Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
88 KESEDIHAN DAN DUKA


__ADS_3

Adit kembali ke ruang perawatan Dinda dengan wajah duka. Raut kesedihan karena beberapa kejadian yang dialaminya, tertangkap jelas oleh penglihatan kedua orangtuanya.


"Kamu sudah menemui Sinta, Dit?" Tanya Papa Satrio yang duduk samping tempat tidur menantunya, bersama Mama Indri.


Adit mengangguk sembari terus melanjutkan langkahnya sampai di samping tempat tidur istrinya yang masih belum membuka matanya.


Dia membungkukkan badan hingga wajahnya menyentuh sebelah pipi Dinda. Lirih suaranya, berbisik di telinga sang istri.


"Cepatlah bangun, sayang. Tidak ada lagi yang akan menyakitimu. Dia sudah pergi, pergi jauh ke tempat yang lebih baik dan lebih tenang untuknya..."


Orangtuanya yang samar-samar mendengar ucapan Adit yang berada di sisi seberang terkejut dan menatap Adit penuh keingintahuan.


"Apa..?? Apa maksudmu, Dit? Apa Sinta, dia......?"


Mama Indri tidak melanjutkan pertanyaannya saat melihat jawaban dari Adit yang kembali menganggukkan kepala.


"Sinta sudah tiada. Dia sudah meninggal dunia, baru saja..."


Mama tampak terkejut dan masih tidak percaya. Beliau masih mengingat dengan jelas tamparan yang dilayangkannya di pipi Sinta beberapa waktu yang lalu, karena tidak bisa menahan emosi begitu melihat Sinta di hadapannya tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un..."


Papa tidak menunjukkan reaksi berlebihan karena sebelumnya sudah mengetahui kondisi Sinta dari polisi yang masih berjaga di luar tadi.


Beliau segera menghubungi beberapa orang untuk membantu mengurus kepulangan jenazah Sinta ke rumah orangtuanya.


"Bagaimana dengan keluarganya, Pa? Apa Papa sudah menghubunginya?" Tanya mama.


"Pasti pihak kepolisian sudah menghubungi mereka. Aku juga sudah menyuruh beberapa orang untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya di rumah orangtua Sinta." Jawab papa.


"Apa kamu akan pergi ke rumahnya?" Tanya papa sambil melihat ke arah Adit yang sudah duduk di samping tempat tidur Dinda.


Adit terdiam menatap wajah istrinya. Berharap di saat yang sama dia akan melihat kedua mata itu terbuka dan membalas tatapannya. Namun keinginannya itu belum juga terwujud.

__ADS_1


"Aku tidak bisa meninggalkan Dinda dan Cinta di sini..."


Papa mengangguk, mengerti keadaan Adit. Begitupun mama, setelah bisa menguasai diri beliau mendekati Adit dan menepuk bahu putra semata wayangnya.


"Ikhlaskan apapun yang terjadi. Jangan terbelenggu dengan rasa kecewa dan sakit hati. Allah sudah mengatur semuanya."


Adit menghela nafas berat. Setiap kali melihat wajah Dinda yang tertidur dengan tenang itu, dadanya terasa sesak dan sulit bernafas. Ingin rasanya menggantikan posisi istrinya, agar dirinya saja yang merasakan kesakitan itu.


"Insya Allah aku ikhlas, Ma. Aku juga sudah memaafkan Sinta, bahkan aku juga meminta maaf padanya...." Adit berucap pelan.


"Hanya saja aku masih sedih dan merasa hampa karena kondisi istriku yang masih seperti ini. Belum ada perubahan, belum ingin bangun dan kembali bersama aku dan putri kecil kami...."


Butiran bening tampak menggantung di sudut matanya, lalu mengalir perlahan membasahi kedua pipinya.


"Jangan putus harapan. Teruslah berdoa dan memohon keajaiban dari Allah, agar istrimu segera kembali bersama kita di sini. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi, jika kita teguh dalam keyakinan kita." Papa memberikan wejangan dan semangat untuk yang ke sekian kalinya.


"Papa dan Mama akan pulang sekarang. Kami akan bersiap untuk pergi ke rumah orangtua Sinta. Nanti sore, Pak Jo akan mengantarkan orangtua Dinda ke sini untuk menemani kalian."


"Ya, Pa. Tolong sampaikan ucapan bela sungkawa dariku untuk keluarganya." Kata Adit kepada papanya.


"Sayang, jangan siksa aku seperti ini. Jangan diam saja seperti ini. Apa kau tidak ingin bicara denganku lagi? Apa kau tidak ingin bersamaku lagi? Apa kau marah padaku, karena aku menyembunyikan tentang Sinta padamu, sehingga kamu menjadi seperti ini?"


Adit menciumi kening istrinya berulang kali.


"Aku minta maaf, jika kamu marah padaku karena itu. Aku memang sengaja tidak memberitahumu karena aku tidak ingin membuatmu takut dan merasa tidak tenang, apalagi kamu sedang mengandung anak kita kemarin. Aku tidak ingin pikiranmu semakin terbebani jika mengetahui tentang kaburnya Sinta..."


"Aku mohon, maafkan aku. Bangunlah dan maafkan aku. Bila perlu hukumlah aku jika itu bisa membuatmu puas dan bernafas lega. Asalkan kamu segera bangun dan kembali bersamaku lagi, aku akan melakukan apapun permintaanmu, sayang. Bangunlah..."


Setelah puas menciumi istrinya, Adit merebahkan kepalanya di atas tempat tidur di samping tubuh Dinda. Dibawanya tangan kanan sang istri ke atas kepalanya, seolah ingin dimanjakan oleh istrinya seperti kebiasaan mereka dulu.


Matanya terpejam, mengingat semua kenangannya bersama Dinda selama ini. Dia melayangkan ingatannya, mengenang satu per satu kebahagiaan hari-harinya bersama Dinda. Saat pertama kali mereka bertemu, saat pertama kali dia mengantarkan Dinda pulang ke rumah kosnya, dan sat pertama kali mereka berkencan di taman kota.


Semua ingatan itu terus berputar di dalam pikirannya, terus bergulir sampai pada hari pernikahan mereka, bulan madu mereka, hingga saat di mana mereka mengetahui kehamilan kedua Dinda yang sangat mengejutkan dan membahagiakan dirinya dan juga istri tercintanya itu.

__ADS_1


Adit tersenyum dan mulai terlelap bersamaan dengan munculnya kenangan tentang momen-momen romantisnya bersama Dinda. Dia merindukan kemanjaan Dinda dan kemesraan mereka saat memadu cinta berdua. Senyumnya semakin lebar, seiring mimpi indah yang dialaminya dalam kelelapan tidurnya.


.


.


.


Sementara itu, di tempat lain di sebuah rumah di dalam perkampungan di pinggiran kota, sebuah mobil ambulans terparkir di halamannya. Beberapa orang membantu sopir dan pegawai yang mengantarkan kepulangan jenazah Sinta yang didampingi oleh perwakilan keluarganya dan beberapa personil kepolisian.


Terlihat di depan pintu utama, kedua orangtua Sinta menyambut jenazah Sinta yang dibawa masuk ke dalam rumah untuk disholatkan lebih dulu oleh keluarganya dan beberapa orang pelayat yang datang, sebelum dikebumikan di pemakaman umum tak jauh dari rumahnya.


Sudah ada Papa Satrio dan Mama Indri di sana, bersama beberapa tetangga rumah mereka, yang juga merupakan tetangga lama dari keluarga Sinta saat masih tinggal di kota, sebelum peristiwa tragis masa lalu yang menimpa Sinta terjadi dulu.


Di dalam rumah, tampak seorang bocah laki-laki berusia sekitar tujuh tahun menangis menyambut kedatangan jenazah Sinta. Bocah laki-laki itu adalah anak Sinta, hasil dari tindak pemerkosaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh pacarnya.


Meskipun keberadaannya tidak pernah dianggap oleh Sinta dan Sinta tidak pernah merawatnya, tetapi terlihat jelas bahwa bocah kecil itu sangat menyayangi Sinta dan merasa kehilangan atas meninggalnya Sinta.


Tidak banyak ritual keluarga yang dilakukan, hanya sholat jenazah saja. Setelah itu, selepas ashar jenazah Sinta dibawa ke pemakaman setempat dan segera dikebumikan, diiringi isak tangis orangtuanya, kakak perempuannya yang didampingi sang suami, dan anak lelaki Sinta.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami  dengan Like, Komentar, Bintang 5, Vote & Favorit.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2