
Jam delapan pagi lewat, Adit terbangun dari tidur lanjutannya. Sinar matahari sudah masuk ke dalam kamar melalui lubang ventilasi di atas pintu belakang.
Dilihatnya Dinda yang masih tertidur pulas di sampingnya, tangannya masih memeluk bagian perut Adit.
Adit tersenyum sambil terus memandangi wajah istri tercintanya itu. Wajah yang selalu ingin dilihatnya setiap waktu. Wajah yang selalu dirindukannya jika sebentar saja mereka tak bisa bertemu.
Wajah yang selalu terbayang dalam doa-doanya. Ya, sejal awal melihat Dinda, Adit sudah membawa wajah itu di setiap dia berdoa. Hatinya tidak salah memilih. Kini wajah itulah yang akan senantiasa berada di sisinya, karena dia telah menjadi pasangan hidupnya, sebagaimana doa-doanya selama ini.
Perlahan diangkatnya sedikit tangan Dinda dari atas perutnya, agar dia bisa menarik tubuhnya ke atas, dan bersandar ke belakang. Kemudian diletakkannya tangan Dinda di atas pahanya, agar sang istri tetap merasa memeluknya. Tangannya mengelus-elus kepala istrinya dengan lembut dan penuh cinta, seolah sedang me-ninabobo-kan bayi kecil.
Adit meraih ponselnya, membuka sebentar berita online hari ini, lalu berpindah membuka beberapa pesan yang masuk.
Tatapannya tertuju pada satu pesan. Dari Bimo. Seseorang yang kemarin bertemu dengan mereka di Bali.
Pesan dari Bimo masuk ke ponsel Adit karena memang kemarin Dinda tidak memberikan nomor ponselnya sendiri, tetapi nomor ponsel Adit. Hal itu sudah berlangsung lama, setiap ada cowok yang meminta nomor ponselnya, dan dia tidak begitu mengenalnya atau merasa tidak nyaman, Dinda selalu memberikan nomor ponsel Adit. Begitu pun sebaliknya, hal yang sama dilakukan oleh Adit. Dia akan memberikan nomor ponsel Dinda kepada cewek yang dianggapnya tidak penting baginya.
Sejenak melihat ke arah Dinda yang masih lelap, lalu Adit membuka pesan tersebut.
"Pagi, Dindaku. Aku masih merindukanmu seperti dulu." Adit menghela nafas panjang membaca isi pesan dari Bimo.
Dia belum tahu apa hubungan Dinda dan Bimo di masa lalu. Setahu Adit, Dinda tidak pernah menjalin hubungan cinta dengan orang lain sebelum dengan dirinya, seperti yang diceritakannya sendiri pada Adit.
Akan tetapi isi pesan dari Bimo menunjukkan adanya sebuah hubungan di antara Dinda dan Bimo sebelumnya, meski dia tidak tahu hubungan yang seperti apa.
Bukan Adit namanya kalau dia tidak bisa bersikap tenang. Kedewasaannya dalam menyikapi setiap permasalahan sudah sangat teruji. Dia tidak pernah bertindak gegabah atau pun tanpa kendali. Kepalanya selalu dingin dalam menghadapi semua masalah. Amarah cukup disimpannya dalam hati, tidak pernah diluapkannya secara terang-terangan. Tindakan nyata yang dilakukannya pasti sudah dipikirkannya dengan matang.
Akhirnya Adit memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Bimo. Dia akan menunggu Dinda bercerita terlebih dahulu, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Bimo dan istrinya.
Dia percaya sepenuhnya pada Dinda.
.
__ADS_1
.
.
Siang hari selepas makan, akhirnya Dinda mulai membuka cerita tentang Bimo pada Adit.
"Dia teman sekolahku.., dan dia pernah menyatakan cintanya padaku..." Mereka duduk berdua di kursi teras belakang.
Adit mendengarkan dengan tenang, tidak ada reaksi apa pun. Tangannya merangkul pundak istrinya sambil sesekali memberinya usapan lembut.
"Kamu menyukainya..?" Tanya Adit tetap dengan tenang. Dinda menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak. Bahkan aku tidak terlalu dekat dengannya. Kami tidak satu kelas" Bantah Dinda.
Adit tersenyum kecil.
"Hhmmm.., cinta bertepuk sebelah tangan.."
Adit masih tenang dan menjadi pendengar yang baik.
"Hingga tahun berganti, dia masih terus mengejarku, memintaku untuk menerimanya.. Lebih tepatnya memaksaku.."
Adit menoleh ke arah Dinda.
"Memaksa..??"
"Ya, dia mengancamku.., jika aku masih menolaknya, dia akan bertindak kasar.."
"Dan ucapannya tidak main-main.., dia benar-benar melakukannya."
"Dia memang terkenal sebagai murid yang agak berandal.."
__ADS_1
Adit langsung menatap Dinda khawatir..
"Apa yang sudah dia lakukan padamu, sayang..??"
"Saat acara perpisahan di SMA kami, tiba-tiba dia memaksa aku mengikuti ajakannya pergi keluar aula. Di sebuah kelas, dia kembali memintaku jadi pacarnya dan tetap aku tolak. Dia marah lalu hendak menciumku tapi aku lebih dulu menamparnya. Karena tidak terima, dia semakin marah dan memelukku dengan paksa. Akhirnya, aku..." Dinda memutus kalimatnya.
Adit terlihat kaget dengan cerita istrinya..
"Kamu gak apa-apa kan..??"
"Aku menendang keras bagian intinya sampai dia terjatuh ke belakang kesakitan memegang intinya.. Dan aku segera berlari keluar kelas meminta bantuan.."
Adit tertawa kecil mendengar cerita terakhir Dinda.
"Ternyata bukan cuma mulut kamu yang pedas, sayang. Tapi tangan dan kaki kamu juga sangat pedas.." Tangannya mengelus-elus rambut istrinya lalu mencium ujung kepalanya.
"Itu terakhir kalinya aku bertemu dia, sampai akhirnya kemarin kita melihatnya di Bali.."
"Dan kamu merasa tidak nyaman ketika bertemu dengannya kemarin.." Tambah Adit seolah tau yang dirasakan istrinya.
"Bagaimana kalau dia menghubungimu lagi..?" Lanjut Adit.
"Selama ini aku bahkan sudah lupa dengan semuanya.." Jawab Dinda pelan.
Adit membuka ponselnya, lalu menunjukkan satu pesan dari Bimo tadi pagi kepada Dinda.
Seketika wajah Dinda berubah, tampak cemas.
"Sayang aku takut..." Dinda memeluk Adit sangat erat, kepalanya dibenamkan ke dada suaminya seakan meminta perlindungan.
Adit segera membalas, memeluk tubuh istrinya lebih erat. Cukup lama mereka berpelukan.
__ADS_1
"Sekarang dan selamanya, ada aku bersamamu.." Adit memegang kedua pipi istrinya dengan tangannya. Lalu diciumnya kening Dinda dengan segenap rasa cintanya.