Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
27 GERAI BERTIGA : RED CARPET


__ADS_3

Sejak pagi, Dinda bersama dua sahabatnya, Elisa dan Rinaya, sudah sibuk di sebuah ruko berlantai tiga. Ruko tersebut terletak di jalan protokol yang paling padat di kota ini. Di sepanjang jalan itu terdapat banyak gedung perkantoran, beberapa sekolah terbaik dan favorit, juga ada satu universitas negeri.


Sementara di perumahan belakang gedung-gedung sepanjang jalan itu juga terdapat banyak kost-kostan dan homestay yang dihuni oleh para mahasiswa dan pegawai kantoran di sekitar wilayah tersebut.


Di depan ruko yang ditempati tiga sahabat itu, tepatnya di seberang jalannya, ada taman kota yang asri ditumbuhi pepohonan hijau yang teduh dan dilengkapi dengan fasilitas umum seperti arena bermain anak, area bersepeda, deretan warung kaki lima dan juga tempat ibadah.


Di bagian depan ruko yaitu di dinding luar lantai dua yang menghadap ke arah jalan, terpasang neon box berukuran cukup besar yang bertuliskan GERAI BERTIGA : RED CARPET dengan dominasi warna merah berpadu dengan warna hitam dan putih.


Inilah tempat usaha baru yang didirikan oleh Dinda, Elisa dan Rinaya. Nama itu merujuk dari persahabatan mereka bertiga, ditambah dengan inisial nama mereka bertiga yaitu RED (Rinaya Elisa Dinda).


Konsep usaha mereka adalah one stop shopping di mana masing-masing lantai terdapat usaha yang berbeda sesuai passion mereka. Sesuai namanya, mereka sepakat untuk memasang karpet warna merah di pintu masuk dan pintu keluar setiap lantai.


Lantai pertama atau lantai dasar berupa cafe sederhana yang menyajikan menu kekinian khas tongkrongan anak muda jaman now. Lantai pertama ini dikomandoi oleh Dinda yang memang memiliki hobby di bidang masak-memasak. Cafe sengaja mereka pilih di lantai pertama, sehingga ruangannya bisa diperluas sampai ke teras depan.


Lantai kedua menyediakan aneka ragam asesoris pelengkap fashion berupa tas, sepatu, topi, perhiasan, scarf dan pernak-pernik lainnya. Lantai dua dimonitoring oleh Elisa yang pembawaannya lebih terbuka, ceria dan ramah, walau kadang ramahnya kebablasan alias ceplas-ceplos.


Lantai tiga yang paling atas bertema fashion yang memajang beragam model pakaian terbaru yang diminati kalangan remaja dan anak muda. Lantai tiga dipegang kendalinya oleh Rinaya yang feminin, anggun dan fashionable.


Masing-masing lantai dibantu oleh dua karyawan, kecuali untuk cafe yang dibantu tiga karyawan.


Ruko yang mereka pakai memang tidak terlalu luas namun tetap leluasa dan terasa nyaman untuk para pembeli yang datang.


Hari ini tepat satu minggu Gerai Bertiga buka. Mereka bersyukur, sejak hari pertama, gerai tidak pernah sepi pengunjung di setiap lantai. Selain karena harga yang terjangkau, lokasi ruko yang sangat strategis juga menjadi daya tarik gerai mereka.


Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Seperti biasa, Adit yang baru pulang dari kantornya sudah sampai di gerai untuk menjemput Dinda.

__ADS_1


"Sore, Pak Boss." Sapa Elisa yang kebetulan tengah berada di teras cafe, menyeruput segelas juice di tangannya.


"Sore, Sa. Tumben di bawah?"


"Hauusss." Jawab Elisa sambil memanyunkan mulutnya membuat Adit tertawa melihat wajah lucunya.


Adit meneruskan langkahnya masuk ke dalam cafe. Menuju ruangan di bagian belakang cafe.


"Masih sibuk, sayang?" Adit langsung menghampiri Dinda yang masih memeriksa lembaran-lembaran kertas di mejanya. Seperti biasa dia mencium kening istrinya, kemudian berdiri di sisi tempat duduk istrinya, merangkulkan satu tangannya di bahu Dinda.


"Sudah selesai kok, ini hanya mengecek daftar bahan yang harus dibeli besok karena sudah menipis stoknya." Tak lama kemudian dia membereskan semuanya dengan rapi di atas meja lalu meraih tasnya dan berdiri di samping Adit, memberikan kecupan di pipinya serta melingkarkan tangannya di pinggang Adit.


"Uhukk..uhuukkk..." Terdengar suara batuk cantik yang sangat jelas dibuat-buat dari arah pintu.


"Kami yang mesra mengapa kamu yang malu begitu, Rin.." Ucap Adit tenang seolah tak terjadi apa-apa.


"Harap maklum dia kan jomblo level akut.., malah disuguhi yang beginian tiap hari.." Tiba-tiba Elisa sudah memeluk Rinaya dari belakang, menggodanya dengan mencium pipi Rinaya.


Sontak Rinaya menjauh dari Elisa. Menekan pelan kening Elisa dengan dua jarinya.


"Dasar jail usil.."


"Kalian ngapain ke sini, mau ada rapat atau demo?" Tanya Dinda yang sudah melepaskan tangannya dari tubuh Adit.


"Nonton demo. Demo cinta." Ceplos Elisa polos. Lalu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Aku mau balik ke atas lah, tapi lihat ada dia di depan pintu sini, akunya jadi ikutan kemari.." Jawab Elisa menunjuk ujung hidung Rinaya.


"Aku cuma mau nengok apa kamu sudah pulang, Din. Eh ternyata masih asik di sini bersama pak suami.." Rinaya juga menjawab.


"Ini sudah mau pulang. Tadi aku menyiapkan daftar belanjaan cafe dulu. Takut kehabisan stok." Dinda menggandeng tangan Adit, mengajaknya untuk segera keluar dari ruangan.


"Kalian tidak mau pulang juga?" Tanya Adit.


"Biasanya juga kalian yang pulang duluan, pakai nanya lagi.." Sungut Elisa.


"Udaahhh sana pulang, lanjutin yang tadi di rumah kalian..!! Jangan buat kami jadi penonton di sini.." Rinaya menimpali jawaban Elisa.


Dinda dan Adit tertawa diikuti Elisa dan Rinaya. Mereka memang selalu riang dan kocak jika sudah bersama-sama.


"Oke, kami duluan ya. Sampai jumpa besok.. Daaa..." Dinda melambaikan tangan kepada dua sahabatnya.


"Dadaaa Adit.., mmuaahhh.." Elisa yang membalas dengan mulut dimajukan seakan minta dicium.


"Heyyy..., jangan berani godain suami orang ya..!! Buruan tuh nikah sama Farrel biar ada yang digoda dan digandeng tiap hari..!" Seru Dinda yang melihat Elisa sudah berlari kecil menaiki tangga menuju lantai dua.


"Truk kali ah, gandengan.." Balas Elisa di pertengahan tangga, sementara Rinaya tetap kalem berjalan menyusul Elisa dengan senyumnya.


Adit dan Dinda pun keluar dari cafe, setelah berpamitan kepada ketiga karyawannya.


Setiap hari Adit memang selalu mengantarkan dan menjemput Dinda ke gerai. Mereka selalu pergi bersama karena kantor Adit juga berada di jalan protokol yang sama. Hanya berselang lima belas menit dari Gerai Bertiga.

__ADS_1


__ADS_2