Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
61 KERIKIL KECIL


__ADS_3

Setelah beberapa lama akhirnya tangisan Rinaya mulai mereda. Hatinya kembali tenang walaupun masih merasakan kekhawatiran.


"Maafkan aku mas, sudah membuat pagi kita menjadi kacau seperti ini."


Rinaya melepaskan pelukannya. Tanpa sadar tadi dia memeluk tubuh Andi sangat erat dan kuat sekali. Dia melihat kemeja yang dikenakan calon suaminya itu menjadi kusut dan basah oleh airmatanya.


"Bajumu, mas.."


Andi mengamati kemejanya sendiri kemudian tersenyum menatap wajah calon istrinya.


"Wajahmu juga kusut, Ya. Sama seperti kemejaku. Matamu juga masih merah dan sembab."


Tangan Andi menyentuh pipi Rinaya dan membersihkan sisa airmata di wajah cantiknya. Setelah itu, dia mencium kening Rinaya dengan sangat lembut.


"Aku mencintaimu, Ya. Jangan pernah meragukanku. Apapun yang terjadi, kamulah satu-satunya wanita terbaik yang sangat aku cintai dan akan segera aku nikahi."


Rinaya menganggukkan kepala dan mencoba untuk tersenyum. Sejujurnya ini adalah pertama kali baginya merasakan cemburu. Cemburu kepada wanita lain yang mendekati lelaki yang dicintainya.


Andi memang bukan cinta pertamanya. Tapi dia adalah cinta terbaik dan terakhirnya, tempat di mana dia akan menyerahkan seluruh hati, jiwa dan kehidupannya hanya untuk Andi.


"Maafkan aku, mas. Aku hanya belum terbiasa untuk menghadapi situasi seperti tadi. Kita sama-sama punya masa lalu. Tidak seharusnya aku cemburu ataupun sakit hati dengan masa lalumu."


Andi bisa memahami sikap Rinaya saat bertemu Audi tadi. Audi memang bersikap terlalu berlebihan kepada dirinya. Wajar saja apabila kekasihnya merasa tidak suka dan cemburu.


"Aku juga akan merasakan hal yang sama jika dirimu bertemu dengan pria lain. Jangankan bertemu, jika kamu melirik pria lain pun aku pasti akan cemburu. Karena hanya aku yang akan menjadi milikmu, bukan orang lain."


"Dan hanya akulah satu-satunya yang akan menjadi milikmu, mas. Tidak akan kubiarkan hatimu yang begitu luar biasa itu menjadi milik orang lain. Aku sangat mencintaimu, mas"


Entah muncul dari mana keberanian itu, di akhir kalimatnya tiba-tiba Rinaya mencium pipi Andi dengan cepat namun terasa sangat lembut bagi Andi yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Ya, kau menciumku.."


Seketika Rinaya menunduk malu dengan pipi merona. Sementara Andi masih memegang bagian pipinya yang baru saja mendapatkan ciuman hangat dari sang kekasih.


"Aku minta maaf, mas.."


"Tidak apa-apa, sayang. Aku tidak keberatan bahkan jika kamu melakukannya lagi."


Rinaya semakin tersipu mendengar Andi memanggilnya dengan sebutan sayang. Terdengar begitu romantis di telinganya.


Tangan Andi terulur meraih tangan Rinaya dan menggenggamnya. Satu tangannya yang lain menyentuh dagu wanitanya agar menatap ke arahnya.


"Dengarkan aku, Ya. Kita menjalani hubungan kita dengan landasan cinta, kasih sayang dan kepercayaan satu sama lain. Karenanya kita harus selalu terbuka dalam segala hal. Jangan menyembunyikan apapun lagi. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama."


Rinaya masih memaku pandangannya pada wajah menawan di hadapannya. Wajah lelaki yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya. Rasanya tak sabar lagi menunggu hari itu tiba.


"Iya, mas."


"Baiklah, aku antar kamu ke gerai sekarang. Rapikan penampilanmu. Aku tak mau mereka nanti mengira aku telah melakukan sesuatu padamu."


Andi turut merapikan kemejanya sambil terus menggoda calon istrinya.

__ADS_1


"Kamu memang telah melakukan hal buruk padaku, mas." Balas Rinaya.


"Aku? Apa yang sudah aku lakukan?"


"Kamu membuatku cemburu, mas."


Mereka berdua pun tertawa bersama dengan bahagia. Andi mengusap kepala Rinaya dengan lembut sebelum menyalakan kembali mesin mobil dan melajukan di tengah keramaian jalan raya.


.


.


.


Jam makan siang telah berlalu setengah waktu. Andi baru sempat menyentuh makan siang yang dipesannya. Hari ini Adit makan siang di gerai, sementara dia harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena tadi pagi datang terlambat. Jadilah dia menikmati makan siang sendirian di ruangannya.


Sebelum mulai menikmati makanannya, Andi sudah mengirim pesan kepada Rinaya jika dirinya akan sedikit terlambat menjemputnya nanti sore.


Baru beberapa sendok makanan masuk ke mulutnya, terdengar bunyi panggilan di ponselnya. Andi meletakkan sendoknya lalu meraih ponsel yang dia letakkan di ujung meja.


Dilihatnya nomor yang tertera di layar, tanpa nama, menandakan nomor baru yang belum disimpannya.


"Halo.." Jawabnya setelah menggeser tombol hijau.


"Halo, mas. Ini aku, Audi." Balas seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Audi.


Andi menghela nafas malasnya, namun tetap membalas ucapan Audi.


"Bisakah kita bertemu sebentar, mas? Aku ada di depan kantormu."


Sontak Andi menegakkan duduknya begitu mendengar perkataan Audi bahwa saat ini dia ada di depan kantornya. Nafasnya seketika menjadi berat dan menahan ketidaksukaannya atas sikap Audi.


"Mas Andi, kamu mendengarku?"


"Pergilah. Pekerjaanku masih banyak dan tidak bisa kutinggalkan."


"Tapi mas, aku ingin bicara sesuatu hal yang penting tentang kita."


Andi berpikir keras. Mengingat kejadian tadi pagi yang sudah membuat Rinaya cemburu, rasanya tidak mungkin dia menemui Audi lagi. Tapi melihat sikap Audi yang terlihat masih mencoba mendekatinya, Andi harus menentukan sikap dan mengambil keputusan yang tepat.


"Temui aku jam lima sore nanti di cafe Gerai Bertiga. Kesempatanmu hanya sekali ini saja."


Tanpa menunggu jawaban dari suara di seberang, Andi langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja seperti semula. Selera makannya hilang begitu saja setelah menerima telepon dari Audi.


.


.


.


Andi menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Akhirnya tepat jam empat sore, dia sudah bisa keluar dari ruangannya dan bergegas tancap gas mobil menuju gerai.

__ADS_1


Sesampainya di gerai, dia berpapasan dan sesaat menyapa Adit dan Dinda di halaman. Mereka berdua sudah akan masuk ke dalam mobil. Kemudian Andi memasuki gerai dan menaiki tangga. Sampai di lantai dua, dia juga menyapa Elisa yang hendak turun pulang sendiri dengan motor kesayangannya.


Setelah sampai di lantai tiga, Andi segera menghampiri sang kekasih di ruangannya. Rinaya terkejut dengan kedatangan Andi yang tepat waktu, padahal tadi dia mengatakan akan terlambat menjemputnya.


"Mas, kok sudah datang?"


Andi memeluk tubuh calon istrinya sebentar lalu memberikan ciuman hangat di kepalanya.


"Aku harus menemui Audi, agar dia tidak lagi mengganggu kita, Ya."


Sebelum Rinaya berubah sikap dan melontarkan pertanyaan tentang Audi, Andi sudah menceritakan semuanya tentang telepon dari Audi dan keinginannya untuk bertemu. Karena itulah, untuk menghindari kesalahpahaman Rinaya, Andi meminta Audi menemuinya di cafe gerai.


"Aku harus menemuinya dan menjelaskan semuanya, agar dia tidak mengganggu aku maupun kamu, Ya. Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Karena kamu sudah menceritakannya, maka aku akan percaya penuh padamu, mas."


Andi tersenyum mendengar jawaban wanita cantik yang kini duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih, Ya. Aku pastikan setelah ini dia tidak akan mengganggu kita lagi. Jadi anggap saja saat ini sedang ada kerikil kecil yang mengganggu langkah kebahagiaan kita. Dan kerikil kecil itu akan kita singkirkan bersama-sama."


"Iya, mas. Aku percaya padamu."


Rinaya membenamkan wajahnya di dada Andi. Walaupun ada sedikit ketakutan di hatinya, tapi dia percaya calon suaminya pasti bisa mengatasi masalahnya dengan Audi.


Andi membalas sikap manja Rinaya dengan mempererat pelukannya dengan kedua tangannya.


"Aku mencintaimu, calon istriku."


"Aku juga mencintaimu, calon imamku."


.


.


.


Novel kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..


Author


.

__ADS_1



__ADS_2