
*****
Sepeninggal Mia Kevin segera mengambil alih mempersiapkan semua nya. Dengan sikap otoriternya, Kevin memerintahkan setiap pelayan dengan tugas masing-masing.
Kevin melirik kearah Sheila yang tengah menyusun bunga diatas meja makan. Lalu dia menghampiri wanita hamil tersebut.
"Pergilah duduk disana, kasihan bayimu jika ibu nya kelelahan" ucap Kevin perhatian namun masih dengan wajah datar nya.
Sheila tersenyum sembari mengelus perutnya. "Makasih.....aku tidak tahu jika kamu bisa seperhatian ini padaku hehehe" ucap Sheila.
"Aku tidak mengkhawatirkan mu, tapi aku mengkhawatirkan keponakan ku ...." Kevin memutar bola matanya, dan berucap ketus.
"Ya...ya...yah...terserahlah!? Ooh iya...kudengar Nathan dan Rens baru berkunjung kesini" tanya Sheila.
"Hmm iya.....mereka titip salam pada mu dan Tara" ucap Kevin datar.
"Apa ada sesuatu yang penting, hingga mereka terbang kesini?" tanya Sheila yang penasaran. Dia curiga jika ada hal lain yang membawa Nathan dan Rens mengunjungi Kevin.
Kevin tersentak diam, "Tidak ada hal lain, hanya berkunjung saja!? Tidak usah banyak berpikir yang tidak-tidak, cukup pikirkan kesehatanmu dan bayimu saja...." Kevin menceramahi Sheila, tidak perlu memikirkan hal lain selain kesehatan nya sendiri.
"Hmm..." Sheila mengangguk, tapi pandangan nya masih sinis kearah Kevin. Entah kenapa perasaan nya mengatakan hal lain.
Sesaat kemudian Tara datang menghampiri Kevin, setelah mendapat panggilan diponselnya. "Kak, maafkan aku!? Seperti nya aku tidak bisa mengikuti acara makan malam nanti.....tadi rumah sakit menelpon ada oprasi dadakan, aku harus segera pergi" jelas Tara.
Sheila terkejut mendengar ucapan Tara dan langsung menoleh. "Kamu mau kemana? Terus aku gimana?" tanya Sheila dengan raut wajah cemas nya.
Tara mendekati Sheila, lalu mengecup kening sang istri dengan lembut. "Maafkan aku sayang, aku harus kembali kerumah sakit!? Tetap lah disini, aku akan menjemputmu setelah selesai" Tara mencoba meyakinkan sang istri.
"Kak....aku titip Sheila, nanti aku akan kembali setelah urusan ku selesai" ucap Tara pada Kevin. Meminta tolong agar menjaga Sheila saat dirinya tidak ada.
Kevin mengangguk "Pergilah....dia aman disini" ucap Kevin.
"Aku pergi dulu yah....bye" Tara berpamitan pada sang istri, dan kembali mengecup kening nya.
"Hati-hati yah....".
Dengan berat hati Sheila melepaskan kepergian sang suami, yang menghilang dari balik pintu keluar utama.
__ADS_1
"Pergilah istirahat duduk disofa....biarkan pelayan yang mengurus semuanya" perintah Kevin. Sheila pun mengangguk lesuh. Kini dia sudah tidak bersemangat, Sheila pun memutuskan untuk berdiam istirahat disofa.
Satu jam telah berlalu.....
Waktu acara makan malam pun telah tiba, beberapa tamu telah hadir termasuk Mr.Richard dan sekertarisnya.
Kevin menyambut para tamu dengan tampilan menawan nya, sekaligus pelayanan luar biasa dari para pelayan nya. Sheila ikut berdiri disebelah Kevin untuk menyambut para tamu.
Tak lepas dari mereka yang mengira wanita hamil cantik disebelah Kevin itu adalah istrinya. Tapi Kevin hanya menjawab "Perkenalkan dia adik iparku, istriku akan segera hadir dia masih bersiap-siap" ucap Kevin menyanggah semua pertanyaan mereka.
Tidak lama kemudian Arsen pun datang, dengan tergesa-gesa dia menghampiri Kevin. Arsen sadar jika dirinya sudah terlambat, pasti nya sang bos akan marah nanti nya.
"Maaf Bos....tadi jalanan macet" Arsen menyapa Kevin, dan memberikan alasan atas keterlambatan nya.
Kevin hanya diam dan melirik tajam kearah arsen, "Bisa-bisa nya kamu terlambat, akan kupotong gajihmu bulan depan" kira-kira seperti itulah kata hati Kevin dibaca dari sorot matanya.
Arsen bergidik ngeri, tetapi pandangan nya tertuju pada sosok wanita yang berdiri disebelah bos nya itu. Dia bukan lah Nyonya Bos Mia, jadi dia siapa? Arsen belum pernah sama sekali bertemu dengan Sheila. Tapi jika Tara, dia sudah pernah bertemu beberapa kali.
Kevin kembali menarik nafas dalam-dalam. Lagi-lagi dia harus menjelaskan siapa Sheila. "Ini Sheila adik iparku, tolong jagalah pandangan mu itu" ucap Kevin ketusnya.
"Ooh i...iya Bos.....Hallo perkenalkan saya Arsen Bang" Arsen menunduk hormat kepada Sheila.
Tak sengaja gelang Sheila putus karna menyangkut diselipan dress nya. Gelang itu pun terjatuh kelantai, lantas Sheila hendak membungkuk mengambil gelang nya itu. Tapi karna mengingat kondisi nya yang sedang hamil. Membuat Sheila susah untuk membungkuk mengambil gelang nya.
Tiba-tiba saja, ada sepasang tangan yang membantu Sheila meraih gelang nya itu. "Terima kasih, selamat datang silahkan ma......" sambut Sheila terhenti.
Dia tertegun dalam diam, merasa tak percaya dengan apa yang dilihat nya. Seketika itu juga matanya membulat sempurna, bibirnya bergetar.
"Aaron.....?" satu kata tersebut keluar dari mulut Sheila. Saat mendapati sosok yang sangat dikenal nya itu.
Aaron tersenyum miring, sembari memainkan lidah didalam mulutnya. Aaron menatap Sheila dengan tatapan penuh arti.
"Hai Stephanie.....sudah lama sekali kita tidak bertemu" ucap Aaron tersenyum miring.
Mata Sheila berkaca-kaca, nafas nya sedikit sesak karna terkejut. "Ma..mau apa kamu kesini?" gugup Sheila seperti ketakutan.
Sheila pun hendak melangkah pergi, tapi tangan nya ditahan oleh Aaron. Sontak dia langsung menepis kuat tangan Aaron.
"Lepaskan tangan ku, jangan berani-berani nya kamu menyentuhku!? Kamu dan kakak mu sama saja, sama-sama brengsek...cih" ucap Sheila dengan nada kasar. Dia marah karna Aaron lancang memegang tangan nya.
__ADS_1
"Hahaha...apa maksudmu cantik? Lihatlah sekarang kamu sudah hamil tapi masih terlihat sangat cantik.....tak salah jika kakak ku tidak bisa melupakan mu sampai sekarang" ucap Aaron dengan raut wajah brengsek nya.
Aaron hendak meraih rambut Sheila, namun sebelum tangan nya menyentuh ujung rambut Sheila. Tangan nya ditahan oleh Arsen.
"Maaf Mr.Aaron, saya harap anda bisa profesional dan tidak menyentuh milik orang lain dengan seenak nya" ucap Aaron dingin mengancam, dengan tatapan tajam matanya.
Aaron menarik tangan nya, lalu tertawa renyah sembari berlalu meninggalkan Sheila dan Arsen. Meskipun Arsen tidak tahu apa hubungan Sheila dengan Aaron, tapi dia yakin itu bukan lah sebuah pertemanan melainkan permusuhan.
Sheila masih terdiam diposisi nya dengan memegangi dada nya yang sesak. "Makasih...." ucap nya pada Arsen. Sebelum dia berlalu pergi.
"Sama-sama Miss...." sahut Arsen.
Sheila pun bergegas menghampiri dan menarik Kevin kehalaman belakang rumah nya. "Ada apa? Jangam menaril baju ku seperti itu" ucap Kevin kesal, karna Sheila menarik nya secara tiba-tiba.
"Kenapa dia bisa disini?".
"Siapa?".
"Dia.....cepat jawab Kevin".
"Dia siapa sih?".
"Aaron.....kenapa dia bisa ada disini? Dan ada hubungan apa kalian?".
Kevin terdiam dia bingung memikirkan alasan apa yang harus dia berikan kepada Sheila. "Apa kamu sudah bertemu dengan nya?" tanya Kevin memalingkan wajah nya.
"Gak usah mengalihkan pembicaraan....cepat jawab ada hubungan apa kalian? Bagaimana bisa dia sampai disini? Apa jangan-jangan Frans juga ada disini? Tega kamu yah, nyuruh aku kesini untuk bertemu mereka" Sheila menyerang Kevin dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Tenang lah....Sheila tenanglah, tidak akan ada Frans disini!? Mengenai Aaron dia adalah salah satu investor diperusahaan ku karna itu dia ada diacara makan malam ini" Kevin memegang kedua pundak Sheila, mencoba untuk membuatnya tenang. Kevin tak ingin kepanikan Sheila akan membuat bayinya ikut terguncang.
"Tarik nafasmu dalam-dalam, cobalah untuk tenang....aku tak ingin bayimu dalam masalah, Tara akan menyalahkan diriku nanti nya" ucap Kevin.
Sheila pun mengangguk, lalu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sedikit demi sedikit perasaan nya mulai tenang. Sheila mengelus-elus perutnya, dengan air mata yang menetes tetapi tidak deras.
.
.
TBC.
__ADS_1