Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
15 AWAL KITA


__ADS_3

Malam harinya, sepasang pengantin baru telah tiba di rumah masa depan mereka. Rumah yang kerap disebut Dinda sebagai rumah cantik.


Setelah pesta resepsi yang cukup melelahkan dan ditambah dengan acara kumpul keluarga pada sore harinya, mereka berdua memutuskan untuk pamit pulang terlebih dahulu.


Turun dari mobil, Adit segera membukakan pintu dan menggandeng tangan sang istri masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang, istriku tercinta.." Adit meminta Dinda untuk masuk lebih dulu, kemudian dia mengunci pintunya.


"Semoga rumah ini selalu dipenuhi dengan cinta dan kebahagiaan, selamanya.."


"Aamiin.."


Dinda tersenyum membalas ucapan suaminya. Dia berjalan menuju kamar untuk menaruh tas dan ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidur.


Saat hendak berbalik keluar, dia menubruk Adit yang diam-diam mengikutinya. Refleks dia memegang kemeja Adit untuk menahan agar tubuhnya tidak jatuh ke belakang. Dia menatap Adit dan pandangan mereka pun bertemu.


Diam. Canggung. Dinda terlihat gugup, hingga dia tidak menyadari kedua tangannya masih terus berada di dada Adit. Sementara Adit pun masih tidak bereaksi, ingin memeluk atau apa pun itu tapi dia masih ragu.


"Sayang.., boleh aku memegangmu..?"


Sungguh ini pertanyaan yang konyol, seorang suami meminta ijin istrinya hanya untuk memegangnya.. Dasar Adit, dia terlalu polos dan berhati-hati untuk tidak membuat istrinya marah atau takut. Mungkin dia masih lupa kalau sekarang dia sudah menikahinya..


Dinda yang ditanya seperti itu menjadi semakin salah tingkah. "Hei, Adit sayang, aku sekarang istrimu, jangan bersikap formal.." Jerit hatinya.


Akhirnya dia hanya mengangguk, masih terus menatap suaminya.


Perlahan tangan Adit bergerak, memegang lembut kedua bahu Dinda. Karena Adit masih bersikap kaku, membuat Dinda pun menjadi rikuk.


"Eemm.., eehhh.., sayang, bisakah kita tidak bersikap aneh seperti ini..? Aku malu.." Dinda mencoba memecah suasana.


"Aku takut, sayang..."


"Aku takut kamu merasa tidak nyaman kalau tiba-tiba aku---"


Belum selesai Adit menjawab, tangan Dinda yang semula masih memegang kemeja Adit, meraih kedua tangan suaminya yang berada di bahunya, menariknya turun lalu melingkarkannya di pinggang rampingnya. Setelah itu, tangan Dinda melingkar memegang pinggang Adit.


Adit tertegun. Tangannya pun masih terasa kaku untuk bergerak di pinggang istrinya sendiri. Ditambah lagi tangan Dinda juga memeluk pinggangnya.


Rasa hatinya bercampur aduk. Ini pertama kali baginya. Meskipun dia sudah mencamkan dalam pikirannya untuk tidak berlaku kaku seperti ini, tapi kenyataannya hatinya tetap saja merasa takut. Hanya takut Dinda merasa tidak nyaman dengan perlakuannya.


"Maafkan aku.. Mungkin aku hanya belum terbiasa. Sungguh aku hanya takut kamu merasa tidak nyaman.." Adit mencoba sedikit menggerakkan tangannya, mengusap pelan pinggang istri tercintanya.


"Kalau begitu, biasakanlah dirimu, dari sekarang.."


Dinda membalasnya dengan mempererat pelukan tangannya di pinggang Adit sehingga otomatis tubuhnya ikut tertarik maju bersentuhan dengan tubuh suaminya.

__ADS_1


Sebenarnya Dinda sendiri bukanlah tipe cewek agresif, apalagi untuk urusan seperti ini, nol pengalaman.


Namun dia ingat pembicaraannya dengan Elisa beberapa waktu yang lalu. Elisa mengatakan kalau Adit adalah tipikal cowok yang cuek tapi lembut hatinya. Kesehariannya mungkin terlihat biasa saja bahkan cenderung cuek. Tapi kalau urusan hati, dia sangat perasa. Dia akan sangat menjaga dan melindungi cewek yang dicintainya.


Elisa mengatakan demikian karena dia pernah menjalin hubungan dengan cowok seperti Adit. Dan menurutnya, jika tidak ingin berlarut-larut dalam suasana yang canggung, lebih baik mereka mengalah untuk mengawalinya sedikit demi sedikit.


Dan karena akhirnya saat ini Dinda merasakan sendiri sikap Adit yang demikian, maka dia memberanikan diri untuk mendahului agar Adit pelan-pelan bisa terbiasa dengan sendirinya.


Beberapa menit berlalu, mereka berdua masih dalam posisi yang sama. Hanya diam dan saling menatap.


"Sayang, apa kamu tidak ingin memeluk istrimu ini..?!" Dengan degupan yang mulai tak harmonis, Dinda mencoba menggoda suaminya.


"Apa aku boleh melakukannya..?" Adit bertanya balik dengan polosnya.


"Suamiku, aku ini istrimu.., kamu punya hak atas aku.. Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.., kecuali..." Dinda menghentikan kalimatnya.


"Kecuali apa..?" Adit mempertajam indera pendengarannya.


"Kecuali kamu memukul atau menamparku.., maka aku akan lari ke kantor polisi untuk membuat laporan KDRT..." Sekali lagi Dinda mencoba mencairkan suasana.


Dan kali ini berhasil. Adit yang semula khawatir dengan ucapan Dinda, akhirnya menampakkan senyumnya.


"Aku tidak akan pernah berani menyakitimu.."


"Maafkan aku, sayang.." Adit bereaksi. Kini tangannya benar-benar bergerak, memeluk erat tubuh istri yang sangat dicintainya.


Sang istri pun tak mau kalah, mempererat pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau mengerti dan memahami aku.." bisik Adit di telinga sang istri.


Dalam pelukan suaminya, Dinda tersenyum bahagia. Usahanya tak sia-sia. Sikap Adit mulai melunak dan memanja.


"Ok, Dinda. Sepertinya malam ini akan berlalu cukup lambat..!" Dinda menghembuskan nafasnya pelan, tetap menikmati pelukan dari kekasih hatinya..


.


.


.


Malam bergerak meski belum larut. Di dalam rumah cantik, sepasang pengantin baru masih berusaha untuk saling memadukan hati mereka.


Berdua duduk saling memeluk di sofa ruang tengah, menikmati alunan lagu-lagu yang terlantun di acara musik sebuah televisi swasta.


Adit masih ragu untuk melakukan hal yang lain terhadap istrinya, sehingga sedari tadi mereka berdua hanya berpelukan saja.

__ADS_1


"Sayang, aku lapar..." Dinda merenggangkan sedikit pelukannya, menatap dengan memelas ke arah sang suami.


Adit yang melihat wajah manja istrinya tertawa kecil.


"Kasihannya kita ini, pengantin baru yang kelaparan di malam pertama.."


Sebenarnya di kulkas dan di dapur sudah tersedia banyak bahan makanan, yang disiapkan mamanya Adit. Tapi sepertinya untuk malam ini, tidak ada waktu untuk membuat masakan sendiri.


Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan makanan online saja.


Sementara Adit masih memesan makanan lewat ponselnya, Dinda beranjak ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat.


Di saat Dinda tengah menata dua buah cangkir untuk membuat coklat hangat, tiba-tiba Adit sudah berada di belakang tubuhnya, melingkarkan tangan ke pinggangnya, memeluk dengan erat.


"Boleh aku memelukmu seperti ini, sayang?" Masih saja dengan meminta ijin.


"Kamu sudah melakukannya, kenapa sekarang minta ijin.." Jawab Dinda cepat sambil tersenyum bahagia merasakan pelukan hangat suaminya. Seketika ada yang berdesir lembut di hatinya.


"Aku sangat mencintaimu.."


Bisikan disertai hembusan nafas Adit di telinganya, membuat jantungnya berdebar kencang. Dia sudah kehilangan konsentrasi untuk membuat minuman.


Matanya terpejam, nafasnya semakin memburu tak beraturan. Dengan tangan yang bergetar, dia memberanikan diri untuk membalas, memegang tangan Adit yang semakin erat memeluknya dari belakang.


"Sayang, akuu..." Suaranya mulai menyerak.


"Aku mohon diam saja, biarkan tetap seperti ini..."


Suara Adit pun mulai berat dan dia semakin mengencangkan pelukannya seolah ingin menyatukan semua rasa di antara mereka.


Hening, tak ada yang terucap. Hanya deru nafas yang berkejaran terdengar lirih tertahan.


Sepasang pengantin baru itu masih berdiri di sana, dengan posisi yang masih sama, dan perasaan yang juga sama.., tak bisa saling menatap namun saling menikmati...


Ting...Tong....


Tiba-tiba bel pintu berbunyi nyaring.


"Makanan Anda sudah sampai. Selamat menikmati." Sebuah notifikasi di ponsel Adit masuk.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2