
Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menyesuaikan diri dengan hubungan kami yang baru. Tak jauh berbeda dari waktu-waktu yang lalu. Hanya kini kami merasa saling membutuhkan, saling mengisi, saling menjaga, saling menguatkan, lebih dari sebelumnya.
Ya, karena Adit telah memintaku. Memintaku menjadi pelengkap hidupnya. Lebih tepatnya untuk bersama saling melengkapi. Percaya bahwa kelak kami akan menjalani masa depan bersama dalam sebuah ikatan yang pasti dan tak akan bisa terpisah lagi.
Entah kapan saat bahagia itu akan tiba, sebentar lagi atau masih harus menunggu lebih lama.., tapi kami yakin kami akan sampai pada momen sakral itu.
Libur perkuliahan kembali tiba. Saat yang dinantikan oleh para mahasiswa rantau, untuk bisa kembali pulang ke kampung halaman. Mereka selalu bersuka cita menyambut liburan panjang, karena mereka akan kembali berkumpul bersama keluarga tercinta.
Tapi tidak denganku. Bukan karena tak menyukai liburan atau pulang ke rumah sendiri. Toh selama ini aku memang sering pulang setiap akhir pekan, karena jarak dari rumahku ke kampus kota sebelah ini tidak terlalu jauh, tak sampai dua jam perjalanan dengan mengendarai motor.
Liburan panjang, biasanya sebulan lamanya. Dan selama itu pula aku harus rela jauh dari Adit. Tidak bisa bertemu dan bersamanya setiap hari. Hanya sesekali, aku kembali ke kota ini sekedar melepas rindu dengan Adit, Elisa dan juga Rinaya. Atau sebaliknya, mereka yang kadang meluangkan waktu untuk mengunjungiku ke rumah.
"Sayang, kapan rencana kamu mau pulang?" Tanya Adit, saat kami berdua tengah menghabiskan waktu sore ini di sebuah cafe.
Aku hanya mengangkat bahuku membalas pertanyaannya. Adit tersenyum menatapku.
"Jangan bilang kamu gak mau pulang ya. Ingat ayah bundamu, mereka pasti ingin berlama-lama denganmu selama liburan.."
"Siapa juga yang gak mau pulang. Yang ada kamu tuh yang gak bisa pisah lama sama aku.." Elakku menutupi kegusaranku sendiri.
"Kalau aku kangen kan tinggal main ke sana, sayang. Sekalian ketemu calon mertua.." Jawabnya dengan kedipan usilnya.
Memang sudah beberapa kali Adit mengantarkan aku pulang ke rumah. Dia tidak akan membiarkan aku pulang sendirian, entah dengan mengendarai motorku sendiri maupun naik transportasi umum. Aku benar-benar merasa dijaga dan dilindungi olehnya. Itulah yang sering membuatku berat hati jika harus berpisah lama dengannya.
Sebaliknya, beberapa kali Adit juga telah membawaku ke rumahnya dan diperkenalkan dengan kedua orangtuanya.
Meskipun dia anak tunggal sama sepertiku, tapi orangtuanya tidak memanjakan dia, sehingga dia tumbuh menjadi pria yang mandiri dan bertanggung jawab seperti yang aku lihat selama ini.
"Sebelum kamu pulang, besok ke rumahku dulu ya, sayang..." Pintanya.
"Lha kan minggu lalu aku juga udah ke sana, Dit. Gak enak ah, kalau terlalu sering ke rumahmu.."
"Mama pengen ketemu kamu katanya.."
"Okelah, besok pagi aku pulang, sebelumnya kita mampir ke rumah kamu dulu.." Aku acungkan jempolku tanda setuju. Tapi Adit malah terbelalak kaget.
"Hah.., besok pagi kamu pulangnya..??"
Dia pasang muka cemberut, membuat aku sangat gemasss memandang Adit seperti itu. Kalau dia boneka sudah aku peluk-peluk aku cium-cium sepuasnya dari tadi.
"Iya, kan kamu tadi yang bilang, banyak-banyakin liburan di rumah, quality time sama ayah bunda.." Godaku biar dia semakin cemberut.
"Nasib harus LDR an lagi deh. Belum ditinggal udah berasa kangennyaa.."
Adit memasang muka duck face, membuatku makin gemas saja melihat tingkahnya seperti bocah kecil yang sedang merajuk.
.
__ADS_1
.
.
Pagi harinya kami telah sampai di rumah orangtua Adit.
"Assalamualaikum, Tante.." Aku cium tangan lanjut cipika cipiki dengan Tante Indri, mamanya Adit.
"Waalaikumsalam, sayang. Sini masuk dulu sebentar, ada yang perlu Tante omongin sama kamu.."
Tante Indri langsung menarik lenganku, mengajakku duduk di ruang tamu. Tante Indri memintaku untuk duduk di sampingnya.
Sekilas aku menatap Adit, mencoba mencari tahu apa yang mamanya ingin bicarakan denganku. Tapi Adit yang sudah duduk lebih dulu di depanku hanya mengangkat bahunya dan menggeleng pelan.
Duh.., aku jadi grogi sendiri menunggu Tante Indri membuka pembicaraan. Melihatku duduk tak tenang, Adit malah cengar-cengir sendiri.
"Jadi gini Dinda sayang, Tante cuma mau tanya sama kamu, sama Adit juga..." Tante Indri menghentikan ucapannya sejenak.
"Kalian sudah benar-benar yakin kan dengan hubungan kalian berdua ini..?"
Deg.., datang pagi-pagi sudah langsung disuguhi pertanyaan berat seperti ini.
Spontan aku menatapkan pandanganku lurus ke arah Adit yang ternyata juga sudah menatapku tajam, eh bukan tajam, lebih tepatnya serius.
Aku diam, tak berani menjawab lebih dulu. Masih kutatap Adit, wajahnya mulai tenang, tidak seserius tadi.
"Iya, Mama tau. Maksud Mama.., kalau sejauh ini kalian sudah yakin, apakah kalian juga sudah siap untuk melanjutkan hubungan kalian ke tahap yang lebih serius..??"
"Maksud Mama, menikah..??"
Adit tampak menyembunyikan senyumnya, namun sempat terlihat olehku. Dan saat dia menyadari aku tahu senyumannya yang tertahan itu, dia sengaja memainkan kedua alisnya naik turun, menggodaku bersama senyum yang kemudian dia lepaskan kepadaku.
Huftt.., aku menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Arah pembicaraan semakin meruncing pada tujuannya. Aku berusaha untuk mencerna baik-baik satu per satu yang dibicarakan dan ditanyakan oleh Tante Indri.
"Tapi Tante, kami kan belum selesai kuliah.." Hanya itu yang berani aku katakan, setidaknya untuk saat ini.
"Bukannya setelah liburan ini, kalian sudah mulai mengerjakan skripsi, betul kan..?!"
Kami mengangguk bersamaan.
"Kalau skripsi kalian lancar, berarti tak sampai satu tahun lagi, kalian sudah selesai kan..?" Lanjut Tante Indri.
"Jadi, kalau kami sudah menyelesaikan kuliah kami, kami akan menikah.., begitu maksud Mama?" Tanya Adit dengan wajah serius.
"Yaaa itu kan maunya Papa sama Mama. Tapi kita juga harus tahu dari pihak keluarga Dinda bagaimana keinginannya. Dan yang paling penting, seperti yang Mama bilang di awal tadi, apakah kalian berdua sudah siap..??"
Aku dan Adit saling memandang dalam diam. Cukup lama kami berdua membisu, sampai terdengarnya dering ponsel Tante Indri memecahkan suasana.
__ADS_1
Ku lihat Tante Indri tersenyum lebar menerima panggilan telepon itu.
"Halo, assalamualaikum. Ya Pa, sudah sampai..?"
"Dinda? Iya, sudah di sini. Dan Mama sudah berbicara dengan mereka berdua.."
"Heemm.., iyaa.., iya Pa.."
"Oh.., oke tunggu sebentar.."
Tante Indri mengulurkan ponselnya ke arahku.
"Sayang, ini Papanya Adit mau ngomong sebentar sama kamu.."
Aduh, apa lagi ini kok Om Satrio ikut-ikutan ingin bicara denganku. Entah sudah seperti apa roman mukaku saat ini, aku sudah tak memikirkannya lagi. Memikirkan topik pembicaraan kami saat ini saja, sudah membuat perasaanku berlarian ke sana kemari.
Sebentar aku menoleh ke Adit, terlihat dia menganggukkan kepala, baru aku berani menerima ponsel dari tangan Tante Indri.
"Assalamualaikum Om.."
"Ooh.., eeehh..iya Om, hari ini Dinda mau pulang Om.."
"Ayah? Ooo.., iya.., baik Om. Nanti Dinda sampaikan pesan Om pada Adit.."
"Iya Om. Sama-sama, terima kasih.."
Ponsel kukembalikan pada Tante Indri. Sepertinya panggilan dari Om Satrio sudah diakhiri.
"Papa ngomong apa..?" Adit yang mendengar namanya disebut jadi penasaran tak sabar.
"Sama dengan yang Tante Indri sampaikan tadi.." Jawabku singkat.
"Itu aja?" Tanyanya lagi.
"Om Satrio titip pesan, supaya kamu nanti menemui ayah, dan menyampaikan pada Ayah apa yang sudah kita bicarakan tadi.."
Kulihat wajah Adit sedikit ķaget, tapi setelah itu dia tersenyum seperti biasa.
"Dan jangan lupa, kami menunggu tanggapan dari keluarga Dinda, kapan kami bisa bersilaturahmi ke sana..!" Tante Indri menimpali.
Pembicaraan tentang pernikahan kami pun usai. Aku dan Adit masih sama-sama terdiam dengan pikiran kami masing-masing.
Tak lama kemudian, aku pun berpamitan pada Tante Indri untuk pulang. Demikian juga Adit, yang akan mengantarkan aku dengan membawa sebuah misi penting tentang masa depan kami.
.
.
__ADS_1
.