
Di dalam ruangannya, Adit masih sibuk memeriksa beberapa dokumen pengiriman barang yang baru saja diterimanya dari Andi.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dia baru ingat jika siang ini dia berjanji akan makan siang bersama di cafe Dinda.
Dia segera menghubungi Andi dengan telepon kantor di mejanya.
"Mas Andi, lima belas menit lagi kita berangkat ke gerai. Saya selesaikan dulu dokumen yang baru saja diantar ke ruangan saya."
Adit menutup telepon dan melanjutkan pekerjaannya yang masih tersisa.
Sementara itu di dapur cafe, Dinda dan Rinaya juga tengah sibuk mempersiapkan masakan mereka untuk makan siang bersama.
Elisa tidak terlihat di sana karena masih menemui supplier di ruangannya. Farrel sang suami sudah tiba baru saja dan menunggu Elisa di lantai dua.
Setengah jam kemudian, semua sudah berkumpul di depan ruangan Dinda dengan dua meja besar yang dijadikan satu dan dikelilingi enam kursi berpasangan.
"Jarang-jarang nih bisa berkumpul lengkap seperti ini." Kata Elisa sambil menyiapkan minuman mereka.
"Bukannya kamu sendiri yang sering bolos kumpul, Sa?" Timpal Adit menatap Elisa dan Farrel bersamaan.
"Hehee.., iya juga sih. Itu tuh, pak suami dulunya masih sungkan kalo diajak kumpul di mari.."
Farrel hanya tersenyum malu karena ucapan istrinya yang terus terang. Dia memang termasuk laki-laki pendiam dan pemalu, bertolak belakang dengan Elisa yang ceriwis dan sangat ramai.
"Mulai sekarang nggak usah sungkan lagi, Rel. Kita semua ini sudah seperti saudara. Baik buruknya kita sudah pada tahu satu sama lain. Walaupun yang paling parah tingkahnya tetap aja Elisa.." Dinda menambahi lagi.
"Kenapa aku terus sih yang kena? Teganya.. Gantian tuh Rinaya sama pangerannya."
"Aku kenapa? Aku baik-baik saja.." Rinaya menjawab santai sembari mengambilkan minuman untuk Andi.
"Kalau baik-baik saja buruan ke penghulu, biar status kita sama semua.." Tantang Elisa menggoda Rinaya dan Andi.
"Siapa takut!" Balas Rinaya kalem dan menoleh ke arah Andi di sampingnya.
"Segera, Sa. Pasti kalian yang kita kabari paling awal." Tambah Andi yang membuat semua terkejut dan heboh terutama Elisa.
"Beneran mas Andi dan Rinaya akan segera menikah?" Tanya Adit.
"Iya, mas Adit. Baru mau mulai persiapan. Doakan saja semuanya lancar."
"Hei, Rin. Royal wedding nih putri sama pangeran mau nikah!" Elisa heboh sementara Farrel hanya memperhatikan semuanya dengan senyuman.
"Mas Andi, Rin, jika butuh bantuan apapun itu, kabari kami ya, kami pasti siap membantu." Dinda terlihat sangat senang mendengar kabar bahagia itu.
"Iya, Din." Andi dan Rinaya kompak menjawab bersamaan.
Setelah pembicaraan tentang rencana pernikahan Andi dan Rinaya selesai, mereka berenam segera menikmati makan siang mereka.
.
__ADS_1
.
.
Sepulang dari musholla, Adit, Andi dan Farrel kembali berbincang di meja semula, sambil menunggu pasangan masing-masing yang masih sibuk membereskan urusan dapur.
Dering ponsel di saku Adit menghentikan obrolannya. Dia pamit untuk membuka ponselnya di ruangan Dinda.
Sebuah panggilan masuk dari nomor Bimo yang masih tersimpan di kontak ponselnya. Dengan masih bertanya-tanya dalam hati Adit segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Halo.."
"Ya, halo. Maaf apa ini benar nomornya Dinda? Dinda temannya Bimo?" Suara wanita di seberang sana bernada terburu-buru dan panik.
"Oh ya, benar. Saya suaminya."
"Maaf, apa saya bisa minta waktu untuk bicara dengan Dinda? Adik saya.., Bimo.., dia kritis dan ingin berbicara dengan Dinda.." Terbata-bata wanita yang ternyata kakak Bimo itu berkata dengan nafas yang terdengar berat oleh Adit.
Kritis? Bimo? Adit belum mengerti maksud ucapan wanita di seberang panggilan sana.
"Saya mohon, kata dokter waktunya sudah tidak banyak.. Setidaknya kabulkanlah permintaan terakhirnya untuk bicara dengan Dinda.." Suara wanita itu kembali memohon.
Suara yang telah bercampur isak itu membuat Adit bertindak cepat dan segera keluar memanggil Dinda untuk masuk ke ruangannya.
"Tunggu sebentar, saya panggilkan Dinda.." Adit meminta untuk menunggu sampai Dinda datang dengan wajah bingung.
"Ada yang mencarimu.." Hanya itu yang Adit ucapkan.
Dinda sekilas menbaca nama yang tertera di layar ponsel Adit. Bimo? Dia menoleh ke arah Adit yang langsung dibalas dengan anggukan kepalanya.
"Halo.."
"Dinda, maaf langsung saja, aku pindah ke panggilan video ya, Bimo ingin bicara.." Suara kakak Bimo terdengar dan tak lama kemudian layar ponsel Adit yang dipegang Dinda sudah berubah mode panggilan video, di mana terlihat seorang lelaki terbaring sangat lemah dengan banyak peralatan medis terpasang di tubuhnya yang pucat pasi.
"Bimo..." Dinda bergumam tak percaya.
Adit membantunya duduk dan memposisikan ponselnya bersandar pada tumpukan buku di meja Dinda agar lebih leluasa melakukan pembicaraan.
"Dia sakit, ini permintaan terakhirnya.." Adit berbisik di telinga Dinda membuat istrinya terkejut bukan main.
Adit mengambil kursi lain dan duduk di samping Dinda, namun dia tidak menampakkan wajahnya di layar panggilan di sudut atas ponsel. Semetara di layar utama masih terlihat oleh mereka Bimo yang mulai tersenyum saat melihat Dinda di layar ponselnya di ujung sambungan sana.
"Dinda.." Panggilnya lemah dengan nafas terputus-putus.
"Ya, Bimo. Kamu harus kuat, Bim. Kamu pasti---.."
Bimo memutus ucapan Dinda.
"Aku sudah sampai di garis akhir perjuanganku, Din. Terima kasih kamu mau menemaniku saat ini. Aku menjadi tenang untuk memejamkan mataku nanti.."
__ADS_1
Tak terasa, air mata mulai menetes di pipi Dinda. Dia tidak sanggup berucap apapun melihat kondisi Bimo. Adit menggenggam tangan Dinda di pangkuannya.
"Sampaikan maafku pada suamimu, karena aku kembali mengganggu istrinya. Tapi setelah ini, tidak akan lagi. Aku akan pergi untuk selamanya.."
Samar-samar Dinda bisa mendengar bunyi bedside monitor di samping Bimo berdetak melambat tapi masih terus terdengar. Dokter dan seorang perawat mendekati Bimo dan mengecek kondisinya.
Bimo memberi isyarat agar mereka menjauh dan dia kembali menatap layar ponsel dengan senyum yang masih terus melekat di wajahnya.
"Din, ada hadiah dari aku..., untukmu... Aku harap kamu mau menerimanya.... Aku titipkan..., pada kakakku..."
Nafas Bimo mulai berat dan terputus-putus. Dinda tidak tega melihatnya, tapi dia juga tidak bisa menghindarinya. Matanya terus mengeluarkan air mata melihat keadaan Bimo di sana yang tampak semakin lemah.
"Dinda, aku mencintaimu... Terima kasih.., kamu ada di sini..., di akhir waktuku ini.... Aku bahagia.., bisa membawa.., rasa cinta ini bersamaku.., sampai aku.., sampai.., sampai nafas terakhirku..."
Dinda menahan nafasnya sendiri menyaksikan pemandangan di hadapannya. Terdengar olehnya Bimo mengucapkan kalimat syahadat dengan terbata-bata. Lalu pelan-pelan dia menutup matanya diiringi suara tut panjang tanpa jeda dari bedside monitor.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.." Terdengar suara kakak Bimo yang sedari tadi membantu memegang ponsel Bimo yang terhubung dengan ponsel Adit. Setelah itu panggilan terputus begitu saja.
Dinda menutup mulut dengan kedua tangannya. Nafasnya tertahan seketika begitu menyadari apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
Kematian. Ya, Dinda menyaksikan sendiri kepergian Bimo, saat dia menghembuskan nafas terakhir dan menutup mata untuk selamanya.
Adit segera meraih tubuh Dinda dan memeluknya dengan erat untuk menenangkan istrinya. Dinda pun menumpahkan tangisannya di dada sang suami.
"Mengapa aku? Mengapa harus aku yang melihatnya?" Dinda terus menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ssttt..! Tenangkan dirimu, sayang." Adit mempererat pelukannya. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia juga tidak menyangka, Bimo akan meninggal di saat mereka bertemu kembali melalui panggilan video secara langsung.
.
.
.
Novel baru kami dengan judul MENANTI CINTA UNTUKKU sudah bisa dinikmati, dan akan terus update. Cek di Profile Karya Author. Semoga berkenan..🙏💜🙏
.
Note :
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Vote & Favorit ya..🙏💜🙏
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta dari kami..
Author
__ADS_1