
Satu minggu berlalu sejak peristiwa buruk yang terakhir itu.
Hari ini Adit dan Dinda sudah mulai melakukan ativitas kerja mereka seperti biasa. Beberapa hari yang lalu, mereka juga sudah kembali ke rumah mereka sendiri.
Seperti biasa juga, sebelum jam delapan pagi mobil Adit sudah sampai di depan gerai. Dari dalam mobil terlihat rolling door utama sudah terbuka menandakan sudah ada yang lebih dulu datang sebelum mereka tiba.
Dan benar saja, setelah Adit dan Dinda membuka pintu cafe, tampak Rinaya sudah berada di dapur untuk menyiapkan minuman hangat.
"Pagi, Rin." Ucap Adit dan Dinda bersamaan.
"Heii, pagi. Kalian sudah datang."
Rinaya tersenyum sambil menyelesaikan minuman yang dibuatnya.
Kemudian dia membawa tiga cangkir minuman ke meja paling depan.
"Dit, minumlah dulu, sudah aku buatkan. Kamu juga, Din." Rinaya mengajak mereka duduk bersama.
"Terima kasih, Rin." Adit duduk dan segera meminumnya setengah cangkir.
"Mas Andi tidak mampir masuk dulu tadi?" Tanyanya pada Rinaya.
"Tadi mas Andi membantuku membuka rolling door dan pintu cafe, tapi setelah itu dia langsung berangkat ke kantor."
"Ya sudah, aku juga harus segera ke kantor. Aku pamit dulu, Rin."
"Oya, makasih minumannya."
Adit menghabiskan sisa minumannya lalu berdiri mendekati Dinda dan mencium keningnya.
"Tidak usah mengantarku ke depan, sayang. Aku ke kantor dulu ya. Ingat, jangan telat makan siang dan minum obatmu!"
"Kamu juga, sayangku. Jangan kecapekan, lukamu belum sembuh sepenuhnya!" Dinda melepas kepergian Adit dengan senyuman.
Tinggal Dinda dan Rinaya di dalam cafe.
Dinda masuk ke ruangannya untuk meletakkan tas dan ponselnya lalu keluar menuju dapur untuk mempersiapkan peralatan memasak dan beberapa bahan masakan. Sementara Rinaya naik ke lantai teratas untuk membereskan gerainya juga.
Tak lama kemudian para karyawan cafe datang. Mereka tampak sangat senang dengan kedatangan Dinda yang sudah hampir dua minggu tidak berada di cafe. Satu per satu mereka menyalami dan memeluk Dinda dengan hangat.
Setelah itu mereka semua sudah mulai sibuk bekerja, membersihkan cafe dan menyiapkan beberapa menu pagi yang biasa mereka sediakan.
Waktu menunjukkan pukul sembilan saat teriakan seseorang terdengar di pintu masuk.
"Pagiii....! Dindaaa...!!"
"Pagi, Nyonya Farrel." Dinda tersenyum lebar melihat kedatangan Elisa.
Elisa menghampiri Dinda yang mengenakan celemek karena masih membantu karyawannya memasak, dan langsung memeluknya erat-erat.
"Selamat datang di gerai..!"
"Tidak kebalik tuh? Aku yang sampai duluan tapi kamu yang bilang selamat datang."
"Ya kan kamu Din, yang baru datang kembali ke gerai kita setelah sekian lama beristirahat.."
"Udah dong lepasin pelukannya, aku masih pakai celemek dan bau adonan, nanti bajumu kotor terkena tepung."
"Biarin kotor, nanti tinggal minta sama si boss lantai tiga.., hehee.." Elisa melepaskan pelukannya lalu bergegas naik ke gerainya sendiri.
Sepulang dari bulan madunya, Elisa dan Farrel sudah beberapa kali menjenguk Dinda yang waktu itu masih tinggal di rumah orangtua Adit. Bahkan saat baru saja tiba dan mengetahui kabar tentang Dinda, dia langsung pergi menemui sahabatnya itu sambil menangis dan marah-marah karena tidak ada yang memberinya kabar saat Dinda mengalami kecelakaan.
.
.
__ADS_1
.
Sore harinya, Dinda dan Rinaya masih menunggu jemputan masing-masing saat Elisa pamit pulang lebih dulu. Dia masih membawa motornya sendiri setiap hari, karena Farrel pulang kerja jam lima sore. Jadi dia memilih pulang lebih dulu agar bisa menyambut suaminya di rumah.
"Rin, bagaimana hubunganmu dengan mas Andi?"
Tanya Dinda yang dijawab senyuman oleh Rinaya.
"Baik, Din. Seperti yang kamu lihat."
"Kalian serius kan? Aku pengen lihat kalian segera menikah, lho."
Mendengar kata menikah wajah Rinaya menjadi tersipu.
"Doakan ya, Din. Yang pasti mas Andi sudah bertemu orangtuaku dan mereka merestui kami. Tinggal menunggu mas Andi membawaku bertemu Om dan Tantenya. Kamu sudah tahu kan Din, kalau kedua orangtua mas Andi sudah lama meninggal dunia?"
Dinda menganggukkan kepala.
"Iya, Rin. Aku tahu. Adit pernah menceritakannya padaku. Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, juga sangat dewasa menurutku."
"Aku merasa sangat beruntung bisa mendapatkan cinta mas Andi, Rin. Kamu tahu, dia sangat romantis dan aku sangat menyukai semua perhatiannya padaku."
Lagi-lagi wajah Rinaya merona dan terlihat sangat bahagia. Dinda yang melihatnya saja ikut terharu karena sahabatnya itu akhirnya mendapatkan laki-laki sebaik mas Andi. Dia memeluk Rinaya dengan erat.
"Aku sangat bahagia mendengarnya, Rin. Aku akan selalu mendukung dan mendoakan kalian."
"Terima kasih, Din."
Mereka berdua melepaskan pelukannya saat dua mobil yang ditunggu telah datang.
Dua pria tampan keluar bersamaan lalu berjalan mendekat untuk menjemput belahan hati mereka, layaknya adegan film romantis yang diputar secara slow motion.
"Sudah lama menunggu, sayang?"
Sementara Andi hanya menatap Rinaya dengan senyuman penuh cinta.
"Pulang sekarang, Ya?"
Setelah saling berpamitan satu dengan yang lainnya, mereka berpisah dan menuju mobil masing-masing untuk melanjutkan perjalanan.
Di dalam mobil Andi, Rinaya tersenyum mengingat obrolannya dengan Dinda tadi.
"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu, Ya?"
Andi sekilas menatapnya, lalu kembali fokus dengan kemudinya.
"Bukan apa-apa, mas. Tadi aku dan Dinda sempat ngobrol, berbicara tentang hubungan kita."
"Hubungan kita?"
"Iya, mas. Dinda juga membahas tentang pernikahan kita."
Rinaya menjawab dengan malu-malu.
"Pernikahan?" Andi tersenyum.
"Apa kamu sudah menginginkannya, Ya?"
Rinaya mendadak salah tingkah sendiri. Hatinya berdebar-debar mendengar pertanyaan Andi.
"Mme--menginginkan apa, mas?"
"Pernikahan, Ya."
Rinaya tidak tahu harus menjawab apa. Wajahnya bersemu merah dan terlihat gugup. Pandangannya berpindah ke luar jendela.
__ADS_1
"Ak--Akuu terserah mas Andi saja.."
Lampu merah di persimpangan menghentikan mobil Andi. Dia memanfaatkan waktu untuk bisa menatap Rinaya lebih lama. Dia tersenyum memandangi wajah Rinaya yang memerah menahan malu.
"Jadi kamu siap jika aku ingin kita segera menikah?"
Rinaya diam tidak menjawab. Dia tidak tahu Andi bertanya serius atau sekedar bercanda. Sementara Andi masih terus menatapnya hingga mobil kembali melaju.
Sampai di depan rumah Rinaya, Andi menahan tangan kekasihnya agar tidak turun dulu. Dia kembali menatap lembut wajah Rinaya. Sesaat tidak ada suara di antara mereka.
"Ya.."
Rinaya memberanikan diri untuk membalas tatapan lembut Andi. Namun dia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Dadanya berdebar semakin kencang.
"Aku sungguh-sungguh dengan pertanyaanku tadi, Ya."
"Kapan pun kamu siap, katakan padaku. Aku akan menemui orangtuamu. Aku ingin kita segera menikah."
Rinaya merasakan ada yang menggenang di pelupuk matanya. Dan saat dia berkedip, butiran-butiran bening itu pun menetes jatuh di kedua pipinya.
"Terima kasih, mas."
"Terima kasih untuk apa, Ya?"
"Kesungguhanmu membuatku terharu, mas. Tidak menyangka secepat ini kita bisa sampai pada titik ini. Terima kasih selalu membuatku bahagia hingga detik ini."
Andi menggenggam lembut jemari tangan Rinaya.
"Tetaplah bersamaku, Ya. Agar aku bisa memberimu kebahagiaan itu setiap waktu."
Rinaya menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, mas."
"Iya? Kamu menjawabku, Ya? Pertanyaan itu?"
"Iya, mas. Insyaallah aku sudah siap."
Andi tersenyum lebar. Aura bahagia terpancar di seluruh wajahnya. Rinaya pun sama. Hatinya diselimuti kebahagiaan.
"Terima kasih, Ya. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, mas."
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..πππ
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
.
Novel baru kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Semoga berkenanπππ
__ADS_1