Dinda istrinya pun ikut menerima imbasnya, karena sikapnya terkadang menjadi kacau akibat traumanya.


Beruntung Dinda sangat mengerti keadaannya. Setelah dia bercerita tentang Sinta di malam pertama mereka dulu, hatinya menjadi lebih tenang dan terbuka. Perlahan-lahan dia bisa melawan ketakutannya, dia bisa menyentuh dan memperlakukan istrinya tanpa pikiran buruk yang menghantuinya lagi.


Tapi sekarang, setelah hatinya tenang dan traumanya hilang, mengapa Sinta harus muncul kembali? Mengapa Sinta juga harus mencarinya? Mengapa kebahagiaannya saat ini harus terusik dengan kehadiran Sinta?


Adit khawatir, ketakutan itu menguasai hatinya kembali. Dia takut hal itu akan membuatnya memperlakukan Dinda dengan tidak baik. Adit tidak ingin istrinya menerima sikap buruknya dan menjadi korban ketakutan yang mungkin akan dirasakannya lagi.


"Sayang, jangan biarkan ketakutan itu menguasai dirimu lagi. Berusahalah untuk menepis semua ketakutan itu dari hati dan pikiranmu." Dinda beusaha untuk menenangkan hati Adit.


"Kamu harus bisa melawan ketakutan itu, sayang. Jangan menghindarinya. Hadapi dan lewati saja semuanya. Aku akan selalu bersamamu, membantumu melalui semua ini."


Kata-kata Dinda membuat Adit bangkit dari kekalutannya. Dia harus berani menghadapi Sinta. Sekali pun bayang-bayang kejadian buruk itu muncul kembali, dia harus kuat untuk melawannya, dia harus bisa untuk melewatinya..


.


.

__ADS_1


.


Sore menjelang di kediaman Papa Satrio.


Dua pasang suami-istri di rumah itu tengah mengobrol bersama ditemani teh hangat dan pisang goreng buatan Dinda, ketika tiba-tiba bel pintu berbunyi.


Mama Indri hendak beranjak dari duduknya tapi ditahan oleh Dinda.


"Biar Dinda saja yang ke depan, Ma."


"Bagaimana kalau Sinta yang datang. Tadi pagi Papa terlanjur berkata kalau Adit akan datang." Cegah Papa Satrio.


"Tidak apa-apa, Pa." Jawab Dinda tenang. Lalu dia berjalan ke arah pintu depan.


Sebelum membuka pintu, dia mengintip sedikit melalui kaca jendela yang tertutup tirai. Tampak olehnya seorang wanita berkulit kuning langsat dengan rambut lurus yang diikat satu, menanti di depan pintu. Mungkin dia Sinta, pikir Dinda..


Lalu dia membukakan pintu dengan menyunggingkan senyum ramah.


"Apakah Adit sudah datang?" Tanpa basa-basi wanita itu langsung menanyakan keberadaan Adit pada Dinda.


"Maaf, kalau boleh tahu, mbak siapa ya?" Tanya Dinda dengan sopan.


"Aku Sinta. Tolong panggilkan Adit." Wanita yang tak lain adalah Sinta itu sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui siapa Dinda. Dia hanya ingin bertemu dengan Adit saja.


Dinda tetap tenang dan menghela nafas panjang.


"Sebentar saya panggilkan Adit. Silahkan duduk dulu mbak." Dia mempersilahkan Sinta masuk ke ruang tamu, lalu segera masuk kembali ke ruang keluarga.


"Mbak Sinta, dia mencari kamu." Pandangan Dinda langsung tertuju lurus pada suaminya.


Adit mulai tampak bingung. Dia masih tidak yakin untuk menemui Sinta. Dulu mereka memang bersahabat dekat dan sangat akrab. Tapi itu dulu, sebelum peristiwa itu terjadi...


Sekarang, baginya semua sudah berubah. Tujuh tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Semua tidak akan bisa sama seperti dulu. Apalagi kini sudah ada Dinda sang istri dalam kehidupannya.


Dia harus menjaga perasaan Dinda. Meskipun masa lalunya dengan Sinta hanya sebatas sahabat, tapi guncangan jiwa yang pernah dialami Sinta mungkin saja akan berpengaruh pada hubungan mereka saat ini.


"Sayang, keluarlah. Temui mbak Sinta. Bagaimana pun juga, dia sahabatmu bukan.." Dinda memegang bahu suaminya. Dia terus saja tersenyum seolah ingin memberitahu Adit bahwa dia baik-baik saja.


"Apakah dia bertanya sesuatu tentangmu, sayang?" Tanya Adit.


Dinda menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak menanyakan apapun. Dia hanya mencarimu saja."


Adit tidak berkata apa pun lagi. Dia berdiri tanpa semangat lalu melangkah menuju ruang tamu.


Dinda kembali duduk, tapi dia mencari tempat di mana dia bisa melihat ke arah ruang tamu, meski jaraknya jauh. Dia terus memperhatikan suaminya.


Adit sampai di ruang tamu. Dia hanya berdiri diam melihat Sinta yang duduk menunggunya.


Saat Sinta menyadari kedatangan Adit, dia langsung berdiri menghampiri Adit.

__ADS_1


"Adiittt..!!" Dia hendak memeluk Adit, tapi dengan segera Adit memundurkan langkahnya untuk menghindar.


"Maaf..." Hanya itu yang keluar dari mulut Adit. Dan Sinta pun berhenti. Dia berdiri berhadapan dengan Adit.


"Adit, kamu kenapa? Apa kamu tidak rindu denganku?" Tanya Sinta.


Adit terdiam. Dulu dia memang sangat dekat dengan Sinta. Setiap hari mereka bersama layaknya remaja yang ceria. Mereka sering pergi berdua, bergandengan tangan, berpelukan, tapi hanya sebagai seorang sahabat. Tidak lebih, tidak pernah lebih.


"Duduklah. Bagaimana kabarmu?" Adit mendahului duduk sambil mempersilahkan Sinta duduk kembali.


Tapi di luar dugaan, Sinta duduk tepat di samping Adit. Kedua tangannya dengan manja melingkari lengan Adit, membuat Adit terkejut dan kembali menepis tangan Sinta secara mendadak.


"Adit, kamu kenapa sih Dit? Dari tadi kamu menghindariku. Apa kamu marah padaku?" Tanya Sinta mendesak penjelasan Adit.


"Maaf, Sinta. Aku tidak bermaksud begitu. Tapi keadaan kita sudah tidak seperti dulu lagi." Adit mencoba menjelaskan dengan hati-hati dan berusaha untuk tidak menyinggung tentang peristiwa masa lampau itu.


"Apakah karena aku pergi dari sini?" Tanya Sinta lagi.


Adit mulai kehilangan akal untuk tetap menjaga jarak dengan Sinta. Membuat alasan tentang masa lalu mereka tentu saja tidak mungkin.


Bahkan Sinta sendiri terlihat seperti tidak tahu atau tidak mengingat kejadian yang menimpanya dulu. Dia hanya seperti seseorang yang pulang dari bepergian dalam waktu yang lama. Dan dia kembali tanpa ada beban, tanpa ada masalah.


"Adit, aku datang jauh-jauh dari rumahku ke sini karena aku kangen kamu. Aku ingin kita bersama-sama lagi seperti dulu." Sinta berucap pelan.


"Aku sudah menikah." Adit membuat pengakuan yang sangat mengejutkan Sinta.


.


.


.


INFO :


Yang belum tahu atau lupa tentang siapa Sinta, silahkan baca kembali Episode 16 : Malam Pertama - Part 1 🙏😘🙏


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author

__ADS_1


__ADS_2