
Pagi harinya, Adit sudah bangun terlebih dahulu. Melihat waktu masih sangat pagi dan Dinda masih terlelap, dia menyempatkan diri untuk segera mandi kemudian melaksanakan sholat Subuh.
Selesai menunaikan kewajibannya, dilihatnya Dinda sudah bangun dengan wajah pucat pasi.
"Sayang, kamu sudah bangun. Apa kamu merasakan sakit lagi? Di sebelah mana?"
Adit yang terkejut melihat wajah istrinya pucat segera mendekat dan membantunya duduk setelah itu mengambilkan segelas air putih. Dinda meminumnya dengan cepat untuk melegakan dadanya.
"Aku bermimpi kejadian kemarin, sayang. Aku sangat takut kalau itu akan terjadi lagi." Dinda memeluk erat tubuh Adit. Keringat dingin masih membasahi wajah dan tubuhnya.
"Ssttt.., tidak apa-apa, sayang. Berdoa saja, semuanya pasti akan baik-baik saja." Adit mencium kening istrinya dengan lembut dan sangat lama, agar Dinda kembali tenang.
"Kamu mandi dulu, ya. Biar tubuhmu bersih dan segar." Adit melepaskan pelukannya lalu mengunci pintu kamar. Dia menyiapkan air hangat dan washlap di baskom yang sudah disiapkan perawat saat Subuh tadi dan membawanya ke samping tempat tidur.
Pelan-pelan dia membantu melepaskan pakaian istrinya satu per satu. Menggulung dan mengikat ulang rambut Dinda agar tidak terurai ke mana-mana, lalu mulai membersihkan wajah dan leher istrinya yang penuh keringat tadi. Kemudian perlahan mengeringkannya dengan handuk. Dia sangat hati-hati karena di bagian samping kepala Dinda tepat di samping pelipis kanannya ada luka jahitan operasi yang masih tertutup perban.
Dinda diam menatap Adit yang sangat telaten dan perhatian dalam mengurusnya. Usapan suaminya berpindah ke kedua tangan Dinda. Membersihkannya bergantian dari bahu hingga jari-jemarinya, kemudian mengeringkannya.
Setelah itu, dia mulai membersihkan punggung istrinya yang terbuka tanpa penutup apa pun. Meskipun harus menahan hasratnya yang sedari tadi bergejolak, Adit tetap tenang mengusap dan membersihkan seluruh punggung istrinya. Dia hanya sedikit melamun hingga terlalu lama membersihkan punggung Dinda.
"Sayang, kamu kenapa.?" Dinda memanggil suaminya dengan suara pelan. Kepalanya menoleh ke samping ke arah Adit yang masih mengeringkan punggungnya.
"Aku tidak apa-apa?" Adit pura-pura tidak mengetahui maksud Dinda. Tangannya bersiap untuk membersihkan tubuh bagian depan istrinya, daerah yang paling menggoda hasratnya. Pikirannya tetap berusaha fokus.
Dinda menarik tangan Adit dalam genggamannya. Lalu satu tangannya dia letakkan di atas dada suaminya. Dia bisa merasakan debaran keras di dada Adit, juga nafasnya yang begitu memburu.
"Aku bisa merasakannya di sini..." Dinda menepuk pelan dada suaminya. Adit tetap mengelak dan mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sedang sakit, sayang. Aku hanya memikirkan kesembuhanmu, itu yang paling penting untukku saat ini." Lelaki itu tersenyum mengusap kepala Dinda.
Dinda meminta suaminya mendekatkan kepalanya, lalu mencium bibir Adit dengan sangat lembut. Adit menahan diri untuk tidak membalasnya.
"Sayang, kamu masih lemah. Jangan bertingkah macam-macam." Adit mengalihkan pandangannya dari bibir Dinda. Dia mulai membersihkan tubuh bagian depan istrinya.
__ADS_1
Dengan susah-payah menahan hasratnya, dia mengusap bagian dada Dinda satu per satu, lalu turun ke perutnya. Dia ingin segera menyelesaikan tugasnya membersihkan tubuh sang istri.
Adit mencium kening istrinya dengan sangat lembut.
"Cepatlah sembuh agar kita bisa segera pulang!"
Dinda tersenyum dengan satu tangannya mengusap pipi sang suami.
"Iya, Sayang. Terima kasih sudah menjaga dan merawatku setulus ini."
Adit hanya tersenyum lalu mengambil handuk yang tadi menutupi tubuh belakang Dinda. Kemudian segera memakaikan baju ganti untuk istrinya.
"Sayang, bisakah kamu membantuku mengganti pembalutku..?" Dinda bertanya dengan menahan malu.
Adit tersenyum lagi saat melihat wajah malu istrinya.
"Aku ini suami siaga, sayang. Apapun akan aku lakukan untukmu."
Adit terlebih dahulu membantu Dinda berbaring, kemudian dia mulai membersihkan kaki dan bagian intim istrinya tanpa rasa jijik sama sekali. Setelah semuanya bersih dan kering, dia memakaikan ****** ***** berikut pembalutnya hingga terpakai sempurna dan nyaman untuk Dinda. Tak lupa dia menurunkan dress longgar yang dipakai istrinya hingga menutupi lututnya, terakhir dia menyelimuti Dinda hingga sebatas pinggangnya.
Adit membuka kunci pintu sebelum pergi ke kamar mandi. Di atas tempat tidur, Dinda melihat Adit dengan senyumannya. Dia bangga dan bersyukur memiliki seorang suami yang sangat pengertian seperti Adit. Perlahan-lahan dia memejamkan matanya untuk beristirahat kembali.
.
.
.
Jam delapan pagi, orangtua Adit dan Dinda sudah sampai di rumah sakit. Mereka membawa sarapan untuk Adit juga beberapa macam kue untuk persediaan di rumah sakit.
"Kamu sudah baikan, sayang?" Bunda mendekati Dinda yang masih berbaring sehabis sarapan dan minum obat tadi.
"Alhamdulillah, Bunda. Semuanya baik-baik saja. Badan Dinda juga sudah lebih kuat dan segar."
__ADS_1
"Jika pikiranmu tenang dan hatimu senang, pasti kamu akan cepat sembuh dan segera pulang." Mama Indri menatap menantu kesayangannya dengan penuh kasih.
"Iya, Ma. Dinda tidak betah di rumah sakit. Dinda ingin cepat pulang saja." Jawab Dinda sambil memakan satu kue yang dibawakan orangtuanya.
Sementara itu, di luar kamar, Adit berbincang dengan Papa dan Ayah membahas kejadian kemarin.
"Bagaimana, Pa. Apakah sudah ada hasilnya?"
Papa menghela nafas panjang.
"Belum. Sampai tadi malam polisi belum bisa menemukan Sinta dan belum bisa melacak keberadaannya. Entah dia sedang bersembunyi di mana saat ini.."
"Bukti yang terkumpul sudah lebih dari cukup untuk memproses kasus ini ke ranah hukum. Namun karena riwayat kesehatan mental Sinta, polisi juga harus melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap Sinta."
"Nantinya, hasil pemeriksaan itu yang akan menentukan apakah Sinta bisa dipolisikan atau tidak. Karena jika hasil pemeriksaan kesehatannya masih menunjukkan gejala gangguan kejiwaan, status hukumnya akan gugur dan dia akan dikembalikan ke rumah sakit jiwa untuk kembali menjalani perawatan."
Adit mengusap wajahnya dan bernafas dengan berat.
"Apapun hasilnya, aku hanya ingin keberadaan Sinta segera diketahui. Aku belum bisa tenang kalau dia belum diketemukan. Aku tidak mau dia mengganggu aku dan Dinda lagi."
Adit masih takut jika sewaktu-waktu Sinta akan datang lagi dan membahayakan dirinya dan Dinda dengan lebih nekat lagi.
.
.
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
__ADS_1
Salam cinta dari kami..
Author