Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
89 HARI YANG INDAH


__ADS_3

"Sayang, di mana putri kecil kita?" Tanya Adit sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, tetapi dia tidak menemukan keberadaan Cinta.


"Kemarilah, mas. Cinta bersamaku di belakang."


Suara jawaban dari Dinda membuat Adit bernafas lega dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu belakang kamar mereka yang terhubung dengan teras dan taman belakang.


Senyumnya merekah setelah melihat istrinya yang tengah duduk memangku Cinta untuk berjemur di bawah hangatnya sinar mentari di pagi hari. Sungguh pemandangan terindah di pagi ini, melihat dua orang yang dia sayangi dan cintai dalam keadaan baik-baik saja.


Adit menghampiri mereka lalu duduk di samping Dinda. Dengan hati-hati diambilnya Cinta dari pangkuan sang istri, kemudian dia letakkan di atas pangkuan pahanya.


Dibukanya bedong sang bayi, lalu satu per satu kain popok dan baju atas Cinta hingga menyisakan diapersnya saja. Bayi mungil itu tetap terlelap meskipun Adit membuat gerakan-gerakan ringan saat membuka seluruh pakaian putri kecilnya.


Mulutnya mengerucut menggemaskan seiring geliat tubuh mungilnya yang membuat tangan dan kaki kecilnya terangkat ke atas seakan ingin menendang apapun yang ada di depannya. Setelah itu, si mungil itu kembali diam terlelap dalam buaian sang papa yang menggoyangkan kedua pahanya perlahan ke kiri dan ke kanan.


Dinda memeluk lengan suaminya dan bersandar manja di bahunya. Matanya terpejam seperti sang putri kecil, merasakan sengatan lembut sang surya yang menghangatkan wajah dan seluruh tubuhnya yang dibalut dress longgar khas ibu menyusui.


Adit memalingkan wajahnya, melihat ke arah sang istri yang sangat dicintainya itu. Diciuminya ujung kepala Dinda dengan mata yang turut terpejam seraya melantunkan untaian doa memohon kebahagiaan bagi keluarga kecil mereka.


"Aku mencintaimu, sayang..."


.


.


.


Adit meninggalkan si kecil yang tidur pulas di box cantiknya. Dibiarkannya pintu kamar terbuka, lalu dia menyusul Dinda yang sedang sibuk memasak di dapur.


"Masak apa hari ini, sayangku?"


Adit melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya yang telah menyusut meski belum kembali normal. Bahu yang sedikit terbuka karena dress longgar yang dikenakannya, mengundang bibir lelaki itu untuk mendaratkan ciuman lembut di area sensitif istrinya hingga Dinda menggeliat karena geli.


"Sayur lodeh kesukaanmu, mas. Dengan pelengkap seperti biasanya. Ada tempe goreng dan perkedel kentang, sambal terasi dan rempeyek ikan asin. Aku juga membuat gudangan sambal kelapa untukku, agar produksi ASI-ku semakin lancar dan banyak."


Adit menopangkan kepalanya di atas bahu istrinya. Posisi yang sangat disukainya, memeluk dari belakang, seolah sedang melindungi istrinya di dalam kehangatan rengkuhannya.


"Terima kasih, masih bersedia meluangkan waktumu untuk menyiapkan makanan untuk kita. Jangan memaksakan diri jika kamu tidak sanggup melakukannya. Aku tidak mau kamu kecapekan karenanya, sayang."


"Utamakan Cinta daripada aku, karena untuk saat ini putri kecil kita hanya tergantung padamu, pada ASI darimu dan sentuhan kasih sayang dari tangan lembutmu. Maka dari itu kamu harus selalu sehat dan kuat untuknya, juga untuk kita semua."


"Iya, mas. Aku akan selalu ada untuk kalian berdua, hartaku yang paling berharga dan akan selalu aku jaga selamanya. Kalian adalah anugerah luar biasa yang lebih berharga dari apapun di dunia ini."


Adit mencium pipi istrinya lalu melepaskan pelukannya. Dia segera membantu menyiapkan makanan yang sudah siap untuk ditatanya di atas meja makan.


Bersamaan dengan selesainya seluruh masakan yang disiapkan oleh Dinda, terdengar tangisan dari dalam kamar. Cinta terbangun dan menyuarakan panggilan untuk segera didatangi.


"Pergilah ke kamar. Biar aku yang membersihkan dapur. Kita tunda makan siangnya setelah Cinta tidak rewel lagi."


Adit mencium kening Dinda lalu kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan masak kotor yang masih terbengkalai. Sementara Dinda bergegas kembali ke kamar untuk mengurusi putri kecil mereka yang terbangun.

__ADS_1


.


.


.


Rengekan kecil Cinta membangunkan Adit dari tidur siangnya bersama istri dan si putri kecil. Mereka tidur siang bertiga di atas tempat tidur dengan Cinta berada di antara papa dan mamanya.


Melihat Dinda yang masih pulas dan tidak terganggu dengan rengekan putrinya, Adit segera duduk dan mengangkat Cinta lalu membawanya menjauh dari tempat tidur agar tidak mengganggu Dinda yang terlihat sangat lelah.


Adit meletakkan Cinta di atas bangku khusus yang digunakan sebagai tempat untuk mendandani si putri kecil. Dibukanya diapers si bayi untuk memeriksanya. Ternyata benar, rengekan itu dikarenakan pup yang sudah mengotori popoknya.


Dengan sigap Adit menyiapkan air hangat dalam baskom kecil untuk membersihkan sisa pup di bagian paling montok dari bayinya itu. Tanpa rasa jijik Adit segera membereskan semuanya, kemudian memakaikan diapers baru untuk putrinya, selanjutnya memakaikan kembali popok kainnya.


Terakhir, dia melilitkan bedong si bayi dengan longgar karena sebentar lagi sudah tiba waktunya Cinta mandi sore. Bayi mungil itu sama sekali tidak rewel selama ditangani oleh papanya. Hanya merengek kecil dan memainkan tangannya yang tertutup sarung tangan di dekat mulut kecilnya.


"Anak papa pintar! Sudah selesai, kita ke teras saja ya, nak. Biarkan mamamu memuaskan tidurnya dulu."


Adit mengangkat Cinta dengan hati-hati dan menggendongnya dalam tangkupan kedua tangan kekarnya. Diciuminya wajah menggemaskan yang masih membuka mata sucinya itu tanpa henti, membuat si bayi menggeliat lucu dalam gendongan sang papa.


Adit berjalan ke teras belakang yang berhawa sejuk. Dia melangkahkan kakinya perlahan ke ujung kiri, dan berbalik kembali ke ujung kanan, terus berulang-ulang sambil menimang putri kecilnya. Dia juga bersenandung sembari menatap wajah kemerahan Cinta yang masih membuka mata sucinya yang begitu menggemaskan.


Dinda terbangun dan mendengar suara suaminya yang tengah bersenandung dari arah belakang. Terdengar pula suara kecil si bayi yang membuatnya segera turun dari atas tempat tidur dan menyusul suami dan putri kecilnya.


Adit menyambut istrinya dengan senyuman hangat sementara mulutnya masih terus bersenandung untuk Cinta. Dinda mendekati dua orang kecintaannya, mencium pipi tomat putrinya lalu berpindah ke pipi sang suami.


"Terima kasih, mas. Sudah membantuku merawat Cinta."


"Sudah sore, sayang. Ayo kita mandikan Cinta bersama-sama."


Dinda mengambil alih Cinta ke dalam dekapannya lalu mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar. Dia menidurkan putrinya di atas tempat tidur dan mulai membuka satu per satu pakaian si kecil. Di dalam kamar mandi, Adit tengah sibuk menyiapkan air hangat di dalam ember khusus milik putri kecilnya, yang akan digunakan untuk memandikan bayi mungil kesayangan mereka.


.


.


.


Malam menjelang seiring langit yang menggelap ditemani taburan bintang dan sinar terang sang rembulan.


Cinta sudah terlelap di dalam box cantik miliknya. Kelambu pun sudah diturunkan untuk melindungi tempat tidur bayi mungil itu dari gangguan nyamuk nakal yang seringkali mengincar kulit halus nan lembut miliknya.


Di atas tempat tidurnya, Adit dan Dinda juga melepas penat dengan tidur berpelukan dan saling menghangatkan di bawah satu selimut yang menutupi tubuh keduanya.


"Selamat tidur, sayang. Selamat beristirahat. Aku mencintaimu..."


Adit mencium lembut kening istrinya dengan senyum bahagia di bibirnya.


"Aku juga mencintaimu, mas. Aku mencintaimu, selamanya..."

__ADS_1


Dinda membalas senyuman Adit dengan senyuman yang merekah lebih indah, membuat Adit terus membawa senyuman itu di dalam tidurnya yang lelap.


.


.


.


"Dit, Adit..! Bangun nak...!"


Adit tersentak bangun manakala mendengar suara lembut seseorang memanggilnya dan menepuk bahunya dengan pelan.


Matanya mulai membuka sempurna dan mendapati kedua mertuanya sudah berdiri di sampingnya. Ayah Arya dan Bunda Nina menatapnya dengan wajah yang sudah lebih tenang dan tidak sepanik hari-hari sebelumnya.


"Maaf, aku ketiduran bersama Dinda, setelah tadi kami berdua menidurkan Cinta..."


Kedua orang tua itu saling berpandangan dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh menantunya.


"Dit, kamu tidak apa-apa kan, nak?" Jawaban Adit malah membuat mertuanya menjadi khawatir.


Adit menggeleng pelan dan sesaat kemudian barulah dia sadar sepenuhnya, setelah melihat ke sekeliling ruangan tempat istrinya dirawat.


"Astaghfirullah hal adzim...!"


Adit berucap istighfar dan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


Ternyata satu hari yang begitu indah tadi hanyalah sebuah mimpi, dan bukanlah kenyataan sebagaimana yang diharapkannya.


Dengan tatapan sendu, Adit menatap wajah istrinya yang masih pucat dan terlelap tanpa menunjukkan perubahan apapun dari sebelumnya.


"Sayang, cepatlah bangun. Aku sudah terlalu merindukanmu, hingga aku memimpikan kita bertiga bersama dan berbahagia di rumah..."


"Aku mohon, jadikan mimpi indahku tadi menjadi nyata dengan kesembuhanmu..."


"Aku selalu menunggumu di sini, sayang..."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2