Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
33 KEKUATAN CINTA


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Elisa membawa kabar bahagia untuk semua penghuni Gerai Bertiga.


"Sa, ini beneran...?!?" Dinda membolak-balik dan membuka plastik undangan di tangannya.


"Minggu depan..?? Sa, kamu tidak sedang main-main kan?!?" Rinaya ikut membuka undangan yang diterimanya dan membaca kata per kata di dalamnya dengan seksama.


Elisa melebarkan senyumnya, memperhatikan kedua sahabatnya yang masih tidak percaya dengan kabar yang dia sampaikan.


"Selama ini kalian sering bertanya kapan dan kapan tiada henti. Sekarang, setelah aku pastikan waktunya kalian malah tidak percaya. Nyesel aku tuh ngasih tahu kalian.." Elisa pura-pura sedih dan memasang muka murung di depan Dinda dan Rinaya. Kedua tanganya terlipat di depan dadanya seakan jengah.


Tingkahnya membuahkan hasil. Dinda dan Rinaya segera menghampiri dan memeluknya dari sisi kiri dan kanannya.


Cukup lama mereka bertiga berpelukan, hingga mulai terdengar isak tangis lirih bersahutan di antara mereka.


"Kamu jahat, Sa. Kenapa kami tidak diberitahu sebelumnya..? Kamu anggap kami cuma tamu undangan biasa..?!" Dinda masih kesal karena tidak dilibatkan sama sekali dalam persiapan pernikahan sahabatnya sendiri.


Rinaya yang lebih tenang, hanya diam menatap Elisa. Dia juga kecewa dengan sikap Elisa, tapi mau apa lagi, semua sudah terjadi.


Elisa masih diam. Dia tahu dia salah karena menyembunyikan semuanya dari sahabatnya sendiri. Tapi ini adalah resikonya. Tidak ada yang tahu bagaimana perjuangannya bersama Farrel untuk bisa mewujudkan pernikahan mereka.


"Aku minta maaf. Bukan maksudku menyembunyikan semua ini. Tapi, situasi dan kondisi kami kemarin memang belum memungkinkan untuk mengatakannya."


"Tapi aku janji akan kuceritakan semuanya kepada kalian nanti, oke bebs..!" Bujuk Elisa lalu mencium kedua sahabatnya bergantian.


.


.


.


Enam minggu sebelumnya, Elisa dan Farrel sudah mendaftarkan rencana pernikahan mereka ke KUA. Semua persyaratan sudah mereka lengkapi. Hanya waktu pernikahannya saja yang belum mereka pastikan karena mereka masih menunggu restu dari kedua orang tua mereka. Pihak KUA hanya mengingatkan agar tidak terlalu lama memberikan kepastian waktunya.


Kedua orang tua mereka memang belum memberikan restu untuk menikah, meski hubungan mereka sudah berjalan tiga tahun.


Ayah Farrel masih memaksa Farrel untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2. Tapi Farrel tidak mau karena dia memilih untuk langsung bekerja dan mandiri.


Sementara Papa Elisa, belum mengijinkan putri bungsunya itu menikah karena kakak perempuannya belum menikah. Hanya itu yang masih memberatkan hati beliau.


Satu tahun hubungan mereka, semua berjalan dengan baik. Kedua keluarga juga sudah mengetahui hubungan mereka, namun belum memikirkan hal yang lebih jauh lagi karena Elisa dan Farrel pun masih fokus kuliah. Belum serius memikirkan kelanjutan hubungan mereka.


Tahun kedua, Farrel mulai membicarakan rencana pernikahan. Dia sudah merasa siap dan mantap dengan hubungannya bersama Elisa. Namun Elisa belum berani melangkah karena kakaknya belum menikah bahkan belum mempunyai pasangan atau calon suami.


Sampai tiga tahun hubungan mereka terjalin, mereka mencoba untuk menyampaikan tentang rencana pernikahan itu kepada orang tua masing-masing.

__ADS_1


Dan terjadilah pertentangan itu.


Beberapa kali Farrel mencoba meyakinkan ayahnya, bahwa keinginan untuk bekerja dan segera menikah adalah pilihan hatinya yang sudah benar-benar mantap.


Elisa sendiri juga berusaha meminta pengertian dan ijin dari papa dan kakaknya agar diijinkan menikah terlebih dahulu.


Restu dari ayah Farrel akhirnya mereka dapatkan, tepat setelah mereka mendaftarkan pernikahan. Ayah Farrel merestui pernikahan mereka setelah Farrel menerima syarat yang diajukan sang ayah, yaitu Farrel akan tetap mengambil studi S2 nya meskipun dia sudah bekerja.


Ujian yang paling berat bagi mereka adalah mendapatkan restu dari kakak Elisa. Tiga bulan sudah mereka berusaha memohon, namun sang kakak masih sulit merelakan dirinya dilangkahi oleh adik satu-satunya.


Tidak bisa dipungkiri, seorang perempuan akan lebih sensitif untuk masalah hati. Apalagi masalah pernikahan, kakak Elisa merasa dia kalah dari adiknya.


Berkali-kali Elisa memohon maaf dan meminta ijin kepada Erina kakaknya, namun sang kakak masih bersikeras tidak ingin didahului adiknya.


Hingga akhirnya malam itu, Elisa kembali mengajak kakaknya berbicara berdua, dari hati ke hati.


"Kak Na, kakak tahu pasti aku sangat menyayangi kak Na. Dari kecil kita selalu bersama, kak Na yang selalu menjaga dan melindungiku. Kak Na adalah kakak terbaikku." Elisa memulai pembicaraan mereka.


"Kak, jodoh itu misteri, tidak ada yang tahu kapan datangnya. Ada yang sudah ada di depan mata, ada pula yang datangnya menunggu waktu terbaik. Demikian juga dengan jodoh untuk kak Na, mungkin tidak sekarang, tapi nanti kak. Dan itu adalah rahasia Allah, bukan kehendak manusia."


Erina masih mendengarkan Elisa tanpa berucap maupun bergeming. Hanya diam, menatap ke sembarang arah.


"Aku menikah lebih dulu, bukan berarti aku tidak menghormati kak Na. Selamanya kak Na tetaplah kakakku. Semua akan tetap sama seperti adanya selama ini."


"Aku dan Farrel tidak ingin hubungan kami menimbulkan banyak fitnah kak. Kami sudah bersama cukup lama. Banyak yang sudah membicarakan kami, menanyakan tentang hubungan kami, bahkan ada yang sudah menyimpulkan sendiri tanpa tahu kebenarannya dari kami."


Pelupuk Elisa mulai menggenang. Dilihatnya mata sang kakak juga mulai berair.


"Sekali lagi aku memohon kepada kak Na, meminta ijin dari kak Na, agar aku bisa segera menikah dengan Farrel. Tolong restui kami, kak." Pinta Elisa dengan sungguh-sungguh.


Dia mengambil dua buah kotak besar di samping tempat duduknya. Diambilnya satu per satu dan diletakkan tepat di hadapan Erina.


"Kak, di dalam kotak-kotak ini, terdapat barang yang sama, tidak ada yang berbeda. Aku hanya ingin kakak tahu, selamanya kita juga akan seperti itu. Sama dan tidak akan ada yang berbeda atau berubah. Sekarang atau pun selamanya nanti. Di mana pun aku berada, dengan siapa pun aku akan tinggal, hati kita akan tetap bersama, kak."


Elisa lalu melangkah pergi, keluar dari kamar kakaknya. Di balik pintu, dia menumpahkan tangisannya, melepaskan semua beban di hatinya.


Sekarang dia hanya bisa berharap, kakaknya akan memahami semua yang telah disampaikannya tadi. Dia hanya bisa menunggu keputusan dari Erina.


Setelah Elisa keluar, Erina menatap kedua kotak di hadapannya. Dua buah kotak berwarna pink dan berwarna merah. Perlahan dia membuka tutupnya satu per satu dan melihat isi di dalamnya. Seketika tangisnya pun tumpah, air mata langsung membasahi seluruh wajahnya.


Di dalam kotak yang berbeda itu, terdapat barang-barang yang sama, hanya berbeda warna saja. Barang di satu kotak berwarna pink yaitu warna kesukaan Erina. Dan barang di kotak yang lain berwarna merah, warna favorit Elisa.


Barang-barang itu adalah kenangan masa kecil mereka berdua. Ada jepit rambut, boneka, bantal kecil, dan beberapa mainan yang masih tersimpan sampai saat ini.

__ADS_1


Dulu, mama selalu membelikan barang yang sama untuk Erina dan Elisa, hanya berbeda warna dan berbeda ukuran. Hingga mereka beranjak remaja, mereka baru melepaskan kebiasaan itu.


Di antara barang-barang kenangan itu, ada satu barang baru yang menarik perhatian Erina. Sebuah piyama set dewasa dengan motif kartun minnie mouse kesayangan mereka berdua, warnanya pink dan merah.


Erina masih terisak memandangi barang-barang itu. Di dalam hatinya dia sudah bisa memahami maksud dari semua kata-kata adiknya. Juga tentang barang-barang yang kini ada di hadapannya.


Dia bukannya tidak ingin Elisa bahagia. Dia juga bukannya iri kepada Elisa. Sesungguhnya dia hanya takut kehilangan adiknya. Takut kehilangan kebersamaan mereka selama ini. Jika Elisa sudah tinggal bersama suaminya, dia akan sendiri di rumah, tidak ada lagi waktu berbagi dan bersama dengan adiknya.


Tapi setelah melihat semua barang kenangan mereka, Erina mengerti, semua yang dia rasakan akan dirasakan juga oleh Elisa.


Seandainya dia yang akan menikah lebih dulu, bukankah Elisa juga akan merasakan ketakutan yang sama seperti yang dirasakannya saat ini..?!?


Hatinya mulai tenang. Pikirannya kembali jernih. Satu per satu ketakutan itu dia lepaskan. Dia harus ikhlas demi kebahagiaan adiknya.


Diambilnya piyama set berwarna pink dari dalam kotak, lalu dibawanya ke kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi mengenakan piyama set tersebut.


Dia merapikan kembali semua barang yang ada di dalam kotak yang berwarna merah. Setelah itu dia membawanya pergi ke kamar Elisa yang berada di samping kamarnya.


Pintu kamar Elisa terbuka. Terlihat oleh Erina, adiknya tengah duduk di tepi tempat tidurnya.


"Boleh kakak masuk?" Ucap Erina pelan.


Elisa mengangkat kepala, melihat ke arah pintu kamarnya. Dilihatnya sang kakak berdiri di sana, mengenakan piyama set warna pink pemberiannya, juga membawa kotak berwarna merah di tangannya.


Erina tersenyum menatap mata Elisa yang sama sembabnya dengan dirinya. Lalu dia berjalan masuk dan meletakkan kotak merah yang dibawanya di samping Elisa.


"Kak Na ingin tidur bersama adik kesayangan kak Na, sebelum dia dibawa pergi meninggalkan rumah ini oleh suaminya nanti.."


Elisa membulatkan matanya, tak percaya dengan ucapan kakaknya.


"Kak Na..., benarkah yang dikatakan Kak Na barusan..?!?"


Erina menganggukkan kepalanya dengan pasti.


Elisa menghambur ke pelukan kakaknya. Mereka pun berpelukan sangat erat dan lama.


"Terima kasih kak Na. Terima kasih..!!"


Hanya itu yang bisa diucapkan Elisa. Selebihnya, mereka berdua kembali larut dalam tangis kebahagiaan.


Pada akhirnya, cinta akan menemukan jalannya sendiri.


Meskipun harus berliku pada perjalanannya, namun kekuatan cinta lah yang memudahkan semuanya terlalui.

__ADS_1


__ADS_2