Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
23 SAMA-SAMA MENCINTAINYA


__ADS_3

"Anda yang berhasil memenangkan hati Dinda. Anda yang bisa mendapatkan cintanya. Tidak kah itu cukup untuk membuat anda bahagia, menjadi pria yang paling beruntung, pria yang terpilih olehnya, di antara sekian banyak lelaki lain yang mencintainya namun tak terbalaskan, seperti juga saya..?? Apakah anda tidak pernah mensyukuri anugerah indah itu.?!?"


Kali ini kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Bimo benar-benar menohok hati Adit. Dia seperti tertampar keras oleh pernyataan Bimo.


Tubuhnya rebah bersandar pada punggung kursi. Menundukkan kepalanya, menatap lantai bening yang memantulkan wajahnya sendiri. Wajah yang kini merasa kalah atas kemenangannya.


Bimo memang benar. Bukan hanya dia dan Bimo saja yang selama ini menaruh hati pada Dinda. Setidaknya, selama dia mengenal Dinda, ada beberapa lelaki yang pernah menyatakan perasaannya pada Dinda. Tapi Dinda tidak bergeming sedikit pun. Dinda tidak pernah berpaling darinya. Dinda tetap memilih hatinya untuk dicintai. Dinda tetap memilih dirinya untuk bersanding bersamanya.


"Saya memang masih mencintai Dinda, selalu mencintainya. Tapi sedikit pun saya tidak berniat merebut Dinda dari anda, dari orang yang dicintainya. Kalau itu saya lakukan, sama saja saya merebut kebahagiaan Dinda. Dan saya tidak mau itu!! Saya hanya ingin melihat Dinda bahagia, dengan siapa pun itu..!!!"


Bimo masih melanjutkan perkataannya yang semakin membuat Adit tertegun. Menyadari betapa lelaki di hadapannya itu sangat mencintai Dinda, bahkan tetap mencintainya tanpa memilikinya.


"Mungkin anda juga sudah tau dari Dinda, kalau dulu saya sangat menginginkannya menjadi milik saya. Dua tahun saya mengejarnya bahkan sampai memaksanya, tapi tetap saja dia menolak saya dan mungkin jadi membenci saya."


Adit teringat cerita Dinda padanya kemarin, sesuai dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Bimo.


"Saat saya melihatnya di Bali kemarin, saya seperti mendapat siraman air segar di tengah gersangnya hidup saya sekarang. Saya merasa memiliki kesempatan.."


Seketika mata Adit kembali menyorot tajam menatap Bimo, yang langsung disadari oleh Bimo.


"Maaf, anda jangan salah sangka dulu.."


"Sejujurnya, saya hanya ingin meminta maaf pada Dinda. Minta maaf atas semua kesalahan saya dulu. Minta maaf atas perlakuan buruk saya padanya dulu."


"Dan saat bertemu dengannya kemarin, saya merasa punya kesempatan untuk melakukan itu. Meminta maaf padanya."


Beberapa saat mereka berdua terdiam. Tenggelam dalam perasaan masing-masing, memikirkan seseorang yang sama, pada satu nama, Dinda...


"Jadi, bisakah saya berharap pada anda? Atau lebih tepatnya memohon pada anda, agar saya bisa bertemu dengannya untuk meminta maaf padanya?" Pinta Bimo dengan tutur kata yang tulus.


"Mungkin ini adalah kesempatan terakhir saya. Saya akan menunggunya sampai besok. Karena setelahnya saya akan pergi dari sini, dan mungkin tidak akan kembali lagi. Saya tidak akan pernah mengganggunya lagi." Sinar pengharapan nampak jelas dari kedua mata Bimo.


Adit mulai bisa merasakan kejujuran dan ketulusan dari ucapan Bimo. Hatinya pun mulai tenang kembali, tidak lagi menahan gemuruh seperti sebelumnya.


"Apakah saya bisa mempercayai anda?" Adit masih mencoba untuk lebih meyakinkan dirinya, agar tidak salah dalam mengambil keputusan.


"Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf saya kepada Dinda, tidak ada maksud yang lainnya lagi. Anda bisa pegang kata-kata saya. Kalau anda tidak yakin, anda bisa tetap berada di sisinya saat saya menemuinya, jika anda mengijinkan saya bertemu dengannya." Janji Bimo dengan semangat penuh pengharapan.


"Baiklah, semua keputusan ada di tangan Dinda. Anda bisa menunggu kabar selanjutnya nanti." Pungkas Adit menutup pertemuan mereka siang ini.

__ADS_1


.


.


.


Sampai di rumah, tanpa kata-kata Adit langsung memeluk Dinda yang membuka pintu menyambutnya. Pelukannya sangat erat seolah takut kehilangan.


Dinda yang berada dalam pelukan Adit segera menutup dan mengunci pintu dengan sebelah tangannya, lalu kembali membalas pelukan suaminya sama eratnya.


"Ada apa denganmu, sayang? Apakah semua baik-baik saja??" Dinda masih belum mengerti apa yang terjadi hingga membuat suaminya bertingkah tidak biasanya.


Adit tidak menjawab sama sekali. Dia hanya terus memeluk istrinya semakin lama semakin erat, tak ingin melepaskannya sama sekali.


Perasaannya masih terbawa pada kejadian sebelumnya. Saat dia menyadari ada orang lain yang juga mencintai istrinya, bahkan jauh lebih mencintainya dari pada dirinya yang sudah menjadi suaminya. Bertahun-tahun lamanya mencintai tanpa balasan, namun tetap bertahan mencintainya dalam diam dan kesendirian. Adit merasa kalah dari Bimo dalam hal mencintai istrinya.


Dinda membiarkan Adit memeluknya sepuasnya. Dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi dengan suaminya. Dia memberikan waktu agar Adit bisa menenangkan dirinya dulu, karena pada akhirnya masalah apa pun itu pasti akan diceritakan kepadanya.


Sepuluh menit berlalu, Adit masih memeluk erat sang istri, kepalanya lunglai bersandar di bahu Dinda, hingga setiap helaan nafasnya terdengar jelas di telinga Dinda.


Tiba-tiba Adit terisak pelan. Hatinya tak bisa bertahan lagi. Perasaannya sedang lemah. Lemah karena merasa kalah. Kalah dan merasa bersalah kepada Dinda.


Spontan Dinda menarik tubuhnya dari pelukan Adit. Dilihatnya wajah Adit, benar..., ada genangan air bening di pelupuk matanya, dan beberapa tetes lainnya sudah membasahi kedua pipi sang suami. Suaminya menangis.., meski hanya terdengar lirih.


"Sayang..., kamu kenapa??" Dinda menghapus air mata Adit dengan kedua tangannya. Lalu dia mengecup kedua mata Adit bergantian dan terakhir memberikan ciuman lembut dan lama di kening suaminya.


Setelah itu dia menggenggam tangan Adit, mengajaknya duduk di ruang tamu.


Diam menunggu, membiarkan Adit mengatur perasaannya terlebih dahulu.


Dinda meninggalkan Adit sebentar, bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk sang suami tercinta.


Setelah selesai, segera dibawanya pada Adit agar segera meminumnya.


Adit menerima gelas itu dari tangan Dinda, dan sedikit demi sedikit diminumnya sampai habis, lalu meletakkan gelasnya di atas meja.


Dinda yang duduk di sampingnya kembali menggenggam tangannya.


"Jangan membuatku khawatir, sayang.." Seulas senyum ditampakkan oleh Dinda, mencoba untuk melunturkan risau hati Adit.

__ADS_1


Akhirnya dengan segenap kekuatan hatinya yang telah kembali, Adit mulai membuka suara.


"Maafkan aku sayang, telah membuatmu cemas.." Adit mencium punggung tangan Dinda yang masih menggenggam tangannya.


"Maafkan aku juga, karena sudah berbohong padamu. Sebenarnya tadiii..., aku pergi untuk bertemu dengan Bimo.." Pandangan Adit tak lepas dari wajah Dinda yang mendadak berubah menjadi tegang bercampur takut.


"Apa yang sudah dilakukannya padamu..??" Tanya Dinda dengan getar ketakutan dalam suaranya. Tentu saja dia takut Bimo melakukan sesuatu pada Adit karena melihat Adit pulang dengan kondisi tidak baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa. Dia tidak melakukan apa pun padaku. Aku hanya terbawa perasaanku sendiri." Adit mencoba untuk tersenyum, meyakinkan istrinya bahwa dia benar baik-baik saja.


"Tadi pagi dia mengirim pesan lagi.." Sebelah tangan Adit mengambil ponsel di saku celananya, membuka pesan dari Bimo lalu menunjukkannya pada Dinda.


Selanjutnya dia menceritakan seluruh pertemuannya dengan Bimo siang tadi, dari awal hingga akhir tanpa ada yang disembunyikannya.


Dinda sendiri terlihat terkejut mendengar semua penuturan Adit tentang Bimo.


Dalam pikirannya, dia mengira Bimo masih seperti yang dulu.


"Dia bukan lagi anak remaja yang bergejolak hatinya seperti dulu. Dia sudah menjadi pria muda yang matang, sama dewasanya sepertimu sekarang." Kata Adit.


"Bahkan aku merasa cintanya lebih dalam dari cintaku. Hatinya juga lebih tulus dari hatiku.." Adit mengakui apa-adanya semua yang tengah dirasakannya tentang Bimo.


"Jangan membandingkan cintamu dengan cinta orang lain. Karena aku hanya memilih dan menerima cinta darimu saja, bukan cinta dari orang lain..!" Tegas Dinda meyakinkan Adit.


"Aku selalu percaya itu, sayang. Hanya saja aku berfikir, jika aku berada di posisinya dan menjadi dirinya, mungkin aku tidak akan bisa setulus dia dan seikhlas dia ..." Adit tersenyum tipis merasakan kembali kekalahan itu di hatinya.


"Apakah kamu bersedia untuk menemuinya?" Tanya Adit kemudian. Dia tidak akan memaksa Dinda. Apapun keputusan istrinya, dia akan menurutinya saja.


Dinda diam tidak memberikan jawaban. Dalam hatinya masih nenimbang-nimbang, apakah dia harus menemuinya atau tidak.


Dia berpikir, seberapa penting kata maaf darinya untuk seorang Bimo, hingga Bimo ingin bertemu dengannya secara langsung untuk meminta maaf padanya.


"Apakah menurutmu aku harus menemuinya..?"


Dinda memilih untuk bertanya pada Adit.


"Aku percaya padanya.." Jawab Adit singkat.


"Baiklah sayang. Aku akan menemuinya, jika memang kamu mengijinkannya."

__ADS_1


Akhirnya Dinda memberikan keputusannya. Adit pun menganggukkan kepala tanda setuju.


Kemudian Adit mengambil ponselnya dan segera mengirimkan sebuah pesan untuk Bimo.


__ADS_2