Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
38 OBSESI SINTA


__ADS_3

"Aku sudah menikah." Adit membuat pengakuan yang sangat mengejutkan Sinta.


"Apa..?!?" Sinta menatap Adit tak percaya.


"Aku sudah menikah." Adit mengulangi pernyataannya. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman. Apalagi ini tentang masa lalunya dengan Sinta. Meskipun bukan masa lalu tentang cinta, hanya tentang persahabatan. Tetapi jika tidak segera diluruskan, akan tidak baik untuk ke depannya.


Raut wajah Sinta berubah seketika. Tidak percaya, itu yang ada di dalam pikirannya. Tidak mungkin Adit tiba-tiba menikah tanpa dia ketahui sebelumnya. Atau karena dia yang sudah pergi meninggalkan Adit terlalu lama, sehingga Adit melupakannya..? Pikiran Sinta berkecamuk tak menentu.


"Adit, kamu sudah menikah? Dengan siapa? Apakah dia teman kita?" Tanya Sinta dengan gurat kecewa di wajahnya yang mulai berubah menahan amarah.


"Bukan. Dia teman kuliahku." Adit menjawab singkat.


Sinta semakin kecewa mendengar pengakuan Adit tentang pernikahannya. Dia merasa telah diabaikan. Dia merasa Adit telah menduakannya.


"Harusnya aku, Dit.." Gumam Sinta meradang. Sangat lirih, sama sekali tak terdengar oleh Adit.


"Adit, apakah aku boleh mengenal istrimu?" Sinta bertanya dengan gusar. Dia penasaran siapa wanita yang sudah merebut Adit darinya.


Ya, di dalam pikiran Sinta sekarang, Adit adalah lelaki yang disukainya. Dan dia tidak ingin Adit dimiliki oleh orang lain selain dirinya. Sejak dulu Adit sudah bersamanya dan harus selalu bersamanya.


Adit bimbang. Dia ragu untuk memperkenalkan Dinda kepada Sinta. Entah mengapa, sejak kedatangan Sinta tadi hatinya menjadi gelisah. Dia terus mengkhawatirkan istrinya. Dia merasa sangat tidak nyaman meninggalkan Dinda di dalam dan menemui Sinta berdua seperti ini.


Adit tidak mengetahui, jika sejak tadi Dinda selalu mengawasinya, memperhatikan semua yang terjadi antara dirinya dan Sinta, mendengarkan meskipun samar-samar semua pembicaraan mereka.


"Maaf, dia sedang istirahat di dalam. Tadi kami habis pergi ke acara seorang teman." Jawab Adit.


Sinta hanya diam dengan pikiran yang gerah. Lalu dia segera teringat sesuatu.


"Apakah dia yang membukakan pintu untukku tadi??" Sinta mengingat sekilas tentang Dinda yang telah diacuhkannya.


"Iya. Dia istriku." Adit menjawab dengan penekanan yang sangat jelas.


Sinta merasakan hawa panas mulai menjalari seluruh tubuhnya dan juga pikirannya. Dia kecewa, dia marah, dia sakit hati.


"Oh, baiklah. Lain kali kenalkan aku padanya, Dit." Pinta Sinta.


Adit hanya diam tak menjawab. Dia terus memikirkan Dinda. Ketakutan kembali menyelimuti hatinya.


Tapi kini ketakutan yang dirasakannya bukan tentang dirinya lagi. Sekarang, dia lebih memikirkan istrinya. Dia takut, Dinda menjadi tidak nyaman karena pertemuannya dengan Sinta. Dia takut sesuatu hal yang buruk akan terjadi pada Dinda atau pun dirinya. Dia takut, takut yang teramat sangat.


Menjelang petang akhirnya Sinta pulang, setelah orangtuanya menelepon dan mengkhawatirkannya, karena dari siang hari Sinta tidak memberi kabar keberadaannya sama sekali.


.


.


.


Malam hari, Adit dan Dinda sudah pulang ke rumah mereka. Tercipta keheningan di antara mereka. Seolah satu sama lain merasakan hal yang tidak nyaman namun masih ragu untuk saling mengungkapkannya.


Akhirnya Dinda meninggalkan Adit di sofa dan berjalan menuju dapur. Dia membuat dua cangkir coklat hangat untuk mencairkan suasana di antara mereka berdua.

__ADS_1


Sampai di hadapan Adit dia menyodorkan satu cangkir kepada suaminya.


"Minumlah dulu."


Lalu Dinda kembali duduk di samping Adit dan menyeruput coklatnya bersamaan dengan Adit yang juga mulai meminum coklat di cangkir yang dipegangnya.


"Sayang, maafkan aku." Akhirnya Adit membuka suara.


"Untuk apa?" Tanya Dinda.


"Karena pertemuanku dengan Sinta. Sungguh aku merasa sangat tidak nyaman tadi. Aku memikirkanmu, sayang."


Adit meletakkan cangkirnya di atas meja. Lalu merebahkan badannya ke belakang, bersandarkan sofa. Kepalanya menengadah ke atas berbatalkan kedua telapak tangannya. Dia memejamkan matanya, mencoba untuk menenangkan hatinya.


Dinda memperhatikan sikap suaminya. Dia bisa melihat ketegangan di raut wajah Adit. Dia merasa tidak tega karenanya.


Setelah meletakkan minumannya, dia segera beringsut mendekati Adit dan memeluk suaminya dengan erat. Sebenarnya, entah karena apa, hatinya juga gundah dan gelisah sedari tadi. Dan pelukan suaminya adalah obat yang paling mujarab di saat dia merasa seperti ini.


Adit terkejut merasakan pelukan hangat Dinda di tubuhnya. Kedua tangannya seketika turun ke bawah, langsung membalas pelukan istrinya dengan lebih erat.


Dia mencium ujung kepala Dinda dengan segenap perasaannya, hingga tanpa disadarinya dia menitikkan air mata. Adit semakin mempererat pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu, sayang."


Dinda merasakan kesejukan di hatinya begitu mendengar kata-kata suaminya. Seulas senyum merekah di bibirnya. Air matanya pun tiba-tiba menetes membasahi pipinya.


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang."


.


.


.


Pagi harinya, Adit dan Dinda beraktivitas sebagaimana hari-hari sebelumnya. Mereka sudah dalam perjalanan menuju Gerai Bertiga.


Tak lama mereka sudah sampai di halaman gerai, tepat di saat yang bersamaan mobil Andi juga berhenti di sebelah mobil Adit.


Seperti biasa Adit dan Dinda segera keluar dari mobil. Sementara di mobil satunya, Andi keluar lebih dulu hendak membukakan pintu untuk Rinaya.


Adit dan Dinda yang melihat adegan mesra itu tersenyum menunggu sepasang kekasih itu menyelesaikan ritual mereka.


"Tumben, Rin. Jam segini udah nongol aja di sini." Kata Dinda setelah melihat Rinaya dan Andi menghampiri mereka di teras cafe.


"Sekarang aku ikut jadwalnya mas Andi, karena akan diantar-jemput sama mas Andi terus, Din." Jawab Rinaya malu-malu sambil menoleh ke arah Andi.


"Waah, aku jadi ada temannya nih kalo pagi gini.." Seru Dinda senang karena sahabatnya akan ikut menemani paginya selain para karyawan cafe yang juga akan datang sebentar lagi.


"Iya, aku bantuin deh buat beres-beres cafe, Din." Balas Rinaya.


"Ya sudah, aku sama mas Andi langsung lanjut aja, sudah hampir jam delapan." Pamit Adit sambil mencium kening Dinda di sampingnya.

__ADS_1


"Hati-hati, sayang." Jawab Dinda.


"Ya, aku ke kantor dulu. Jangan lupa istirahat dan makan siang." Pesan Andi dengan penuh perhatian.


"Iya, mas. Selamat bekerja." Jawab Rinaya masih dengan pipi meronanya.


Kemudian kedua pria itu masuk ke dalam mobil masing-masing dan segera melajukan mobilnya menuju kantor.


Sambil membuka rolling door utama, Dinda yang penasaran langsung bertanya pada Rinaya.


"Rin, aku tadi salah dengar apa tidak ya? Sejak kapan nama panggilanmu berubah jadi Ya..?"


Rinaya lagi-lagi tersenyum tersipu malu.


"Sejak kami bertemu dulu, mas Andi langsung memanggilku seperti itu, Din."


"Aishh.., romantisnya yang sudah punya panggilan kesayangan.." Goda Dinda sambil membuka pintu cafe setelah rolling door terbuka. Mereka berdua tertawa bersama mengawali pagi di Gerai Bertiga.


.


.


.


Sore harinya, Adit sudah datang terlebih dahulu menjemput Dinda, karena mereka akan pergi ke rumah orangtua Adit lagi. Tak seperti biasanya, dia hanya menunggu di dalam mobil.


Dinda yang telah bersiap pun segera keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil Adit kembali melaju di keramaian lalu-lintas yang cukup padat di sore hari seperti ini.


Tanpa Adit sadari, seseorang telah mengikuti kepergian Adit sejak keluar dari kantornya tadi. Dia terus mengikuti laju mobil Adit menggunakan sebuah taxi.


Saat Adit menjemput Dinda di gerai, seseorang itu pun ikut berhenti menunggu dan mengamati pergerakan Adit. Dia juga memperhatikan dengan cermat situasi cafe yang didatangi Adit sampai dia melihat Dinda keluar dari dalam cafe dan masuk ke dalam mobil Adit tadi.


Selanjutnya seseorang itu terus mengikuti mobil Adit hingga sampai di kediaman papa mama Adit.


Begitu melihat Adit dan Dinda keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu depan, seseorang itu langsung membayar ongkos taxi dengan terburu-buru dan segera mengejar Adit dan Dinda yang sudah akan masuk ke dalam rumah.


"Adit..!" Panggilnya dengan sangat nyaring dan menghampiri Adit ingin memeluknya.


.


.


.


Note :


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar & Favorit ya..🙏💜🙏


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami..

__ADS_1


Author


__ADS_2