
Pagi harinya.....
Anna terbangun karna tangisan bayi dari box tempat tidur bayi bertuliskan 'Marvin Louis'. Anna beranjak dan berjalan sempoyongan ke arah Marvin yang menagis dengan kencang nya.
"Cup...cup...cup...Kenapa kamu menangis sayang?" Anna menggendong Marvin. Mendekap nya kedalam pelukan hangat nya.
Marvin kembali tenang dan kembali terlelap. Anna pun kembali meletakan Marvin perlahan ke dalam box bayi nya. Sedetik kemudian saat dirinya hendak masuk ke dalam kamar mandi. Pintu yang berada di sisi sebelah kiri ruangan terbuka lebar.
Munculah Kevin dengan masih mengenakan piyama tidur nya. "Marvin? Marvin menangis? Ada apa dengan nya?" sambil mengucek mata menjernihkan pandangan nya.
Anna terkejut dan menjadi gelagapan. "Hmm...Marvin ti-tidak apa-apa....hanya bermimpi buruk saja, tapi sudah kembali tidur kok...." jawabnya gugup dan terbata.
"Benarkah? Yasudah kalau begitu..." Kevin menarik gagang pintu hendak kembali ke dalam kamar nya. "Itu....apa itu ka--" ucap Anna tehenti.
Kevin menoleh. "Iya itu kamarku....ruangan ini memang sengaja di buat terhubung dengan kamarku...."
Brakk....
Pintu pun tertutup. Anna hanya bisa mengelus dada nya mendapat perlakuan dingin Kevin. Pria itu memang tidak pernah berubah. Selalu saja memperlakukan nya dengan dingin dan kasar.
__ADS_1
Anna pun masuk kedalam kamar mandi. Melakukan aktivitasnya yang sempat terhenti saat Kevin tiba-tiba muncul.
***
Anna berjalan menyusuri lorong. Hendak turun ke lantai bawah menuju dapur. Gadis itu meninggalkan bayinya di kamar bersama dengan Marvin. Karna keduanya masih tertidur dengan lelapnya.
Tetapi langkah Anna terhenti saat berada di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit. Dengan penasaran nya Anna mengintip isi di dalam kamar itu.
Mata Anna terbelalak saat mendapati sosok Arsen yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Cepat-cepat Anna langsung membuka lebar pintu. Lalu mendekat menghampiri Arsen.
"Nona Anna apa yang anda lakukan disini?".
"Arsen.....ada apa dengan mu? Kenapa kamu menjadi seperti ini? Apa yang terjadi?" Anna menghambur memegangi wajah Arsen yang lebam-lebam. Lemudian beralih menatap Jungmo seakan meminta jawaban.
Jungmo memalingkan wajah nya. Dia tidak mungkin harus mengatakan yang sujujurnya mengenai kejadian semalam antara Bos nya dan Arsen. Jungmo memilih diam tak menjawab.
Air mata Anna menetes. Mengalir dengan sangat derasnya. Seraya tangan nya yang memggenggam erat tangan Arsen. Sedetik kemudian tangan itu bergerak bersamaan dengan mata Arsen yang terbuka.
"An...." lirihnya.
__ADS_1
"Arsen....apa yang terjadi padamu?" Anna langsung bertanya pada Arsen.
Arsen menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lemah. "Aku tidak apa-apa An....kamu jangan menangis....aku belum mati kok...." ucap nya mencoba membuat Anna tenang.
"Apa ini karna dirinya?" tanya Anna menatap serius Arsen dan Jungmo secara bergantian. Kedua nya hanya diam tak menjawab.
Tiba-tiba saja dari arah pintu suara berat menyahut. "Memang benar itu karna ku.....aku yang sudah membuatnya seperti itu...." Kevin melangkah mendekati Anna.
"Bos..." ucap Arsen dan Jungmo bersamaan.
Anna tertegun tak bisa berkata. Selalu saja seperti itu. Jika berada di hadapan Kevin Anna serasa mati kutu. Mulutnya itu seakan sangat susah untuk bicara. Kegugupan dan ketakutan saja yang dia rasakan.
"Dia memang pantas mendapatkan nya.....bersyukurlah aku tidak membunuhnya.....pengkhianat laknat seperti nya sebenarnya tidak pantas untuk hidup...." kembali Kevin berkata.
Memang benar ucapan Kevin. Anna tidak bisa mengelak. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Kevin. Kecewa besar kepada apa yang dilakukan oleh Arsen. Sakit dan perih nya kehilangan Mia. Dirasakan oleh beberapa orang yang mencintai dan menyayangi sosok wanita luar biasa itu. Termasuk Anna.
Anna pun memilih tidak menyahut. Ia malah beranjak dan lamgsung berlalu keluar dari kamar itu. Meninggalkan ketiga orang pria itu.
TBC.
__ADS_1
Note : Jangan lupa untuk like dan vote, biar aku tambah semangat untuk up nya. Happy Readings🌹🌹🌹