Terima Kasih Cinta Sejati

Terima Kasih Cinta Sejati
2.2. PULANG BERSAMA


__ADS_3

Di dalam ruangannya, Rinaya sedang menghubungi seseorang dengan raut wajah kecewa.


Berulang kali dicobanya, panggilannya masih saja tidak tersambung. Akhirnya wanita itu menutup panggilan tak terjawab itu, lalu mencoba berkobsentrasi lagi dengan pekerjaan yang tertunda.


Sementara itu, usai jam kerjanya habis, Andi melajukan mobil menuju Gerai Bertiga. Entah apa yang akan dia lakukan di sana, dia sendiri tidak tahu. Dia hanya mengikuti kata hatinya yang sejak kembali dari cafe tadi, tidak bisa berhenti memikirkan Rinaya.


Dia menghentikan mobilnya di depan ruko yang sudah tutup, tak jauh dari gerai. Dilihatnya mobil Adit masih terparkir di halaman gerai.


Tak berapa lama kemudian, tampak Adit dan Dinda bergandengan tangan keluar dari gerai. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan berlalu menjauh meninggalkan gerai.


Andi mengambil ponselnya dari kursi di samping kemudi. Dia mengirim pesan untuk seseorang di dalam gerai.


"Assalamualaikum, Rinaya. Aku Andi, asistennya mas Adit."


Di lantai tiga gerai, Rinaya membuka pesan yang terkirim dari nomor tak dikenal. Setelah mengetahui siapa pengirimnya, wajahnya berubah cerah dan tersenyum tanpa bisa ditahannya.


Rinaya sudah menuliskan pesan jawaban untuk Andi, tapi masih ditahan dan belum dikirimnya. Dia masih ragu, khawatir jika dia terlalu terburu-buru menjawabnya.


Di dalam mobil, harap-harap cemas Andi terus menanti, adakah balasan dari Rinaya. Satu menit, lima menit, sepuluh menit ... akhirnya ponselnya berdering. Satu pesan dari Rinaya masuk.


"Waalaikumsalam, mas Andi. Ada apa, mas?"


Hati Andi bergetar lagi meski hanya membaca sebuah pesan, seolah Rinaya sendiri yang mengatakan di hadapannya.


Di saat yang sama di lantai tiga gerai, Rinaya mendekap ponsel di dadanya setelah membalas pesan dari Andi.


"Mengapa hatiku menjadi semakin resah setelah menerima pesan dari mas Andi ...?" gumamnya dalam hati.


Sedari siang tadi, dia mencoba melupakan perasaannya yang tidak menentu ini, tapi tetap tidak bisa. Sekarang ditambah lagi ada pesan dari Andi, hatinya semakin gelisah.


"Apa kamu sudah pulang dari gerai..?" Andi mengirim satu pesan lagi.


Di atas sana, Rinaya membaca pesan itu dan membalasnya.


"Belum, mas. Tadi mobilku aku tinggal di bengkel. Dan sampai sekarang belum diantarkan juga."


Andi tersenyum senang. Sepertinya dia mempunyai satu kesempatan sore ini.


"Bolehkan aku mengantarmu pulang?" Lelaki itu mengirim satu pesan lagi.


Rinaya yang membacanya merasakan nafasnya tercekat. Sama seperti Andi, dia pun sudah cukup lama tidak berhubungan dekat dengan seorang lelaki.


Dan hari ini, ada seorang lelaki yang baru dikenalnya beberapa jam lalu, menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Sungguh dia masih ragu untuk memberikan jawaban.

__ADS_1


Tapi dia kembali teringat jika Andi adalah asisten Adit. Tidak mungkin Andi akan melakukan hal buruk terhadapnya.


"Boleh mas, jika tidak merepotkan tentunya." Terkirim sudah balasannya dengan perasaan yang tak menentu.


Andi tersenyum senang membaca balasan dari Rinaya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik ini.


"Bersiaplah di depan. Sebentar lagi aku sampai."


Dengan cepat Rinaya berkemas, berpamitan pada karyawannya, lalu turun ke lantai dua pamit pada Elisa yang masih menunggu Farrel. Kemudian dia berjalan menuruni tangga, melewati cafe dan menuju ke luar pintu.


Dari tempatnya, Andì sudah melihat wanita cantik itu berdiri sambil memegang ponsel di tangannya.


Dia segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan pelan ke arah gerai, lalu menghentikan mobilnya tepat di depan Rinaya.


Dengan hati berdebar kencang, Andi keluar menghampiri Rinaya yang juga terlihat gugup.


"Maaf membuatmu menunggu."


"Tidak, mas. Aku baru saja turun, kok." Rinaya juga merasakan getar-getar lembut di hatinya.


Andi mengajak Rinaya masuk mobil. Dia membukakan pintu, mempersilahkan Rinaya masuk dan menutup pintu dengan hati-hati. Dia segera berjalan memutari mobil, masuk dari sisi kemudi.


Sebelum mobil berjalan, tanpa sengaja mereka bertemu pandang, saling menatap sesaat lalu memalingkan wajah ke arah yang berbeda.


"Rumahmu di daerah mana, Ya?" Andi memberanikan diri membuka suara karena memang belum tahu harus mengantarkan pulang ke mana.


"Taman Anggrek, mas." Rinaya menyebutkan nama salah satu perumahan yang cukup dikenal di kota itu.


Membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke sana, jika lalu-lintas lancar mengingat sore hari seperti ini sering terjadi kepadatan arus lalu-lintas di seluruh penjuru jalan.


Andi menganggukkan kepala dan mengarahkan mobilnya ke tujuan yang dimaksud. Hatinya merasa sangat senang, selain bisa duduk bersama Rinaya lagi, juga karena dia bisa mengantarkan wanita anggun itu pulang ke rumahnya.


Rinaya diam-diam melirik memperhatikan Andi yang tengah fokus mengemudi. Dia tidak tahu bila sebenarnya Andi juga gugup dan berdebar-debar, sama seperti dirinya.


"Ya, apakah tidak ada yang marah jika aku mengantarmu pulang?" Andi bertanya dengan hati-hati, merasa takut sendiri dengan jawaban Rinaya nanti.


"Tidak ada, mas." Rinaya menjawab singkat. Andi menahan senyumnya, lega dengan jawaban Rinaya.


"Semua orang memanggilku Rin, mengapa dia berbeda, dari tadi memanggilku Ya ...," pikir Rinaya dalam hati.


Tapi kemudian dia tersenyum sendiri. Dalam pendengarannya, Ya adalah panggilan yang unik karena dia belum pernah mendengar itu dari orang lain sebelumnya.


"Benar tidak ada? Aku takut kalau kekasihmu marah padaku, Ya." Andi memancing reaksi Rinaya atas ucapannya.

__ADS_1


"Aku belum punya kekasih, mas." Rinaya tahu maksud Andi, tapi dia membiarkannya dan tetap menjawab apa-adanya.


"Kalau mas Andi?"


Rinaya membalikkan pertanyaan yang sama, membuat Andi gelagapan karena tidak menyangka akan ditanyai hal yang sama oleh wanita di sampingnya.


"Sama. Aku masih sendiri."


Andi mencoba menjawab dengan tenang, tidak ingin terlihat salah tingkah. Entah mengapa Rinaya merasa hatinya menjadi sangat senang saat mengetahui jika Andi belum mempunyai pasangan.


Tak berapa lama kemudian mereka sudah memasuki gerbang perumahan yang dituju. Rinaya segera memberi aba-aba pada Andi untuk mengarahkan ke alamat rumahnya. Dan sampailah mereka di depan rumah Rinaya yang cukup mewah tersebut.


Andi mengantarkan Rinaya sampai ke depan gerbang utama.


"Kalau begitu aku pulang dulu, Ya. Terima kasih sudah bersedia aku antar pulang," pamit Andi.


"Iya, mas. Aku yang seharusnya berterima kasih, karena mas bersedia mengantarkan aku. Maaf jadi merepotkan mas Andi," balas Rinaya dengan senyum tertahan.


"Tidak sama sekali."


Andi tersenyum dan berjalan kembali ke mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya, dia membuka kaca jendela dan terdiam menatap Rinaya yang masih berdiri di depan pagar.


Pandangan mereka bertemu kembali. Getaran itu terasa lagi di hati keduanya. Debaran itu juga muncul kembali di dada mereka. Mereka beradu pandang dengan tingkah yang tidak tenang.


Andi menutup kaca tanpa mengalihkan pandangannya. Dilihatnya dari dalam mobil, Rinaya masih menatap ke arahnya. Dia segera melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia.


Sementara di luar gerbang, Rinaya masih terus menatap mobil Andi yang melaju meninggalkan rumahnya, hingga menghilang di ujung persimpangan.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, mas," harap wanita itu dalam hati, dengan senyuman yang tak lagi disembunyikannya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta dari kami.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2