Terjebak Takdir Cinta Kevin

Terjebak Takdir Cinta Kevin
TIDAK BERES DAN TIDAK BECUS!!!!


__ADS_3

*****


Setelah kepulangan Kevin siang tadi secara tiba-tiba. Mia ikut terlelap di samping sang suami. Saat terbangun kini tangan Kevin melingkar di perutnya. Dipandanginya dengan lekat wajah sendu tampan Kevin saat tertidur.


"Bee....".


"Bee....ini sudah malam".


"Bangun bee....".


Mia membangunkan Kevin dengan cara menusuk-nusuk pipinya dengan pelan. Kevin pun menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Saat melihat wajah Mia yang cantik tepat di hadapan nya, Kevin tersenyum lebar seperti habis mendapatkan medali emas.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu bee?" Mia mengerinyit heran.


Kevin menjawab tanpa berkata, melainkan hanya menggeleng saja. Lalu dia mengecup lembut kening sang istri dan mendekap kembali tubuhnya dengan sangat erat.


Grrkk...grrkk...grrkk


Keduanya sama-sama terkejut, wajah Mia memerah. Perut nya berbunyi nyaring, menandakan jika penghuni perutnya itu sedang lapar. Mereka berdua pun tertawa bersama, lalu beranjak perlahan dari tempat tidur.


Setelah selesai makan malam, seperti biasa Kevin berada di dalam ruang kerja nya. Memeriksa beberapa pekerjaan.


Tok....tok....tok


Masuklah Arsen bersama dengan dua pria kekar, yang tak lain adalah kepala pemimpin tim khusus tadi siang dan satu anggota nya.


"Bos.....kami sudah berhasil menangkap penembak tadi siang...." lapor Arsen pada Kevin.


"Dimana dia sekarang.....".


"Kami sengaja membawanya ke markas resmi, mengingat kejadian tadi siang....kita harus mencegah nya terulang..." sahut kepala pemimpin.


"Baiklah kalian tunggu di bawah, aku akan menyusul" Kevin mengangguk pada Arsen.


Dengan sigap Arsen pun mengajak kedua pria itu keluar dari ruang kerja Kevin, dan menunggu sang bos di mobil. Sepeninggal mereka Kevin langsung menghampiri sang istri.


Kini Mia sedang duduk bersandar di atas tempat tidur, sambil memainkan ponselnya. Tidak lama kemudian Kevin pun masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Bee....aku ada urusan penting, istirahatlah duluan tidak usah menunggu ku....mungkin aku akan kembali larut malam" ucap Kevin mengelus kepala Mia, kemudian dia mengecup keningnya.


Mia mengerinyit merasa heran. "Kemana bee? Malam-malam begini?" tanya nya penasaran.


Kevin tersenyum tipis, dia tahu saat ini istrinya itu pasti curiga padanya. Tapi sikap nya yang sekarang lebih banyak cemburu dan curiga membuat Kevin bahagia. Jika selama ini Mia adalah wanita yang dewasa dan pengertian, tapi sekarang dengan perubahan sikap yang drastis ini. Bukan nya membuat Kevin kesal atau muak, tapi malah memberikan rasa tersendiri yang dirasakan Kevin.


"Kok malah senyum sih bee? Pokoknya aku gak mau tidur sampai kamu datang...." Mia cemberut.


Cups.....


Kevin langsung mengecup bibir Mia yang di buat nya mengkerucut. Pipi nya merah, Mia langsung melipat bibir nya kedalam. Lalu memukul pelan dada Kevin.


"Dasar mesum..." ucap nya sambil tersenyum sipu malu-malu.


"Jangan marah yah honey, aku akan usahakan pulang cepat" ucap Kevin lembut.


"Hmm....pokoknya aku tidak akan tidur sebelum kamu datang ..titik gak pake koma" gerutunya lagi.


Kevin kembali tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah.....aku pergi dulu bee" sambil berjalan ke arah pintu, kemudian menghilang dari baliknya.


Tanpa sadar sambil mengelus perutnya yang rata, benih-benih kristal keluar dari sudut matanya. Dengan cepat Mia mengusapnya. Dia pun kembali bersandar dan memainkan ponselnya. Mencoba untuk mengalihkan pikiran nya yang gusar.


 -- --


Kini Kevin berada di dalam sebuah ruangan yang hanya tersedia dua kursi yang berhadapan dengan dibatasi oleh sebuah meja. Terdapat pula CCTV yang berada di ujung ruangan tersebut, berfungsi untuk memantau proses investigasi.


Dengan di temani Arsen Kevin duduk di salah satu kursi tersebut, sedangkan Arsen berdiri tegak di belakang nya. Tak berselang lama datanglah dua petugas tim khusus yang menggandeng seorang pria yang tangan nya diborgol. Mereka mendudukan pria tadi di kursi tepat berhadapan dengan Kevin.


Kevin menatap lekat wajah pria itu dengan raut wajah datar. "Gak usah buang-buang waktu. Langsung saja katakan semua kebenaran nya, jika kamu ingin bebas".


Pria yang berusia kisaran setara dengan Kevin itu, memasang wajah datar yang tidak bisa di tebak isi pikiran nya. Dia terlihat santai menghadapi Kevin.


"Jika aku tidak ingin mengatakan nya gimana? Apa yang akan kamu lakukan padaku? Apa kamu akan melakukan hal yang sama terhadap pria bodoh tadi pagi? Heh" ucap nya dengan fasih lalu terkekeh. Seperti nya tidak mudah menghadapi nya.


"Kamu...." Arsen sudah ingin maju, sambil menggigit bibir bawah nya karna geram. Tapi ditahan oleh Kevin, biarkan dia yang berbicara kali ini.


Mengingat juga jika saat ini mereka ada di markas resmi tim khusus, jadi tidak boleh ada kekerasan di dalam proses investigasi. "Tinggalkan kami berdua...." perintah Kevin pada Arsen.

__ADS_1


"Tapi bos, tidak mungkin aku meninggalkanmu berdua dengan nya...." sela Arsen, dia benar-benar tidak mengerti masuk dari sang bos. Bisa-bisa nya dia memerintahkan agar meninggalkan nya bersama dengan pria penembak itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu.


"Jangan menyela perintahku Arsen.....tunggulah diluar" Kevin melotot dan berkata dengan tegas nya. Mau tidak mau Arsen pun menuruti permintaan sang bos. Dengan hati yang tak tenang dia bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Sepeninggal Arsen....


"Aku tidak akan melakukan hal yang sama terhadapmu, terlebih aku akan membebaskan mu!! jika kamu mengatakan semuanya, siapa yang menyuruhmu melakukan ini semua?" ucap Kevin tersenyum pasif penuh arti, berharap pria tersebut masuk kedalam perangkap nya.


Pria tersebut nampak termenung memikurkan sesuatu. "Bagaimana bisa aku mempercayaimu? bisa saja saat ini kamu berbohong dan mengingkari janji mu itu" tutur pria itu sedikit gugup.


"Aku berjanji dengan nyawaku sendiri taruhan nya....." sahutnya serius. Entah apa yang ada di fikiran Kevin, saking dia ingin tahu kebenaran nya. Sampai-sampai dia bertaruh untuk nyawanya sendiri.


Arsen yang berada dibalik sebuah kaca hitam gelap yang hanya bisa terlihat dari satu sisi saja. Terlihat sangat gusar dia mengusap wajah nya dengan kasar. Mendengar janji yang di ucapkan Kevin benar-benar membuat Arsen tidak sabaran.


"Apa-apaan kamu bos.....bisa-bisanya kamu berjanji seperti itu, ingatlah nyawa mu lebih berharga dari nyawa nya......Sial..." Arsen memukul-mukul kaca tersebut yang tidak bergeming di dalam ruang tersebut.


Bergegas dia ingin kembali masuk ke dalam ruangan tempat Kevin berada, tapi di tahan oleh kepala pemimpin tim khusus tersebut. Dia yakin akan terjadi kekerasan jika Arsen sampai masuk kesana, karna itu dia menghentikan pria muda berdarah panas itu.


"Minggir....".


"Sekertaris Bang....saya harap anda bersabar, biarkan bos Kevin menangani ini".


"Apa kamu bilang? Apa kalian tidak dengar bos Kevin sampai berjanji seperti itu, karna kerjaan kalian yang tidak beres.....seharusnya kalian bisa mendapati informasi terdahulu dari pria yang mati tadi pagi!!!! Dan sekarang kalian membiarkan seorang bos menangani sendiri masalah nya, kalau begitu tugas kalian apa? Kalian dibayar disini, dan bayaran kalian tidak sedikit....paling tidak perlihatkan rasa tanggung jawab kalian....Cihhh....sangat tidak berguna." Arsen memaki habis-habisan kepala pemimpin tim khusus itu.


Dia hanya tertunduk merasa bersalah, semua perkataan Arsen memang benar. Mereka sama sekali tidak bertanggung jawab sampai akhir, seharusnya mereka tidak diam saja mendengar Kevin berjanji seperti itu. "Maafkan atas ketidak profesional kami dalam bekerja....kedepan nya kami akan memperbaikinya".


Arsen mendorong kasar kepala pemimpin tim khusus itu agar menyingkir dari hadapanya. Tetapi saat hendak membuka pintu. Terdengar jika pria yang berada di dalam satu ruangan dengan Kevin, telah mengangkat suara. Dia bercerita dengan detail nya dalang dari semua rencana penjebakan Kevin dan Anna waktu di Resort.


Mereka langsung merekamnya, tidak boleh ada yang terlewat sekalipun. Karna itu bisa menjadi bukti yang sangat kuat nantinya. Tapi yang aneh nya pria itu tidak mengatakan nama dalang nya dengan spesifik. Dia menyebut nya dengan sebutan ARBOS. Untuk saat ini dia hanya bisa mengatakan seperti itu, tapi jika di suruh menunjuk siapa orang nya dia bersedia.


Tetapi dengan syarat perlindungan yang maksimal terhadap nya dan keluarga tentunya. Karna dia tahu bos yang menyuruh nya, tidak akan tinggal diam jika dirinya sampai membuka mulut.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2